Konten dari Pengguna

Kenapa Catur Diakui sebagai Olahraga?

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memainkan bidak catur adalah langkah yang penuh pertimbangan strategis. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Memainkan bidak catur adalah langkah yang penuh pertimbangan strategis. (Sumber: Shutterstock)

Bukti paling nyata catur merupakan cabang olahraga, yaitu pengakuan International Olympic Committee (IOC) atau Komite Olimpiade Internasional. Keberadaannya berada di bawah naungan World Chess Federation (FIDE) atau Federasi Catur Dunia yang memiliki turnamen sendiri, Chess Olympiad (Olimpiade Catur).

Catur memang bukan cabang olahraga yang dilagakan dalam Olimpiade multievent. Meski demikian, eksistensi catur sebagai olahraga dikuatkan dengan keberadaan FIDE dan Chess Olympiad. Sementara itu, di tingkat Asia ada Asian Chess Federation (ACF), di Asia Tenggara ada ASEAN Chess Confederation (ACC), dan di Indonesia ada Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi).

Dengan aktivitas fisik yang tidak terlalu banyak, menjadikan catur sebagai olahraga yang mengoptimalkan kinerja otak. (Sumber: Shutterstock)

Olahraga Otak

Sebagai cabang olahraga, catur memang lebih mengandalkan aktivitas otak. Karena itu, sungguh tepat jika ada orang yang menyebutnya mind sport. Aktivitas fisik memang tidak seberat olahraga lain. Akan tetapi, sangat dibutuhkan konsentrasi, strategi, dan kemampuan kognitif tinggi. Inilah yang diakui IOC sebagai olahraga.

Sebagai olahraga yang menekankan pada fungsi dan kinerja otak, pecatur tentu saja perlu mengoptimalkan pemikiran strategis, analisis. Karena itu, perlu digenapi dengan kepiawaian mengambil keputusanbsecara cepat dan tepat.

Eksistensi catur sebagai olahraga semakin kuat terasa karena ia sangat melegitimasi adanya libatan kompetisi. Persaingan untuk saling mengalahkan.

Atau, jika kualitas lawan terlalu jauh jaraknya, bisa sekadar mencuri hasil remis. Ini bisa jadi masuk dalam target minimalis. Atau dalam bahasa yang lebih optimistis, target yang realistis.

Catur melibatkan kompetisi. Persaingan dan ambisi merebut kemenangan atas lawan. Satu ciri khas olahraga prestasi. (Sumber: Shutterstock)

Selain itu, catur diakui sebagai olahraga, karena ia membutuhkan keterampilan dan strategi. Terkadang ada semacam transaksi, yang perlu perhitungan cermat. Misalnya bidak apa yang sengaja dikorbankan untuk tujuan pencapaian yang lebih esensial untuk strategi pelumpuhan serangan lawan.

Strategi terua disusun untuk mencaoai tujuan di pengujung laga. Skakmat. (Sumber: Shutterstock)

Ada rule of the game dan etika permainan yang perlu terus dijaga dalam olahraga catur. Dan, kesemua itu menuntut pengerahan konsentrasi. Pemusatan berpikir yang benar-benar membutuhkan daya fokus tinggi. Mau tidak mau, hal ini berpotensi menguras stamina mental dan dapat melelahkan.

Apalagi kalau pertandingan catur itu berlangsung dalam waktu lama. Seperti laga Ivan Nikolic versus Goran Arsovic, keduanya pecatur Serbia, di Belgrade pada 1989. Keduanya membutuhkan 269 langkah selama 20 jam lebih. Hasilnya seri.

Contoh lain, Alexandre Danin versus Sergei Azarov (2016) yang membutuhkan 239 langkah. Laurent Fressinet versus Alexandra Kosteniuk (2007) sebanyak 237 langkah.

Lalu Viktor Korchnoi versus Anatoly Karpov (1978) sebanyak 124 langkah. Demikian pula Magnus Carlsen versus Ian Nepomniachtchi (2021) sebanyak 136 langkah. Keduanya berlaga di World Chess Championship (Kejuaraan Dunia Catur) pada tahun masing-masing.

Dalam situasi semacam ini, tentu kebugaran tubuh pecatur juga menjadi hal yang tidak bisa terabaikan. Ada tuntutan kemampuan mempertahankan fokus dan daya ingat dalam hitungan belasan hingga puluhan jam.

Kelelahan mental yang diikuti dengan kelelahan fisik pun bisa terjadi. Di sini, letak peranan kebugaran tubuh pecatur, meski tidak terlalu banyak beraktivitas secara fisik. Dengan bekal kebugaran tubuh itulah, keterjagaan konsentrasi dan energi yang optimal adalah suatu keniscayaan.

.