Konten dari Pengguna

Jelajah POV dari Karya Prosa hingga Media Sosial

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi singkatan POV. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi singkatan POV. (Sumber: Shutterstock)

Singkatan gaul POV. Terkadang dengan tanda #. Tidak jarang tampil saat saya menikmati sajian video atau postingan foto dengan imbuhan teks di media sosial.

Rasa ingin tahu itu di zaman kini begitu mudah dan cepat terpenuhi berkat bantuan Artificial Intelligence (AI) yang telah tersedia di gawai.

Meski terkadang kita memang perlu hati-hati. Menyikapi secara kritis. Mengonfirmasi dengan berbagai temuan untuk satu topik penelusuran.

Nah, saya pun tak bisa berekspresi lain, kecuali hanya bisa menepuk jidat sendiri. Tatkala pada akhirnya mengetahui, ternyata POV itu singkatan point of view.

Kalau yang ini, saya sudah kenal lama. Hanya saja bukan dalam versi singkatannya, melainkan kepanjangannya.

Dahulu sekali. Saat masih SMP puluhan tahun silam. Pertama kali saya menemukan terjemahan POV ini, yaitu sudut pandang, yang terkait dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ia salah satu unsur intrinsik karya prosa.

Selain POV, unsur-unsur intrinsik karya prosa (novel dan cerita pendek) mencakup tema, tokoh, alur, latar, penokohan, gaya bahasa, dan amanat.

Cerita Menarik

Ada sedikit cerita menarik tentang POV yang lebih sering mengidentifikasi diri sebagai sudut pandang.

Saat saya kuliah S-1 Transfer Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Negeri Semarang (sekarang Universitas Negeri Semarang). Itu di kisaran tahun 1994-1998.

Kuliah itu saya tempuh setelah tujuh tahun sebelumnya saya lulus dari D-3 program studi yang sama pada tahun 1987.

Almarhumah ibu (meninggal pada hari Minggu, 24 September 2006), sangat berbaik hati, memenuhi permintaan saya untuk go back to campus pada saat usia ini hampir 30 tahun.

Al-Fatihah. Semoga kebahagiaan senantiasa mendekap beliau dalam limpahan cinta kasih Allah Swt.

Ceritanya ketika saya akan menyusun skripsi. Ada semacam resistensi dari para dosen pembimbing kala itu.

Mereka meminta dengan amat sangat. Kalau ada mahasiswa yang akan mengkaji karya sastra prosa, untuk tidak menyorotinya dari unsur-unsur intrinsik.

Soalnya, jumlah skripsi tentang karya sastra prosa dengan pisau analisis unsur-unsur intrinsik, pada saat itu sudah terlampau berjibun.

Nah, resistensi itulah yang menakdirkan jalan hidup saya untuk menahan diri tidak terlalu menjadi bucin (pinjam istilah gaul anak muda zaman sekarang) pada POV.

Begitulah saya pun dengan sukarela dan istikamah masuk ke dunia naratif Novel Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis. Meneliti dialog para tokoh (karakter) pada tiap sekuen. Untuk menempatkan mereka pada kelas sosial masing-masing.

Parameter penempatannya berdasarkan kecenderungan penggunaan diksi neologisme (citra kemodernan), bahasa asing (citra intelektualitas), bahasa daerah (citra tradisionalitas), dan kata-kata vulgar (citra kekurangterdidikan) yang tertuang dalam dialog mereka.

POV dalam Karya Prosa

Pada mulanya POV memang relatif akrab dengan perspektif bagaimana seorang narator dalam karya prosa (cerita pendek atau novel) mengisahkan perjalanan kehidupan para tokoh di dunia naratif yang mereka kreasikan.

Dua karya sastra untuk contoh POV orang ketiga dan POV orang pertama. (Foto: Mohamad Jokomono)

Pencerita diaan atau pengarang menyebut nama tokoh merupakan salah satu bentuk POV dalam karya sastra.

Dengan POV orang ketiga ini, pengarang memiliki kemampuan untuk menarasikan aksi fisik, pikiran, dan perasaan tokoh rekaannya secara lebih leluasa.

Contoh POV pencerita diaan (penyebutan nama tokoh), dapat disimak dari kutipan Novel Senja di Jakarta (PT Dunia Pustaka Jaya Jakarta, 1981, cetakan kedua) karya Mochtar Lubis berikut:

Saimun mengencangkan ikat pinggangnya. Perutnya sudah mulai lapar. Belum ada isinya apa-apa. Dan hari masih pagi. Hujan gerimis yang turun sejak dinihari membuat perut tambah lapar.

Saimun menyalahkan hujan. Dengan kakinya yang telanjang dan penuh lumpur, kotoran-kotoran, dan baksil-baksil yang melekat, ditolakkannya keranjang sampah dari puncak timbunan sampah.

Berguling-guling ke bawah. Berhenti tertahan oleh dinding bambu sebuah pondok kecil, amat buruknya, amat koyaknya, amat tirisnya dalam hujan gerimis.

Seorang perempuan menjengukkan kepala keluar dan berteriak dengan suara parau. “Kira-kira dikit dong, mana matamu?”

Saimun terkejut sebentar, memandang dan menatap perempuan itu. Dia tertawa kurang ajar - tidak mengandung kemarahan atau kejengkelan - karena biasa saja dia tertawa demikian.

Dalam hatinya sebentar tergores gairah. Melihat dada perempuan dalam pondok itu. Yang dapat dilihatnya melalui celah-celah baju yang usang dan koyak.

Sebentar terlintas dalam hati Saimun hendak turun mendapatkan perempuan itu. Tetapi didengarnya bunyi truk pengangkut sampah milik kota praja berderum.

Dia segera berpaling dan berlari kecil. Melompat naik ke atas truk yang sudah mulai bergerak.

(Lubis, 1981: 7-8)

Selain POV orang ketiga, dalam karya prosa juga dikenal pencerita akuan. Disebut juga POV orang pertama. Tidak selamanya tokoh “aku” merupakan representasi sang pengarang.

Sebagai contoh POV orang pertama, berikut saya kutipkan salah satu cerita pendek karya Mohammad Diponegoro dalam buku Odah dan Cerita Lainnya (Shalahuddin Press Yogyakarta, 1986, cetakan pertama).

Kutipan ini bagian awal dari cerita pendek “Rumah Sebelah” yang terdapat dalam buku antologi tersebut.

Sudah sejak lama aku gemar mengumpulkan barang-barang yang ganjil. Hari itu aku ingin mencari cermin besar dengan bingkai tembaga atau kayu yang berukir.

Beberapa toko barang antik menjual barang langka seperti itu. Tapi aku kecewa karena ukuran atau harga yang tidak cocok.

Aku mengusap dahi dan wajah serta tengkuk dengan sapu tangan. Lalu masuk ke sebuah restoran.

Minum apa, Om?” seorang pelayan menyapa di depan meja.

Apa yang dikatakannya lagi aku tidak mengerti, di luar tangkapanku. Karena ketika itu aku tertegun oleh sebuah wajah yang aku tidak pangling.

Fahmi, seorang kawan sekolahku yang sudah dua puluh lima tahun berpisah. Mustahil rasanya kalau di tempat itu, setelah sekian lama, aku bertemu lagi dengannya.

Tapi kelihatan ia seperti sengaja dengan sebuah rencana ingin menjumpai aku di tempat itu.

Ia berjalan langsung dari pintu restoran menuju ke mejaku. Pakaiannya dekil serupa gelandangan. Tapi, itu tidak membuat aku ragu-ragu bahwa ia Fahmi.

Fahmi! Kau Fahmi?” aku berseru dan bangkit.

Lelaki itu mendapat giliran untuk tertegun. Mungkinkah ia tidak mengenalku lagi dengan keadaanku sekarang yang begini?

Ya, barangkali. Dahulu di sekolah aku kurus ceking seperti kebanyakan pelajar-pelajar zaman Jepang.

Maaf. Saudara siapa?” lelaki itu bertanya.

Fahmi. Masak kau lupa? Aku Doryat kawan sekolahmu dulu.”

(Diponegoro, 1986: 185-186)

Demikian POV yang biasa digunakan secara konvensional dalam karya prosa.

Namun seiring dengan perjalanan waktu, dalam perkembangannya telah terjadi upaya inovatif teknik penceritaan POV orang kedua (Anda, kamu, kau, kalian).

Iain Blanks, penulis Skotlandia, Britania Raya kelahiran 16 Februari 1954 dan meninggal pada 9 Juni 2013, dalam novelnya Complicity (2000), pada sejumlah bagian menggunakan POV orang kedua.

Dalam novel ini ada dua narator, yaitu seorang jurnalis dan seorang pembunuh. Bagian-bagian yang terkait dengan narator pembunuh ditulisnya dengan POV orang kedua.

Anda mendengar suara mobil setelah satu setengah jam. Selama waktu itu Anda berada di sini dalam kegelapan, duduk di dudukan telepon kecil dekat pintu depan, menunggu.

Anda hanya bergerak sekali, setelah setengah jam, ketika Anda kembali ke dapur untuk memeriksa pembantu.

Dia masih di sana, matanya putih dalam kegelapan. Ada bau aneh dan tajam di udara. Dan Anda memikirkan kucing, meskipun Anda tahu dia tidak punya kucing.

Kemudian Anda menyadari pembantu itu telah mengompol. Anda merasa jijik sesaat. Tapi, kemudian sedikit merasa bersalah.

Penggunaan POV orang kedua ini, merupakan upaya pengarang untuk berbicara langsung kepada para pembacanya.

Dengan demikian, mereka bisa merasakan menjadi bagian dari cerita. Dalam realitas praktik pemakaiannya, bisa saja berkombinasi misalnya dengan POV orang ketiga.

POV dalam Konten Media Sosial

Media sosial menempatkan keberadaan POV dari sisi kepentingan kreator. Entah berupa foto dengan imbuhan teks. Entah pula berupa video, hasil unggahannya.

Adapun kepentingan pemilik konten, yaitu berupaya meraup perhatian audiens dalam artian kualitas dan kuantitas yang maksimal.

Ilustrasi dari sumber Shutterstock.

POV dapat lebih memudahkan para audiens untuk mengonsentrasikan pemahamannya tentang materi konten.

Kadang banyak bunga adegan atau ucapan para pelaku dalam video yang tidak menusuk langsung ke jantung konten. Keberadaan POV bisa menjadi semacam pemandu untuk fokus.

POV dalam konten media sosial juga menuai manfaat untuk menghidupkan sajian yang lebih interaktif. Seolah-olah mereka memasuki suatu ruang empati.

Sekaligus menjadi saksi dari upaya kreator konten mengaksentuasikan pemberian pengalaman yang autentik.

Suatu bentuk representasivitas yang benar-benar teruji. Karena datang dari narasumber konten yang berprofesi sesuai dengan sajian narasi.

Atau, sedikitnya memiliki bekal pengalaman memadai untuk menghidupkan suasana narasi tentang suatu hal.

Demikian, yang bisa saya tangkap dari keberadaan POV di media sosial. Bagi saya, POV adalah juga semacam peranti yang lebih melancarkan alur proses komunikasi dengan media video atau sekadar postingan foto plus imbuhan teks. ***

Mohamad Jokomono, S.Pd., M.I.Kom., purnatugas pekerja media cetak.