Konten dari Pengguna

Indahnya Berbagi Pengetahuan Dasar Jurnalistik di Kelas Tunagrahita

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berbagi pengalaman tentang pengetahuan dasar jurnalistik di kelas tunagrahita ternyata sungguh mengasyikkan. (Foto: Eka Widya Farmawati)
zoom-in-whitePerbesar
Berbagi pengalaman tentang pengetahuan dasar jurnalistik di kelas tunagrahita ternyata sungguh mengasyikkan. (Foto: Eka Widya Farmawati)

Baru-baru ini, saya merasakan betapa mengasyikan menjadi orang tua yang mengajar di kelas tempat anaknya tergabung menjadi salah seorang siswinya.

Atmosfer suasana berdiri di depan kelas, menyampaikan materi betapa pun sangat sederhana, dan respons para peserta didik. Semua itu sungguh mengobati kerinduan saya sebagai alumnus perguruan tinggi calon guru, yang lebih banyak menghabiskan waktu mengedit berita-berita para wartawan sebelum tayang.

Dengan Surat Nomor 420/204 bertanggal 15 Mei 2025 yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang Sri Sugiarti, S.Pd., M.Pd., diluncurkanlah Program Orang Tua Mengajar atau Parent Teaching pada semester genap ini di sekolah para penyandang disabilitas tersebut.

Surat pemberitahuan dari SLB Negeri Semarang tentang Program Orang Tua Mengajar. (Foto: Mohamad Jokomono)

Waktu penyelenggaran yang terjadwalkan pada 19-27 Mei 2025 lalu. Ini adalah pengalaman kali kedua saya dalam mengikuti program tersebut. Pada tahun lalu, berlangsung pada semester ganjil. Saat itu, saya membantu seorang ayah wali murid menyampaikan materi tentang musim hujan dan kemarau.

Tentu membutuhkan strategi dan pendekatan tersendiri dalam menghadapi siswa-siswi tunagrahita. Salah satu kelainan psikologis dengan fungsi intelektual lamban. Atau, Intelligence Quotient (IQ) 70 ke bawah menurut tes intelegensi baku.

Memperkenalkan Berita

Begitulah baru-baru ini pada suatu pagi, saya mendapatkan giliran mengajar di Kelas 11.C.1. Dua ibu guru, Eka Widya Fatmawati dan Yuliana, banyak membantu saya selama proses pembelajaran. Terutama dalam menghidupkan suasana kelas.

Para siswa-siswi tekun mengerjakan soal kuis. Bukan masalah hasil, melainkan proses keaktifan mereka untuk belajar, itulah yang menyejukkan hati. (Foto: Mohamad Jokomono)

Sekadar untuk memburaikan kekakuan, setelah mengucapkan salam, saya awali pertemuan dengan ucapan yang terlapisi sapuan kata yang sedikit puitis.

“Anak-anak. Tadi ketika Bapak bersama Rara naik BRT Trans Semarang. Jam digital di bagian dalam dekat kaca depan bus menunjukkan pukul 07:22 WIB. Dan, ketika Bapak melongok ke luar kaca jendela. Langit tampak bersedih. Sebab, mendung tebal menggantung. Tak ada secercah pun senyum Sang Menteri di pagi ini,” ungkap saya.

Kemudian saya mengaitkan dengan harapan agar cuaca itu tidak memengaruhi perasaan mereka dalam proses pembelajaran tersebut. “Meski demikian, Bapak berharap, kalian tidak terpengaruh dengan cuaca yang muram di pagi hari ini. Kalian tetap bersemangat mengikuti pelajaran ini. Nah, kali ini Bapak akan mengajak kalian untuk berkenalan dengan berita,” papar saya.

Konsep Sederhana

Terhadap mereka, saya tidak membiarkan terlalu lama mencerna penjelasan abstrak. Segera saya susulkan dengan pemberian contoh konkret. Ini ramuan konsep sederhana yang saya praktikkan.

Begitulah, setelah penyampaian pengertian simpel, bahwa berita adalah kejadian atau peristiwa yang diberitahukan kepada banyak orang untuk diketahui. Nah, guna memberi mereka pemahaman tentang apa itu kejadian. Dan, sekaligus agar mereka mengetahui media di mana berita disiarkan, saya membacakan contoh berita.

Untuk menunjukkan kejadian itu bisa berupa pengumuman kebijakan publik pemerintah. Sekaligus untuk menunjukkan letak berita yang disiarkan di media cetak (koran), saya memperlihatkan kepada mereka benda tersebut secara fisik.

Contoh berita tentang kejadian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengumumkan kebijakan publiknya. (Foto: Mohamad Jokomono)

Alhamdulillah ketika saya menunjukkan koran, dan saya menanyakan apakah mereka mengenali benda yang saya pegang. Ternyata ada yang menyebutnya dengan benar. Semula saya sempat khawatir juga kalau jawaban serempak mereka, adalah “Itu buat bungkus makanan, Pak.”

Dari sini menjadi pintu masuk bagi saya untuk menunjukkan bahwa berita ada yang terdapat di media cetak. Dan, kejadian yang diangkat, yaitu pemberitahuan adanya kebijakan publik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah tentang penggratisan siswa miskin yang bersekolah di sekolah swasta.

Lalu saya pun beralih ke contoh kejadian lain yang dimuat di media online.

Contoh berita di media online yang saya sampaikan. (Foto: Mohamad Jokomono)

Saya menunjukkan contoh ini untuk memberitahukan kepada mereka, bahwa ada berita yang isinya berupa kejadian musibah alam, seperti banjir. Sekaligus untuk menunjukkan, selain media cetak ada media online sebagai tempat untuk menyiarkan berita.

Saya juga tidak lupa mengenalkan kepada mereka, bahwa berita ada yang berwujud teks tertulis seperti di media cetak dan media online. Ada pula berita yang disampaikan dengan cara dibacakan, seperti berita-berita di televisi. Saya pun menunjukkan contoh siaran berita televisi dari gawai.

Fokus Berita Tertulis

Karena mengingat keterbatasan waktu, saya pun fokus pada berita yang tertulis. Untuk itu, saya sedikit memodifikasi (dalam artian lebih menyederhanakan) contoh berita.

Contoh berita yang saya bagikan kepada para siswa dan siswi kelas 11.C.1 SLB Negeri Semarang. (Foto: Mohamad Jokomono)

Saya bagikan lembar-lembar berisi contoh berita tersebut kepada semua siswa dan siswi. Di sini, saya memainkan penjelasan tentang 5W 1H dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Berikut materi contoh berita yang saya bagikan kepada mereka:

Pelajar Ber-KTP Kota Semarang Bisa Ikut Program Gratis Naik BRT Trans Semarang

SEMARANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengadakan Program Gratis Naik Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang untuk pelajar dan mahasiswa yang ber-KTP Kota Semarang.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pamestuti mengatakan, program ini mulai pada tanggal 2 Mei 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Ke-478 Kota Semarang.

"Ini kado ulang tahun Kota Semarang untuk para pelajar dan mahasiswa yang memiliki KTP Kota Semarang. Atau, yang orang tuanya ber-KTP Kota Semarang, bagi yang belum punya KTP," ucap Agustina di Balai Kota, Jumat (2/5/2025).

Wali Kota berharap, program ini dapat meningkatkan minat masyarakat menggunakan sarana transportasi umum. Selain itu, untuk mengurangi angka kemacetan dan kecelakaan lalu lintas di Kota Semarang.

Sementara itu, Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang Haris Setyo Yunanto menyampaikan, pendaftaran untuk mengikuti program tersebut dapat dilakukan secara daring di laman transsemarang.semarangkota.go.id

"Pendaftar atau yang mendaftarkan wajib mengisi nomor induk siswa (NISN) atau nomor induk mahasiswa," katanya.

Haris menambahkan, dokumen pendukung, seperti kartu pelajar, KTP, kartu keluarga (KK), atau kartu identitas anak (KIA) hanya bersifat opsional (bukan keharusan). ***

Terkait dengan What saya tanyakan, program apakah yang diluncurkan Pemerintah Kota Semarang pada awal Mei lalu dalam rangka HUT Ke-478. Tentang Who, saya tanyakan dua orang yang menjadi narasumber berita ini.

Tentang When, saya tanyakan kapan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan adanya Program Rp0 Naik BRT Trans Semarang bagi Pelajar dan Mahasiswa Ber-KTP Kota Semarang.

Mengenai Where, saya tanyakan di mana Wali Kota Agustina mengatakan hal tersebut. Soal Why, saya tanyakan kenapa program itu diadakan. Dan, untuk How, saya tanyakan bagaimana cara program itu diikuti.

Di samping itu, saya juga menunjukkan adanya kutipan pernyataan langsung dari narasumber berita. Yang ditandai dengan awal tanda kutip (“) pembuka dan diakhiri dengan tanda koma (,) serta diikuti tanda kutip (“) akhir. Selanjutnya bisa diikuti dengan “kata” narasumber.

Lima belas menit terakhir saya isi dengan semacam kuis tertulis. Dari lembar contoh berita yang sudah saya bagikan sebelumnya, saya buat di lembar lain, contoh yang sama persis tapi ada beberapa bagian yang saya hilangkan.

Bagian-bagian yang saya hilangkan itu terkait dengan upaya penjelasan saya tentang 5W 1H. Perintahnya sederhana, yaitu mengisi bagian-bagian yang kosong itu. Pilihan jawaban sudah saya siapkan di bawahnya. Tapi, saya bolak-balik urutannya. Saya pun membolehkan mereka melihat contoh berita versi yang utuh.

Delapan siswa dan siswi kelas 11.C.1 SLB Negeri Semarang mampu mengerjakan kuis itu dengan baik. (Foto: Mohamad Jokomono)

Sebanyak 61,5 persen atau delapan siswa-siswi kelas 11.C.1 SLB Negeri Semarang mampu menyelesaikan kuis dengan baik. Mereka mampu mengerjakan

Sementara itu, 38,5 persen lima lainnya belum cukup terampil menyelesaikan tugasnya. Dengan rincian, 1 orang belum selesai mengisi seluruh jawaban, 1 orang belum menuliskan namanya, 2 orang memang perlu lebih konsentrasi untuk memahami isi teks berita, dan 1 orang lagi telah ada upaya sungguh-sungguh mengisinya tapi tulisannya sulit dibaca.

Lima siswa-siswi kelas 11.C.1 belum dapat menyelesaikan kuis sesuau dengan harapan. (Foto: Mohamad Jokomono)

***

Mohamad Jokomono, ayah dari seorang anak perempuan tunagrahita.