Kucing Kampung Itu Disebut Moggy Cat

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kucing kampung. Itulah istilah yang disematkan pada populasi kucing yang banyak dan sering ditemukan di lingkungan kehidupan kita sehari-hari. Kebanyakan bulun mereka pendek (shorthair). Tidak sepanjang serta setebal kucing ras, seperti Maine Coon, Persia, Himalaya, Norwegian Forest, Ragdoll, dan Anggora.
Kucing kampung itu ada yang memiliki bulu satu warna, antara lain hitam, putih, cokelat, atau abu-abu. Ada pula yang berbulu belang (tabby), hitam dan putih atau abu-abu dan putih. Serta, berupa garis-garis horizontal, vertikal, kombinasi keduanya, lingkaran-lingkaran, bintik-bintik dengan warna umum hitam dan abu-abu.
Ada yang berbulu tiga warna (calico), biasanya putih, hitam, oranye. Ada pula yang disebut tortoiseshel, jika warna bulunya cenderung bercampur sedikit atau sama sekali tidak bercampur dengan warna putih.
Adapun panjang (ekor tidak dihitung), tinggi, dan berat kucing kampung dewasa jantan 45-60 sentimeter, 20-28 sentimeter, dan 3-6 kilogram. Yang betina 45-50 sentimeter, 20-25 sentimeter, 3-4 kilogram.
Variasi panjang, tinggi, dan berat badan tergantung pada faktor usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan kucing. Serta, tentu saja kecukupan dan kualitas pemberian pangan bagi kucing kampung peliharaan.
Perkembangbiakan Alami
Kucing kampung yang telah kita kenal itu ternyata mempunyai sebutan internasional, yaitu moggy cat atau moggies cat. Istilah moggy cat merujuk pada pada pengertian, bahwa hewan bernama ilmiah Felis catus itu proses perkembangbiakannya secara alami dan tidak ada rekayasa kesengajaan seperti lewat perkawinan silang.
Berlainan dengan pengembangbiakan kucing yang dilakukan dengan rekayasa kesengajaan. Misalnya kucing Bengal yang merupakan persilangan antara kucing American Shorthair dan kucing Asian Leopard. Ada kucing Toyger, persilangan kucing Bengal dengan kucing ras domestik untuk mendapatkan bulu yang menyerupai harimau.
Berbeda pula dengan rekayasa kesengajaan pengembangan pada kucing Bambino, hasil persilangan Munchkin dan Sphynx, untuk mendapatkan keturunan kucing berkaki pendek dan tanpa bulu. Contoh lain, kucing American Bobtail, hasil persilangan kucing liar ekor pendek dan kucing domestik di Amerika Serikat.
Untuk kucing bobtail (ekor pendek), selain hasil persilangan, juga karena sudah sedemikian adanya sejak lahir. Alias memang keturunan ekor pendek. Sebut sata Japanese Bobtail Cat. Telah berabad-abad berada di Jepang. Salah satu ras yang terhitung tua, selain Egyptian Mau, Abyssinian, Korat , dan Biman. Keunikan pada Japanese Bobtail tampak ekornya seperti terlipat atau terbungkus.
Kucing ekor pendek lainnya yang bukan hasil persilangan, yakni Kurilian Bobtail, yang berasal dari Pulau Kuril, Rusia. Naluri berburu kucing ini begitu kuat. Bentuk ekor pendeknya berbentuk seperti kocokan, spiral, atau simpul. Panjang 2-10 ruas tulang belakang. Tingkat pergerakan berbeda-beda, ada yang fleksibel ada yang kaku. Benar-benar unik.
Tidak Miliki Keseragaman Ciri Fisik
Kembali ke kucing kampung. Sebutannya juga sebagai moggies cat, merujuk ke tautan maknawi, mereka tidak mempunyai ciri fisik yang seragam seperti kucing ras tertentu. Kucing Persia misalnya, memiliki keseragaman wajah datar dan bulu panjang lebat.
Tidak pula memiliki keseragaman ciri fisik seperti kucing Siam, dengan tubuh ramping, panjang, otot lentur, dan bulu pendek yang lembut. Atau keseragaman ciri fisik pada kucing Bengal, dengan bulu bintik-bintik atau pola marmer berikut tubuh tegap dan gerak lincah.
Kucing kampung juga tidak mempunyai keseragaman ciri fisik sebagaimana kucing Anggora dengan performa tubuh anggun seimbang, kepala kecil hingga sedang, telinga besar, bulu tunggal panjang.
Atau, keseragaman ciri fisik kucing Sphynx dengan tubuh seolah tanpa bulu, walau sebenarnya mereka mempunyai bulu sehalus beludru. Atau lagi, kucing American Shorthair dengan tubuh besar berikut keseimbangan yang baik, kaki lurus pendek, bulu beragam.
Sebaliknya, kucing kampung tidak terikat dengan kecirikhasan standar fisik tertentu. Performa mereka lebih variasi. Sebab, mereka merupakan hasil percampuran dari berbagai ras yang terjadi secara alami. Ukuran tubuh ada yang kecil, sedang, dan besar. Bulunya pun, kebanyakan pendek, dengan keanekaragaman warna serta corak.
Bentuk tubuh kucing kampung, ada yang ramping kekar, ada pula yang gemuk berisi. Ekornya ada yang panjang, sedang, dan pendek. Warna matanya ada yang kuning keemasan, hijau, atau biru. Faktor genetik menjadi pembeda penampilan kucing kampung. Sebab mereka merupakan hasil perkawinan campur berbagai ras kucing.
Keragaman genetik inilah yang menyebabkan performa kucing berbeda-beda. Bisa dikatakan, tidak ada standar ciri fisik tertentu. Meskipun demikian, mereka terkenal dengan tubuh lentur dan lincah. Daya tahan tubuh yang relatif lebih baik daripada kucing ras murni. Perawatannya pun tidak terlalu merepotkan. Mereka lebih mampu tampil sebagai penyintas terhadap sergapan kondisi cuaca dan penyakit.
Harapan hidup kucing kampung peliharaan pada umumnya di kisaran 10 hingga 15 tahun. Bahkan ada pula sedikit di antaranya, dibarengi dengan perawatan ekstra berupa pasokan pangan yang terjamin, rutinitas kontrol ke dokter hewan, dan asupan kasih sayang yang terjaga dengan baik, harapan hidup itu bisa terentang hingga 20 tahun lebih. ***
