Ikan Torani Sebenarnya Tidak Terbang seperti Burung

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Torani” pastilah bukan saudara kembar “tirani”. Meski keduanya selintas mirip. Hanya dibedakan oleh vokal o dan i. Namun, keduanya secara maknawi terentang dalam jarak yang sangat jauh. Bahkan, tidak ada sama sekali noktah-noktah pertalian yang dapat dihubungkan dari keduanya satu sama lain.
Ah, itu hanyalah pernyataan awal tulisan yang sedikit membanyol. He he he …. Kemiripan struktur huruf, bahkan hanya beda satu huruf saja, justru merentang jarak makna yang begitu lebar. Contoh kata “tenang” (tidak bergerak; tidak berubah; tidak gelisah), “tenong” (anyaman bambu bulat untuk tempat kue basah), “tenung” (ilmu hitam untuk mencelakai orang).
Contoh ini membuktikan, betapa perbedaan satu huruf (fonem) saja justru merentang jarak makna yang begitu jauh. Demikian pula dengan “tirani” dan “torani”. Kata “tirani” merujuk pada makna “kekuasaan yang dalam proses pelaksanaannya berlangsung dengan sewenang-wenang”.
Sementara itu, kata “torani” merujuk pada ikan yang keberadaan hidupnya tampak di semua samudra. Terlebih-lebih di perairan tropis dan subtropis di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia hingga kedalaman sekitar 200 meter. Ikan dengan nama Latin Hirundichthys Oxycephalus ini, di Indonesia bisa ditemui di wilayah perairan Sulawesi, Flores, hingga Papua.
Meluncur
Torani tersohor dengan sebutan ikan terbang. Famili ikan laut ini terdiri atas tidak kurang dari 50 spesies. Dapat dikelompokkan ke dalam tujuh hingga sembilan genera. Adapun makanannya plankton. Organisme laut dengan ukuran mikroskopis. Terdiri atas fitoplankton (alga laut mikroskopis) dan zooplankton (organisme heterotrof/hewan yang mengambang di perairan). Selain itu, ikan-ikan kecil juga menjadi santapan torani.
Meskipun torani tersohor dengan sebutan ikan terbang, sesungguhnya mereka tidak terbang seperti burung. Dengan tubuh torpedo (ada yang menyebut bulat memanjang seperti cerutu) dan sirip dada lebar mirip sayap serta biasanya mencapai belakang sirip punggung, mereka dapat meluncur keluar dari air dengan kekuatan penuh tenaganya.
Torani dapat mendorong tubuhnya keluar dari air dengan kecepatan lebih dari 56 kilometer per jam. Peluncuran mereka biasanya dalam kisaran jauh sepanjang 50 meter. Dengan memanfaatkan dorongan pada tepi gelombang, ikan-ikan torani itu mampu meluncur bahkan dengan rentang jarak hingga 400 meter.
Kemampuan torani meluncur sehingga tampak seperti terbang secara singkat di udara atau di atas permukaan air, menjadi cara bagi mereka ketika berupaya untuk melarikan diri dari para pemangsanya, seperti mackerel, tuna, todak, dan marlin. Ikan-ikan besar yang bergerak dengan kecepatan tinggi di samudra lepas.
Musim Kawin
Ketika arus laut sedang surut atau permukaan air menurun, sekitar bulan Desember hingga Juni, merupakan musim kawin bagi ikan torani. Bermula dari para ikan betina yang secara naluriah menetapkan lokasi yang aman untuk bertelur.
Alternatif pilihan yaitu di dekat permukaan air. Atau, lokasi yang banyak vegetasi laut yang mengambang. Seringkali di antara rumput laut menjadi pilihan favorit mereka. Ini merupakan strategi mereka untuk mengalihkan perhatian predator, sehingga telur kemudian larva hingga anakan torani yang kecil dapat terproteksi manakala mereka terlihat seperti tumbuhan laut.
Para ikan betina itu pun mengeluarkan telur dalam jumlah banyak. Telur-telur itu pun menempel pada substrat (landasan atau dasar) yang menjadi pilihan mereka. Proses penempelan itu dengan bantuan lendir.
Lonjong atau bulat serta tak mempunyai gelembung minyak, demikianlah wujud telur-telur ikan torani. Ada benang-benang panjang yang saling berhubungan di bagian membran telur. Fungsi dari benang-benang tersebut untuk melilitkan telur pada vegetasi atau benda yang mengapung di permukaan laut.
Setelah telur-telur itu berada pada tempat yang aman. Kemudian giliran ikan-ikan torani jantan yang berperan. Mereka mengeluarkan sperma masing-masing untuk membuahi telur-telur tersebut. Telur-telur yang telah mengalami pembuahan itu terus berkembang dan kemudian menetas sebagai larva.
Secara alami, larva-larva ikan torani itu kemudian menyebar mengikuti arus. Larva-karva itu pun mencari makan sendiri-sendiri hingga bertumbuhkembang menjadi ikan-ikan torani dewasa.
Dipastikan aman dan dapat dikonsumsi ikan-ikan torani ini. Bahkan, banyak ditangkap untuk diekspor. Ikan ini sangat lezat digoreng dengan atau tanpa tepung. Pas dijadikan camilan nan renyah. Bisa pula dibuat gulai. Dengan paduan santan dan cabai yang dibiarkan gelondongan. Layak dijadikan menu kuliner yang direkomendasikan.
Tidak hanya ikan torani, telur-telurnya pun dapat dimasak pula. Ada sup telur ikan torani. Campuran berbagai rempah dan sayuran menjadikan hidangan ini begitu populer di Sulawesi dan daerah Indonesia Timur. Oke pula untuk dijadikan acar yang segar dan sarat dinamika rasa. Dan, telur ikan torani ini bisa pula ditumis dengan bumbu dan sayuran. ***
