Ini Balado …, Eh Balada …, Telur Ayam Ceplok Hasil Radiasi Sinar Matahari

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 12 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sempat tebersit pikiran naif di kepala saya, ketika pada suatu siang sepulang dari membelanjakan sejumlah kebutuhan rumah tangga titipan istri tercinta di sebuah toko kelontong langganan sejak belasan tahun silam. Sembari duduk di bangku halte BRT kecil yang sangat terbuka. Menunggu kedatangan armada Koridor V PRPP - Meteseh. Penginnya sih cepat. Tapi apa daya, harus menunggu 30-an menit.
Sayang, halte yang terletak di depan Pasar Tradisional Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang itu tidak cukup melindungi dari sengatan terik sinar matahari selepas waktu zuhur. Sekujur tubuh dan barang bawaan saya betul-betul terpaksa bercengkerama dengan kerling nakal Sang Dewi Amaterasu yang tiba-tiba saja menghambur dari mitologi Jepang. Tapi sekali lagi, apa daya ….
Panas matahari merupakan radiasi energi hasil fusi nuklir di inti pusat tata surya itu. Terpancar dan mencapai ke permukaan Bumi sebagai cahaya dan panas. Peran energi ini krusial untuk fotosintesis, pengeringan hasil Bumi, dan sumber vitamin D. Tapi, juga menimbulkan cuaca terik, dehidrasi, dan kerusakan kulit.
Di dalam tas kresek putih yang saya jinjing terdapat telur ayam negeri yang terbungkus plastik bening tipis. Di situ ada pula beberapa barang belanjaan lain, seperti sabun deterjen untuk pakaian dan sebungkus teh tubruk. Tiba-tiba muncul kekhawatiran naif dan konyol di hati ini. Jangan-jangan, karena kelamaan kepanasan sinar mentari, telur-telur ayam itu bisa matang.
Tiba-tiba terdengar suara penolakan terngiang di dalam batin saya. “Hoho, tidak semudah itu Ferguso”, kalau saya boleh pinjam ungkapan yang pernah populer Mileniel dan Gen Z yang meledak di media sosial pada 2018 - 2019 itu. Kombinasi nostalgia telenovela yang akrab dengan kalangan Milenial dan gaya humor absurd alias meme-able ala Gen Z.
Tentu saja tidak semudah yang saya bayangkan (Waduh, lha kok saya yang berada di posisi Ferguso ya? Guguknya Marimaar yang mestinya bernama Pulgoso). Bahwa dengan sentuhan panas sinar matahari yang tidak sampai setengah jam saja, telur ayam negeri itu sudah matang.
Apalagi, keberadaan telur ayam negeri itu tidak di atas alat penggorengan dengan minyak goreng yang mendidih di permukaan logamnya akibat radiasi sinar matahari. Akan tetapi, di dalam plastik bening dan masih terlapisi kantong kresek putih. Orang Jawa bilang, "Tangeh lamun" ("Nyaris mustahil").
Uji Coba Warga
Manakala Indonesia pada 2023 tengah mengalami fenomena cuaca ekstrem panas yang relatif panjang, terdapat warga yang beruji coba memasak telur dengan memanfaatkan sinar matahari yang menyengat begitu luar biasa hebat. Suhu di kisaran 40° - 41° Celsius tentu memberi pengalaman yang tersendiri.
Mereka warga Kelurahan Patilor, Kecamatan/Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, melakukan eksperimen tersebut pada 7 - 9 Oktober 2023, pukul 11.00 - 14.00 WIB. Manakala posisi matahari berada di atas kepala mereka. Energi panasnya pun menghunjam paling maksimal.
Sekali lagi, suhu kala itu menunjukkan 40° - 41° Celsius. Mereka, kebanyakan terdiri atas “emak-emak”, meletakkan teflon atau wajan langsung di atas jalanan beraspal atau di teras rumah masing-masing yang terpapar langsung sinar matahari.
Ternyata waktu yang mereka perlukan untuk menggoreng telur ceplok dengan bantuan sinar matahari jauh lebih lama. Bila memasak dengan kompor gas dengan api kecil, waktunya berada dalam kisaran dua hingga lima menit. Dengan rincian, setengah matang sekitar dua hingga tiga menit dan matang sempurna (kuning padat) seputar empat hingga lima menit.
Akan tetapi, menggoreng telur ceplok dengan memanfaatkan sinar matahari, sekalipun dengan kriteria panas ekstrem, membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, yaitu satu hingga satu setengah jam agar telur betul-betul matang sempurna. Terhitung dari proses pemanasan wajan atau teflon hingga penggorengan telur. Dan, waktu yang paling dominan digunakan adalah untuk pemanasan wajan atau teflon.
Adapun cara menggorengnya, teflon atau wajan yang telah berisi margarin atau minyak goreng mereka tempatkan pada posisi tepat berada di bawah curahan terik sinar matahari selama satu jam hingga lebih. Tujuannya, agar panasnya meresap ke permukaan logam alat penggorengan tersebut.
Setelah wajan atau teflon panas, mereka pun memecahkan telur ayam dan meletakkannya seperti ketika menggoreng telur ceplok. Hasil akhir menunjukkan telur ceplok dapat matang, tetapi teksturnya tidak sesempurna penggorengan dengan kompor gas. Lebih cenderung setengah matang. Bagian putihnya tidang garing. Soal rasa tidak ada masalah. Sama enaknya.
Sementara itu, beberapa bulan sebelumnya, kisaran akhir April hingga awal Mei 2023, warga Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, antara lain sekelompok warga yang berdomisili di Desa Sumberjo, Kecamatan Rembang yang menjadi pusat ekonomi penting di wilayah itu, juga pernah melakukan eksperimen serupa.
Tidak seperti di Pati, suhu udara yang ternotifikasi di termometer pada waktu itu sedikit lebih rendah, di kisaran 32° - 35° Celsius. Kendatipun begitu, warga berhasil mematangkan telur dan kerupuk. Mereka terlebih dahulu menjemur wajan atau teflon di atas atap seng dari bagian rumah mereka.
Selanjutnya di Desa Manjung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, seorang ibu bernama Dewi (Plis deh, jangan mengaitkannya dengan Dewi Amaterasu ya). Dia melakukan eksperimen serupa. Itu demi memenuhi permintaan anaknya agar sang ibu meniru video eksperimen cuaca panas yang dia saksikan di YouTube.
Pada awal Oktober 2023, Dewi meletakkan wajan berisi minyak goreng di atas genting rumahnya. Wajan tersebut dipanaskan dari pukul 08.00 hingga pukul 11.00 WIB. Jadi, ada rentang pemanasan dengan sinar matahari selama tiga jam. Suhu panas sinar matahari kala itu sebesar 38° Celsius dalam situasi kemarau.
Setelah minyak goreng tampak mendidih pada pukul 11.00 WIB, Dewi lalu menurunkan wajan yang semula berada di atas genting rumahnya. Di bawah, dia pun menggoreng telur ceplok. Hasilnya telur itu terhidang dalam keadaan setengah matang. Dan, tampaknya masih relatif aman ketika dikonsumsi oleh anaknya.
Lalu pada kisaran 31 Juli 2025, sejumlah "emak-emak" dari Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur melancarkan aksi serupa di tepi jalan. Mereka rupanya juga ingin membuktikan sendiri betapa panas cuaca ekstrem di wilayah yang berjuluk Benua Etam (Rumah Kita) atau Bumi Etan (Tanah Kita) tersebut pada kisaran waktu itu.
Sebuah video dalam rengkuh penggarapan yang kurang begitu profesional, mempertontonkan para “emak-emak” memecahkan kulit telur ayam. Dan, menumpahkan isinya (kuning dan putih telur, tanpa kulit tentu saja) ke dalam tlefon yang sudah tersedia minyak goreng dalam keadaan mendidih berkat radiasi panas sinar matahari. Suhu saat itu 36° - 36,4° Celsius.
Alhasil, tampak dalam suguhan video itu, teflon yang mereka letakkan di luar rumah mampu menunaikan tugas mematangkan telur ceplok itu dengan kondisi matang sempurna. Pada saat itu, memang wilayah tersebut menjadi salah satu titik terpanas di Indonesia. Dan, video aksi emak-emak di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur itu sempat menemukan titik puncak keviralannya di media sosial.
Beberapa bulan kemudian. Saat kalender menunjuk tanggal 7 - 15 Oktober 2025 dan cuaca panas menggapai puncaknya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengemukakan, penyebab suhu panas ekstrem itu akibat tutupan awan yang minim dan posisi matahari berada tepat di atas wilayah tersebut (posisi zenith atau tegak lurus), sehingga suhu di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur menggapai 35° - 36° Celsius.
Warga Surabaya pun di sejumlah titik, seperti di jalanan atau halaman rumah yang terbuka, melakukan eksperimen dengan menggunakan wajan atau teflon berisi minyak goreng secukupnya yang mereka letakkan di bawah sinar matahari secara langsung.
Eksperimen tersebut berkaitan dengan fenomena kulminasi matahari, tatkala posisi matahari berada tepat di atas wilayah Kota Pahlawan itu. Hal itu menyebabkan suhu aspal dan permukaan benda menjadi sangat tinggi. Dengan demikian, sedekah minyak goreng atau margarin yang berada di dalamnya mendidih, saat putih dan kuning telur tergolek di dalamnya, ternyata proses ini mampu mengantarkan pekerjaan menggoreng telur ceplok hingga matang.
Eksperimen warga di atas kemudian viral dan menjadi bukti bahwa suhu udara ekstrem saat posisi matahari tepat berada di atas wilayah Jawa Timur (kulminasi), ternyata dapat mematangkan telur ceplok dengan memanfaatkan terik panas sang surya dalam waktu tertentu. Eksperimen serupa sebenarnya pernah dilakukan warga pada 2019. Dan, pada 2025 lalu media sosial kembali memviralkan fenomena tersebut.
Ada satu catatan yang perlu dibubuhkan dari banyak eksperimen di atas. Walaupun tampak berhasil, sebagian besar eksperimen menunjukkan hasil telur ceplok yang setengah matang. Sebab, suhu permukaan wajan atau teflon yang terpanaskan sinar matahari tidak sestabil panas dari api kompor gas. Tentu hal ini ada penjelasan logisnya.
Perbedaan Mendasar
Faktor penyebab mengapa panas pada permukaan wajan atau teflon hasil dari pemanasan sinar matahari tidak sestabil panas dari nyala api kompor gas beranjak pada perbedaan mendasar sumber energinya. Selain itu, juga karena mekanisme perpindahan panas dan faktor lingkungan yang turut memberikan andil pengaruh.
Kompor gas lebih mampu menyalurkan panas secara stabil ke permukaan logam teflon atau wajan, karena menyediakan energi yang konstan dan terkontrol. Sementara itu, pancaran sinar matahari cenderung labil dalam memancarkan panas ke permukaan logam wajan atau teflon karena sumber energinya dapat berubah-ubah. Faktor atmosfer dan posisi Bumi terhadap Matahari turut menentukan.
Kompor gas memanfaatkan bahan bakar kimia, Liquefied Petroleum Gas (LPG), gas minyak bumi cair. Campuran hidrokarbon (terutama propana dan butana) yang mengalami pencairan dengan tekanan tinggi. LPG dalam pemakaiannya dibakar secara konsisten. Tentu saja, selama tidak ada perubahan putaran besar kecil, pasokan panas ke teflon atau wajan relatif stabil dan konstan. Istilahnya, konsistensi sumber energinya steady state.
Sementara itu, panas dari pancaran sinar matahari merupakan energi radiasi yang bergantung pada intensitas cahaya. Dan, intensitas cahaya tidak stabil. Banyak faktor yang memengaruhi. Tutupan awan yang lewat dapat mengurangi secara drastis energi panas yang sampai pada wajan atau teflon.
Di samping itu, faktor lain yang turut berperan adalah posisi Matahari. Sudut kedatangan pancaran sinar mentari berubah-ubah sepanjang hari. Hal ini bisa mengubah jumlah energi yang terserap permukaan logam dari teflon atau wajan. Adapun perpindahan panas paling maksimal terjadi pada saat Matahari berada pada posisi tegak lurus dengan Bumi atau pada siang hari.
Mekanisme perpindahan panas, kompor gas lewat konduksi sedangkan Matahari lewat radiasi, juga memberikan dampak kestabilan atau ketidakstabilan itu . Kompor gas memanaskan wajan atau teflon melalui konduksi langsung (kontak fisik api ke dasar wajan atau teflon) dan konveksi (udara panas yang mengalir di seputar teflon atau wajan). Hal ini menghadirkan pemungkinan energi panas tersalurkan secara terus-menerus dan dapat fokus ke satu titik.
Berbeda dari panas matahari. Mekanisme perpindahannya berlangsung secara radiasi atau pancaran. Energi Matahari harus menempuh jarak sangat sangat sangat jauh dan melewati atmosfer. Jarak rata-rata Bumi ke Matahari 149,6 juta kilometer. Ini setara dengan 1 Satuan Astronomi. Karena orbit Bumi berbentuk elips, jarak itu bisa berubah-ubah. Titik terdekat (perihelion) 147 juta kilometer, sedangkan titik terjauh (aphelion) 152 juta kilometer.
Akibatnya, panas matahari menjadi lebih mudah tersebar dan tidak terfokus. Kecuali ada rekayasa penggunaan pemantul (konsentrator) secara khusus. Energi radiasi matahari lebih rentan dalam menghadapi gangguan eksternal berbandingkan dengan api konduksi dari kompor gas.
Begitulah, faktor lingkungan dan cuaca sangat berpengaruh terhadap panas yang timbul dari radiasi sinar Matahari. Terdapat sejumlah variabel yang berada di luar jangkauan pengontrolan manusia. Seperti kualitas udara dan debu. Bila berlangsung polusi atau sebaran debu di atmosfer, maka kondisi yang tidak teringinkan itu bisa menyerap atau memantulkan kembali radiasi sinar Matahari. Akibat lebih lanjut, dapat mengurangi panas ketika tiba di Bumi.
Itulah yang terjadi dengan kehadiran angin kencang. Keberadaannya akan membawa pergi panas dari wajan atau teflon lebih cepat daripada hasil dari pancaran sinar Matahari. Hal ini dapat mengakibatkan fluktuasi suhu permukaan teflon atau wajan yang sangat tidak stabil. Sesungguhnya ini merupakan fisika perpindahan panas (termodinamik) sederhana. Angin kencang bekerja sebagai pendingin (cooler) yang lebih dominan daripada sinar Matahari sebagai pemanas (heater).
Angin kencang akan membawa pergi panas dari wajan atau teflon (akibat radiasi sinar matahari) dengan lebih cepat. Ini yang dinamai proses konveksi paksa (forced convection). Wajan atau teflon panas mengandung energi panas, molekulnya bergerak cepat. Angin kencang yang lewat di atas wajan atau teflon akan bertubrukan dengan molekul udara panas dan mengambil panas itu serta membawanya pergi.
Bila angin bertiup kencang, maka proses pengambilan panas itu berlangsung sedemikian cepat. Jauh lebih cepat daripada ketika udara tenang. Panas sinar matahari, ketika berada dalam penerimaan permukaan teflon atau wajan, mempunyai batas kecepatan (intensitas radiasi). Angin kencang berkemampuan melepaskan panas dari alat penggorengan itu melebihi kecepatan radiasi matahari menambahkan panasnya. Akibatnya, wajan dan teflon itu tetap mengalami pengurangan panas, meskipun berada di bawah terik sinar matahari.
Fluktuasi suhu permukaan teflon atau wajan itu pun sangat tidak stabil, karena dua kekuatan itu bertarung. Manakala angin kencang berembus, permukaan teflon atau wajan pun mendingin dengan segera. Sebaliknya, tatkala angin berhenti sesaat, radiasi sinar matahari memanaskan kembali permukaan wajan atau teflon dengan cepat. Pertarungan dua kekuatan itu menyebabkan suhu permukaan wajan atau teflon tidak pernah stabil, berganti-ganti panas dan dingin dalam rentang waktu singkat masing-masing.
Analogi sederhananya begini. Manakala terhidang sup buntut sapi yang masih panas di hadapan seseorang. Tentu secara reflek dia akan meniupnya. Tiupannya akan mengurangi panasnya dalam waktu lebih cepat. Berbandingkan dengan cara membiarkan sup itu melepas panasnya sendiri ke udara biasa. Dengan sengaja meniupnya, memberi kesempatan lebih cepat bagi seseorang itu menyeruput kuah supnya.
Bisa jadi analogi di atas memiliki kesejajaran realitas dengan pakaian yang lebih cepat kering ketika mendapat bantuan adanya tiupan angin kencang, karena panas air di pakaian yang terjemur itu lebih cepat terbawa pergi. Atau, suhu udara di puncak gunung yang cerah berangin lebih dingin daripada lembah yang tenang tanpa tiupan angin.
Selain itu juga terkait dengan respons terhadap beban atau massa makanan. Kompor gas mempunyai kapasitas energi tinggi untuk mempertahankan suhu wajan atau teflon, bahkan ketika bahan makanan dingin masuk ke dalamnya, misal saat seseorang ingin menumis sesuatu.
Sementara itu, pemanasan teflon atau wajan dengan tenaga surya, pada umumnya lebih lambat untuk memulihkan panas setelah pembukaan atau ada penambahan makanan. Sebab, ada ketergantungan pada intensitas radiasi sinar matahari pada saat proses menggoreng telur ceplok atau makanan lain, seperti kerupuk, pada saat kegiatan memasak berlangsung.
Kini tersedia sudah, jawaban dari pertanyaan: mengapa proses menggoreng telur ayam ceplok jauh lebih cepat matang di wajan atau teflon dengan dengan panas dari api kompor gas. Sebab, sumber panas buatannya terkontrol dan stabil (konstan). Fokus pemanasannya pun lebih terjamin.
Sementara itu, sinar matahari merupakan sumber panas alami yang dinamis. Intensitasnya fluktuatif berkai intervensi faktor awan, posisi Matahari terhadap Bumi, dan kondisi atmosfer. Akibat yang timbul, panas yang diradiasikan ketika tiba di permukaan logam teflon atau wajan tidak stabil.
Proses memanaskan wajan atau teflon (preheating) dengan energi radiasi sinar matahari memerlukan waktu yang lama. Guna mencapai suhu yang relatif panas untuk menggoreng telur, sering mengambil waktu 30 menit hingga satu jam lebih. Ini perhitungan teoretisnya. Dalam realitas praktik, angka kuantitas waktu tersebut bisa bergeser naik.
Nah, setelah peranti penggorengan berada pada suhu panas yang memadai, misalnya 40° Celsius pada aspal, proses pematangan telur ayam ceplok hanya memerlukan waktu sejumlah menit. Pada beberapa kasus, eksperimen ini membutuhkan total waktu dari pemanasan teflon atau wajan hingga penggorengan selama satu setengah jam. ***
