Konten dari Pengguna
Kegiatan “Menampi” yang Kini Tinggal Kenangan
24 November 2025 13:30 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Kegiatan “Menampi” yang Kini Tinggal Kenangan
Pada masa lalu, ada kegiatan yang begitu lekat dengan proses menanak nasi, yaitu menampi. Membersihkan beras dari kulit ari, kerikil, kutu, pasir. Gerakan menampi menginspirasi seni tari.Mohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Kegiatan menampi. Membersihkan beras dari sisa-sisa kulit ari atau kerikil kecil yang secara tanpa sengaja tercampur. Caranya, beras itu diletakkan di dalam tampah. Perabot rumah tangga dari anyaman bambu, berbentuk bundar pipih. Kemudian proses geraknya, kombinasi mengayun, menggoyang, melontarkan butir beras dengan arah naik dan menadahinya ketika turun.
ADVERTISEMENT
Di kalangan masyarakat Jawa, kegiatan menampi biasa disebut napeni. Alatnya sama, yaitu tampah atau dinamai pula nyiru. Lalu di wilayah kebudayaan Sunda dikenal dengan napian beas. Di Minangkabau disebut manampi bareh. Di Toraja, lain lagi istilahnya, yaitu ma’tampi dan alatnya bingka. Dalam pada itu, masyarakat Bali memberikan istilah lokal untuk kegiatan ini dengan napinin atau manapinin.
Di lingkungan Suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, berpadanan dengan menampik. Alatnya disebut kiap. Banyak lagi istilah lokal untuk wilayah lain di Nusantara. Masyarakat Suku Dayak Ngaju, menyebut kegiatan ini sebagai manampi baras. Sementara itu, warga Suku Dayak Kanayatn menamainya nampi’ seak dengan alat kiap. Adapun orang Aceh memiliki istilah lokal manampi breuh.
Tujuan Menampi
ADVERTISEMENT
Ada beberapa alasan khusus, mengapa kegiatan menampi perlu ada dalam budaya menanak nasi dalam kehidupan masyarakat kita pada masa lampau. Pertama, proses pemanenan hingga pemrosesan gabah menjadi beras di waktu silam tidak seefisien dan sebersih dengan mesin modern dewasa ini. Muncul sebagai akibat, sisa kotoran semacam kerikil kecil, pasir, debu, potongan tangkai padi terkadang masih bersikukuh berada di dalam tumpukan beras.
Kegiatan menampi juga berfungsi untuk membuang sekam atau kulit padi (antah). Proses pengolahan gabah menjadi beras secara manual tradisional cenderung masih menyisakan butiran gabah yang belum sepenuhnya terkelupas. Atau masih ada sekam yang sudah tidak menempel lagi di butir beras. Proses menampi dapat mendukung pemisahan butiran lebih ringan tersebut dari beras yang padat.
ADVERTISEMENT
Selain itu, kegiatan menampi juga dapat berfungsi untuk memisahkan kutu atau serangga lainnya dari butiran beras. Kemudian diikuti dengan pencucian beras sebelum dimasak. Biasanya ini dilakukan terhadap beras yang sudah disimpan dalam jangka relatif lama, terutama di tempat lembap.
Prinsip kegiatan menampi adalah meningkatkan kebersihan. Dalam tatanan keseluruhan proses pengolahan beras menjadi nasi, teristimewa ketika masih manual tradisional hingga pemakaian mesin penggilingan padi generasi awal, merupakan langkah substansial guna memastikan beras betul-betul bersih sebelum berada dalam cecap pengonsumsian. Selain itu, juga untuk melenyapkan kontaminan yang bisa jadi menempel dalam rentang proses produksi dan penyimpanan manual.
Kegiatan menampi, lebih daripada itu, pun mengusung fungsi untuk membantu mengurangi kelebihan pati atau tepung halus yang melapisi butir-butir beras. Bila lapisan tepung halus yang melapisi butir-butir beras itu tidak mendapatkan upaya pembersihan, maka akan mengakibatkan nasi terlalu lengket atau menggumpal.
ADVERTISEMENT
Inspirasi Seni
Dalam penciptaan koreografi seni tari tradisional, ternyata gerakan orang menampi beras telah menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering. Di beberapa daerah Indonesia, ada saja seniman tari yang mampu mengubah atau mengadaptasi gerakan sehari-hari yang ritmis dan fungsional menjadi gerakan estetis yang nyaman terpandang mata.
Inspirasi dari kegiatan menampi satu di antaranya terwujud dalam Tari Moduku yang kuat dalam jejak berkesenian masyarakat Suku Padoe di Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka tersebar di wilayah Kecamatan Wasuponda, Malili, Nuha, Towuti, Angkona, dan Mangkutana. Tarian ini merekonstruksi dengan tafsiran gerak yang estetis dari aktivitas kaum perempuan ketika menampi beras.
Demikianlah Tari Moduku merekam dengan estetika gerak kegiatan kaum perempuan di lingkungan masyarakat Suku Padoe di masa lalu. Mereka bergotong royong merontokkan bulirr-bulir padi menjadi gabah dan selanjutnya menumbuknya jadi beras. Kemudian, bersama-sama pula menampi beras yang bakal tersimpan di lumbung pangan dalam keadaan bersih. Kegiatan menampi itu juga mereka lakukan saat hendak memasak beras itu menjadi nasi untuk memastikan tidak ada kutu di dalamnya.
ADVERTISEMENT
Tari Moduku memoles dengan estetika gerakan mengayak tampah atau nyiru ke atas, ke bawah, ke kanan, ke kiri untuk membersihkan beras sebelum mencuci dan menanaknya. Tarian ini dipentaskan dalam acara-acara adat, seperti dalam persiapan pernikahan. Sarat dengan nilai filosofi tentang hakikat kebersamaan.
Dari Manual hingga Rice Mill
Pada masa proses panen hingga pengolahan padi menjadi beras masih manual tradisional, kegiatan menampi menjadi wajib pelaksanaannya jika seseorang menginginkan kualitas beras yang layak tanak. Sebab, beras masih relatif belum bebas dalam hitungan persentase relatif besar dari intervensi sisa-sisa kulit ari, bahkan ada butiran yang kulit arinya belum terkelupas, atau kerikil kecil.
Di masa Pemerintah Hindia Belanda, pada akhir abad ke-19, telah ada usaha penggilingan padi. Dikenal dengan istilah yang populer saat itu rijst pellerij. Tumbuh di wilayah sentra produksi komoditas tersebut. Rijst pellerif terbesar di Batavia saat itu, yaitu Hoat Hinh. Didirikan oleh perusahaan Tiongkok Lie Hin Peng. Ada pula usaha milik Lim Liang Boe and Son. Bangunan penggilingan padi pada masa itu juga dapat ditemukan di sejumlah daerah, seperti Indramayu. Didirikan pada kisaran tahun 1927 - 1935.
ADVERTISEMENT
Kemudian pada medio abad ke-20, Pemerintah Republik Indonesia menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1954 yang mengatur pengoperasian perusahaan penggilingan padi, huller (mesin pengupas kulit luar atau cangkang), dan penyosohan beras (penghilangan lapisan tipis yang menutupi endosperm biji beras. Produk perundangan ini menunjukkan, bahwa pada waktu pemberlakuannya teknologi pengolahan pangan ini telah berada di dalam ranah pemakaian yang luas.
Meskipun sudah ada teknologi penggilingan padi pada saat itu, hasil ketika sudah menjadi beras masih menyisakan sedikit kulit ari. Atau orang yang dalam bahasa sehari-hari menyebutnya dengan sekam. Oleh karena itu, kegiatan menampi beras masih relevan pelaksanaannya sebelum beras mengalami proses penanakan menjadi nasi.
Kondisi hasil penggilingan padi menjadi beras yang masih menyisakan kulit ari tersebut berangkat dari sejumlah faktor penyebab. Pada kisaran awal dekade 1950-an, penggunaan mesin penggiling padi generasi awal cenderung menghasil tingkat penyosohan yang lebih rendah. Masih ada butir-butir beras yang belum terkelupas secara tuntas kulit arinya. Bahkan, ada yang sekamnya tetap menutup rapat butiran beras. Di samping itu, persentase butir beras patah relatif begitu tinggi.
ADVERTISEMENT
Kemudian dengan teknologi mesin penggilingan padi pada masa itu yang belum begitu maju, derajat sosoh (persentase lapisan kulit ari yang dapat terlepas) memang masih perlu mendapatkan pembenahan. Kemampuannya untuk menghasil beras yang putih bersih yang mengkilap, dalam artian menghilangkan seluruh lapisan sekam, memang belum begitu maksimal.
Mesin penggilingan padi generasi awal pada lazimnya hanya mempunyai satu tahap penyosohan. Istilahnya “penggilingan satu langkah” (single-pass rice mill). Proses pengupasan sekam dan pemutihan dalam satu silinder atau satu rangkaian mesin yang terintegrasi. Karakteristik yang melekat, terdapat proses terpadu dalam pengupasan kulit luar (sekam) dan penggosokan lapisan dedak (bekatul) berjalan secara berurutan dalam satu sistem sederhana dan ringkas. Relatif cocok untuk layanan penggilingan skala kecil.
ADVERTISEMENT
Mesin penggilingan padi generasi awal dengan proses satu tahap tersebut memiliki beberapa kekurangan, antara lain kualitas beras kurang memenuhi aspek keseragaman, tingkat persentase beras patah cenderung tinggi, dan kekurangoptimalan pemisahan hasil samping antara sekam dan bekatul alias dedak.
Mesin penggilingan padi di masa lalu, masih menyisakan ruang untuk kegiatan menampi. Namun seiring dengan pergerakan langkah peradaban, proses penyempurnaan pun terus berlangsung. Bermula dari awal dekade 1950-an, tipe Engelberg mulai tergantikan mesin penggiling batu. Dan, medio dekade 1960-an giliran mesin penggiling karet yang menghasilkan kualitas beras yang lebih mendingan.
Lalu pada pertengahan dasawarsa 1990-an, mulai masuk ke dalam atmosfer introduksi, desain mesin penggilingan besi mikro dengan kapasitas 100 - 300 kilogram per jam. Selanjutnya, mulai dekade 2010-an muncullah Rice Milling Unit (RMU) , mesin penggilingan padi generasi baru yang memproses gabah menjadi beras secara multitahap. Perkembangan pesat penggilingan padi keliling mulai tampak di beberapa daerah sekitar tahun 2011.
Fasilitas Modern Rice Milling Plant (MRMP) dalam skala besar dan modern mulai secara aktif dibangun dan diresmikan Pemerintah melalui Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) pada 2022 - 2024. Fasilitas tersebut berupa pabrik pengolahan gabah modern. Terdapat sejumlah komponen utama meliputi mesin pengering gabah (dryer), mesin penggiling gabah menjadi beras (rice milling unit), dan gudang penyimpanan gabah (silo).
ADVERTISEMENT
Di samping itu, di dalam fasilitas di atas terdapat kelengkapan pula dengan beberapa mesin pemroses lainnya, yaitu pembersih kulit gabah (husker), pembersih kerikil (destoner), pemoles beras (mist polisher), pemutih warna (colour sorter) untuk memperoleh target hasil kualitas beras premium.
Pabrik-pabrik modern yang terjun dalam pengolahan beras pun didirikan dan diresmikan Pemerintah di berbagai tempat, seperti di Sragen, Jawa Tengah pada Maret 2023. Pendek kata, pengadopsi mesin modern multitahap, dengan percepatan signifikan pada beberapa tahun belakangan ini merupakan bagian dari ikhtiar Pemerintah untuk memodernisasi pertanian nasional.
Dewasa ini, dengan teknologi mesin penggilingan padi modern yang semakin canggih dan terintegrasi serta otomatis dari tahap pembersihan awal hingga penyosohan, kebutuhan menampi beras secara manual boleh terbilang telah banyak berkurang. Beras kemasan modern pada lazimnya sudah sangat bersih. Sebelum menanaknya di rice cooker, cukup dengan mencucinya sebanyak satu atau dua kali. ***
ADVERTISEMENT

