Konten dari Pengguna

Kutukan Hidup hingga Akhir Zaman bagi Aswatama

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Nama karakter Aswatama, perannya tentu mengingatkan kita pada keberadaannya di kubu antagonis dalam manuskrip epos Mahabharata. Menurut kajian sejarah di lingkungan penelitian akademis, proses kreatifnya tidak hanya melibatkan seorang kreator. Dan, waktu penulisan dan penyusunannya berlangsung secara bertahap dalam kurun ratusan tahun.

Adapun proses pengompilasian Mahabharata melewati sejumlah tahapan periode. Bermula dari tradisi lisan yang hadir pada Abad Ke-9 dan Ke-8 Sebelum Masehi. Kisah-kisah peperangan Dinasti Kuru pada mulanya menemukan eksistensi kehadirannya begitu kuat dalam tradisi lisan. Para penyair kelana (suta) yang biasa melantunkannya dalam bentuk nyanyian.

Kemudian pada Abad Ke-4 Sebelum Masehi, naskah-naskah tertua Mahabharata mulai masuk ke tradisi penulisan dan pengumpulan. Pada masa itu epos atau wiracarita ini dikenal sebagai Jaya yang terdiri atas 8.800-an seloka (bait). Dan, dalam perjalanan waktu berkembang menjadi Bharata.

Bentuk final Mahabharata terjadi pada Abad Ke-4 Masehi. Kisah peperangan Dinasti Kuru menemukan perkembangan pesat, sehingga mampu menggapai bentuk ensiklopedis dan berisikan lebih dari 100.000 seloka.

Sementara itu menurut tradisi Hindu, ada keyakinan bahwa Maharesi Vyasa (ada yang menyebut Begawan Byasa atau Krishna Dwaipayana) merupakan penyusun dan pencatat agung yang merangkum keseluruhan wiracarita tersebut. Menurut catatan sejarah Hindu, epos Mahabharata ini berakar jauh dari peristiwa Perang Kurukshetra sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi.

Berdasarkan perspektif Hindu, Maharesi Vyasa menyusun dan melantunkan kisah epos Mahabharata dan Dewa Ganesha bertindak sebagai juru tulis yang menyalinnya ke dalam bentuk tulisan. Selain mengenai kisah peperangan Dinasti Kuru, di dalamnya juga memuat ajaran moral, filsafat, hukum darma Hindu.

Satu catatan menarik dari perspektif Hindu, Resi Vyasa ternyata bukan sekadar kreator secara lisan epos Mahabharata. Melainkan juga merupakan kakek dari para Pandawa (Pāṇḍava [पाण्डव]) dan Kurawa (Kaurava [कौरव]). Dia juga sekaligus merupakan tokoh penting yang mengalami keterlibatan naratif secara langsung dan menggerakkan alur cerita epos tersebut.

Tentang Aswatama

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Dalam Mahabharata, karakter Aswatama atau Ashwathama (अश्वत्थामा) merupakan putra Drona (द्रोण) atau Guru Drona (Dronacharya [द्रोणाचार्य]) dengan Dewi Kripi (कृपी). Ketika kecil, dia hidup dalam kemiskinan. Keluarganya bahkan tidak memiliki kemampuan untuk sekadar menyediakan susu. Minuman yang lazim tersedia pada masyarakat kebanyakan pada masa itu.

Suatu hari, tatkala Drona tengah berada di Hastinapura. Dia melihat para pangeran Pandawa dan Kurawa sedang kebingungan. Sebab, bola mainan mereka terjatuh ke dalam sumur. Tidak ada seorang pun dari para pangeran itu yang dapat mengambilnya. Adapun bola yang mereka jadikan mainan itu terbuat dari bahan kulit hewan.

Terhadap bola yang tampak mengapung di atas dasar permukaan air sumur itu, Resi Drona tidak langsung mengambilnya dengan satu anak panah. Mula-mula dia melemparkan cincin miliknya hingga mengenai bola itu. Untuk menandai atau memperkirakan titik sasaran. Dia lalu menembakkan anak panah tepat mengenai bola.

Selanjutnya, Resi Drona menembakkan anak panah berikutnya dan tepat menancap di pangkal anak panah pertama yang mengenai bola. Demikian seterusnya secara bertubi-tubi hingga membentuk rangkaian anak panah. Dengan begitu, bola pun dapat diambil.

Setelah itu, anak panah ditembakkannya ke arah lubang cincin yang masih mengapung. Tepat mengenai sasaran. Proses selanjutnya sama dengan ketika mengambil bola dengan rangkauan ansk panah. Akhirnya dia pun dapat mengangkat cincin itu.

Para pangeran Pandawa dan Kurawa sungguh takjub demi menyaksikan keahlian ilmu memanah Resi Drona yang sungguh luar biasa pun. Mereka pun kemudian memberitahukan hal tersebut kepada kakek buyut mereka, Resi Bisma (Bhishma [भीष्म]). Sosok yang mereka segani karena kedalaman spiritual, kebijaksanaan, dan ketinggian ilmunya.

Resi Bisma setelah mengetahui kehebatan Resi Drona dalam ilmu militer dan persenjataan, kemudian mengangkat ayahanda Aswatama itu secara resmi sebagai guru para pangeran Dinasti Kuru. Dan Guru Krepa, kakak Dewi Kripi, yang sudah terlebih dahulu menjadi guru/penasihat Kerajaan Hastinapura, menyambut dengan baik dan hangat kehadiran keluarga adiknya tersebut.

Meskipun demikian, pengangkatan secara resmi Resi Drona tersebut bukan lantaran nepotisme, karena adanya hubungan kekeluargaan dendam Resi Krepa. Melainkan, karena murni berdasarkan pada keahliannya sebagai peracik strategi perang yang andal dan tidak tertandingi.

Perubahan drastis pun terjadi pada diri Aswatama, setelah ayahandanya menjadi guru besar bagi para pangeran Dinasti Kuru. Dari masa kecilnya yang erat dengan dekapan kemiskinan, dia tumbuh meremaja dan mendewasa sebagai bagian dari para elite Kerajaan Hastinapura.

Sebagai putra Resi Drona, Aswatama pun berhak memperoleh pendidikan elite yang setara dengan para Pangeran Pandawa dan Kurawa. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dia tumbuh menjadi kesatria tangguh. Dia menguasai ilmu perang dan senjata gaib dari ayahandanya.

Terlebih lagi, sejak lahir dia menerima anugerah permata suci (Mani) di dahinya. Menjadi kekuatan yang memproteksinya dari rasa lelah, lapar, penyakit, dan gangguan makhluk gaib.

Berkat posisi tersebut, Aswatama mampu menjalin persahabatan yang sedemikian erat dengan Duryodana, putra sulung Kurawa. Sebelum melangkahkan pembicaraan lebih lanjut, perlu ada catatan kecil mengenai perbedaan deskripsi fisik karakter Aswatama antara dunia pewayangan Jawa (sudah ada penambahan imajinasi local genius) dan Mahabharata versi orisinal.

Menurut versi wayang Jawa, Aswatama mempunyai ciri fisik yang unik. Rambut dan telapak kakinya seperti kuda. Hal ini terjadi, karena Sang Ibunda (Dewi Kripi) ketika mengandung telah berubah wujud menjadi kuda sembrani. Nah, begini ceritanya.

Resi Drona, suatu ketika, dalam upaya untuk membenahi nasib, dia berniat akan mengadu peruntungan ke negeri seberang (Hastinapura atau versi lidah Jawa: Ngastina). Akan tetapi, lautan memisahkan jarak dari tempat tinggalnya menuju ke negeri harapan itu.

Dalam kebingungan karena tidak memiliki wahana untuk menyeberang itu, Dewi Kripi (versi wayang Jawa: Dewi Wilutama) yang saat itu tengah mengandung Aswatama, kebetulan memiliki kesaktian dapat mengubah wujud diri menjadi sesuai dengan kehendaknya.

Oleh karena prioritas keperluan yang muncul pada saat itu adalah menolong menyeberangkan suaminya, Bambang Kumbayana (Resi Drona) ke Hastinapura. Dewi Kripi.pun memutuskan untuk mengubah wujud dirinya menjadi kuda sembrani yang bisa terbang untuk menyeberangi lautan.

Konon pengalihrupaan menjadi kuda sembrani inilah yang selanjutnya menjadi titik pijak sebagai logika naratif, tentang asal-usul kenapa putra satu-satunya mereka itu lahir dengan ciri khas, rambut dan telapak kaki seperti kuda.

Akan tetapi, berlainan kiranya dengan deskripsi fisik menurut versi orisinal Mahabharata. Aswatama sepenuhnya berwujud manusia normal. Lalu mengapa dia menerima nama Aswatama (Ashwatthama) yang menurut bahasa Sansekerta memiliki makna “ringkik kuda”?

Konon menurut narasi yang tersedia dalam versi orisinalnya, dia menerima nama demikian karena saat lahir, tangisannya terdengar nyaring dan melengking menyerupai suara ringkikan kuda jantan. Ketika dewasa, Aswatama memiliki postur tubuh yang sangat tinggi, kulit gelap, mata hitam.

Dalam versi Kisari Mohan Ganguli (KMG) yang menerjemahkan naskah lengkap Mahabharata ke dalam bahasa Inggris pada 1883 - 1896. Ataupun, versi Bhandarkar Oriental Research Institute (BORI), sebuah lembaga penelitian di India yang menyusun Edisi Kritis Mahabharata, versi akademis, pada 1919 - 1966. BORI memfokuskan diri pada naskah terlama dan melakukan validasi secara ilmiah.

Kedua versi tersebut di atas, yaitu naskah KMG dan BORI, tidak memunculkan deskripsi mengenai rambut dan kaki karakter Aswatama yang menyerupai kuda. Deskripsi tentang Aswatama, sepenuhnya berwujud manusia.

Perang Baratayuda

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Dalam Perang Baratayuda atau Bharatayuddha (भारतयुद्ध), Resi Drona dan Aswatama berada di pihak Kurawa. Menjadi Panglima Perang Agung Kurawa, setelah Resi Bisma gugur pada hari ke-10 pertempuran besar di Kurukshetra akibat anak panah Srikandi yang mendapat perlindungan Arjuna dari belakang.

Pemihakan Resi Drona terhadap Kurawa, karena dia merasa telah berutang budi atas pemberian nafkah dan tempat bernaung dari penguasa di Kerajaan Hastinapura. Adapun Aswatama mendukung penuh Kurawa, karena loyalitas mutlaknya kepada ayahandanya. Dan, ikatan persahabatan yang erat dengan Duryodana.

Tentu saja keberpihakan Resi Drona di belakang Kurawa sempat membuat ketar-ketir pihak Pandawa. Oleh karena itu, kemudian tersusun strategi untuk mengatasinya. Dalam bagian ketujuh Epos Mahabharata, yaitu di Kitab Drona Parva, tersebutlah kisah taktik perang rancangan Sri Kresna atau Krishna (कृष्ण).

Karakter yang juga mendapat julukan Govinda (गोविन्द), Mādhava (माधव), Keśava (केशव) itu kemudian menyusun strategi dengan tujuan menjatuhkan mental bertarung Resi Drona. Caranya dengan menargetkan serangan pada sisi kelemahannya, yaitu rasa sayang yang amat sangat terhadap putra tunggalnya, Aswatama.

Tersebutlah ada seekor gajah tunggangan Raja Malawa. Sekutu Kurawa. Kebetulan nama gajah itu adalah juga Aswatama. Sebagai bagian dari strategi, Sri Kresna menyarankan kepada Bima untuk membunuh gajah yang memiliki nama sama persis dengan putra Resi Drona itu. Begitu gajah itu telah terbunuh, dengan suara lantang meneriakkan, bahwa Aswatama telah mati. “Aśvatthāmā hataḥ” (अश्वत्थामा हतः).

Resi Drona yang mendengar teriakan itu tentu saja sangat terguncang jiwanya. Meskipun demikian, dia tidak langsung memercayainya. Dia pun menemui Yudistira atau Yudhiṣṭhira (युधिष्ठिर). Sulung Pandawa yang terkenal tidak bisa dan tidak pernah berbohong sebelumnya.

Berkat bujukan Sri Kresna, Yudistira ketika merespons konfirmasi mengenai kabar kematian Aswatama itu, menjawab, “Ashvatthāmahataḥ kuñjaraḥ” (अश्वत्थामाहतः कुञ्जरः). Artinya, “Aswatama telah mati. Gajah itu”. Akan tetapi, dia mengucapkan informasi Aswatama telah mati dengan suara agak keras. Dan, melanjutkan dengan informasi tentang gajah itu (yang kebetulan memiliki nama Aswatama) dengan suara lebih pelan.

Dengan cara berkata yang demikian, Yudistira berdasarkan skenario Sri Kresna, telah mengucapkan separuh kebenaran demi tujuan untuk mengelabui Resi Drona. Namun, secara teknis dia sama sekali tidak berbohong. Dengan memainkan suara agak keras dan lebih pelan ini, Resi Drona hanya mendengar paruh pertama kalimat (“Aswatama telah mati”). Dan, tidak mendengar keterangan selanjutnya dengan suara yang sengaja dipelankan Yudistira (“Gajah itu”).

Akibatnya pun begitu tragis. Karena mengira putranya, Aswatama, benar-benar telah meninggal, Resi Drona pun kehilangan semangat bertempur. Dia meletakkan senjatanya dan duduk bermeditasi. Dalam kondisi tanpa kewaspadaan yang utuh lagi, Drestadyumna yang berniat membalaskan dendam ayahnya, Raja Drupada, mendekatinya sambil membawa pedang yang terhunus.

Drestadyumna pun meluapkan dendamnya kepada Resi Drona, yang dalam Perang Bharatayudha itu juga telah membunuh ayahnya, Raja Drupada di Kurukshetra, beberapa hari sebelumnya. Drestadyumna segera menuntaskan dendamnya dengan mengeksekusi Resi Drona. Tanpa sempat bangkit apalagi mempertahankan diri.

Panglima Terakhir

Ilustrasi kreasi Gemini AI

Aswatama, panglima terakhir Kurawa, dengan tikaman rasa sedih dan dendam mendalam. Dia pun menyusup ke kemah Pandawa pada tengah malam. Tindakan ini terjadi pada hari ke-18 Perang Baratayudha. Setelah Duryodana kalah dan peperangan di Kurukshetra itu secara resmi berakhir.

Dini hari di pengujung hari ke-18 perang. Seluruh pasukan di kubu Pandawa terlelap dalam buai tidurnya akibat lelah yang menyapu seluruh tubuh mereka. Dini hari itu, Aswatama melihat burung hantu yang membantai sekumpulan burung gagak. Perilaku satwa malam tersebut mengilhaminya gagasan melakukan serangan tiba-tiba pada tengah malam untuk membalas dendam. Kematian Resi Drona, ayahnya, juga Duryodana. dan kekalahan Kurawa.

Bersama Resi Krepa dan Kertawarma, kemudian Aswatama menghabisi sisa pasukan Pandawa. Aswatama pun tidak menyia-nyiakan kesempatan melampiaskan dendamnya dengan membunuh Drestadyumna yang sedang dalam posisi tidur. Korban lainnya adalah Srikandi. Juga lima putra Pandawa, yaitu Pancawala, Pratiwindya, Sutasoma, Srutakarma, dan Srutasena. Semua dalam keadaan tertidur pulas.

Korban jiwa lainnya adalah semua sisa pasukan Pandawa, Wirata (Raja Kerajaan Matsya), Utara dan Sangka (kedua putra Wirata), juga semua sisa pasukan Panchala yang berada di perkemahan.

Kresna dan Pandawa pada malam kejadian tidak tidur di tenda utama. Atas saran Kresna, mereka tidur di tepi Sungai Oghavati untuk memohon penebusan dosa (prayascita) akibat demikian besar korban jiwa dalam perang di Kurukshetra itu.

Pada keesokan paginya, tatkala Sri Kresna dan Pandawa kembali ke perkemahan, mereka begitu terkejut melihat keluarga, teman, pasukan mereka semua dalam keadaan tidak bernyawa. Terjadi kehancuran di mana-mana.

Pada mulanya mereka mengira, ada makhluk gaib atau raksasa yang melakukan pembunuhan besar-besaran dan memorak-porandakan perkemahan.

Kemudian Sri Kresna yang mempunyai kesadaran kosmik, mata batin, dan pengetahuan masa lalu dan masa depan yang sempurna, mampu mengetahui siapa pelaku di balik kejadian pembantaian tersebut.

Setelah mengetahui bahwa Aswatama, Resi Krepa, dan Kertawarma sebagai pelakunya, Pandawa pun bersama Sri Kresna melakukan pengejaran.

Pengejaran pun dilakukan hingga ke pertapaan Begawan Byasa atau Maharesi Vyasa. Pertarungan sengit tak ayal lagi terjadi. Ketika terdesak, Aswatama pun mengerahkan senjata pemusnah massal. Brahmashira. Panah sakti yang pemanggilannya lewat mantra spiritual dan pelepasannya dengan sehelai rumput ilalang.

Brahmashira merupakan senjata surgawi (astra) ciptaan Dewa Brahma atau Brahmā (ब्रह्मा) yang mewujud dari kekuatan energi supranatural. Senjata ini ketika beroperasi, ujung runcingnya berwujud empat kepala Dewa Brahma. Dapat menimbulkan kehancuran abadi dan mencegah pertumbuhan dan kehidupan di area targetnya.

Arjuna pun mengoperasikan senjata yang sama guna menangkalnya. Pertemuan dua senjata anak panah dengan kekuatan pemusnah yang luar biasa itu, tentu bakal menimbulkan kehancuran masif yang mengerikan. Terdorong rasa kekhawatiran ini, para dewa dan juga Maharesi Vyasa memerintahkan Arjuna dan Aswatama untuk menarik senjata masing-masing.

Arjuna mematuhi perintah itu dan berhasil menarik senjata panah Brahmashira miliknya. Akan tetapi tidak demikian dengan Aswatama, yang tidak mampu dan senyatanya memang tidak mau menarik senjatanya. Dia lalu mengarahkan senjata suci itu bergerak melintasi ruang dan waktu untuk mengejar targetnya di mana pun.

Senjata panah Brahmashira milik Aswatama itu kemudian menembus dinding istana dan masuk langsung ke dalam rahim Dewi Utari atau Uttara (उत्तरा) di Kerajaan Matsya yang begitu jauh lokasinya dari tempat kejadian pertempuran. Dewi Utari, istri Abimanyu atau Abhimanyu (अभिमन्यु), saat itu sedang mengandung Parikesit atau Parikshit (परीक्षित्).

Senjata Brahmashira milik Aswatama itu berhasil membakar janin Parikesit di rahim Dewi Utari. Untunglah, intervensi Sri Kresna mampu memulihkan kondisi. Dalam wujud gaibnya yang tidak kasat mata, dia memasuki rahim Dewi Utari untuk menetralisasi radiasi dan panas luar biasa dari senjata Brahmashira tersebut.

Karena janin itu kemudian bisa hidup kembali berkat kekuatan Dewa Wisnu atau Vishnu (विष्णु) yang menitis pada Sri Kresna, sang bayi itu ketika kelak lahir memperoleh nama Wisnurata atau Viṣṇurāta (विष्णुरात). Anugerah Dewa Wisnu. Nama lain dari Parikesit yang menjadi satu-satunya harapan untuk meneruskan garis keturunan Pandawa. Pada kemudian hari, Parikesit naik takhta menjadi Raja Hastinapura.

Sebelum itu, demi menakar sepak terjang Aswatama yang semakin meresahkan, Sri Kresna pun menjatuhkan hukuman. Dia mencungkil permata sakti, Mani, yang menempel di dahi Aswatama sejak lahir. Tindakan pencungkilan itu membekaskan luka berlubang yang terus mengeluarkan darah dan rasa sakit tanpa henti.

Sri Kresna juga mengutuk Aswatama menjadi makhluk yang tidak akan mati sebelum tiba zaman akhir (Chiranjeevi). Putra Resi Drona itu wajib mengembara di Bumi dalam kesendirian, menderita, terasing dari interaksi dengan manusia lain, dan terus hidup hingga akhir zaman.

Berdasarkan Kitab Skandapurana atau Skandapurāṇa (स्कन्दपुराण) yang terdiri atas 81.000 seloka lebih, dan tergolong pada sastra Saiwa, mengagungkan Dewa Siwa atau Śiva (शिव), pada akhirnya Aswatama bertobat. Dia melakukan penebusan dosa dan memuja Dewa Siwa di Dhanushkodi. Terletak sekitar 18 kilometer dari Kota Suci Rameshwaram.

Dewasa ini Dhanushkodi populer sebagai destinasi wisata Kota Hantu. Terletak di ujung Pulau Pamban, Tamil Nadu, India. Tempat Teluk Benggala dan Samudra Hindia bersua. Pada tahun 1964, akibat badai siklon besar, Kota Dhanushkodi mengalami hancur total.

Saat ini, 200 - 400 keluarga nelayan tinggal di sana di gubuk-gubuk darurat di antara reruntuhan kota tua. Lantaran wilayah ini bukan untuk permukiman permanen, mereka tidak mendapatkan fasilitas dasar dari pemerintah, seperti listrik, air minum bersih, atau sinyal telekomunikasi.

Nah, di sanalah Aswatama yang telah bertobat itu tinggal dengan kutukan Sri Kresna yang masih berlaku hingga kini. Hanya akan menemui kematiannya, tatkala akhir zaman telah tiba. ***

: