Konten dari Pengguna

Folder "Konten Saya" di Kumparan Mirip Kliping

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Folder "Konten Saya" di Kumparan mempunyai kemiripan dengan kliping tulisan-tulisan pribadi dalam format digital. (Foto: Mohamad Jokomono)
zoom-in-whitePerbesar
Folder "Konten Saya" di Kumparan mempunyai kemiripan dengan kliping tulisan-tulisan pribadi dalam format digital. (Foto: Mohamad Jokomono)

Ketika mencermati folder “Konten Saya” di Kumparan, saya jadi tersadar, nilai fungsinya mempunyai kemiripan dengan kliping. Sebagai wahana untuk mendokumentasikan tulisan-tulisan pribadi. Terkumpul pada satu oase pengaksesan, sehingga dapat digunakan dengan mudah bila sewaktu-waktu diperlukan.

Meskipun telah eksis dengan format digital, folder “Konten Saya” di Kumparan, mengingatkan saya pada kliping manual tulisan-tulisan pribadi yang pernah dimuat di berbagai media massa.

Sebelum melangkah lebih jauh, agaknya saya perlu memperkenalkan terlebih dahulu kepada generasi kini, yang sangat mungkin tidak terlalu familier dengan kliping. Mengingat pada awalnya kliping begitu akrab dengan media cetak.

Kliping, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring), merujuk artian “guntingan atau potongan bagian tertentu dari surat kabar, majalah, dan sebagainya, yang kemudian disusun dengan sistem tertentu”.

Konsep pengertian di atas memang merujuk pada kliping manual. Akan tetapi dalam cakupan pengertian yang lebih luas, pengumpulan tulisan-tulisan pribadi kita dalam folder “Konten Saya” di Kumparan pun bisa dipandang sebagai kliping juga. Yaitu kliping digital.

Penyusunannya pun secara otomatis dilakukan oleh pihak Kumparan. Tak perlu harus repot menggunting tulisan sendiri yang dimuat di media dan menempelkannya di pagina-pagina buku tulis seperti pada kliping manual.

Tentang kliping manual. Pada 39 tahun lalu, saya sudah mulai menyusunnya. Ya, pada Minggu, 4 Mei 1986, untuk pertama kali tulisan saya dimuat di media massa, yaitu Harian Kartika Semarang. Impian pemuatan tulisan yang sudah lima tahun saya gadang-gadang sejak masih SMA di Kota Salatiga, Jawa Tengah.

Tulisan yang dimuat itu berupa esai sastra yang berjudul “Sastra Indonesia di Tengah Pergolakan Konvensi dan Inovasi”. Saat itu, saya masih mahasiswa Semester IV D-3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Negeri Semarang.

Klipinng tulisan probadi yang pertama kali dimuat di koran. (Foto: Mohamad Jokomono)

Tujuh Buku Kliping

Sejak pemuatan pertama itu saya pun mulai rajin menulis. Setiap kali ada pemuatan tulisan, saya mengklipingnya di buku tulis ukuran 21 x 16 sentimeter dengan isi 100 lembar. Buku Kliping Pertama berisikan tulisan yang terbit pada Minggu, 4 Mei 1986 hingga Minggu I September 1987.

Buku Kliping Kedua memuat tulisan saya yang terbit mulai dari Minggu, 8 September 1987 hingga Minggu I Agustus 1988. Buku Kliping Ketiga (Minggu, 31 Juli 1988 hingga Minggu IV/26 November 1989).

Selanjutnya Buku Kliping Keempat (Rabu, 28 November 1989 - Minggu, 21 Oktober 1990). Buku Kliping Kelima (17 Oktober 1990 - Minggu IV 23-30 Juni 2000). Buku Kliping Keenam (Minggu I/1-8 Juli 2000 - April 2002).

Buku Kliping Ketujuh (Rabu, 2 Oktober 2002 - Jumat, 18 November 2022). Dengan catatan, yang terakhir ini hingga sekarang belum terisi penuh. Masih ada belasan lembar yang belum tertempeli dengan guntingan kertas koran atau majalah. Kertas-kertas halaman yang masih tersisa itu pun kini tampak mulai menguning.

Buku-buku kliping ukuran 21 x 16 sentimeter, masing-masing berisi 100 lembar, yang memuat tulisan-tulisan pribadi yang pernah terbit di media cetak pada 1986-2022. (Foto: Mohamad Jokomono)

Esensi Persamaan

Folder “Konten Saya” di Kumparan memiliki esensi persamaan dengan kliping manual, yaitu penataan tulisan-tulisan secara teratur berdasarkan kronologi urutan penayangan atau pemuatan.

Selanjutnya ada prinsip penyatuan di satu tempat. Dengan demikian, tulisan-tulisan pribadi itu tidak tersebar di tempat-tempat terpisah. Saya dapat dengan mudah mencari suatu tulisan untuk keperluan tertentu.

Baik kliping digital maupun kliping manual sama-sama memberikan saya kesempatan untuk mempelajari kekurangan yang terdapat dalam tulisan-tulisan sendiri guna proses pembenahan ke arah yang lebih konstruktif.

Terkadang saat menulis, saya bisa khilaf dalam menentukan diksi yang tepat sesuai dengan konteks kalimat. Atau, pengalimatan gagasan yang terlalu kaku sehingga tidak mengalir luwes sehingga enak dalam cecap pembacaan.

Dan, hal-hal remeh-temeh seperti salah ketik. Kalau hanya satu atau dua salah ketik, tentu masih bisa ditoleransi. Namun, kalau jumlah salah ketiknya banyak, ini tentu tidak nyaman bagi pembaca. Prinsip memanjakan pembaca adalah anutan prinsip penulis yang bertanggung jawab pada pilihan profesinya.

Belum lagi, saking asyik saya menuliskan gagasan yang susul-menyusul di kepala, kadang tak kuasa berpikir jernih. Dan, menuliskannya dalam paragraf-paragraf panjang. Padahal itu sungguh melelahkan mata pembaca yang mencoba untuk mencerna substansi gagasannya.

Itulah fungsi utama, kenapa saya merasa perlu memiliki dokumentasi tulisan-tulisan pribadi baik dalam kliping digital maupun kliping manual. Saya merasa perlu terus belajar untuk membenahi diri dalam berproses, sehingga pada giliranya dapat menampilkan versi terbaik dari potensi yang saya miliki. ***