Konten dari Pengguna

"Juwita”, Kata yang Pas untuk Puisi atau Lirik Lagu

Mohamad Jokomono
Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
23 November 2025 3:46 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
"Juwita”, Kata yang Pas untuk Puisi atau Lirik Lagu
Kata "juwita" merupakan ragam klasik. Memiliki balutan sastrawi yang terutama pada karya sastra hikayat untuk genre prosanya. Demikian pula, kata ini menjadi diksi bagi penyair Angkatan Pujangga Baru.
Mohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
5Ilustrasi seorang pemuda tengah membaca puisi. (Sumber: Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
5Ilustrasi seorang pemuda tengah membaca puisi. (Sumber: Gemini AI)
ADVERTISEMENT
Secara etimologi, kata “juwita” berasal dari bahasa Sanskerta jīvita (जीवित). Maknanya “hidup” atau “kehidupan”. Kemudian bahasa Kawi (Jawa Kuno) menyerapnya dan melakukan adaptasi fonologis menjadi juwita (ꦗꦸꦮꦶꦠ). Maknanya pun mengalami pergeseran secara evolutif menjadi “cantik”, “elok”, atau “menawan”.
ADVERTISEMENT
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan memuat baik lema “juwita” maupun lema “juita”. Hanya dari keduanya, bentuk yang dibakukan, atau yang diseyogiakan pemakaiannya, yaitu “juita”. Kata ini dimasukkan ke dalam ragam klasik. Berasal dari masa lampau, tetapi kadang masih menemukan realisasi pemakaian pada konteks tertentu. Kandungan maknanya pun semakin kaya. Bisa “nyawa”, “kekasih”, “buah hati”. Bisa pula “cantik”, “elok” untuk menyebut paras gadis atau wanita.
Kata “juita” atau “juwita” termasuk ke dalam ragam klasik. Biasanya memiliki ruang pemakaian dalam karya sastra. Kalau untuk genre prosa biasanya menghiasi khazanah hikayat dalam sastra Melayu Lama, misalnya seperti dalam kalimat dialog, “Duhai Adinda, permata hati Kakanda, juwita rupa parasmu tiada tara bandingannya di seluruh negeri,” kata seorang pangeran kepada puteri yang dicintainya.
ADVERTISEMENT
Atau contoh lain, alkisah dalam suatu lakon hikayat, Sang Raja membicarakan soal puteri kesayangannya yang sudah marak dewasa kepada Perdana Menteri, orang kepercayaannya. “Wahai Perdana Menteri, sudah tiba masanya kita mencarikan jodoh yang sepadan bagi puteriku, sang juwita istana ini. Kecantikannya tiada tara, budi pekertinya pun luhur mulia.”
Dalam Genre Puisi
Ilustrasi tentang karya sastra genre puisi. (Sumber: Shutterstock)
Sementara itu, untuk genre puisi, bahkan di kalangan sastrawan Indonesia modern pun, kata “juwita” masih mendapat ruang pemakaian dalam karyanya. Sebut saja Wahyu Sulaiman (W.S.) Rendra (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 7 November 1935 - meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009).
Bukti puitiknya sebagai teks terdapat dalam buku antologi karya penyair berjuluk Si Burung Merak itu. Julukan ini disematkan kepadanya lantaran performanya yang selalu memikat saat membacakan sajak-sajaknya. Adapun buku antologi yang saya maksud bertajuk Puisi-Puisi Cinta. P.T. Bentang Pustaka Yogyakarta menerbitkannya setelah hampir enam tahun Sang Penyair wafat, yaitu pada September 2015. Dalam buku yang dieditori oleh Edi Haryono itu, terdapat puisi “Sajak Cinta Ditulis pada Usia 57”.
ADVERTISEMENT
Puisi tersebut ditulis oleh W.S. Rendra di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada 18 Juli 1992. Sebenarnya ketika penyair menulis puisi itu usianya baru 56 tahun 9 bulan 11 hari. Tentu pembulatan usia menjadi 57 tahun itu dengan pertimbangan estetika semata. Tak bisa saya bayangkan, bagaimana anehnya jika penulisan usia di judul itu disebutkan secara terinci.
Dalam puisi “Sajak Cinta Ditulis pada Usia 57” terdapat pemakaian kata “juwita” (lebih sering dengan pronomina posesif ‘-ku”) sebanyak lima kali dari bangunan 248 kata (termasuk judul dan nama tempat puisi itu ditulis serta tanggal, bulan, dan tahun). Rendra memulai dengan konsep ruang dan waktu yang begitu fana: //Setiap ruang yang tertutup/akan retak,/ karena mengandung waktu/ yang selalu mengimbangi./ Dan akhirnya akan meledak/ bila tenaga waktu terus terhadang.//
ADVERTISEMENT
Kemudian menyelinap ungkapan perasaan sayang yang tumbuh secara alami. Seolah tiba-tiba saja ada, tanpa perencanaan sebelumnya. Di sini, kata “juwita” yang pertama memainkan perannya: //Cintaku kepadamu, Juwitaku,/ ikhlas dan sebenarnya./ Ia terjadi sendiri./ Aku tak tahu kenapa./ Aku sekedar menyadari/ bahwa ternyata ia ada.//
Usia cinta, ungkap Rendra, tersisa lebih lama ketimbang pelembagaan dari ungkapan cinta itu. Kata “juwita” yang kedua pun, sepertinya hendak menegaskan konsepsi ruang dan waktu yang melingkupi keberlangsungan rasa itu: //Cintaku kepadamu, Juwitaku,/ Kemudian me-ruang dan me-waktu/ dalam hidupku yang sekedar insan./ Ruang cinta aku berdayakan./ tapi waktu-nya/ Lepas dari jangkauan./ Sekarang aku menyadari:/ usia cinta lebih panjang/ dari usia percintaan.//
Ketika tak lagi terikat dalam suatu pelembagaan, ada cinta dari “spesies” lain yang datang menghampiri. Ia serupa tabir misteri. Sulit dirumuskan. Kata Rendra: //Khazanah budaya percintaan/(pacaran, perpisahan, perkawinan)/ tak bisa merumuskan/ tenaga waktu dari cinta./ Dan kini: syairku ini/ apakah mungkin/ merumuskan cintaku kepadamu?//
ADVERTISEMENT
Dan, kata-kata itu sendiri terkadang bisa berucap melampaui maknanya. Makna yang cenderung indipenden dari telikung kepentingan di luar cinta itu sendiri: //Syair bermula dari kata./ Dan kata-kata dalam syair/ juga me-ruang dan me-waktu./ Lepas dari kamus/ Lepas dari sejarah/ lepas dari daya korupsi manusia./ Demikianlah, maka syairku ini/ berani mewakili cintaku kepadamu.//
Ketika cinta mengada, penerimaan atas segala menjadi terasa lebih syahdu. Kata “juwita” yang ketiga hadir untuk meluaskan ruang penerimaan itu: //Juwitaku, belum pernah aku puas/ menciumi kamu./ Kamu bagaikan buku/ yang tak pernah tamat aku baca./ Kamu adalah lumut/di dalam tempurung kepalaku./ Kamu tidak sempurna./ Gampang sakit perut/ gampang sakit kepala./ Dan temperamenmu sering tinggi./ Kamu sulit menghadapi diri sendiri./ Dan di balik keanggunan/ dan keluwesanmu/ kamu takut kepada dunia.//
ADVERTISEMENT
Kata “juwita” yang keempat dan kelima berjejalan dalam bait berikut. Seolah hendak melebarkan lagi ruang penerimaan terhadap sosok yang penuh dengan kekurangan. Bukan sosok immaculata, tanpa cela seperti julukan Bunda Maria: //Juwitaku, lepas dari kotak-kotak analisa cintamu/ cintaku kepadamu ternyata ada./ Kamu tidak molek/ tetapi cantik dan juwita./ Jelas tidak immaculata/ tetapi menjadi mitos di dalam kalbuku.//
Di bait terakhir, Rendra mengajak kita untuk sekali lagi mencerna secara kontemplatif, ada cinta yang masih lebih lama tersisa daripada khazanah budaya percintaan. Ia mengikuti arus keabadian: //Sampai di sini/ aku akhiri/ renungan cintaku kepadamu./ Kalau dituruti/ toh tak akan ada akhirnya./ Dengan ikhlas/ aku persembahkan kepadamu./ Cintaku kepadamu telah me-waktu/ Syair ini juga akan me-waktu./ Yang jelas/ usianya akan lebih panjang/ dari usiaku/ dan usiamu.//
ADVERTISEMENT
Lagu “Juwita Malam”
Ilustrasi tentang cinta platonik yang terawetkan lewat lirik dan melodi romantis. (Sumber: Shutterstock)
Kalau boleh lagu dianggap sebagai puisi yang dinyanyikan, “Juwita Malam” (1950) dapat disertakan sebagai bagian yang layak dicermati dalam tulisan ini. Lagu ini diciptakan dan diaransemen oleh komponis Ismail Marzuki (lahir di Kwitang, Senen, Batavia, 11 Mei 1914 - wafat di Tanah Abang, Jakarta Pusat, 25 Mei 1958).
Entah ini suatu kebetulan atau tidak, jumlah kata “juwita” dalam lagu yang secara keseluruhan dibangun dari 98 kata (tidak termasuk judul lagu) ini, juga terdiri atas lima buah. Sama seperti jumlah kata “juwita” dalam teks “Sajak Cinta Ditulis pada Usia 57” karya W.S. Rendra di atas.
Kata “juwita” pertama terdapat di dalam bait pertama yang mengisahkan kekaguman seorang pemuda terhadap seorang gadis yang sama-sama menumpang kereta api malam. Akan tetapi, si pemuda tidak memiliki keberanian untuk sekadar menyapa. Hanya bisa memandanginya dengan penuh kekaguman.
ADVERTISEMENT
//Engkau gemilang malam cemerlang/ Bagaikan bintang timur sedang mengambang/ Tak jemu-jemu mata memandang/ Aku namakan dikau juwita malam//
Rupanya si pemuda telah jatuh hati dalam pandangan pertama. Akan tetapi, apa daya mulut tak kuasa bicara untuk sekadar menyapa dan berkenalan. Dua kata “juwita” merasuk ke dalam bait kedua lagu ini.
//Sinar matamu menari-nari/ Masuk menembus ke dalam jantung kalbu/ Aku terpikat masuk perangkap/ Apa daya asmara sudah melekat/ Juwita malam siapakah gerangan puan/ Juwita malam dari bulankah puan//
Rasa cemas menyelinap di hati si pemuda. Sebentar lagi perjalanan kereta api malam yang mereka tumpangi akan segera tiba di Stasiun Jatinegara. Di situ, mereka akan berpisah jalan. Harapan untuk bertemu lagi tersimpan di hati. Tapi, belum ada tegur sapa di antara keduanya. Di bait ketiga ini, kembali muncul dua kata “juwita” yang menekankan harapan yang sulit menemukan kenyataan.
ADVERTISEMENT
//Kereta kita segera tiba/ Di Jatinegara kita kan berpisah/ Berilah nama alamat serta/ Esok lusa boleh kita jumpa pula/ Juwita malam siapakah gerangan puan/ Juwita malam dari bulankah puan//
Dan, bait keempat merupakan pengulangan lirik dari sebagian bait ketiga: //Kereta kita segera tiba/ Di Jatinegara kita kan berpisah/ Berilah nama alamat serta/ Esok lusa boleh kita jumpa pula/ Esok lusa boleh kita jumpa pula//.
Ada yang menafsiri, Juwita Malam bukan sosok riil yang spesifik, melainkan personifikasi kiasan. Kisah yang menyukmai lagu ini konon merupakan bentuk ekspresi yang platonik dan romantis. Momen sekilas dan berharga bagi seorang yang berjiwa seni dan mampu menerjemahkan perasaan hatinya ke dalam lantunan lirik lagu. Datang dari inspirasi tentang kekaguman terhadap kecantikan misterius seorang gadis dalam suatu persuaan yang tidak terduga.
ADVERTISEMENT
Hampir sama dengan “Juwita Malam”, adalah lagu romantis Ismail Marzuki lainnya, “Arjati” (baca “Aryati” [1939]). Metafora sebagai “mawar (yang tumbuh mekar) di taman khayalku” konon juga merupakan ungkapan cinta platonik. Atau sebagaimana tampak pada bait yang terkenal: //Dosakah hamba mimpi berkasih dengan puan/ Ujung jarimu kucium mesra tadi malam/ Dosakah hamba memuja dikau dalam mimpi/ Hanya dalam mimpi//.
Kekaguman mendalam terhadap seorang gadis yang sebatas terucap lewat buaian khusyuk angan dan mimpi dari sang pencipta lagu. Inilah barangkali sisi yang asyik dari geliat cinta platonik. Ismail Marzuki menciptakan lagu “Arjati” sebelum dia mempersunting Eulis Zuraidah pada tahun 1940. Dalam perkembangannya, kisah cinta dan kesetiaan Ismail dan Eulis, primadona sebuah kelompok musik di Bandung, acapkali menjadi ladang inspirasi dari lagu-lagu komponis legendaris tersebut. ***
ADVERTISEMENT