Konten dari Pengguna

Kucing pun Punya Keterikatan Emosional

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Jurnal Current Biology Volume 29, Edisi XVIII, 23 September 2019 memuat hasil studi dari Oregon State University (OSU) tentang adanya ikatan emosional atau gaya kelekatan (attachment styles) kucing terhadap pemiliknya.

Kristyn R. Vitale, Alexandra C. Behnke, dan Monique A. R. Udell menuangkan kerja sama pemikiran mereka ke dalam karya ilmiah berjudul “Attachment bonds between domestic cats and humans” (“Ikatan kasih sayang antara kucing domestik dan manusia”).

Para peneliti melakukan tes berbasis rasa aman (secure base test). Terminologi dari Teori Kelekatan (Attachment Theory) dari hasil pengembangan psikolog John Bowlby. Secure base merujuk pada sosok utama yang memberikan rasa aman.

Mereka meneliti 70 ekor anak kucing (kitten) dan 38 ekor kucing dewasa dalam suatu secure base test. Kucing-kucing ditempatkan di ruangan asing dengan pemiliknya selama 2 menit. Kemudian ditinggalkan sendirian 2 menit. Dan, selanjutnya sang pemilik kembali.

Para peneliti mengamati perilaku kucing-kucing itu. Dan, menemukan bahwa 65,8% kucing dewasa dan 64,3% anak kucing memiliki keterikatan yang aman (secure attachment) dengan pemilik masing-masing.

Kucing-kucing itu dengan keterikatan aman melihat manusia sebagai secure base, sosok utama untuk tempat berlindung (safe haven). Terbukti ketika para pemilik datang kembali ke ruangan, si meong masing-masing menyambut mereka dengan begitu hangat.

Di samping itu, tampak sekali frekuensi stres anabul-anabul tersebut semakin menunjukkan pengurangan. Para pus itu pun mampu mengombinasikan perilaku yang seimbang antara mencari perhatian sang pemilik dan menjelajahi lingkungan baru.

Boleh terbilang, angka hasil penelitian tersebut sangat begitu mirip dengan angka persentase keterikatan aman pada bayi manusia terhadap orang tua atau pengasuhnya, yakni pada kisaran 65%. Tidak jauh berbeda pula, dari keterikatan aman anjing terhadap pemiliknya yang berada pada angka 58%.

Anjing memang sangat bergantung terhadap manusia untuk mendapatkan perlindungan (secure base). Sementara itu, kucing lebih mandiri. Akan tetapi, berdasarkan penelitian dari OSU, terbukti manakala merasa tertekan, mayoritas kucing memosisikan pemiliknya sebagai sumber kenyamanan.

Sensitivitas Tajam

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kucing juga mempunyai sensitivitas yang tajam pada saat mengamati, memahami, dan merespons manusia dan lingkungan sekitar tempatnya berada. Mereka tidak hanya mampu membaca gerak-gerik atau nada suara pemiliknya. Lebih dari sekadar itu, si meong juga mampu menjalin ikatan emosional dengan cara mereka sendiri yang begitu unik.

Dalam bahasa Inggris, terdapat sejumlah variasi onomatope suara kucing sesuai dengan kondisi atau emosinya. Onomatope meow atau miaow saat mengeong adalah untuk meminta perhatian atau menyapa. Lalu onomatope purr, suara bergetar (dengkuran) halus ketika merasa senang dan nyaman, biasanya saat pemilik mengelusnya.

Kemudian ada onomatope hiss manakala kucing mengeluarkan bunyi desis manakala kucing merasa terancam, marah, atau takut. Growl suara menggeram rendah untuk peringatan. Dan, yowl, suara lolongan panjang dan keras pada waktu kucing berkelahi atau sedang berahi.

Kucing juga dapat mendeteksi perubahan emosi pemiliknya, seperti sedih, cemas, atau bahagia, lewat ekspresi wajah, tatapan mata, dan intonasi suara. Anabul bahkan memiliki 276 ekspresi wajah yang hadir dan berkembang berkat interaksi yang sedemikian dekat dengan manusia selama ribuan tahun.

Tiap ekspresi merupakan hasil kombinasi 26 gerakan otot wajah unik, seperti mengedipkan mata, menjilat hidung, menggerakkan kumis, dan mengubah posisi telinga. Terdapat sejumlah contoh ekspresi yang sering kucing tunjukkan.

Misalnya ekspresi wajah bermain (play face). Rahang diturunkan dan sudut mulut ditarik ke belakang. Mirip senyuman pada manusia atau primata. Misal lain, wajah ramah (afiliasi), telinga dan kumis diarahkan ke depan, disertai kedipan perlahan. Dan, pupil mata melebar secara santai.

Kemudian wajah agresif atau takut. Telinga diratakan ke depan atau ke samping kepala (serupa sayap). Pupil mata menyempit. Kerap ada yang menjilat hidung. Penelitian tentang ekspresi wajah kucing tersebut menemukan realisasi pemuatan di Jurnal Ilmiah Behavioural Processes Volume 213 Edisi November 2023. Adapun publikasi daringnya 18 Oktober 2023.

Artikel Nomor 104959 berjudul "Unraveling the social function of domestic cat facial signals" (“Mengungkap fungsi sosial dari sinyal wajah kucing domestik”) merupakan hasil tulisan kolaboratif Lauren Scott (mahasiswa Kedokteran di Universitas Kansas Medical Center) dan Brittany Florkiewicz (seorang psikolog evolusioner di Lyon College).

Studi ini tiba pada hasil penelitian, bahwa 45% ekspresi kucing menunjukkan sifat ramah, 37% agresif, dan 18% ambigu. Studi ini pula yang hasil analisisnya menemukan, sebagaimana telah tertuang pada uraian di atas, para kucing menggunakan hingga 276 ekspresi wajah yang berlainan ketika menjalin interaksi.

Kendati sering tampak cuek dan terkesan tidak acuh, kucing melakukan sosialisasi dengan selektif. Para anabul lebih merespons interaksi yang tenang, lembut, dan tidak memaksa. Ikatan emosi terbentuk lewat jalinan kuat dalam kebiasaan sehari-hari, seperti dengkuran, gesekan badan, atau dengan mengikuti sang pemilik ke mana pun pergi.

Para pemeong itu cenderung mengubah perilaku untuk menyesuaikan diri dengan emosi yang sedang berada dalam rengkuh perasaan pemiliknya. Mereka bakal lebih menunjukkan kemanjaan atau lebih sering hadir di dekat pemilik ketika majikannya itu sedang terlanda kesedihan.

Kucing juga mengetahui dan mengenali namanya tatkala menerima panggilan sang pemilik. Teristimewa dengan pengaitan pengalaman positif, seperti pemberian makanan. Hanya, mereka tidak mempunyai konsep kognitif, bahwa kata yang merujuk nama itu merupakan “identitas” diri.

Itulah kenapa, mereka acapkali pada saat mendapat panggilan nama, tidak segera datang mendekati sang pemilik, namun hanya sekadar menggerakkan telinga.

Hasil penelitian mengangsurkan bukti, kucing sangat mengenali suara pemiliknya. Dapat membedakan panggilan berupa nama mereka dengan kata-kata acak lainnya. Bahasa tubuh, seperti melirik atau mengedipkan mata, lebih sering muncul sebagai respons (daripada datang langsung). Ini respons normal kucing ketika berinteraksi dengan manusia.

Terkait dengan bahasa tubuh “melirik” pada kucing. Otot-otot di sekitar bola mata kucing, memungkinkan bagi si pus untuk menggerakkan mata ke kiri, ke kanan, ke atas, dan ke bawah tanpa harus menolehkan seluruh kepalanya. Akan tetapi, dalam praktiknya, para meong itu jarang melirik seperti manusia.

Bila ada sesuatu yang menarik perhatian di sampingnya, maka anabul pada umumnya akan cenderung memutar kepala mereka untuk lebih memfokuskan pencermatannya. Indra penglihatan kucing memang fokus guna melakukan perburuan mangsa. Lebih memainkan fungsi pergerakan kepala dan tubuh.

Tujuannya agar objek yang menjadi mangsa atau curahan perhatian, senantiasa berada tepat di tengah penglihatan (fovea). Dengan demikian, para empus itu bisa melihat objek dengan rinci. Walaupun begitu, kucing juga sesekali melirik dan berkedip guna mengekspresikan perasaan senang atau nyaman terhadap sang pemilik.

Dengan demikian boleh terbilang, kendati para kucing mempunyai kemampuan mekanis untuk melirik, berkat dorongan naluri alaminya lebih sering memerintahkan mereka untuk menolehkan seluruh kepala.

Terkait dengan adanya ikatan emosional kuat, anabul yang tinggal di dalam rumah atau sering menerima ajakan berinteraksi, pada lazimnya menunjukkan respons yang jauh lebih akurat saat menerima panggilan nama.

Kucing memiliki kemampuan mengingat dan mengasosiasikan suara panggilan dengan suatu pengalaman. Lantaran sering berinteraksi dan menerima perawatan, binatang itu bisa belajar membedakan nama mereka dari kata-kata acak yang lain.

Kasih Sayang

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Para anabul itu mempunyai kemampuan mengenal nama mereka, merespons suara dan menyesuaikan mood dengan sang pemilik. Berbanding dengan anjing yang cenderung lebih ekspresif dalam menunjukkan kasih sayang kepada tuan dan nyonyanya, kucing memilih cara mengekspresikan secara lembut dan halus.

Berbagai cara kucing menunjukkan kasih sayang kepada majikannya. Seperti mengedipkan mata perlahan (slow blinking). Ini wujud senyuman kucing atau ada yang menyebutkan ciuman kucing. Dan, itu menandakan di hatinya telah tersedia rasa percaya dan cinta nan tulus.

Bisa juga berupa tindakan menggosokkan atau menggesekkan kepala, pipi, atau tubuhnya kepada sang pemilik guna meninggalkan aroma feromon. Hal ini berarti, bahwa kucing itu telah mengeklaim sang pemilik sebagai bagian dari wilayah dan keluarganya.

Cara mengungkapkan kasih sayang lainnya, kucing mengeluarkan suara bergetar atau dengkuran (purring) sebagai tanda bahwa hewan mamalia karnivora itu merasa nyaman, aman, dan bahagia berada di dekat pemiliknya atau orang lain yang berlaku baik terhadap dirinya.

Ungkapan perasaan senada, juga hadir ketika kucing itu mengikuti ke mana saja pemiliknya pergi. Kebiasaan ini mengusung pemaknaan, bahwa pemiliknya merupakan pusat terpenting dalam wilayah kehidupan mereka.

Termasuk ke dalam ekspresi kasih sayang kucing adalah memamerkan atau membiarkan perutnya menerima elusan. Bagi anabul, sesungguhnya perut merupakan bagian yang rentan. Dan, ketika mereka melakukan hal tersebut, itu berarti tanda bahwa mereka merasa sangat aman berada di suatu lingkungan.

Adapun gerakan memijat (kneading) pada tubuh sang pemilik atau pada permukaan yang empuk merupakan sisa insting masa kecil tatkala mereka tengah menyusu kepada induknya. Kemudian, kebiasaan membawa pulang hewan kecil, seperti serangga atau tikus, seolah ingin berbagi hasil buruan, itu cara kucing mempertampakkan kepeduliannya.

Miho Nagasawa dan kawan-kawan. dengan melibatkan peneliti dari beberapa institusi dan universitas di Jepang, menulis karya ilmiah “Effects of Interactions with Cats in Domestic Environment on the Psychological and Physiological State of Their Owners: Associations among Cortisol, Oxytocin, Heart Rate Variability, and Emotions”.

Tulisan di Jurnal MDPI Animals Volume 13, Nomor 13 (Edisi Spesial) pada Juni 2023 itu, bila diterjemahkan ke bahasa Indonesianya, maka judulnya “Dampak Interaksi dengan Kucing di Lingkungan Rumah terhadap Kondisi Psikologis dan Fisiologis Pemiliknya: Hubungan antara Kortisol, Oksitosin, Variabilitas Denyut Jantung, dan Emosi”.

Mereka meneliti tentang interaksi kucing seperti lewat belaian atau cara bicara lembut pemiliknya dapat meningkatkan hormon oksitosin (cinta dan bahagia) di lingkungan rumah.

Pelepasan hormon oksitosin itu terjadi baik di dalam tubuh sang pemilik maupun pada diri si kucing. Dengan demikian, turut berperan dalam memengaruhi respons psikologisnya. Dengan catatan, jalinan interaksi itu berlangsung di dalam ranah proses interaksi dengan perlakuan secara ramah dan menghargai kenyamanan satu sama lain.

Suatu sosok kenyamanan yang tercurah dari pusat pemahaman bahasa tubuh kucing, dan berkat pemberian ruang personal, serta dengan melakukan inisiasi sentuhan yang mendapat persetujuan dari binatang tersebut. Demikianlah, lewat jalan ini, kadar oksitosin pun akan menunjukkan performa lonjakannya.

Kemampuan membaca ekspresi wajah dan nada suara dimiliki oleh kucing. Penelitian membuktikan, kucing merespons positif ketika sang pemilik tersenyum. Para ilmuwan Universitas Oakland, Amerika Serikat, Moriah Galvan dan Jennifer Vonk, telah mempublikasikan karya ilmiah mereka mengenai hal tersebut.

Dalam tulisan “The influence of owner facial expressions and gaze on the behaviour of domestic cats“ (“Pengaruh ekspresi wajah dan arah pandangan pemilik terhadap perilaku kucing domestik”) di Jurnal Animal Cognition Volume 12, Edisi 2, Maret 2016, keduanya membuktikan, kucing merespons lebih positif dan menunjukkan perilaku ramah.

Seperti memperdengarkan dengkuran, menggesekkan badan, atau duduk di pangkuan, tatkala pemiliknya tersenyum. Misalnya jika berbandingkan dengan ketika pemilik memasang raut ekspresi wajah negatif, taruh kata masam atau cemberut.

Saat sang pemilik sedang bersedih atau bahkan menangis, kucing cenderung mendekat. Secara fisiologis, interaksi itu terbukti dapat meningkatkan hormon oksitosin bagi sang pemilik dan juga sekaligus untuk si kucing. Kendatipun kucing tidak jarang tampak tidak acuh, sesungguhnya ikatan batin yang terjalin dengan sang majikan begitu riil dan teguh.

Dianggap Induk Sendiri

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Berdasarkan Teori Kelekatan (Attachment Theory) dalam Psikologi, secara mental hewan peliharaan (termasuk kucing) menganggap sang pemilik sebagai figur induk yang menawarkan rasa aman mutlak. Oleh karena itu, kucing menggantungkan seluruh kelangsungan hidup dan kestabilan emosionalnya kepada sang pemilik.

Kucing memandang pemiliknya sebagai subjek tempat berlindung utama ketika ia merasa terancam, stres, atau takut. Adanya ikatan emosional, menyebabkan anabul mencari perhatian, elusan yang menghadiahkan sensasi kenyamanan fisik, dan sentuhan interaksi sosial dari pemilik.

Lantaran kucing menganggap sang pemilik adalah induknya, tidak mengherankan kalau banyak anabul yang sangat menggantungkan diri kepada majikan (ada yang menyebut babu) untuk hal-hal yang mendasar. Seperti kebutuhan untuk makan, minum, dan kebersihan (seperti mandi dan terutama untuk keperluan buang air besar).

Terdapat alasan kuat, mengapa kucing memandang sang pemilik sebagai figur induknya. Terutama tatkala proses pemeliharaannya sejak kecil. Perawatan, pemberian pakan dan perhatian yang konsisten sangat mungkin menyebabkan anabul merespons dengan kasih sayang yang mereka tunjukkan dengan cara mereka sendiri.

Kesetiaan Luar Biasa

Ilistrasi kreasi Gemini AI.

Tidak sedikit kisah nyata yang bergulir, menunjukkan betapa kucing mampu mempunyai ikatan emosional mendalam yang berbuah kesetiaan kepada sang pemilik. Di Kebumen, Jawa Tengah, seekor kucing berbulu abu-abu. Dia begitu setia menjaga makam pemiliknya yang bernama Kundari. Kejadian itu berlangsung pada kisaran September 2016.

Meskipun para tetangga sudah membawanya pulang dan merawatnya, kucing abu-abu itu tetap saja tiap hari datang ke makam sang majikan perempuan yang semasa hidupnya telah begitu menyayanginya. Ia tampaknya merasa begitu nyaman tidur di atas makam pemiliknya itu. Dan, kebiasaan itu terus dilakukannya hingga setahun setelah kepergian sang majikan ke rahmatullah.

Beberapa tahun sebelumnya, di Montagnana, Italia Utara, seekor kucing bernama Toldo, juga melakukan hal yang hampir serupa. Pemiliknya, Iozzelli Renzo, meninggal pada September 2011. Sejak hari pertama pemakaman, ia tiap hari mengunjungi makam majikannya.

Tidak jarang ketika mengunjungi makam majikannya itu, Toldo membawa hadiah kecil, seperti daun, ranting, atau kertas. Ia meletakkannya di atas pusara Renzo. Kesetiaan Toldo begitu mengharukan hati warga. Mereka pun menjaga makam itu, agar Toldo dapat mengunjungi makam majikannya dengan nyaman dan aman tiap hari.

Kemudian kisah nyata kucing kaliko bernama Bandit. Ia telah menyelamatkan pemiliknya, Fred Everitt, pada 25 Juli 2022 dari percobaan perampokan. Tempat kejadian perkara di pinggiran Kota Tupelo, Belden, Mississippi, Amerika Serikat.

Ketika instingnya menengarai rumah majikannya tidak baik-baik saja, Bandit dengan tubuh seberat 9 kilogram itu, pada saat kejadian mengeong dengan keras secara tidak biasa di dapur. Kemudian Bandit berlari ke kamar tidur sang majikan, melompat ke atas ranjang, menarik selimut Everitt, dan mencakar lengannya.

Sang pemilik terbangun dan bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Sebab, selama ini Bandit tidak pernah berlaku sedemikian. Everitt pun bangkit dari ranjangnya dan memeriksa dapur. Ketika pandangannya ke arah pintu belakang, dia melihat dua pemuda bersenjata pistol dan linggis, tengah berupaya mencongkel pintu rumahnya.

Everitt pun bergegas mengambil pistol untuk menjaga diri. Akan tetapi, pada waktu dia kembali ke dapur, kedua pelaku sudah terlebih dahulu melarikan diri. Bisa jadi, keduanya merasa panik karena sepak terjang mereka telah ketahuan penghuni rumah sasaran. Risiko terburuk itu pun bisa terlewati berkat inisiatif kucing Bandit membangunkan Everitt. ***