Konten dari Pengguna

Inilah Sejarah Kata “Primadona”

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata “primadona” mengalami perluasan makna dalam realitas penggunaan bahasa. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Kata “primadona” mengalami perluasan makna dalam realitas penggunaan bahasa. (Sumber: Shutterstock)

(1)

Sekitar akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17 menjadi awal kehadiran seni opera di Kota Florence, Italia. Itu terjadi selama periode Renaisans. Seni opera ini pada mulanya merupakan upaya sekelompok intelektual dan seniman di bawah panji Camerata Firenze untuk merevitalisasi drama Yunani Kuno.

Awal kehadiran kata dalam bahasa Italia “prima donna” sangat terkait dengan opera. Secara harfiah, “prima” bermakna pertama, sedangkan “donna” bermakna wanita. Wanita pertama. Dalam seni opera, ia merujuk pada penyanyi wanita utama yang mendapat peran penting. Lebih banyak lagu yang dinyanyikan dibandingkan dari penyanyi wanita yang lain.

Seni pertunjukan opera itu sendiri mengintegrasikan elemen-elemen teater, seperti kostum, panggung, dan teater. Dengan nyanyian dan musik secara orkestra serta tarian. Pengantar cerita dinyanyikan. Dialog para tokoh pun dinyanyikan. Dengan demikian, para pemain opera adalah sekumpulan penyanyi yang andal dan terlatih.

(2)

Jenis suara (fach) para penyanyi opera. Untuk wanita ada soprano, mezzo-soprano, contralto. Sementara itu, untuk laki-laki ada tenor, bariton, bass. Jenis suara itulah yang kemudian menjadi faktor penentu untuk peran-peran yang cocok dengan mereka.

Misalnya wanita dengan fach soprano lebih pas memainkan karakter utama dengan melodi nada tinggi. Untuk subkategori soprano lirik misalnya, dengan suara hangat dan timbre cerah serta penuh, cocok untuk peran lembut, simpatik. Seperti Pamina dalam The Magic Flute karya Wolfgang Amadeus Mozart, Juliette dalam Romeo et Juliette karya Charles Gounod, Micaela dalam Carmen karya Georges Bizet.

Sementara itu, laki-laki dengan fach bariton relatif cocok memainkan peran sebagai karakter yang mempunyai kekuasaan atau status tinggi, seperti jenderal dan bangsawan. Untuk menyebut contoh, yaitu karakter Don Giovanni, dalam opera dengan judul yang sama, karya Wolfgang Amadeus Mozart beserta mitra libretto Italia oleh Lorenzo Da Ponte. Atau, Rigoletto dalam opera yang berjudul sama dengan karakter ini karya Giuseppe Verdi. Atau, Court Almaviva dalam The Marriage of Figaro karya Wolfgang Amadeus Mozart.

(3)

Dalam konteks inilah kata “prima donna” (bahasa Italia) yang kemudian mengalami penyesuaian ejaan setelah proses penyerapan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “primadona” hadir pada mulanya. Primadona merujuk pada penyanyi wanita yang berperan sentral. Dan, olah vokalnya paling menonjol dalam sebuah produksi seni pertunjukan opera. Untuk laki-laki disebut "primo uomo".

Kata “primadona” dalam perkembangannya mengalami perluasan makna dari semula hanya terkait dengan seni pertunjukan opera. Di kisaran awal abad ke-19, semasih dalam bahasa Italia, wilayah cakupan pemaknaannya lebih umum. Dan, ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia pun, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring), masih dipertahankan pengertian awal, yaitu “penyanyi wanita yang pertama atau utama dalam pertunjukan opera”.

Kemudian cakupannya lebih luas lagi, yaitu di luar seni pertunjukan opera. Ia bukan lagi penyanyi, melainkan juga “pelaku wanita yang terpenting dalam pertunjukan sandiwara”. Pengertian kedua ini melebarkan referennya tidak lagi pada penyanyi wanita utama dalam opera. Akan tetapi, pelaku wanita terpenting dalam sandiwara (di luar opera). Adapun kata lain yang bersinonim dengan “primadona” adalah “sipanggung”.

Dalam kaitan dengan makna kias pertama, “primadona” juga mempunyai pengertian pada sosok individu (wanita atau gadis) yang paling cantik, disukai, dikagumi di suatu lingkungan. Kemudian pada makna kias kedua, kata ini merujuk pada barang komoditas atau dagangan yang paling utama di suatu daerah atau negara. Misalnya kalimat “Pada masa lalu, karet pernah menjadi primadona daerah ini”.

Nah, di sini yang dirujuk tidak lagi wanita atau gadis, tetapi barang dagangan yang menjadi andalan suatu daerah atau negara. Bahkan, benda itu bisa mengambil bentuk lain, seperti tertuang dari gabungan kata “primadona berita”, yaitu berita yang tengah menjadi pusat perhatian.

Dalam istilah kesenian, kata “primadona” mereferen pada sosok pemain dari suatu kelompok teater yang menjadi subjek kegemaran dari para penonton karena kemampuan akting yang berkelas. Dengan demikian, pemain itu bisa wanita dan bisa pula pria. Tidak merujuk secara khusus pada jenis kelamin tertentu, dalam hal ini wanita, seperti yang tertuang dalam pengertian pada mulanya.

Patut dicatat sebagai bagian dari sejarah penyerapan ke dalam bahasa Indonesia, kata “primadona” belum masuk dalam KBBI Edisi I (1988) dan KBBI Edisi II (1991). Baru tampak hadir dalam KBBI Edisi III (2000). Kemudian terus berlanjut ke KBBI Edisi IV (2008), KBBI Edisi V (2016), hingga KBBI Edisi VI (2023). ***