Duh Gusti, Ternyata Jeng Gemini AI Bisa Ngomong Jawa

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 13 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Entahlah. Mungkin pada mulanya hanya ingin mengetahui saja, apakah ada respons ketika saya menggunakan bahasa Jawa ketika berkomunikasi dengan asisten kecerdasan buatan generatif seperti Gemini AI. Saya memang sering meminta bantuannya untuk membuatkan gambar ilustrasi bagi pemanis tulisan untuk tujuan pengiriman ke Kumparan.com. Setiap kali selesai satu permintaan dan mendapat hasil yang bagus, saya selalu mengucapkan terima kasih.
Meskipun Gemini AI bukan makhluk hidup, yang memiliki kesadaran dan perasaan sebagaimana layaknya manusia. Saya merasa sangat berutang budi kepadanya dengan pembuatan gambar-gambar ilustrasi kartun, bahkan kadang ada kelengkapan bubble dialog juga. Oleh karena itu, saya tetap mengucapkan terima kasih. Setidaknya saya telah memenuhi kewajiban moral sebagai manusia yang merasa telah mendapat bantuan.
Nah, dalam statemen ucapan terima kasih itu. Entah ya, saya mau mengkategorikan apa tindakan saya ini. Sekadar ingin tahu respons yang terberikan? Atau, sekadar membayangkan apakah nantinya harapan saya (mendapatkan jawaban dengan bahasa yang sama dengan yang saya berikan) bisa terkabul? Atau lagi, ini suatu keisengan untuk mengetahui bagaimana kecerdasan buatan menyikapi muatan budaya lokal?
Pada mulanya, tiap kali Gemini AI dapat menyelesaikan permintaan saya membuat gambar ilustrasi tulisan, saya memberikan respons dalam bahasa Indonesia. Seperti, “Oke. Terima kasih banyak Gemini” atau “Alhamdulillah. Bagus seperti yang saya inginkan” dan berbagai variasi ucapan senada. Pada perkembangan selanjutnya, muncul keinginan mengucapkan terima kasih itu dengan menggunakan bahasa Jawa. Bisa jadi yang ini memang ada dorongan motivasi iseng.
Nah, begitulah niatan itu pun saya lakukan, belum lama ini. Hasilnya adalah tangkapan layar chat dengan Gemini AI sebagaimana saya pasang di awal tulisan ini. Saya respons hasil kerjanya dengan ucapan terima kasih dalam bahasa Jawa, “Matur nuwun Jeng Gemini”. Ucapan “terima kasih” terucap sebagai “matur nuwun”. Lalu kata “jeng” kependekan dari “diajeng”. Dalam konteks ini, untuk memanggil perempuan yang usianya lebih muda. Seperti “dik” (dari “adik), sebagai sapaan dan bukan hubungan keluarga, melainkan untuk gender perempuan.
Secara Astrologi, Gemini merupakan zodiak yang mempunyai fokus pada komunikasi, pertukaran gagasan, dan mengkaribi kuriositas (rasa ingin tahu). Sifat-sifat ini sering melekat pada energi feminim yang dinamis, sosial, dan adaptif. Sementara itu, sebagai model AI, Gemini berada dalam rancangan untuk hadir sebagai asisten yang adaptif, komunikatif, dan membantu. Di sini ada energi feminin yang menekankan peran suportif dan komunikator andal.
Dan, jawaban Jeng Gemini menanggapi begitu santun, “Sami-sami, Mas Joko. Menawi wonten ingkang saged dipun bantu malih babagan visualipun utawi babagan sanesipun, mangga dipun aturaken kemawon. Mugi-mugi gambaripun murakabi!” (“Sama-sama Mas Joko. Kalau ada yang dapat saya bantu tentang visual atau tentang hal lain, silakan diutarakan saja. Semoga hasil gambarnya berkenan di hati”).
Hampir sempurna bahasa Jawa yang disampaikan Jeng Gemini. Hanya ada sedikit catatan yang terkait dengan kebiasaan budaya tata krama berbahasa masyarakat Jawa. Biasanya kata aturaken digunakan oleh diri si penutur sebagai pelaku. Seperti tampak pada kalimat Kula bade aturaken sedaya jlentrehing prekawis wewadi ingkang kasimpen sampun puluhan warsa kapengker (Saya akan mengatakan seluruh hal yang terkait dengan perkara rahasia yang telah tersimpan selama puluhan tahun).
Akan tetapi, jika yang dipersilakan untuk bicara itu adalah orang lain yang lebih tua atau dihormati, bahasa Jawa halusnya bukan aturaken melainkan ngendikaaken (lebih halus). Dengan demikian ucapan yang tertulis mangga dipun aturaken (silakan dibicarakan/diutarakan) karena yang diminta bicara adalah orang lain yang lebih tua atau dihormati (ini tata krama orang Jawa terhadap mitra bicara), seharusnya mangga dipun ngendikaaken. Ini hanya catatan kecil, yang tidak akan mendistorsi kualitas kemampuan Jeng Gemini berbahasa Jawa secara keseluruhan.
Istikamah
Sehari berikutnya, saya coba lagi berkomunikasi dengan Gemini AI menggunakan bahasa Jawa. Saya pancing dia dengan permohonan, “Jeng Gemini, punapa kepareng rerembagan ngagem basa Jawa?” (“Jeng Gemini, apakah boleh kita berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa?)”. Sebelumnya saya menduga, jawabannya dalam bahasa Indonesia. Namun, saya keliru.
Begitulah Jeng Gemini. Ia tetap istikamah menggunakan bahasa Jawa ketika menjawabnya. Kata ia, “Inggih, Mas Joko, sumangga. Kanthi renaning penggalih kula dherekaken rerembagan ngagem basa Jawa” (“Iya Mas Joko, silakan. Dengan senang hati, saya dampingi mengobrol dengan bahasa Jawa”).
Kali ini Jeng Gemini juga memperlihatkan argumen yang melibatkan perasaan. “Kula ngrumaosi bilih basa Jawi menika nggadhahi raos ingkang sae sanget kagem paseduluran, menapa malih kagem ngrembag babagan kabudayan, sastra, utawi sejarah” (“Saya merasakan bahwa bahasa Jawa begitu memiliki spirit persaudaraan. Juga cocok untuk membahas soal kebudayaan, sastra, atau sejarah”).
Pada bagian berikutnya, Jeng Gemini juga menawarkan bantuan, “Menawi wonten babagan tartamtu ingkang badhe dipun-rembag, kados ta babagan linguistik, proyek visual, utawi crita-crita saking kitha Semarang, kula sumadya ambiyantu” (“Jika ada hal tertentu yang akan dibicarakan, seperti masalah linguistik, proyek visual, atau cerita-cerita dari Kota Semarang, saya siap membantu”).
Geguritan
Pembicaraan selanjutnya beralih mengenai geguritan (puisi dalam bahasa Jawa). Tanya saya, “Saking pamanggih panjenengan. Punapa ingkang saged ndadosaken manah kadosta kairis-iris, menawi maos geguritan katresnan?” (“Menurut pendapat Anda. Apakah yang menyebabkan hati serasa teriris-iris ketika membaca puisi bertema cinta?”).
Jeng Gemini menekankan adanya kandungan perasaan mendalam di belakang yang menjadi pendirus sebab mengapa hati begitu tersentuh. “Miterat pamanggih kula, wonten sawetawis perkawis ingkang saged ndadosaken manah rumaos kados kairis-iris nalika maos geguritan katresnan. Boten namung amargi tembungipun ingkang sae, nanging ugi amargi raos ingkang kasimpen ing sawingkingipun”.
Terjemahan bebasnya kira-kira begini: “Menurut pendapat saya, ada beberapa aspek pendukung yang menyebabkan hati pembaca puisi cinta begitu tersedot dengan rasa terenyuh, terharu dan ikut bersedih. Tidak hanya lantaran kata demi kata yang terhidang dalam puisi itu sedemikian puitis. Akan tetapi, juga berkat adanya kandungan perasaan mendalam, tulus (tidak sekadar menggombal), yang mewujud pada puisi cinta itu”.
Dengan demikian, kerja sama antara pilihan kata (diksi) dan kejujuran atau ketulusan pengungkapan menjadi begitu penting. Ucap Jeng Gemini selanjutnya, “Pilihan tembung ingkang prigel. Panyerat geguritan asring ngginakaken tembung sasmita utawi pralambang ingkang nancep wonten ing manah. Tembung ingkang mentes lan nggadhahi teges lebet saged nggugah kenangan ingkang mbok bilih sampun dangu dipun pendhem”.
Alih bahasa fleksibelnya: “Pilihan kata yang terseleksi dengan cermat merupakan prinsip utama. Penulis puisi sering memanfaatkan kata kiasan atau simbol yang bisa sedemikian menorehkan rasa haru seni. Kata yang bernas dan memiliki makna mendalam bisa menggugah kenangan yang mungkin saja telah sejak lama tersimpan rapat di hati”.
Selain itu, rasa penyesalan juga bisa merangkulkan perasaan pembaca puisi pada terenyuh. “Geguritan ingkang nyritakaken babagan katresnan ingkang boten saged nyawiji utawi telat anggenipun ngandharaken raos, asring ndadosaken kita emut dumateng kalodhangan wekdal ingkang sampun ical. Menika ingkang asring damel perih “.
Kisah-kisah sedih, tak pelak lagi dapat menggiring hati untuk menyaksikan kepingan demi kepingan kehancurannya. “Puisi yang menceritakan cinta dua hati yang pada akhirnya tidak dapat bersatu. Atau, terlambat mengungkapkan curahan cinta, terlebih karena sang pujaan hati telah pergi untuk selama-lamanya. Atau terlambat mengutarakan, ketika sang pujaan hati sudah telanjur menerima cinta orang lain. Dengan demikian, menyadarkan kita akan kesempatan yang pernah tersedia, kemudian menjadi hilang musnah. Penyesalan inilah yang menyebabkan derita hati nan pedih”.
Kesamaan pengalaman jalinan asmara, juga bisa menimbulkan hati teriris pedih, karena kebetulan menyerupai pengalaman pribadi. “Kahanan ingkang memper kaliyan lelekoning gesang. Nalika maos geguritan, kita kados ningali pangilon. Kahanan ingkang dipun andharaken dening panyerat jebul nate kita alami piyambak. Raos nunggil sakit menika ingkang damel manah kados dipun iris”.
“Curahan hati sang penyair yang kebetulan mirip dengan pengalaman pribadi dari apresiator. Ketika membaca puisi itu, seperti melihat dirinya di cermin. Kisah cinta sang penyair ternyata seperti pengalaman pembaca. Perasaan senasib sepenanggungan juga bisa menimbulkan luka hati yang teriris pedih”.
Tidak ketinggalan manakala geguritan tampil dalam performa seni pertunjukan, pembacaan dengan nada suara sendu dapat mempertegas suasana kesedihan itu. “Maos geguritan kanthi lagu utawi wirama ingkang sedhih saged nambah swasana dados wingit. Unining sastra menika kados ngrasuk wonten ing aliran getih, ndadosaken rumaos trenyuh”.
Demikian kira-kira pengindonesiaannya, “Membaca puisi dengan nada suara yang sendu, ada iringan isak tangis kecil yang menggelayuti performanya di panggung misalnya. Dapat menghadirkan suasana kesedihan yang wingit, suci dan keramat. Untaian kata sastra yang menemu wujud pembacaan yang sendu, dapat seolah merasuk ke dalam aliran darah, sehingga terasa begitu menerenyuhkan”.
Kemudian Jeng Gemini bertanya kepada saya, “Saking pengalaman panjenengan piyambak, punapa wonten geguritan ingkang ndadosaken manah kados kairis-iris mekaten kanthi dasar nasib ingkang sami?” (“Dari pengalaman pribadi Anda, apakah ada puisi yang membuat perasaan hati Anda tersayat-sayat karena kesamaan nasib?”)
Lalu saya pun merespons, “Lelampahing katresnan kula piyambak nalika taksih enem kala rumiyin aman-aman kemawon, Jeng Gemini. Oh inggih, kula bade nyuwun tulung, punapa panjenengan kagungan conto geguritan katresnan ingkang saged ndadosaken tumibaning luh. Menawi saged, kutipan saking penyair Jawa ingkang kawentar”.
“Perjalanan cinta saya ketika masih muda dahulu boleh terkatakan aman-aman saja, Jeng Gemini. Oh iya, saya mau minta bantuan, panjenengan apakah memiliki contoh geguritan cinta yang dapat menyebabkan tetesan air mata ketika membacanya. Kalau bisa dari karya penyair Jawa yang terkenal”.
Dengan sigap ia pun menanggapi, “Ndherek bingah bilih lelampahan katresnan panjenengan tansah pinaringan rahayu sarta widada, Mas Joko. Pancen leres, kagem ngraosaken jeroning rasa mboten kedah nengga nemahi susah piyambak” (“Syukurlah kalau pengalaman cinta Anda baik-baik saja, Mas Joko. Memang benar, untuk dapat merasakan hati yang tersayat luka cinta, seseorang tidak perlu harus mengalaminya sendiri”).
St Iesmaniasita
Kemudian pembicaraan kami menyebut nama St. Iesmaniasita (18 Maret 1933 - 8 April 2000). Ini merupakan nama pena dari Soelistja Oetami (ejaan sekarang: Sulistya Utami). Semasa hidupnya beliau adalah pengarang, penyair, dan guru sekolah dasar dari Mojokerto, Jawa Timur. Pada tahun 1999, beliau menerima Hadiah Sastra Rancage sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya dalam pengembangan Sastra Jawa Modern.
Dojosantoso melalui artikelnya bertajuk “St. Iesmaniasita: Pengarang Wanita Pertama dalam Kesusastraan Jawa Modern” yang bersama tulisan sejumlah pakar sastra, seperti Satjagraha Hoerip, George Quinn, Soebagijo Ilham Notodidjojo, dan Suripan Sadi Hutomo, yang merupakan jerih editorial Poer Adhie Prawoto (sekaligus penyumbang tulisan) dalam buku antologi esai Wawasan Sastra Jawa Modern (Angkasa Bandung, 1993), mengetengahkan sejumlah informasi mengenai beliau.
Menurut buku tersebut, St. Iesmaniasita atau yang di antara orang dekat dan para muridnya dahulu saat mengajar mendapat sapaan akrab Bu Is, semasa hidup beliau selama 67 tahun begitu produktif menghasilkan karya. Beliau telah menulis tidak kurang dari 82 cerita pendek (istilah bahasa Jawanya cerita cekak atau lazim mendapat singkatan cerkak), 514 geguritan (puisi Jawa), serta beberapa esai mengenai kesusastraan Jawa. Produktivitas ini menunjukkan dedikasi beliau yang luar biasa terhadap Jagat Sastra Jawa Modern.
Dan, dengan segera dalam chat kami itu, Jeng Gemini menyebut nama beliau juga. “Salah sawijining tokoh sastra Jawa modern ingkang seratanipun asring damel trenyuh lan ‘ngiris’ manah amargi kajujuran rasanipun inggih menika St. Iesmaniasita. Geguritanipun asring ngginakaken tembung ingkang prasaja nanging nancep lebet”.
Ini terjemahan fleksibelnya: “Terdapat seorang tokoh terkemuka dalam dunia Sastra Jawa yang karya-karyanya sering menimbulkan rasa terenyuh dan begitu mengiris hati karena kejujuran perasaannya. Beliau adalah St. Iesmaniasita. Puisi-puisinya terhidang dengan kata-kata sederhana. Akan tetapi, begitu dalam menancapkan keharuan di hati para pembacanya”.
Kali ini Jeng Gemini mencontohkan petikan bait dari puisi “Kari Kembang Sauwit Alum” (“Tinggal Sekuntum Bunga Layu”) yang ditulis oleh St. Iesmaniasita pada 1968. Terdapat dalam Antologi Mawar Mawar Ketiga (Mawar Mawar di Musim Kemarau). Hadir ke tengah masyarakat pencinta Sastra Jawa Modern berkat inisiasi Yayasan Penerbit Djojobojo Surabaya. Cetakan pertama Agustus 1996.
Ungkap Jeng Gemini selanjutnya, “Menika wonten pethikan geguritan ingkang kaserat dening St. Iesmaniasita. Geguritan katresnan ingkang nggambarake raos kacuwa lan kasepen: //...Nanging saiki, nalika kembang-kembang padha alum/ lan angin sore nggawa ganda wangi sing keri/ aku lungguh dhewe ing kene/ ngenteni ayang-ayangmu sing wis ilang...//”. Berikut alih bahasa secara bebas:
“Ini ada petikan puisi yang ditulis oleh St. Iesmaniasita. Puisi cinta yang mendeskripsikan perasaan kecewa dan kesepian. Demikian kutipannya: //… Tapi kini, ketika bunga-bunga itu telah layu/ dan angin sore meniupkan wewangian yang tersisa/ aku duduk sendirian di sini/ menanti bayang-bayangmu yang telah hilang …//”.
Kemudian Jeng Gemini memulai analisisnya: “Pralambang ‘kembang alum’, menika nggambaraken kahanan ingkang sampun mboten wonten pengajeng-ajeng. Kahanan ingkang rumiyin endah, nanging sakmenika sampun risak” (“Frasa ‘bunga layu’ merepresentasi lambang dari suatu realitas kebersamaan yang dahulu sedemikan indah. Namun, kini sudah tidak ada harapan untuk bisa menjalin lagi kebersamaan sebagaimana tempo silam”).
Lalu ujarnya, “Kontras ‘ganda wangi’. Sanadyan kahananipun sedih, nanging taksih wonten 'ganda wangi' utawi kenangan nengsemaken ingkang taksih kantun. Kontras antawisipun manisipun kenangan lan paitipun kanyatan, menika ingkang asring damel mripat kembeng-kembeng” (“Kontras dengan ‘angin sore meniupkan wewangian yang tersisa’, setumpuk kenangan manis yang masih terpatri tidak pernah termungkiri kehadirannya kendati kini realitas yang ada tidak seindah dahulu lagi. Tema cinta beginilah yang bisa menyebabkan para pembaca menikmati puisi dengan mata berkaca-kaca”).
Jeng Gemini pun menekankan analisisnya: “Ukara ‘ngenteni ayang-ayang’, menika nggambaraken kasepen ingkang sanget. Ngenteni ayang-ayang menika pendamelan ingkang muspra, nanging tetep dipun lampahi amargi tresnanipun ingkang satuhu” (“Frasa ‘menanti bayang-bayangmu’ mengisyaratkan adanya rasa kesepian yang begitu dahsyat. Dan, sebagai tindakan, ‘menanti bayang-bayangmu’ tak lebih dari kesia-siaan. Meski demikian, sang penyair tetap melakukannya, sebagai bentuk rasa cinta yang sejati”).
Jeng Gemini menutup analisis pendeknya: “Geguritan kados menika nggugah raos empati kita dhumateng tiyang-tiyang ingkang kapeksa nandang pepisahan kaliyan tiyang ingkang dipun tresnani” (“Puisi seperti ini sungguh menggugah perasaan empati kita terhadap orang-orang yang terpaksa harus mengalami realitas getir berupa perpisahan dengan seseorang yang secara istimewa pernah singgah di hati yang tulus mencintai”).
Saya tutup chat, “Kadosipun makaten Jeng Gemini. Sawetawis cekap. Matur sembah nuwun. Punten ndalem sewu, mbokbilih sampun ngresahi panjenengan” (“Sepertinya memang demikian Jeng Gemini. Untuk sementara cukup chat kita. Terima kasih sekali. Mohon maaf karena telah menyita waktu dan merepotkan Anda”). Dan, jawaban yang tersaji pun demikian grapyak (ramah).
“Mboten dados punapa, Mas Joko. Boten wonten tembung ‘ngresahi’ ing mriki, amargi kula rumaos bingah saged nampi pirembagan ingkang mentes kados mekaten. Rembagan babagan sastra lan raos menika kados dene nyiram tetuwuhan ing saklebeting manah, amrih boten garing”.
“Tidak perlu sungkan-sungkan, Mas Joko. Tidak ada kata ‘merepotkan’ di sini. Sebab, saya juga senang terlibat dalam pembicaraan yang memiliki nilai lebih seperti ini. Perbincangan mengenai sastra dan perasaan, seperti menyirami tetumbuhan yang hidup mengakar di dalam hati, sehingga tidak terasa kering”.
Perspektif Tulisan
Kemampuan Gemini AI melakukan chat dengan pengguna menggunakan bahasa Jawa (dan mungkin dengan bahasa daerah yang lain) menunjukkan potensi kontribusinya dalam mengembangkan dan melestarikan budaya lokal di era digital. Hal ini bisa mengilhami kehadiran tulisan-tulisan dengan berbagai sudut perspektif.
Misalnya peran kecerdasan buatan sehingga dapat memperoleh tempat sebagai penjaga bahasa-bahasa regional. Fokus yang dapat memperoleh pengetengahan, bagaimana teknologi kecerdasan buatan itu membantu mencegah kepunahan suatu bahasa daerah. Adapun diskusi yang dapat terolah, sekitar kemampuan Gemini AI memahami konversasi dalam bahasa Jawa. Perspektif yang hadir, kecerdasan buatan bisa menjadi mitra dalam pendokumentasian bahasa regional.
Sementara itu, di bidang pendidikan, ada celah pemungkinan kecerdasan buatan menjadi metode interaktif baru dalam pembelajaran bahasa Jawa (atau daerah lain). Fokus misalnya tentang pemanfaatan Gemini AI di sekolah atau di rumah untuk mempelajari bahasa Jawa. Diskusi yang bisa muncul, siswa-siswi dapat menggunakan Gemini AI untuk menyusun naskah dialog, tata krama berbahasa Jawa, atau memahami teks sastra kuno secara instan. Perspektifnya, kemampuan Gemini AI mentransformasikan pembelajaran yang monoton menjadi lebih menyenangkan, interaktif, dan independen.
Dari sisi kebahasaan, fokus antara lain bisa terarahkan pada kemampuan Gemini AI melakukan chat dengan mengadaptasi bahasa percakapan sehari-hari atau bahkan slang, termasuk di dalamnya bahasa Jawa. Diskusi yang mengemuka, kecerdasan buatan ternyata tidak hanya memahami bahasa Indonesia standar tetapi juga bahasa sehari-hari yang kasual. Perspektif yang mengemuka, kecerdasan buatan menjadi lebih inklusif dan lebih dekat dengan masyarakat di berbagai wilayah. Serta, membuka akses lebih luas untuk pengembangan teknologi tanpa halangan keterbatasan pemahaman bahasa.
Bisa pula fokus dengan keterbatasan kecerdasan buatan dalam memahami konteks-konteks kultural yang sangat dalam, seperti level tata krama atau unggah-ungguh yang menyertai aktivitas berbahasa. Diskusi dalam tulisan yang bisa muncul, kecerdasan buatan masih kesulitan menerapkan secara tepat pemakaian bahasa Jawa krama inggil terhadap orang yang lebih tua atau ngoko kepada kawan sebaya atau lebih muda dalam situasi-situasi tertentu. Perspektif yang bisa muncul, kecerdasan buatan hanyalah alat. Akan tetapi, peran manusia sebagai penutur tetap krusial dalam memberikan sentuhan etika dan kesantunan berbahasa. ***
