Konten dari Pengguna

Hubungan Unik Masyarakat Turki dengan Kucing Jalanan

Mohamad Jokomono
Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
20 November 2025 18:36 WIB
·
waktu baca 12 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hubungan Unik Masyarakat Turki dengan Kucing Jalanan
Keberadaan para kucing jalanan di Turki sungguh menarik. Masyarakat di sana memiliki hubungan yang unik dengan mereka. Ada alasan sejarah, agama, dan budaya yang membentuk cinta dan toleransi itu.
Mohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Rumah-rumah mini yang sengaja disediakan untuk kucing-kucing jalanan di Distrik Cihangir, Beyoglu, Istanbul, Turki. Dilengkapi dengan makanan dan minuman pula. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Rumah-rumah mini yang sengaja disediakan untuk kucing-kucing jalanan di Distrik Cihangir, Beyoglu, Istanbul, Turki. Dilengkapi dengan makanan dan minuman pula. (Sumber: Shutterstock)
ADVERTISEMENT
Dalam tayangan video yang mengangkat kehidupan kucing di media sosial, seperti Facebook atau Instagram, seringkali ada narasi baik suara maupun tulisan yang antara lain menyebut hewan mamalia berbulu itu dengan panggilan sayang “anabul. Akronim dari “anak bulu”. Ada pula yang dengan gemas menyebutnya “ulat bulu”.
ADVERTISEMENT
Panggilan sayang dan gemas itu biasanya ditujukan terutama kepada kucing peliharaan (Felis catus). Akan tetapi, mungkin juga untuk kucing liar (Felis silvestris) yang berpenampilan manis dan kiut. International Commission on Zoological Nomenclature (ICZN) pada 2017 mengakui Felis catus bukan lagi sebagai subspesies dari Felis silvestris melainkan merupakan spesies tersendiri.
Sekadar info, terkait dengan panggilan sayang “ulat bulu” itu, ternyata penyebutan tersebut mengacu pada ulat bulu jenis ulat kucing (Puss caterpillar) yang mempunyai bulu tebal dan lebat seperti gumpalan bulu kucing. Panggilan itu bisa jadi muncul karena adanya kemiripan visual yang menekankan pada karakteristik fisik mereka yang berbulu dan tampak menggemaskan. Walaupun sebenarnya bulu pada Puss caterpillar konon beracun.
Melalui media sosial itu pula, kita dapat menyaksikan tentang kehidupan kucing-kucing jalanan (tanpa pemilik) di Turki, yang mendapat perlakuan yang begitu baik dari masyarakat di sana. Di Negeri Dua Benua, yang sebagian wilayahnya masuk Benua Asia (Anatolia) dan sebagian yang lain di Benua Eropa (Thrace), mayoritas warganya memperlihatkan perbuatan atau perilaku unik dengan balutan yang penuh dan sarat kasih sayang terhadap kucing-kucing jalanan.
ADVERTISEMENT
Status Istimewa
Hal ini menunjukkan adanya status yang istimewa pada para anabul, termasuk yang berada di jalanan dan tidak ada pemiliknya, dalam rengkuh budaya mereka. Terdapat beberapa tindakan mereka yang relatif unik, namun kandungan makna kasih sayang yang besar tidak dapat termungkiri hadir sebagai wujud ekspresi nan tulus.
Di seantero Turki, teristimewa di kota-kota besar seperti Istanbul, Ankara, Izmır, Adana, juga di kota-kota penting yakni Antalya, Konya, dan Denizi, sudah menjadi pemandangan umum adanya mangkuk berisi makanan dan air minum yang terletak di trotoar, di depan toko, atau di taman kota. Itu disediakan oleh warga setempat untuk para kucing jalanan. Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menyediakan pasokan pakan dan minuman yang memadai.
ADVERTISEMENT
Kedisever Türk vatandaşları, bahasa Turki untuk frasa “warga Turki pencinta kucing”, tidak sedikit dari mereka dan bahkan ada peran pemerintah distrik juga, menegaskan aksi nyata dengan membangun atau membeli tempat berlindung bagi para kucing jalanan. Rumah-rumah kayu mini, minimal kardus-kardus kualitas tebal, dengan sentuhan pengecatan warna-warni nan cerah, mereka letakkan di ruang publik. Semua itu mereka persembahkan dengan penuh kasih sayang kepada para anabul jalanan itu agar memiliki tempat berteduh. Melindungi dari sergapan cuaca dingin atau terpaan hujan.
Seekor kucing jalanan tidur dengan nyaman di atas meja yang terletak di teras sebuah restoran di Istanbul, Turki. Pemilik kafe ini membiarkan saja dan tidak mengusirnya. (Sumber: Shutterstock)
Kucing-kucing jalanan juga mendapat penerimaan dengan sebaik-baiknya di ruang publik. Mereka mendapatkan kebebasan untuk memberada di dalam toko kelontong atau bahkan tidur manis di meja kafe. Pemilik usaha jarang mengusir mereka. Lebih sering memberikan keleluasaan kepada mereka menikmati kelelapannya di meja atau rak untuk barang jualan. Para takmir masjid di sana juga memberi mereka kebebasan memasuki tempat peribadatan itu. Demikian halnya dengan para pekerja kantoran.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 2021 Turki mengamandemen Undang Undang Perlindungan Hewan, bahasa Turkinya: Hayvanları Koruma Kanunu, yang berlaku di negara tersebut. Sebelum pemberlakuan amandemen tersebut, keberadaan hewan hanya merupakan properti yang terdiri atas “hewan yang diklaim” (peliharaan) dan “hewan yang tidak diklaim” (liar).
Lewat amandemen tersebut, Turki meningkatkan derajat eksistensi hewan bukan lagi sekadar “properti” (barang) melainkan masuk ke dalam.klasifikasi “makhluk hidup”. Konsekuensi yuridis dari pengesahan amandenen Hayvanları Koruma Kanunu ini, tindakan penganiayaan terhadap hewan termasuk anabul baik peliharaan maupun jalanan tidak hanya mendapat kenaan hukuman dengan pasal kerusakan properti.
Akan tetapi, demi mengingat hewan termasuk kucing sudah masuk ke dalam klasifikasi “makhluk hidup”, konsekuensi yuridisnya adalah pengenaan pasal penganiayaan yang dapat menjebloskan pelaku ke dalam sel tahanan lembaga pemasyarakatan. Amandemen ini menunjukkan "kemurah-hatian" Pemerintah Turki dalam memberi perlindungan hukum yang kuat kepada hewan termasuk kucing dan khususnya kucing jalanan. Hal ini juga menunjukkan keseriusan negara dalam memberikan kesejahteraan kepada mereka.
ADVERTISEMENT
Dan, yang paling menyentuh perasaan, sudah menjadi kelaziman yang sering terjadi, warga Turki menaruh perhatian kepada para anabul jalanan yang sedang sakit, dengan membawanya ke klinik dokter hewan dengan biaya pribadi. Tidak sedikit pula klinik dokter hewan di Negeri Bumi Bisyarah (Kabar Gembira) itu memberikan diskon atau bahkan perawatan gratis untuk kucing jalanan.
Eksistensi anabul jalanan di Negeri Asal Cerita Shehrazat 1001 Malam (Binbir Gece) itu, betul-betul menjadi perhatian warga di sana. Kucing-kucing jalanan itu dikenali satu per satu dan bahkan diberi nama oleh warga. Kepribadian dan kepribadian masing-masing pun diketahui. Dan, diakui sebagai bagian dari komunitas lokal.
Kisah Gli, Penghuni Hagia Sophia
Kucing betina bernama Gli yang tersohor sebagai salah seekor penghuni Hagia Sophia. (Sumber: Shutterstock)
Yang sungguh menarik adalah kisah seekor kucing betina bernama Gli. Nama ini dalam bahasa Turki. Maknanya Persatuan Cinta. Berbulu abu-abu, berjenis Europea4n Shorthair. Penghuni Hagia Sophia, sejak lahir pada 2004, semasih museum, dan menghembus napas terakhir pada 10 November 2020, karena sakit sejak September 2020 dan telah menjalani perawatan di klinik hewan selama beberapa waktu. Jasadnya dimakamkan di Taman Masjid Hagia Sophia. Sebagai catatan, Hagia Sophia kembali menjadi masjid mulai 10 Juli 2020 hingga sekarang.
ADVERTISEMENT
Selama enam belas tahun hidupnya, yang relatif panjang untuk ukuran kucing, Gli tersohor berkat perangai ramahnya kepada para wisatawan yang datang ke Hagia Sophia, Istanbul, Turki. Ia tidak canggung berpose di depan kamera. Nama Gli semakin terkenal pada 2009, setelah Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, berfoto dan mengelusnya pada Selasa, 7 April tahun tersebut.
Gli menjadi salah seekor anabul tanpa pemilik yang menjadi ikon lokal dan kemudian namanya terkenal ke seantero jagat. Umut Bahceci, seorang pemandu wisata, berinisiatif membuatkan akun Instagram Gli dan teman-temannya pada 2016, yaitu @hagiasophiacat. Di situ Umut mengabadikan lewat foto ataupun video para wisatawan yang tengah bermain dengan Gli atau teman-temannya lain. Pengikutnya hingga Gli tiada, sedikitnya mencapai 48.000-an follower.
ADVERTISEMENT
Ada lagi anabul jalanan lain yang terkenal juga. Namanya Tombili. Itu bahasa Turki. Maknanya gemuk atau chubby. Tidak diketahui kapan lahirnya, tapi kematiannya dicatat pada 1 Agustus 2016. Kucing betina jalanan di Distrik Kadıköy, Istanbul itu menimbulkan sensasi internet global berkat satu foto ikoniknya. Ia tampak sedang berpose dengan sangat santai. Ia bersandar pada sebuah anak tangga trotoar. Pandangannya menunjukkan seolah ia tengah merenungi atau mengamati dunia.
Patung kucing Tombili dari bahan perunggu di Distrik Kadıköy, Istanbul, Turki. (Sumber: Shutterstock)
Popularitas internasional Tombili dengan pose foto ikoniknya di internet, kemudian gaya rileksnya itu menjadi viral dan ada yang merekonstruksinya hingga terwujud dalam bentuk meme (gambar lucu) yang terkenal luas di seluruh dunia. Inilah salah satu alasan, mengapa warga lokal dan pencinta kucing meminta Pemerintah Distrik Kadıköy untuk membangun monumen patung guna mengenang Tombili. Mereka agaknya merasa bangga dengan anabul lokal mereka yang memiliki popularitas internasional itu.
ADVERTISEMENT
Alasan lain, Tombili si anabul betina jalanan, jenis moggie cat, dengan pola warna tabby (loreng atau belang), dominan abu-abu kecokelatan (brown or grey tabby) dan putih, serta bulu pendek itu, semasa hidupnya begitu disayangi warga setempat. Ia bagian yang tak terpisahkan dari komunitas lokal di lingkungan Ziverbey tempatnya tinggal.
Selain itu, alasan lainnya lagi, karena posenya yang unik dan santai mengangkat muruahnya menjadi simbol ketenangan dan gaya hidup yang khas di lingkungan tersebut. Berangkat dari tiga alasan di atas, sebuah petisi di Change.org berhasil mengumpulkan sebanyak 17.000-an pendukung untuk pembangunan patung perunggu guna mengenang kehadiran Tombili yang ikonik itu.
Pemerintah Distrik Kadıköy kemudian mengabulkan petisi tersebut hanya delapan belas hari setelah kematian Tombili, yaitu pada 19 Agustus 2016. Adapun peresmiannya bertepatan dengan peringatan Hari Hewan Sedunia pada 4 Oktober 2016. Kini sebuah patung anabul dari bahan perunggu dengan ukuran persis sebesar Tombili dalam pose khasnya telah menjadi daya tarik wisata di wilayah tersebut.
ADVERTISEMENT
Kombinasi Alasan
Alasan sejarah, agama, dan budaya menjadi kombinasi kekuatan yang mendorong warga Turki begitu menyayangi kucing. Alasan sejarah dan peran praktis anabul dalam kehidupan warga Turki, berangkat dari masa Kekaisaran Ottoman atau Kesultanan Utsmaniyah (akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-20).
Pada zaman Kekaisaran Ottoman, kebanyakan rumah di Istanbul dan wilayah Turki lainnya terbuat dari bahan kayu. Hal tersebut mengakibatkan tikus serta hama lain berkembang biak dengan pesat. Dalam kondisi inilah, para kucing memainkan peran yang relatif penting sebagai pemburu alami. Mereka turut melindungi toko-toko gandum, perbekalan makanan, dan dokumen berharga dari serbuan gerombolan hewan pengerat itu. Mereka pun selama berabad-abad tampil sebagai penjaga yang memiliki nilai fungsi yang sangat bermanfaat.
ADVERTISEMENT
Pendek kata, keberadaan kucing-kucing itu boleh terbilang sangat memberikan faedah pada masa lalu sebagai pembasmi tikus dan hama lain yang merupakan ancaman serius untuk keamanan persediaan makanan dan rumah-rumah kayu. Dalam pandangan para kawula Kekaisaran Ottoman, para anabul jalanan itu merupakan pahlawan kesehatan yang keberadaannya sangat berfaedah.
Pintu gerbang utama Istana Dolmabahce di Istanbul, Turki. Salah satu peninggalan Kekaisaran Ottoman. (Sumber: Shutterstock)
Alasan lain dari kecintaan warga Turki terhadap kucing adalah signifikansi keagamaan, dalam hal ini Islam, yang menjadi anutan tidak kurang dari 89% penduduk di sana. Dalam Islam, kucing merupakan hewan yang tidak najis. Ada hadis sahih yang mendukung kebenaran pernyataan ini. Berikut kutipan hadisnya:
وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ – فِي الْهِرَّةِ – : "‏ إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ طَوَّافِيكمْ أَوْ طَوَّافَاتِكُمْ ‏"
ADVERTISEMENT
(Wa 'an Abī Qatādatah raḍiyallāhu 'anhu anna Rasūlallāhi ṣallallāhu 'alaihi wa sallama qāla - fī al-hirrati -: "Innahā laisat binajasin, innamā hiya min at-ṭawwāfīnikum aw at-ṭawwāfātikum)
Terjemahan: Dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kucing itu tidak najis, tetapi termasuk hewan yang sering mengelilingi (berkeliaran di antara) kalian”.
Hadis ini merupakan hasil periwayatan dari empat orang imam hadis, yaitu Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah. Selanjutnya hadis ini memperoleh predikat sahih dari At-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.
Sesuai dengan hadis tersebut, menurut perspektif spiritual Islam, gesekan badan atau bekas jilatan air liur kucing yang mengenai tubuh seseorang atau benda yang seseorang itu gunakan, seperti air bersih yang sebelumnya ada kucing yang meminumnya, tidak najis dan tetap sah untuk berwudu. Meskipun demikian, kotoran dan air kencingnya tetap najis.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, ada hadis yang mendeskripsikan tentang larangan menyiksa kucing.
عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ، فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ، لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا، وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشِيشِ الْأَرْضِ
(Udzdzibat imra'atun fii hirrotin sajanat-haa hattaa maatats, fa dakholat fii-han naar, laa hiya ath'amat-haa wa laa saqat-haa idz habasat-haa, wa laa hiya tarokat-haa ta'kulu min khosyisyil ardh).
Terjemahan: "Seorang wanita disiksa di neraka akibat perbuatannya yang kurang baik terhadap seekor kucing semasa hidupnya. Dia mengurung binatang itu sampai mati. Tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya. Bahkan, tidak juga membiarkannya memakan binatang-binatang kecil yang ada di tanah" (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan kepada umat Islam untuk menyayangi dan tidak melakukan tindakan yang sewenang-wenang kepada sesama makhluk ciptaan-Nya, termasuk terhadap kucing. Sebab, menyakiti hewan merupakan perbuatan yang secara spiritual memiliki kandungan dosa yang tidak kecil.
ADVERTISEMENT
Selain itu, kecintaan warga Turki terhadap kucing juga berangkat dari alasan budaya. Anabul telah mereka anggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari budaya lokal negeri tersebut. Perawatan terhadap kucing terutama yang tidak mempunyai pemilik dan berkeliaran di jalanan atau tinggal di fasilitas publik seperti masjid, permakaman yang menjadi destinasi wisata, perkantoran, atau pertokoan, menjadi tanggung jawab bersama.
Dengan demikian, para anabul jalanan itu menjadi bagian dari komunitas. Warga di sana pun, dengan pegangan ikatan budaya ini, dapat menuntaskan ketulusan yang tersimpan di hati untuk secara aktif merogoh dari kocek pribadi masing-masing guna menyuplai makanan dan minuman serta menyediakan fasilitas perawatan kesehatan kepada kucing-kucing jalanan itu. Dan pada realitasnya, hal tersebut sudah menjadi bentuk kelaziman di banyak kota seantero wilayah Negara Turki yang seluas 783.562 kilometer persegi dan menempatkannya sebagai negara besar ke-37 dunia.
ADVERTISEMENT
Adanya budaya kepedulian komunal terhadap kucing-kucing jalanan di Turki, juga mendorong warga setempat menyediakan tempat berlindung kecil dari kayu atau kardus kualitas tebal yang mereka tempatkan di luar rumah atau toko tempat usaha mereka. Tujuannya, agar para anabul jalanan itu memiliki tempat yang layak untuk sekadar memproteksi diri dari hujaman hawa dingin ketika malam tiba.
Masih terkait dengan alasan budaya, kucing acapkali berkaitan dengan keberuntungan, perlindungan, dan ketenangan. Kehadiran kucing-kucing jalanan di ruang publik, mereka yakini dapat mengusung kedamaian dan keharmonisan dalam ranah interaksi sosial. Mereka yakini pula, keberadaan si meong dapat menyelipkan perasaan kegembiraan dan kehangatan di hati.
Pengelolaan Kotoran
Terkait dengan persoalan kotoran yang menimbulkan bau tidak sedap dari para anabul jalanan, warga Turki melancarkan jurus pengelolaan lewat upaya pembersihan atas inisiatif mereka sendiri. Dengan sukarela dan penuh tanggung jawab, mereka membersihkan tempat untuk memberi makan dan minum secara teratur serta titik-titik yang menjadi kebiasaan para meong jalanan itu berkumpul.
ADVERTISEMENT
Pemerintah distrik juga tidak tinggal diam dalam persoalan kotoran kucing-kucing jalanan itu. Telah dibentuk tim-tim kebersihan untuk keperluan tersebut. Rutin membersihkan jalan dan ruang publik, termasuk dari paparan kotoran dan air kencing para anabul jalanan itu. Keberadaan ribuan ekor binatang tersebut tidak menyebabkan kota-kota utama di Turki menjadi kotor dan berbau. Sebab, semua telah teruji dengan realisasi penerapan sistem pengelolaan sampah dan kebersihan yang efektif dan efisien.
Selain itu, juga datang dari kebersihan alami dari kucing-kucing jalanan itu sendiri. Mereka merupakan hewan yang pembersih. Secara naluriah, mengubur kotoran sendiri sehingga tidak menimbulkan bau yang mengganggu. Biasa mencari tanah gembur, pasir, atau area lain yang dapat mereka gali ketika membuang hajad. Hal ini secara alami dapat meminimalisasi penyebaran bau yang kurang nyaman di hidung.
ADVERTISEMENT
Kendatipun tantangan sanitasi tidak termungkiri datang mengadang, pandangan positif warga Turki terhadap para meong tetap menumbuhkan rasa toleran terhadap bentuk-bentuk ketidaknyamanan yang sangat mungkin timbul. Persoalan kotoran kucing, mereka anggap sebagai bagian yang wajar dari realitas kehidupan yang berdampingan.
Warga Turki dengan ikatan budaya kasih sayang yang penuh toleransi terhadap keberadaan para meong jalanan, juga secara aktif meminimalisasi dampak kotorannya di ruang publik yang tertutup. Pemilik kafe atau toko bisa jadi tidak keberatan mereka memasuki area tempat usahanya. Akan tetapi, mereka tetap memastikan kebersihannya dengan cairan disinfektan atau bubuk kopi guna menetralisasi aroma yang kurang sedap terhirup hidung pengunjung.
Pendek kata, langkah operasional pengelolaan masalah kotoran para anabul jalanan di Turki, secara totalitas merupakan hasil upaya kolektif dari warga per individu dan kebijakan sistem pengelolaan yang efektif serta efisien dalam rengkuh inisiasi pemerintah distrik. Dan, semua itu mendapat tiupan roh budaya kasih sayang dan toleransi tinggi sebagai sesama makhluk-Nya yang hidup berdampingan di satu lingkungan. ***
ADVERTISEMENT