Konten dari Pengguna

Karakter Binatang Berbicara dalam Dracin, Pemandu Jalan Cerita

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Dalam sebuah drama Cina (dracin), seekor tupai tiba-tiba melompat ke pundak seorang pengantar makanan separuh baya yang tengah mengendarai motor listrik di suatu jalan untuk mengantarkan pesanan. Binatang itu berkata kepada lelaki itu, dalam perjalanan nanti dia akan bertemu dengan seorang wanita hamil yang membutuhkan pertolongannya. Bila dia bersedia menolong, maka hidupnya kelak akan terjamin.

Dalam dracin yang lain, seekor tupai juga melompat ke pundak seorang wanita paruh baya yang berpakaian necis ala CEO sebuah perusahaan besar. Kemudian binatang itu memberitahukan, bahwa putranya yang telah lama hilang kini sedang memperbaiki mobil di bengkel selatan kota. Dan, meminta wanita itu segera menemuinya dalam 10 menit.

Kemudian ada lagi seorang pemuda petualang yang tengah berjalan kaki, tiba-tiba pundaknya menjadi sasaran hinggap seekor burung berbulu indah. Unggas itu menginformasikan, bahwa calon istrinya tengah mengendarai mobil menuju ke arahnya. Sekelompok penjahat bermobil mengutitnya. Burung itu meminta si pemuda menolongnya.

Di dracin lainnya lagi, ada seekor burung mungil hinggap di pundak seorang anak lelaki usia 10-an yang tengah berjalan dengan mamanya. Burung mungil itu meminta, agar dia mengajak mamanya untuk menolong seorang nenek yang pingsan di pinggir jalan. Burung itu menekankan, jika mereka menolongnya, niscaya nenek itu kelak akan mengubah nasib mereka menjadi lebih baik.

Nah, kalau mau satu contoh karakter burung yang bisa berbicara, ini ada satu lagi. Yang ini burung hantu. Hinggap di pundak seorang pemuda penjual makanan di pinggir jalan ketika sedang menggoreng menu pesanan. Burung hantu itu memberitahunya, bahwa sebentar lagi akan datang seorang lelaki tua. Dia tampak kelaparan. Sang Burung menasehati agar memberinya makan. Sambil menambahkan, lelaki tua itu adalah calon mertuanya.

Ada lagi dracin yang saya tonton, karakter binatang berbicara (tetapi hanya bisa saling memahami dengan karakter manusia protagonis) tidak hanya satu, tetapi beberapa. Ada seorang gadis muda, yang rupanya berasal dari masa kini, tetapi tersesat ke masa lalu. Dia bertransmigrasi ke tubuh gadis lain. Dia bisa berbicara dengan harimau dan bahkan menolong persalinan harimau betina (karena di masa kini dia berprofesi sebagai dokter hewan).

Di rumahnya, gadis muda itu memiliki teman binatang yang bisa berbicara, yaitu kucing, anjing, dan tikus. Suatu hari ketika hendak menjual ginseng temuannya di gunung ke kota, dia melihat kerbau penarik pedati yang tidak mau jalan. Berkat kemampuannya berbahasa binatang, dia mampu mengetahui duduk persoalannya.

Ternyata si kerbau merasa letih karena telah menempuh perjalanan panjang. Dan, si kerbau pun mengadu belum mendapat makanan yang memadai, sehingga merasa sangat kelaparan. Tambahan lagi muatan di pedatinya lebih dari kapasitas maksimal yang seharusnya tidak lebih dari empat orang dewasa.

Setelah persoalan si kerbau teratasi, akhirnya gadis muda itu memperoleh tumpangan ke kota. Di sana dia berhasil menjual ginsengnya yang telah berusia 100 tahun itu kepada seorang putri bangsawan yang membutuhkan tanaman obat itu untuk kesembuhan ayahnya. Dan, harga yang ditawarkannya pun jauh lebih tinggi dari harga pasaran di rumah tabib.

Ketika hendak mencari tumpangan untuk pulang ke rumahnya di desa, gadis muda itu melihat dua lelaki yang hendak menyembelih kuda jantannya. Alasan keduanya, karena kuda itu sulit menerima pengaturan. Namun, gadis muda itu buru-buru mencegahnya. Setelah berbicara dengan si kuda, dan dia pun bisa memahami keinginannya. Dia pun membeli kuda itu berikut gerobaknya.

Sesampai di desanya, gadis muda itu melihat rumah tetangganya kemasukan ular besar yang menakutkan. Untuk mengusir ular itu, warga memutuskan untuk membakar rumah tersebut. Pemilik rumah, seorang perempuan setengah baya, tentu saja keberatan.

Gadis itu tampil menengahi. Dia bersedia mengatasi persoalan ini. Berkat kemampuannya berbahasa binatang, ular itu bersedia pindah ke rumahnya. Sambil menerima pengobatan untuk sejumlah luka di kepala dan tubuhnya. Ular itu rupanya terbangun lebih awal di masa hibernasinya

Binatang lain yang hadir sebagai karakter berbicara dalam dracin, sejauh yang pernah saya lihat, yaitu katak, lalat, kuda sembrani. Ketika mengambil latar belakang di laut, ada pula kreator dracin yang memberikan peran kepada kepiting atau kura-kura raksasa sebagai karakter binatang yang bisa berbicara. Ada pula yang memilih monyet, serigala, dan lain-lain.

Antropomorfisme

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Menurut perspektif ilmu sastra, karakter binatang yang dapat berbicara di tengah dominasi karakter manusia merupakan bentuk antropomorfisme (anthropomorphism). Manakala seekor binatang dalam cerita menerima pendeskripsian mampu berbicara dengan rangkaian kata-kata yang tersusun sesuai dengan tata bahasa manusia, hal itu menegaskan satu hal. Kreator cerita telah menanamkan sifat manusia ke dalam diri karakter binatang itu.

Keberadaan karakter binatang yang dapat berbicara itu memiliki fungsi narasi sebagai alat plot (plot device) untuk mendorong pergerakan eksposisi, penyampaian informasi naratif yang penting kepada khalayak audiens. Dengan cara menempati fungsi sebagai mentor yang bertugas memberikan petunjuk, nasihat, atau kekuatan moral yang menguatkan langkah perjalananan karakter manusia (bisa protagonis) pada tahapan narasi selanjutnya.

Pendamping binatang berbicara (talking animal companion) secara struktural dalam dunia narasi memberada di lingkungan karakter manusia. Menjadi jembatan yang menjadi arah pergerakan narasi yang memandu khalayak audiens memiliki posisi tawar kokoh manakala mencocokkan horizon harapannya. Dialog binatang itu menjadi kata kunci yang memetakan kedekatan jangkauan dugaan khalayak audiens terkait dengan nasib karakter manusia itu pada bagian narasi selanjutnya.

Menurut Joseph Campbell dalam The Hero with a Thousand Faces (Pantheon Books, 1949), konsep Hero’s Journey atau monomyth dalam teori arsitektur cerita, arketipe karakter pemandu berupa binatang yang bisa berbicara itu berada di dalam ranah tugas memberi petunjuk atau memperlihatkan jalan kepada karakter protagonis bagaimana seharusnya menapakkan langkah pada tahapan narasi berikutnya setelah menyimak perkataan karakter binatang berbicara itu.

Berdasarkan sudut pandang teori arsitektur cerita, binatang pemandu kerap kali menunaikan fungsi menjadi wahana guna menggerakkan plot. Karakter ini dapat berada dalam rengkuh kategori sebagai kejadian pemicu (inciting incident).

Pemunculannya secara mendadak (dalam dracin kebanyakan binatang itu hinggap di pundak karakter manusia dan berkata di dekat telinganya) menjadi titik awal perguliran naratif. Bisa pula menjadi katalis plot (plot catalyst) yang menuntun karakter manusia ke rangkaian kejadian yang krusial untuk perkembangan narasi.

Pemunculan karakter binatang yang berbicara sebagai pemandu progres narasi sesungguhnya bukan hal kebetulan. Memang dari kesan awal, pemunculan tupai atau burung yang tiba-tiba saja berada di pundak karakter manusia. Terasa sulit untuk mengusir impresi tentang kehadiran mereka yang terasa demikian mendadak. Ada efek kejutan dari karakter yang mengisi peran arkais sebagai Sang Pembawa Pesan (The Herald) atau Sang Mentor (The Mentor).

Akan tetapi, sesungguhnya pemunculan karakter tupai atau burung di pundak karakter manusia yang kemudian mengatakan suatu panduan di posisi dekat telinganya itu. Merupakan bagian dari cetak biru (arsitektur) struktural guna memicu perjalanan emosional dan fisik karakter manusia.

Pemunculan karakter pemandu binatang berbicara ini, yang berkesan secara mendadak, sesungguhnya termasuk bagian dari elemen struktur dan teori arsitektur naratif. Di dalam dunia penulisan, karakter ini tidak muncul begitu saja. Namun, mempunyai fungsi arsitektural yang sangat spesifik.

Dalam Dracin

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Dalam dracin, teristimewa yang menggarap ranah tematik fantasi romantis (romance-fantasy), hewan piaraan yang menggemaskan (sweet pet), atau realisme magis (magical realism), pemunculan binatang berbicara memang mempunyai fungsi struktural dan naratif yang begitu spesifik.

Kendatipun sekilas kemunculannya hanya menjadi faktor pemanis (cute factor), sesungguhnya di balik itu ada upaya perancangan secara arsitektural. Dengan topangan perhitungan matang, terstruktur, dan melengkapi dirinya dengan kepemilikan fungsi sistematis dalam keseluruhan desain naratif.

Fungsi spesifik itu bisa berupa katalis hubungan (the matchmaker and cupid). Pada struktur naratif dracin, binatang berbicara kerap menunaikan fungsi sebagai perekat pertalian cerita dua karakter manusia (biasanya berada di ranah eksistensial naratif yang utama).

Binatang berbicara itu bisa menggiring pada situasi naratif yang mempertemukan karakter-karakter utama dan memberadakan mereka di dalam kancah interaksi fisik atau emosional.

Binatang berbicara itu pula merupakan manifestasi batin dan ego karakter (internal monologue). Dalam taut artian, binatang berbicara menjadi cermin psikologis karakter manusia. Dialog karakter manusia dengan binatang berbicara menjadi strategi naratif yang cerdik guna mengekspose perkembangan karakter (character development) kepada khalayak audiens tanpa perlu narasi ekspositoris.

Penggunaan binatang berbicara, bukan sekadar untuk mengedepankan keunikan visual, melainkan suatu trik penyampaian pesan secara efektif. Dan, lewat dialog dengan binatang berbicara itu, khalayak aidiens dapat mencermati bagaimana karakter manusia itu tumbuh berubah dan mampu menyelesaikan konflik batinnya. Tanpa terjebak pada narasi ekspositoris, penjelasan langsung dari narator (show, don’t tell).

Binatang berbicara, keberadaannya juga menjadi penjaga aturan dunia fantasi (world-building anchor). Dracin yang menyapa unsur magis, seperti sistem transmigrasi, jiwa seorang karakter manusia pindah ke tubuh orang lain di dunia, dimensi, atau waktu berbeda.

Di sini, karakter binatang berbicara berlaku sebagai pemandu eksposisi. Membimbing, menjelaskan, dan memberikan informasi kepada khalayak audiens tentang peristiwa naratif yang bisa terjadi pada perjalanan cerita berikutnya.

Karakter binatang berbicara bertugas menjelaskan aturan main (rules of the world) kepada karakter protagonis dan khalayak audiens tanpa mendistorsi estetika latar modern. Antara lain dengan mengunci pemungkinan yang bisa memahami perkataan binatang yang berbicara itu hanya karakter protagonis. Dan, tentu saja khalayak audiens.

Kreator dracin dengan kepiawaiannya berstrategi naratif, memasukkan unsur fantasi (binatang berbicara) sebagai pemberi informasi. Dengan sentuhan penyajian yang sedemikian rapi dan menyatu secara adaptif serta fleksibel dengan realitas dunia modern.

Khalayak audiens pun merasakan dunia tersebut riil dan meyakinkan. Sebab, kreator dracin istikamah dalam menjaga batas logis mengapa keajaiban itu tetap relevan keberadaannya di tengah kota metropolitan yang begitu penuh sesak dengan aktivitas.

Kehadiran karakter binatang berbicara juga berfungsi sebagai pereda ketegangan melodramatis (comic relief and tone balance). Dracin kerap berada dalam genggam tematik dalam melodrama intens, seperti konflik korporat, penyakit, atau restu orang tua.

Dalam situasi naratif yang sedemikian, kehadiran karakter binatang berbicara menginjeksikan elemen komedi yang sedikit mengguyur kesegaran. Kehadiran mereka mempersembahkan kepastian, kendatipun secara tematik perjalanan narasi mengusung konflik yang relatif berat, totalitas tone drama tetap terasa dekat dengan sentuhan performa yang ringan, hangat, dan menghibur.

Berdasarkan perspektif arsitektur industri hiburan, karakter binatang berbicara berada dalam upaya perancangan guna menghadirkan komodifikasi dan estetika visual. Bisa dengan teknologi Computer-Generated Imagery (IMG). Bisa pula binatang asli dengan sulih suara. Sungguh efektif untuk pasar audiens muda. Pun menciptakan tren di media sosial. Atau, peluang penjualan boneka, emotikon.

Demikianlah, karakter binatang berbicara dalam dracin bukan tempelan visual yang bersifat aksesoris belaka. Melainkan secara arsitektural, mereka merupakan alat plot (plot device) untuk menghangatkan romansa, mensimplifikasi eksposisi fantasi, dan merawat keseimbangan emosi khalayak audiens.

Deus Ex Machina

Iluatrasi kreasi Gemini AI.

Karakter binatang berbicara dalam dracin, terutama genre xianxia (fantasi kultivasi, karakter berlatih meningkatkan kekuatan fisik dan spiritual agar memperoleh kekuatan dahsyat) atau xuanhuan (gabungan mitologi Tiongkok dengan elemen fantasi modern). Peran mereka dalam cerita adalah karakter sah, mempunyai latar belakang, kepribadian, dan busur cerita (character arc), kesatuan rangkaian cerita.

Asal-usul dari karakter binatang berbicara itu biasanya dari makhluk kasatmata (yaoguai), binatang spiritual, atau binatang dewa yang telah berkultivasi (bertapa) selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Tunjuannya, untuk mencapai tingkat kecerdasan manusia. Dan, kemampuan berbicara.

Keberadaan karakter binatang berbicara telah mendapat sentuhan pengaturan sejak awal dalam hukum dunia fantasi tersebut. Dengan demikian, khalayak audiens tidak akan merasa aneh manakala mereka muncul.

Berlainan kiranya dari konsep deus ex machina. Frasa bahasa Latin ini bermakna makna Dewa dari Mesin. Mendeskripsikan kondisi tatkala masalah yang kelihatannya tidak mungkin terselesaikan, karena intervensi kekuatan eksternal yang luar biasa, mendadak terselesaikan begitu saja.

Memang ada karakter yang menunaikan fungsi sebagai deus ex machina. Akan tetapi kehadirannya lebih menyerupai cara kreator memainkan teknik resolusi konflik yang acap kali memperoleh tudingan sebagai “jalan pintas”. Sebab, tidak berdasarkan performa pemecahan solusi masalah yang memang sungguh berasal dari usaha mandiri karakter protagonis.

Ciri khas yang mewarnai kehadiran deus ex machina, yaitu karakter penolong, termasuk binatang, yang hadir mendadak tanpa ada petunjuk (foreshadowing). Dan, memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang sudah hampir tidak ada jalan keluarnya. Tujuannya, demi menyelamatkan perjalanan plot yang tampaknya menemui kebuntuan.

Karakter binatang berbicara dalam dracin, bisa menjadi deus ex machina, manakala kehadirannya melanggar logika cerita yang telah terbentuk. Sebagai ilustrasi contoh, seorang karakter manusia protagonis tengah berada dalam situasi narasi, dirinya terkepung para musuh. Hampir tidak ada peluang untuk menyelamatkan diri.

Sekonyong-konyong, datang seekor naga yang dapat berbicara. Pada tahapan narasi sebelumnya tidak pernah diintroduksi atau sedikitnya disebut. Kehadirannya seolah turun dari langit. Karakter naga itu kemudian bisa menaklukkan dan membinasakan semua musuh karakter manusia protagonis. Dalam hitungan waktu yang sangat singkat. Setelah tugas selesai, karakter naga itu pergi begitu saja. Nah, ini adalah deus ex machina.

Sementara itu, karakter binatang berbicara dalam dracin, bisa juga bukan merupakan deus ex machina. Ilustrasi contoh, sengaja agak mirip, agar memudahkan perbandingan. Masih tentang kisah karakter manusia protagonis yang kewalahan menghadapi kepungan musuh. Pada saat terdesak itu, datang karakter binatang penolong.

Agar tidak terlalu menjenuhkan, saya ganti karakter binatang penolong itu dari naga menjadi rubah. Pemunculan rubah itu tidak secara tiba-tiba, karena sejak awal cerita binatang tersebut sudah hadir dengan status sebagai hewan peliharaan. Ia memang ahli strategi berkelahi. Berkat petunjuk dari rubah berbicara, karakter manusia protagonis itu dapat mengatasi lawan-lawannya. Satu per satu. Kalau yang ini bukan deus ex machina.

Psikologi Jungian

Menurut perspektif Psikologi Jungian, kehadiran karakter binatang berbicara dalam dracin, merupakan proyeksi visual psikis terdalam dari karakter manusia protagonis yang belum tersadari. Psikolog Swiss Carl Gustav Jung (26 Juli 1875 - 6 Juni 1961) mencetuskan teori, alam bawah sadar menyimpan potensi besar, trauma, atau kekuatan yang mengalami penekanan dari kesadaran.

Dalam dracin, kadang karakter protagonis pada awal narasi adalah sosok yang lemah, tidak berbakat, atau hilang ingatan. Manakala dia secara tidak sengaja menetaskan telur binatang spiritual tingkat tinggi, seperti naga, qilin (kuda putih dengan sebuah tanduk spiral di dahi), atau rubah ekor sembilan.

Sesungguhnya binatang tersebut merupakan wujud visual dari kekuatan sejati bawah sadar dari sosok karakter yang secara lahiriah banyak kekurangan itu. Dan, pemunculan binatang berbicara itu saat karakter utama terdesak, mencerminkan tatkala kesadaran logis menyerah, alam bawah sadar mengambil alih untuk melindungi dirinya.

Karakter binatang spiritual dalam dracin bertindak sebagai “suara hati” atau kompas moral yang membimbing tindakan karakter protagonis. Mereka bisa berbicara melalui pikiran (telepathic) hanya dengan sang pemilik (biasanya juga karakter protagonis).

Manakala karakter protagonis merasa ragu, bingung, atau terbutakan emosi, karakter binatang berbicara itu bakal memberi peringatan atau petunjuk. Secara psikologis, karakter binatang berbicara itu adalah intuisi murni dari karakter manusia protagonis. Intuisi tersebut mewujud dalam jelmaan sebagai makhluk hidup agar ego (kesadaran) karakter manusia dapat mendengarnya.

Menurut Psikologi Jungian, tujuan hidup manusia adalah mencapai individuasi, menjadi diri yang utuh (The Self) dengan menyatukan kesadaran dan bawah sadar. Pada dracin, hal ini setara dengan proses menggapai tingkat kultivasi tinggi (proses yang membutuhkan kerja keras luar biasa, kesabaran, dan dedikasi kuat).

Terdapat ikatan darah (blood contract) antara karakter manusia protagonis dan karakter binatang berbicara yang menyimbolkan bahwa takdir mereka terikat. Tidak jarang, peningkatan kekuatan karakter binatang berbicara berseiring dengan kedewasaan psikologis dan capaian ilmu karakter manusia protagonis.

Manakala karakter manusia protagonis dalam dracin telah sukses menerima takdirnya, karakter binatang berbicara yang menjadi pemandunya pun akan menemukan bentuk sempurnanya. Misalnya dari anak ayam kecil bertransformasi menjadi burung Phoenix.

Contoh kasus dalam dracin, ada karakter manusia protagonis yang mendapat pendeskripsian naratif visual begitu ceria dan naif. Dia ternyata mempunyai peliharaan, berupa karakter binatang berbicara, serigala hitam yang ganas tetapi begitu melindunginya.

Menurut Psikologi Jungian, binatang serigala berbulu hitam itu, merupakan sisi gelap atau trauma yang mendapatkan penekanan (shadow). Atau, insting bertahan hidup karakter manusia protagonis yang belum dia sadari secara sadar.

Pertumbuhan karakter binatang bersuara dari lemah menjadi kuat merupakan metafora visual dari mobilitas spiritual dan psikologis karakter manusia protagonis tatkala mengenali siapa dirinya yang sesungguhnya. ***