Konten dari Pengguna

Ini Cerita Kata "Sekarang", Kunci Pembuka Jalan Menuju ke Oase Kegembiraan

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 12 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hasil kreasi Gemini 3 AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hasil kreasi Gemini 3 AI.

Ada satu kata yang hampir selalu menggelinjangkan saraf tawa saya dan istri. Yaitu kata “sekarang”. Lho kok bisa? Pada kenyataannya kata itu netral saja. Tidak ada yang perlu ditertawakan. Atau sebaliknya, tidak ada yang perlu disedihkan juga. Atau lagi, tidak perlu pula ada kejengkelan yang mesti terluapkan, manakala kita mendengar kata “sekarang”.

Pada awalnya, di kisaran paruh akhir tahun 2002, saat saya dan istri berpacaran ria, sebelum akhirnya kami menikah pada hari Minggu, 16 Februari 2003 (tapi di buku nikah bertanggal 17 Februari 2003). Sebagaimana lazimnya sejoli yang tengah saling merebut hati, kami kadang jalan-jalan keluar berdua. Kebetulah dari kantor surat kabar tempat saya bekerja, ada pinjaman motor inventaris kantor. Saya masih ingat betul. Itu Honda Win. Saat sudah jadi karyawan tetap, ganti Yamaha VegaR.

Mungkin karena saya sudah tidak muda lagi saat itu. Sudah lewat tujuh tahun lebih dari 30 tahun. Atau bahasa puitisnya, “Senja yang kian matang, tujuh tahun dari fajar usia tiga puluh”. Dengan mengumpulkan setumpuk keberanian (lebih tepatnya kenekatan), dan modal pas-pasan, saya pun melakukan pendekatan kepada wanita yang selisih usianya lebih muda 11 tahun dari saya. Dia tinggal di Kecamatan Kaliwungu, Kendal, sedangkan saya tinggal di Kota Semarang.

Saat berpacaran ria, kami sering keluar bareng. Entah ke objek wisata terdekat. Entah disuruh ibu dari istri (calon istri waktu itu) membeli sesuatu di Pasar Pagi atau Pasar Gladak, Kaliwungu. Entah sekadar menikmati bakso bersama. Pokoknya, ada-ada saja alasan kami berdua bisa keluar bersama. Motor Honda Win itulah yang banyak berjasa mengantarkan kami wira-wiri ketika pacaran dahulu.

Tentu saja banyak obrolan ringan yang kami rajut dalam kebersamaan ketika berpacaran ria itu. Dari sekian dialog yang terurai dari konversasi yang terbentuk timbunan ratusan juta (mungkin miliar) kata itu hingga usia pernikahan kami kini sudah 23 tahun lebih, ada satu kata yang secara frekuentatif sering muncul sebagai kalimat ujaran (lebih sering dalam bentuk pertanyaan). Yaitu kata “sekarang”.

Begini awal kisah kata “sekarang” yang ikonik buat kami sekeluarga itu. Sewaktu baru kira-kira dua mingguan pacaran, tatkala sedang berada di luar rumah, suatu kali saya bertanya kepadanya, “Jam berapa Dik?” Dan, dia bukannya langsung menjawab jam sekian lebih sekian menit. Akan tetapi, justru dia balik bertanya, “Sekarang Mas?” Pada mulanya saya tidak terlalu begitu memedulikan kehadiran kata “sekarang” itu di antara kami. Oleh karena itu, saya pun merespons biasa, “Iya Dik”. Dan, baru dia menyebutkan waktu sesuai dengan petunjuk jarum di jam tangan miliknya.

Saya pikir, cara berkomunikasi pacar (kini istri) saya itu hanyalah respons insidental. Namun, ada reduplikasi yang terjadi berkali-kali dan sering. Hingga sekarang pun, tatkala kami telah membina rumah tangga selama 23 tahun lebih, pola tanggapan yang sama (atau lebih tepatnya mirip tipis-tipis) masih saja bersimaharajalela dalam kehidupan komunikasi keseharian. Saya tidak mengira, kalau dia begitu istikamah menjunjung tinggi respons dengan pola seperti itu. Maksud saya, selalu bertanya balik, “Sekarang Mas” (Itu dahulu, kalau sekarang “Sekarang Pa” atau “Sekarang Yang”).

Kini bahkan sudah melebar cakupannya, seperti ketika saya mengajukan kalimat permintaan, “Makan dong Ma. Sudah lapar nih”. Atau, kalau saya minta tolong membuatkan sesuatu. “Ma, tolong dong bikinin teh manis!” Atau lagi, saat kepengin mi instan goreng (hanya dapat jatah satu kali dalam sebulan, itu pun dengan rayuan yang lebih “maut”), seperti “Jeng, dingin malam gini. Enaknya kok makan mi goreng ya? Yang instan juga gak papa. Enak deh rasanya, kalau ada yang mau buatin.”

Selintas memang tampaknya pola respons seperti itu adalah biasa-biasa saja. Apa sih luar biasanya dengan kata “sekarang”? Puitis juga tidak. Punya makna filosofi mendalam? Tunggu dahulu, tentu perlu penempatan pada konteks yang relevan. Bukan sekadar muncul sebagai tanggapan dari pertanyaan “jam berapa?” atau “permintaan untuk menyiapkan makanan atau minuman” tentu saja. Akan tetapi di luar itu semua, ada semacam redundansi (kemubaziran) ekspresi yang menghadirkan senyum simpul. Ini kalau mau dirunut pakai logika bahasa.

Menurut pandangan yang paling awam, kelucuan dari respons dengan kata “sekarang” itu, karena pemakaiannya cenderung menegaskan secara redundan (berlebih atau too much) hal yang sebenarnya sudah pasti. Sudah menjadi pengetahuan bersama dari dua orang yang terlibat dalam komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi. Dengan demikian, tidak perlu diungkapkan secara eksplisit. Jika diungkapkan, justru ada rasa geli atau terasa ada kelucuan yang hadir.

Ketika seorang suami bertanya kepada istri tentang “jam berapa”, pastilah yang dimaksud “sekarang” dan bukan kemarin, besok, atau 15 tahun yang lalu. Demikian pula ketika seorang suami melaporkan dirinya lapar sebagai isyarat agar istri menyediakan makanan untuknya, pastilah keduanya sama-sama paham bahwa perealisasiannya adalah “sekarang”. Atau, ketika berada di rumah berdua saja, lalu saya bilang, “Yuk Ma!” Terkadang saya tersenyum, kok tega-teganya dia jual mahal dengan merespons, “Sekarang Pa?”

Untuk kasus yang masih bisa berdamai dengan logika bahasa, yaitu bisa terjadi manakala muncul permintaan, “Tolong Ma, ambilin baju koko di lemari?” Masih dengan pola jawaban yang berupa pertanyaan balik, “Sekarang Pa?”, tapi kali ini lebih masuk penalaran. Sebab, permintaan itu bisa dilakukan tidak harus betul-betul “sekarang” atau saat ini juga. Bisa dilakukan setelah kegiatan lain lain selesai. Bisa setelah menaruh sesuatu di meja. Bisa pula setelah menyapu ruang tamu selesai.

Fleksibilitas pemenuhan juga dapat pula terjadi manakala ada permintaan lain, seperti pembuatan teh manis atau mi instan. Kendati secara gramatika tidak ada masalah, namun kadang secara logika bahasa ada redundansi. Di sini, boleh terbilang bahwa pemakaian kata “sekarang” telah menjadi komedi keluarga yang menerbitkan senyum geli, manakala ia meneguhkan fungsinya untuk memastikan apa yang memang sudah pasti. Betul-betul “sekarang” atau bisa mendapat selingan kegiatan lain dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Fungsi Sintaksis

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Ada baiknya kita memperluas cakrawala pemahaman tentang kata “sekarang” dengan merujuk fungsi sintaksisnya (fungsi dalam struktur kalimat). Fungsi utamanya adalah sebagai adverbia temporal. “Sekarang” menerangkan kapan suatu perbuatan atau kejadian berlangsung. Di sini ia menjelaskan verba (contoh kalimat “Anton sedang makan sekarang”) atau menerangkan seluruh kalimat (“Sekarang Rima sudah pulang”).

Untuk sejumlah struktur kalimat, “sekarang” bisa memenuhi fungsi sebagai nomina temporal. Ia bisa berupa subjek atau objek yang memperlihatkan adanya konsep waktu. Dalam kalimat “Sekarang adalah saat yang tepat”, kata “sekarang” merupakan subjek. Ia menjadi nomina temporal. Kemudian pada kalimat “Saya menunggu sekarang”, kata “sekarang” berada pada posisi objek yang mengalami pembendaan (pe-nomina-an).

Dapat pula dalam suatu struktur kalimat, kata “sekarang” tatkala mendampingi nomina lain dapat menjadi frasa nomina, seperti frasa “pemuda sekarang” dalam kalimat “Pemuda sekarang cenderung memilih media sosial untuk berbisnis”. Atau, kalimat “Di era globalisasi, kreativitas menjadi modal utama bagi pemuda sekarang”. Atau lagi, “Tantangan yang mengadang pemuda sekarang berbeda dari generasi sebelumnya”.

Kata “sekarang” yang bertugas untuk menegaskan jawaban, seperti contoh kasus pertanyaan “Jam berapa Dik?” yang kemudian mendapat respons pertanyaan balik “Sekarang Mas?”, menunjukkan fungsi sintaksis sebagai adverbia temporal. Yaitu untuk memastikan waktu yang menjadi pertanyaan itu adalah waktu yang berlangsung “sekarang”. Atau, dalam wacana percakapan, “sekarang” bertindak sebagai kata penanda wacana (discourse marker) dengan uluran fungsi berupa penegasan waktu saat ini atau waktu ketika pertanyaan itu terjadi.

Secara leksikal, “sekarang” adalah adverbia temporal yang menunjukkan saat ini. Menurut linguistik pragmatik, pemakaian bahasa dalam konteks, menegaskan bahwa informasi itu relevan pada titik waktu bicara. “Sekarang” juga merupakan adverbia penegas atau penanda wacana. Selain itu, ada juga sentuhan fungsi fatis bahasa.

Saat seseorang bertanya tentang waktu, bisa jadi tujuannya bukan untuk mengetahui waktu yang sebenarnya. Bisa juga itu menjadi semacam breaking the ice, memecahkan kekakuan suasana. Atau guna menghangatkan hubungan interpersonal, tidak hanya untuk berbagi informasi fungsional.

Rema dan Tema

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Masih dalam sapaan linguistik pragmatik, kalimat terdiri atas dua elemen fundamental, yaitu Tema (Theme) dan Rema (Rheme). Elemen Tema adalah hal yang menjadi topik pembicaraan. Adapun elemen Rema merupakan bagian dari kalimat yang mengandung informasi baru. Kata “sekarang” memiliki pula fungsi sebagai Rema (informasi baru) yang menjadi inti jawaban berupa pertanyaan balik (“Sekarang Mas?”), sedangkan pertanyaan sebelumnya (“Jam berada Dik?) merupakan Tema.

Dengan perkataan lain yang berurutan, pertanyaan awal “Jam berapa, Dik?” adalah Tema tentang waktu yang menjadi topik pertanyaan. Kemudian jawaban (yang juga merupakan pertanyaan balik) dengan melibatkan kata “sekarang” sebagaimana tertuang dalam kalimat “Sekarang Mas?” adalah Rema, informasi baru yang menjadi inti jawaban yang merupakan pertanyaan balik itu. Bisa terbilang sebagai adverbia temporal penegas bahwa memang waktu “sekarang” yang menjadi komitmen pembicaraan saat muncul pertanyaan “jam berapa?”. Redundansi ini yang kiranya bisa memantik senyum geli.

Rema merupakan bagian substansial dalam suatu alur komunikasi. Percakapan tidak akan berkembang dengan optimal, jika tidak ada rema atau informasi baru yang muncul untuk melengkapinya. Dengan sedikit melupakan logika bahasa, karena siapa pun akan maklum jika ada orang bertanya “jam berapa?” pastilah maksudnya adalah “sekarang” (tanpa perlu pernyataan secara eksplisit). Secara linguistik (bahasa an sich), kata “sekarang” bertindak sebagai rincian baru yang menjelaskan kondisi waktu yang menjadi pertanyaan.

Struktur Tema - Rema memberikan pengaruh signifikan pada alur informasi sehingga dapat meminimalisasi risiko para pelaku komunikasi mengalami kebingungan dalam upaya saling memahami. Dalam linguistik, hal ini berada dalam rengkuh penyebutan sebagai Struktur Informasi atau Perspektif Kalimat Fungsional (Functional Sentence Perspective).

Rema juga mempunyai fungsi untuk menjaga dan merawat alur progresi tematik (Thematic Progression). Tujuannya agar paragraf atau penjelas memiliki koneksi kesinambungan. Rema pada kalimat pertama, biasanya menjadi Tema pada kalimat kedua. Contoh “Bu dosen membeli buku (Rema)”. “Buku itu (Tema) berkover tebal”).

Dalam komunikasi dengan bahasa Indonesia, Rema pada lazimnya berada pada akhir kalimat ujaran. Sebab, bagian akhir merupakan bagian menonjol keterasaan fungsinya sebagai hal yang paling dekat dengan gapaian memori pendengar. Itu terjadi dalam susunan kalimat normal “Rapat akan dimulai besok” menekankan pada informasi waktu. Akan tetapi, bila bentukannya berupa kalimat inversi “Besok rapat akan dimulai”, maka penekanannya beralih, kata “besok” menjadi Tema sekaligus fokus utama.

Dalam komunikasi yang cepat, ada kecenderungan untuk menghilangkan Tema dan langsung ke Rema. Misalnya ketika ada pertanyaan panjang, “Kapan pamanmu yang berdomisili di Jakarta itu akan datang ke Semarang sini?”. Jawaban yang tersaji cukup “Sekarang”. Ada kecenderungan menghilangkan subjek predikat keterangan Tema dan langsung ke intinya sebagai Rema. Oleh karena itu, realisasi jawabannya patilah bukan “Paman saya yang berdomisili di Jakarta akan datang ke Semarang sini sekarang (mungkin lebih tepatnya ‘hari ini’)”.

Selanjutnya mari kita mencermati bagaimana perkembangan tema (Thematic Progression) ini beroperasi dalam suatu teks agar para pembaca merasakan kenyaman memperoleh informasi. Terdapat dua pola utama yang secara frekuentatif sering menjadi konstruksi penulisan. Ada yang disebut dengan pola rantai (linier).

Pola rantai (linier) ini, Rema kalimat sebelumnya menjadi Tema kalimat berikutnya. Hal ini menyebabkan informasi mengalir seperti rantai. Contoh: Kalimat 1 “Pemerintah sedang membangun bendungan baru (Rema)”. Kalimat 2 “Bendungan tersebut (Tema) berfungsi untuk mencegah banjir (Rema)”. Kalimat 3 “Banjir (Tema) memang menjadi masalah utama di kota ini”.

Di samping itu terdapat pola kipas (Constant Theme). Dalam pola ini, satu Tema yang sama mendapat penjelasan dengan banyak Rema. Pola kipas ini biasanya untuk mendeskripsikan sesuatu. Contoh: Kalimat 1 “Buku itu (Tema) sangat tebal (Rema A)”. Kalimat 2 “(Buku itu) Juga mempunyai sampul yang indah (Rema B)”. Kalimat 3 “(Buku itu) Ditulis oleh seorang pakar bahasa (Rema C)”.

Idiolek

Dalam perspektif linguistik dan psikologi komunikasi, kebiasaan istri saya memanfaatkan kata “sekarang” dengan intonasi tanya sebagai pembuka jawaban dapat menerima sentuhan penjelasan melalui sejumlah sudut pandang. Menurut linguistik pragmatik, kata tersebut merupakan strategi klarifikasi atau konfirmasi konteks. Kemungkinan besar istri saya itu hendak memastikan itu bersifat fatis atau memang membutuhkan realisasi tindakan dalam waktu yang relatif secepatnya.

Dalam hal pertanyaan “jam berapa?” dan jawaban “sekarang” bisa jadi ada unsur fatis, membangun jalinan komunikasi interpersonal. Walaupun sesungguhnya kalau saya bertanya soal waktu, biasanya saya lebih mengkonsentrasikan perhatian kapan waktu salat akan tiba. Sementara itu, kalau soal permintaan penyediaan teh manis atau makanan, saya masih bisa mendiskon kesegeraannya setelah dia selesai melakukan kegiatan yang terlebih dahulu dia kerjakan. Ada fleksibilitas waktu dalam radius “segera”.

Demikianlah, manakala saya mengajukan permintaan dengan majas eufemisme, “Duh perut ini sudah keroncongan. Agaknya dia minta diisi deh Ma”, dan ketika jawaban yang muncul dari mulut istri saya adalah adverbia temporal berintonasi tanya “Sekarang Pa?”. Itu berarti, dia sedang memproses informasi apakah saya memang betul-betul menginginkan makan saat itu juga atau sekadar merencanakan nanti.

Selanjutnya berdasarkan analisis wacana, kata “sekarang” itu berfungsi sebagai jeda atau filter yang unik. Atau, sebagai penanda wacana (discourse marker). Sembari mengucapkan kata “sekarang”, otak istri saya bisa jadi sedang bekerja mencari jawaban (Rema) yang sebenarnya. Hal demikian ada kemiripan dengan orang yang kerap memulai jawaban dengan kata “anu” atau bunyi helaan “hemmm”. Istri saya memilih kata yang lebih spesifik secara waktu. “Sekarang?”

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Pemakaian kata “sekarang” dengan intonasi tanya, karena sudah terjadi selama 24 tahun (sejak masa pacaran hingga usia perkawinan yang dua tahu lagi hampir perak ini), “sekarang” sudah menjadi idiolek, ciri khas bahasa individu. Dan, ketika saya dan kedua anak saya terkadang juga merespons suatu komunikasi interpersonal dengan kata “sekarang” berintonasi tanya. Itu berarti kata “sekarang” sudah menjadi sosiolek keluarga. Dalam pernikahan selama puluhan tahun, tidak jarang suatu keluarga mengembangkan kode-kode bahasa yang repetitif.

Sementara itu, menurut psikologi komunikasi, ketika istri saya menjawab “Sekarang?”, bisa jadi hal itu merupakan cara dirinya “mengulur waktu” barang satu atau dua detik guna menyesuaikan jadwal atau kesiapannya untuk memenuhi permintaan dari saya. Entah itu, permintaan disediakan jagung rebus. Atau, sekadar permintaan dimasakkan sayur tumpang kesukaan saya.

Kembali ke linguistik. Dialog ringan yang terjadi antara saya dan istri merupakan bahasa bersama (Shared Language) atau idiom personal. Pola komunikasi yang menjadi rengkuh pemahaman berdua. Adverbia temporal “sekarang” pada mulanya boleh jadi lebih menyerupai semacam klarifikasi. Akan tetapi, setelah itu bersalin fungsi menjadi semacam Ritual Komunikasi.

Sekali lagi perlu memperoleh penegasan, bahwa ternyata memang ada libatan fungsi fatis (phatic function). Jawaban istri saya “Sekarang?” dengan intonasi tanya di sini, tidak lagi berfungsi untuk menanyakan balik waktu pastinya. Akan tetapi, untuk memelihara relasi yang penuh bertaburan kuntum-kuntum kasih sayang. Jawaban yang memenuhi horizon harapan bukan pada intinya, melainkan interaksi yang hadir setelahnya. Candaan. Dan, inilah yang sesungguhnya menjadi tujuan utama.

Terjadi apa yang dinamakan skrip yang diinternalisasi (internalized script). Pernyataan yang dihayati. Setelah puluhan tahun, otak manusia cenderung membentuk “skrip” otomatis. Istri saya barangkali secara tidak sadar menggunakan kata “Sekarang?” itu, kemudian memicu reaksi khas saya (“Kok belum sembuh?) sebagai ekspresi candaan yang mengemuka. Ini bentuk keintiman yang pakar bahasa menyebutnya sebagai Keceriaan Linguistik (Linguistic Playfulness).

Candaan saya, “Kok belum sembuh” sebenarnya merupakan bentuk Metakomunikasi. Yang menjadi arah tujuan dari kata “sembuh” sudah pasti bukan klaim adanya “penyakit” pada diri istri saya. Melainkan itu bentuk candaan yang mengambil rupa kode verbal lain sebagai ungkapan tanda kasih sayang terhadap wanita yang sudah saya nikahi 23 tahun itu. Dalam linguistik sosial, momen seperti ini justru memperlihatkan adanya relasi stabil dari suatu pernikahan. Nah, kata “sekarang” bagi kami berdua bukan lagi sekadar adverbia temporal melainkan sudah naik kasta menjadi kunci pembuka jalan menuju ke oase kegembiraan dan kebahagiaan. ***