Konten dari Pengguna

Kisah Camilan Bernama Kuaci

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kuaci. Lebih pas disebut camilan. Mungkin karena bentuknya kecil berupa biji. Bisa dari biji bunga matahari atau labu (waluh). Bisa pula dari biji semangka atau melon. Sebutan camilan ini bisa jadi karena aktivitas mengonsumsi daging bijinya dengan cara menyisil.

Kata “menyisil” dari bentuk dasar “sisil”. Salah satu maknanya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan, kata serapan dari bahasa Jawa ini, ialah “cara memakan dengan mengupas kulitnya menggunakan gigi seri atas dan bawah, misalnya makan kuaci”.

Di sini terjadi proses morfofonemik prefiks meN, dengan varian meng-, men-, mem-, meny-, me-, tergantung pada huruf awal bentuk dasar yang mengikutinya. Khusus, untuk varian menge-, hanya untuk bentuk dasar yang terdiri atas satu silabel. Oleh karena bentuk dasar “sisil” berawal dengan huruf awal “s”, prefiks meN- yang sesuai adalah meny-.

Kaidah Bahasa mengatur, prefiks meN- berubah menjadi meny- di depan bentuk dasar yang berawal bunyi alveolar atau sibilan seperti /s/. Fonem /s/ akan luluh dan bunyi nasal ny- (/ɲ/) menggantikannya, seperti tatkala bertemu “sapu” menjadi “menyapu”, “sikat” menjadi “menyikat”, “siram” menjadi “menyiram”, “sentuh” menjadi “menyentuh”.

Rincian prosesnya, terjadi pertemuan morfem antara prefiks {meny-} dan bentuk dasar {sisil} yang berawal dengan fonem konsonan /s/. Selanjutnya ada peluluhan fonem /s/ pada awal bentuk dasar {sisil}. Sebab, prefiks meny- menghendaki peluluhan bunyi desis awal pada konsonan, seperti /s/, /p/, /t/, /k/. Dari proses morfofonemik itu terbentuklah “menyisil”.

Berangkat dari fakta bahwa kuaci merupakan biji buah-buahan yang berukuran kecil. Cara mengonsumsinya dengan menyisil. Penikmat perlu menggunakan gigi serinya atas dan bawah untuk mengupas kulit (cangkang keras) dan kemudian memakan bagian isi (biji) kuaci. Dengan demikian, sebutan camilan memang tepat untuk kuaci.

Kuaci kurang pas mendapat sebutan kudapan. Menurut Kamus Besar, kudapan merupakan penganan yang hadir sebagai sajian di luar waktu makan besar. Semacam makanan kecil begitulah. Contoh kue tradisional (klepon, nagasari, lemper), gorengan (bakwan, pisang goreng), makanan kemasan (keripik, biskuit, wafer). Dan, melihat contoh ini, kuaci memang kurang pas menerima sebutan sebagai kudapan.

Alasan lain, mengapa kuaci kurang tepat mendapat sebutan kudapan, karena sama sekali tidak akan mampu memenuhi fungsi sebagai pengganjal perut. Dalam artian penganan yang bertujuan untuk menunda rasa lapar untuk sementara, sebelum waktu makan besar datang. Sudah tentu daging biji kuaci yang terlalu kecil, tidak signifikan perannya untuk menunda rasa lapar. Ada yang bilang, ia tidak lebih sekadar hiburan untuk mulut.

Membuat Kuaci

Proses pembuatan kuaci sesungguhnya tidak sulit. Pada uraian di atas telah disebutkan, biji-bijian yang biasa dibuat kuaci, seperti biji bunga matahari, labu, melon, dan semangka. Adapun caranya tidak terlalu berbeda jauh alias sangat mirip.

Langkah paling awal adalah memisahkan biji dari sisa daging buah melon, labu, dan semangka yang masih menempel. Adapun untuk biji bunga matahari, ada tindakan memisahkannya dari kepala bunga (atau kelopak) ketika berlangsung proses pemanenan.

Biji mentah melekat erat di bagian tengah atau dasar bunga yang besar. Untuk memisahkannya, perlu pengeringan terlebih dahulu kelopak bunga matahari. Kemudian ada tindakan penggesekan atau pemukulan agar ratusan biji terlepas dari wadah bunganya.

Baik biji bunga matahari maupun biji dari buah labu, melon, semangka kemudian masuk tahapan pencucian dengan menggunakan air mengalir. Penggosokan biji-biji itu secara perlahan agar bersih menjadi bagian dari alur proses berikutnya.

Tujuan pembersihan biji bunga matahari sebelum proses pengolahan menjadi kuaci adalah untuk memastikannya bebas dari sisa tanaman, seperti daun kering, batang, dan kelopak bunga yang turut terkelupas ketika panen. Juga untuk menghilangkan kotoran tanah, debu, pasir yang menempel.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Terikut di dalam proses pembersihan ini, sekaligus pemisahan biji yang kosong (kopong), busuk, atau berjamur. Dan, tentu saja proses pembersihan ini terarah pada upaya penghilangan sisa pestisida atau kontaminan lain dari ladang. Dengan demikian, hasil kuacinya aman dikonsumsi.

Sementara itu, pembersihan biji labu, melon, dan semangka sebelum proses pengolahan menjadi kuaci untuk menghilangkan lendir dan sisa daging buah. Bagian ini licin dan basah serta menempel pada kulit biji. Juga untuk mengenyahkan bakteri dan jamur. Sisa daging buah yang lembap dapat menjadi tempat bertumbuh mikroba (bakteri dan jamur). Juga, upaya pembersihan itu untuk meminimalkan lapisan alami pada biji, sehingga dapat mencegah bertunas sebelum waktunya.

Bila biji-biji labu, melon, dan semangka tidak mendapatkan tindakan pembersihan dengan benar, maka sisa lendir dan daging buah akan menyebabkan biji-biji tersebut gampang membusuk, berjamur, dan menimbulkan bau tengik tatkala berada dalam proses pengeringan atau penyangraian.

Setelah biji bersih, langkah berikutnya dalam pembuatan kuaci, yaitu merebus atau merendamnya ke dalam air larutan garam atau bumbu rempah. Durasi perendaman selama satu hari satu malam (semalaman). Tujuannya, agar rasa asin dan gurih benar-benar meresap hingga ke dalam inti biji. Di samping itu, perendaman itu melembapkan cangkang hingga tidak gampang hangus atau terlalu kering saat pemanggangan atau penyangraian.

Selain perendaman pada air larutan garam atau bumbu rempah selama satu hari satu malam, juga bisa dilakukan perebusan biji selama dua jam dalam tong perebusan khusus dengan suhu hingga 200° Celsius. Biasanya ini pada skala pabrik.

Setelah itu dilakukan penirisan biji-biji dari air rendaman atau rebusan. Langkah selanjutnya, biji-biji itu disangrai (digoreng tanpa minyak) di dalam wajan dengan api kecil. Agar lebih gurih, saat disangrai ditambahkan sedikit mentega. Langkah lain, kecuali disangrai, bisa pula dipanggang di dalam oven panas (skala pabrik).

Dalam proses penyangraian dan pengovenan itu, biji-biji yang akan dijadikan kuaci itu perlu dibolak-balik hingga tingkat kematangannya rata. Nah, setelah itu dibiarkan dingin dan selanjutnya disimpan di wadah yang kedap udara.

Kuaci Cangkang dan Kuaci Kupas

Di pasaran, kebanyakan kuaci diolah dan dijual dengan cangkangnya. Akan tetapi, ada pula yang dikupas dengan mesin pengupas cangkang kuaci. Atau yang secara internasional dikenal sebagai Sunflower Seed Shelling atau Dehulling Machine. Hasilnya berupa kuaci kupas siap makan tanpa melalui kegiatan menyisil.

Mesin tersebut beroperasi dengan memecah cangkang biji kuaci memanfaatkan tekanan mekanis atau gesekan. Selanjutnya memisahkan cangkang dan biji bersihnya dengan memakai sistem embusan angin (sortasi). Tentang mesin ini pembagian jenisnya berlandaskan skala kebutuhan.

Ada mesin pengupas kulit industrial (industrial dehulling machine). Pabrik makanan mengoperasikannya untuk memproduksi secara besar-besaran kuaci kupas kemasan. Kapasitasnya ratusan kilogram hingga beberapa ton per jam.

Fitur utama mesin pengupas cangkang kuaci tataran industrial mempunyai sistem multitahap. Mencakup pembersihan kotoran, pemisahan ukuran biji kuaci (grading), pengupasan (shelling). Termasuk pemisahan cangkang memakai embusan udara (air separator). Sampai pemisahan biji yang gagal dikupas untuk diproses ulang.

Ada pula mesin pengupas untuk skala rumah tangga. Sebutan internasionalnya Sunflower Seed Peeling Machine. Bentuknya kotak kecil atau karakter lucu yang portabel. Power-nya dengan baterai yang dapat di-charge ulang. Terdapat sejumlah lubang dengan ukuran berlainan untuk mendeteksi diameter kuaci agar cangkang retak sempurna tanpa merusak biji di dalamnya.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Fakta di lapangan, setidaknya di Indonesia, menunjukkan, betapa kuaci cangkang (masih berkulit) tetap menjadi pilihan favorit mayoritas masyarakat daripada kuaci kupas (tanpa cangkang). Alasan yang menyertai fenomena ini, terutama karena mereka tidak mau kehilangan sensasi “asyik” ketika menyisil.

Bagi tidak sedikit pencinta kuaci di Tanah Air, bagian paling seru manakala melakukan kegiatan menyisil biji kuaci adalah memecahkan cangkang dengan gigi seri atas bawah, mengambil isinya, bisa dengan menggunakan ujung lidah. Seusai cangkang retak di dalam mulut, ujung lidah akan meraih isi kuaci di dalamnya.

Cara lain dan ini lazim menjadi strategi menyisil kuaci, yaitu setelah dapat memecahkan kulit cangkang dengan gigi seri atas bawah. Lalu membuka dengan jari tangan cangkang yang telah retak, mendekatkan ke mulut dan sudah itu memakan isi bijinya.

Atau, membuka cangkang sudah terpecah, mengambil dan menjepit isinya dengan ibu jari dan telunjuk, serta memakannya. Cara ini biasanya dilakukan oleh mereka yang masih pemula atau belum terlalu mahir menyisil.

Proses pengonsumsian kuaci yang sedemikianlah (bisa jadi masih ada cara lain dalam strategi penikmatannya), bagi tidak sedikit pencinta kuaci merupakan bagian yang paling seru dari “ritual” menyisil kuaci. Terdapat kepuasan tersendiri yang menyebabkan aktivitas ini menciptakan ketagihan.

Bumbu rasa asin, manis, atau varian aroma seperti susu atau karamel, melekat pada cangkang kuaci. Begitu para pencinta camilan yang dalam bahasa Mandarin-nya guazi (瓜子) itu menyisilnya, bumbu inilah yang kali pertama menghadiahkan sensasi rasa di lidah.

Kuaci cangkang membutuhkan waktu untuk menyisilnya satu demi satu. Oleh karena itu, wajar jika kuaci klasik (Tiongkok sudah mengenalnya pada abad ke-10), tidak cepat habis. Camilan ini menjadi sangat relevan kehadirannya untuk menemani kegiatan santai, seperti mengobrol berlama-lama, menonton siaran langsung sepak bola, atau ketika sedang bertugas di pos keamanan lingkungan.

Sementara itu, mereka yang tidak ingin repot menyisil, pilihannya jatuh pada kuaci kupas. Dan, tidak perlu juga menyisakan tumpukan cangkang kuaci. Alias bebas sampah. Di samping itu, kuaci kupas juga bisa untuk campuran makanan sehat, seperti smoothie bowl, salad, granola, atau bahan kue.

Pada akhirnya, semua tergantung pada tujuannya. Bila tujuannya untuk menikmati pengalaman menyisil dan memanjakan keasyikan, maka masyarakat cenderung memilih kuaci cangkang. Akan tetapi, bila tujuannya lebih terkait dengan efisiensi waktu atau kebutuhan membuat makanan, maka kuaci kupas adalah alternatif pilihan yang tepat.

Manfaat Kesehatan

Kuaci dari biji bunga matahari (Helianthus annuus) merupakan camilan sehat kaya nutrisi. Ia menjaga kesehatan jantung. Ia mengandung lemak sehat tak jenuh, magnesium, dan peptida yang menurunkan kolesterol jahat (Low-Density Lipoprotein/LDL), dan tekanan darah.

Kemudian, manfaat kesehatan yang lain, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh. Kuaci biji bunga matahari kaya kandungan zinc dan selenium yang memiliki peran penting manakala melawan infeksi dan menjaga fungsi sel imun.

Terdapat kandungan serat, protein, dan lemak sehat di dalam kuaci biji bunga matahari. Mendukung program diet, karena dapat memberikan rasa kenyang lebih lama. Manfaat kesehatan lainnya, menjaga kadar gula darah. Sebab, memiliki indeks glikemik rendah dan mengandung asam klorogenat yang aman dan membantu menstabilkan gula darah.

Sementara itu, pada kuaci biji labu, tiap 100 gram mengandung kalori 446 - 559 kilokalori, protein 18,5 - 30 gram, magnesium 500 - 592 miligram, serat 6 gram, kalium 800 -1.230 miligram, dan seng (zinc) 6,5 - 10 miligram.

Manfaat kesehatannya, menjaga kesehatan jantung. Lemak sehat dan magnesium menstabilkan tekanan darah dan kolesterol. Lalu, menangkal radikal bebas berkat adanya kandungan antioksidan dan fitoestrogen yang kaya. Juga bermanfaat mengurangi stres karena kandungan triptofan yang dapat meredakan rasa cemas.

Adapun manfaat kesehatan kuaci biji melon, berkat kandungan mineral seperti kalsium, dapat menjaga kepadatan dan kekuatan kekuatan tulang. Lalu kandungan lemak tunggal tak jenuh berperan dalam mendukung fungsi dan kesehatan jantung. Di samping itu, juga menyediakan protein baik untuk memperbaiki jaringan tubuh dan memenuhi kebutuhan gizi harian.

Kuaci biji melon, juga sering menjadi bahan campuran isian lotus atau tausa pada kue bulan. Dan, sudah pasti ia masih mengisi salah satu menu favorit sebagai camilan andalan manakala larut dalam suasana hangat dan santai, berkumpul dengan keluarga atau teman-teman.

Demikian pula dengan kuaci biji semangka. Ia kaya pula akan magnesium, zink, protein, zat besi, dan vitamin B. Tiap 28 gram, kuaci jenis ini mempunyai kandungan 158 kalori. Manfaat bagi kesehatan, mengontrol tekanan darah.

Adanya kandungan zat citrulline dan magnesium dapat membantu melebarkan pembuluh darah dan menjaga tekanan darah stabil.

Kemudian mendukung metabolisme, karena menjadi sumber magnesium alami yang berkontribusi signifikan dalam ratusan fungsi enzim, otot, dan saraf tubuh.

Dan, tidak kurang menonjol adalah manfaat sebagai alternatif diet. Kuaci biji semangka mempunyai kandungan protein dan antioksidan yang baik bagi tubuh. Pun bisa menjadi pilihan camilan yang memiliki kadar kalori lebih rendah.

Kiat Menyisil Kuaci

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kiat atau cara menyisil kuaci yang kondusif adalah dengan melakukannya ketika perut tidak dalam keadaan kosong. Akan lebih baik, beberapa waktu setelah makan besar atau perut sudah bertegur sapa lebih dahulu dengan kudapan.

Sebab, sifat kuaci padat kalori dan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk menyisilnya. Tentu saja untuk jenis kuaci cangkang dan bukan kuaci kupas. Oleh karena itu, klop sudah fungsinya sebagai camilan di kala santai untuk pengisi waktu senggang.

Begitulah, sejumlah alasan pun turut mendukung statemen, mengapa kuaci menjadi relatif nyaman berada dalam realisasi pengonsumsian manakala perut telah terisi. Yang terdekat adalah mencegah kalap (makan berlebihan). Terjadi kontrol hormon kelaparan dan kesadaran psikologis ketika memilih makanan. Dengan perut yang sudah terisi, konsumsi kuaci menjadi tidak terlalu banyak.

Kegiatan menyisil pastilah relatif lebih lama daripada memakan begitu saja tanpa repot-repot memecah cangkang terlebih dahulu. Dengan demikian membutuhkan proses lebih panjang secara temporal. Ritme pengonsumsian kuaci pun menjadi santai serta di bawah kendali ketidaktergesaan. Dengan perut terisi, bisa mengurangi ketidaknyamanan saat mengonsumsi kuaci yang berkadar lemak tinggi.

Hal-hal lain yang perlu mendapat perhatian, yaitu membatasi porsi. Cukup segenggam kecil atau di kisaran 30 gram per hari. Pilihan yang bijak adalah kuaci rendah garam (atau tawar) agar tidak memicu hipertensi. Dan, jangan pernah mengunyah dan menelan cangkangnya, karena bisa mengganggu pencernaan.

Media Seni

Cangkang kuaci ternyata dapat menjadi media seni lukis. Biasanya yang sering dimanfaatkan adalah cangkang kuaci biji bunga matahari. Pertimbangan pemilihan karena ukuran yang seragam, bentuk lonjong pipih. Lagi pula tekstur cangkangnya keras. Mudah dilem pada bidang datar. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan ada kolaborasi dengan cangkang kuaci biji yang lain.

Bentuk karya seni biasanya berupa mozaik, kolase, atau relief. Caranya dengan mengelem cangkang kuaci bunga matahari di atas kanvas atau papan kayu membentuk pola tertentu. Sebagai variasi, para seniman kadang menggunakan juga cangkang biji labu (kuaci putih) atau cangkang biji semangka. Mereka menggunakan perbedaan ukuran dan warna alami cangkang yang kontras, seperti hitam, putih, dan bergaris.

Mengapa cangkangnya saja? Terdapat sejumlah akibat pada karya seni, jika isi biji kuaci masih ada di dalam cangkang. Karena biji itu mengandung air dan nutrisi organik, lama-kelamaan terjadilah kelembapan internal. Hal ini memicu pertumbuhan mikroorganisme (jamur dan bakteri) di dalam biji. Jamur akan menyebabkan kerusakan lapisan cat, mengubah warna lukisan, dan menimbulkan bau tidak sedap menyengat.

Isi biji itu juga berisiko mengalami aktivasi berkecambah. Bila media lukis terkena air, cat berbahan dasar air, atau lingkungan yang lembap, maka biji dapat terbangun dari masa dormansinya. Biji akan retak dan tumbuh berkecambah, sehingga otomatis merusak bentuk dan estetika lukisan.

Keberadaan isi biji di dalam cangkang kuaci sebagai media seni juga rawan serangan hama dan serangga. Isi biji itu sumber makanan atau nutrisi bagi kutu, semut, dan tikus yang akan merusak karya seni itu. Seiring dengan perjalanan waktu, isi biji akan mengering dan menyusut. Akibat penyusutan, cangkang isi biji mengeriput. Akibatnya, lapisan cat di atasnya pecah atau terkelupas. ***