Ember, Inilah Lembaran Riwayatmu

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manusia Prasejarah dengan penalaran purbani mereka, membawa dan menampung air dengan memanfaatkan kulit binatang yang kering dan cekung, tempurung kelapa, atau anyaman daun. Bukti arkeologis cenderung memperkuat pandangan tersebut. Melalui alat-alat bantu sederhana itulah, mereka memenuhi kebutuhan akan air untuk menghilangkan dahaga dan merebus bahan makanan yang pengonsumsiannya memang perlu melewati proses ini.
Dengan penalaran yang purbani pula, mereka pun sudah memiliki konsepsi tentang membersihkan diri, membersihkan bahan makanan sebelum mengalami pengolahan simpel seperti penggodokan, dan membersihkan peralatan untuk memasak setelah digunakan. Semua aktivitas itu jelas membutuhkan keberadaan air. Tentu saja dalam batas-batas jangkauan penalaran purbani mereka mengenai konsep kebersihan.
Masih terkait dengan air. Mereka juga memanfaatkan sungai dan mata air untuk mengondisikan agar tanah tetap terjaga kesuburannya serta memberikan dukungan terhadap aktivitas bercocok tanam. Selain itu, pemilihan lokasi tempat tinggal pun berdasarkan pertimbangan kedekatan dengan sumber makanan.
Sumber makanan, selain tanah yang subur, juga sungai atau danau. Tempat hidup beragam ikan dan hewan air lainnya. Ini pun dimanfaatkan manusia purba sebagai sarana untuk menjadi penyintas dari seleksi alam. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kedekatan lokasi tempat tinggal mereka dengan sungai atau danau turut menjadi pertimbangan kemudahan akses dengan air.
Menyimpan makanan dan mengawetkannya dalam rentang waktu tertentu juga telah menjadi bagian dari konsep kebutuhan mereka. Daging, ikan, mentega, sayur-sayuran yang mudah busuk ditempatkan ke dalam rawa. Kondisi rawa yang rendah oksigen dan tinggi tingkat keasamannya, bisa memperlambat pembusukan.
Variasi Bahan
Dari bahan alami, yaitu kulit binatang yang kering cekung, tempurung kelapa, atau anyaman bambu, mengikuti langkah maju perkembangan teknologi keseharian yang sederhana, wadah air yang memiliki kesamaan fungsi dengan ember, bahannya pun bisa berupa kayu, gerabah, atau logam (tembaga, perunggu, besi).
Mengenai penggunaan bahan kayu, manusia telah mengenalnya sejak Periode Paleolitikum (Zaman Batu Tua) pada 2,5 juta tahun lalu hingga 10.000 tahun Sebelum Masehi. Kemudian pada Periode Mesolitikum (Zaman Batu Tengah) pada 10.000-8.000 tahun Sebelum Masehi.
Dan, Periode Neolitikum (Batu Muda) pada 8.000-4.000 tahun Sebelum Masehi, pemanfaatan kayu semakin menunjukkan kemajuan sejalan dengan kemampuan manusia yang lebih terampil mengolah bahan alam. Teknik penyambungan kayu dalam membentuk ember pun semakin sempurna.
Pada Periode Neolitikum (Zaman Batu Muda), gerabah hadir dalam peradaban manusia manakala bercocok tanam masuk ke dalam konsep kebutuhan mereka. Ember atau wadah air pada zaman ini berbahan tanah liat yang mengalami proses pembentukan dan pembakaran sehingga menjadi gerabah.
Zaman logam juga masih termasuk Prasejarah, beririsan dengan Periode Neolitikum. Zaman logam di kisaran 6.000-1.000 tahun Sebelum Masehi. Beririsan pula dengan Zaman Sejarah yang diperkirakan mulai 3.000 tahun Sebelum Masehi dengan bukti arkeologis berupa sistem tulisan bangsa Sumeria di Mesopotamia.
Manusia pada mulanya memanfaatkan tembaga untuk membuat peralatan, termasuk wadah untuk tempat air alias ember. Seiring dengan perjalanan waktu, kemudian ditemukan paduan tembaga dan timah, yaitu perunggu, yang ternyata lebih kuat. Manakala manusia memiliki keahlian melebur dan mengolah besi, jadilah logam ini menjadi prioritas pilihan lantaran ketersediaannya yang relatif berlimpah dan jauh paling kuat.
Tentang ember dari bahan logam pada masa lalu, biasanya yang lebih lazim digunakan adalah besi. Sebenarnya tembaga dan perunggu juga dapat dimanfaatkan. Namun, harganya lebih mahal dan tidak tahan lama sebagaimana besi. Dewasa ini, berbicara tentang ember logam, biasanya dibuat dari stainless steel. Tahan karat dan higienis serta cocok untuk peralatan dapur. Termasuk ember pastinya.
Ember Plastik
Demikianlah ember sebagai wadah air dan pada perkembangannya bisa pula menjadi wadah cairan lainnya, seperti cat, minyak, larutan pembersih. Bisa pula untuk wadah mainan anak, barang-barang kecil (baut, mur, paku), bahan bangunan (semen, pasir, kerikil), barang untuk berkebun (tanah, pupuk, bibit, peralatan berkebun), barang untuk mencuci (sabun, kain lap, sikat), makanan anjing, kucing, atau ayam.
Dari waktu ke waktu, ember mengalami sentuhan dinamika perubahan bahan yang lebih memenuhi kehendak dan selera para pemakainya. Pada abad ke-20, plastik menjadi pilihan bahan yang mulai menerima realisasi pengembangan dan penggunaan secara meluas.
Pada abad ke-20 terjadi beberapa penemuan penting terkait dengan plastik. Plastik sintetis pertama, namanya bakelite, diproduksi secara besar-besaran pada 1907. Leo Hendrik Baekeland (14 November 1863 - 23 Februari 1944) adalah penemu plastik sintetis yang tahan panas itu.
Pada paruh pertama abad ke-20, bakelite menerima realisasi pemanfaatan guna isolasi listrik dan telepon. Juga untuk berbagai benda umum lainnya, antara lain barang-barang rumah tangga. Dan, ember plastik termasuk di antaranya.
Selanjutnya, muncul polistirena, dikembangkan dan mulai digunakan secara komersial pada 1920-an. Penemu pertama kali Eduard Simon (18 September 1789 - 19 Juni 1856), apoteker Jerman, pada 1839. Lalu diteliti lebih lanjut oleh Hermann Staudinger (23 Maret 1881 - 8 September 1965), kimiawan Jerman. Bentuk produk dari bahan polistirena ini, yaitu styrofoam untuk kemasan serta plastik keras untuk peralatan makan sekali pakai.
Kemudian, ada PVC (Polyvinyl Chloride), dikembangkan secara komersial juga pada 1920-an. Awal temuan pada abad ke-19. Adalah Henri Victor Regnault (21 Juli 1810 - 19 Januari 1878), fisikawan Prancis, menemukannya pada 1838, manakala dia melakukan eksperimen gas vinil klorida terpapar sinar matahari.
Kemudian Eugen Baumann (12 Desember 1846 - 3 November 1896), ahli kimia Jerman, menyempurnakan penemuan itu pada 1872 manakala dia melakukan eksperimen serupa. Pemanfaatan PVC untuk pembuatan pipa mulai 1930-an. Akan tetapi, pemanfaatan secara luas baru tampak setelah Perang Dunia II.
Setelah itu, pemanfaatan plastik pun kian meluas. Termasuk dari bahan polietilena yang merupakan jenis termoplastik. Biasa digunakan untuk botol plastik dan kantong belanja. Penemunya Hans von Pechmann (1 April 1850 - 19 April 1902), ahli kimia Jerman, pada 1898 ketika dia memanaskan diazometana.
Akan tetapi, sintesis industri pertama polietilena dilakukan Eric Fawcett (27 Agustus 1927 - 2 September 2000) dan seorang koleganya, Reginald Gibson, pada 1933. Dua ilmuwan fisika yang bekerja di Imperial Chemical Industries (ICI) Britania Raya itu menyempurnakan temuan zat baru tersebut.
Ember plastik hadir di tengah-tengah perkembangan industri plastik yang terus melaju pesat di sekujur abad ke-20 berkat dukungan berupa temuan beberapa jenis plastik baru. Serta, teknologi produksinya pun semakin menapakkan langkah yang lebih maju dan efisien.
Ember plastik hadir di tengah-tengah realitas peradaban umat manusia yang semakin intens mengakrabi plastik sebagai wujud bahan dari benda-benda yang berada dekat sebagai kebutuhan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Plastik seperti sekeping mata uang dengan dua sisi dalam kehidupan modern. Sisi satu, nilai faedahnya sudah telanjur mendarah daging. Sementara itu, sisi lain, menyisakan masalah pencemaran lingkungan jika penggunaannya tidak dituntun oleh environmental wisdom. ***
