Lansia, Rentan Sergapan Delirium
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sindrom penurunan fungsi otak akut atau delirium bisa terjadi di segala usia. Akan tetapi, jika itu terjadi pada kelompok lanjut usia (lansia), efeknya memang jauh lebih serius. Bahkan bisa mengancam jiwa, jika berbandingkan dengan anak-anak dan orang dewasa. Mengapa demikian?
Delirium pada lansia acapkali menjadi “sinyal darurat” dari problem medis yang bisa membahayakan keselamatan nyawa, seperti ketika berangkat dengan dehidrasi berat, infeksi (antara lain pada saluran kemih), atau efek samping dari konsumsi obat.
Juga terdapat risiko komplikasi yang lebih tinggi di kalangan lansia, sehingga mereka dapat mengalami penurunan fungsi kognitif permanen (seperti demensia), kelemahan fisik, dan risiko terjatuh. Mengakibatkan pasien lansia lebih lama menerima perawatan di rumah sakit. Dan, angka kematian pasien lansia yang mengalami delirium selama perawatan inap cenderung lebih tinggi.
Delirium juga bisa menyergap anak-anak dan orang dewasa muda. Akan tetapi, pada lazimnya terjadi akibat pemakaian obat terlarang. Atau, bisa pula lantaran keracunan yang efeknya bisa diprediksi dan ditangani. Pada anak-anak, pemicunya demam tinggi, infeksi berat, atau efek samping dari pengonsumsian obat tertentu.
Sementara itu, pada orang dewasa muda, pemicu umumnya adalah keracunan, seperti penyalahgunaan alkohol atau obat terlarang. Juga bisa akibat overdosis obat, cedera kepala berat. Atau, bisa juga akibat kondisi kritis dan harus menjalani perawatan di Ruang Intensive Care Unit (ICU).
Adapun lansia, terutama 65 tahun ke atas, merupakan kelompok paling rentan atas serangan delirium. Sebab, cadangan fungsi otak yang menurun. Pada lansia memang terjadi pemerosotan cadangan kognitif (cognitive reserve) akibat ada pengurangan jumlah sel saraf, penipisan jaringan penghubung antarsel otak.
Penurunan cadangan kognitif pada lansia juga terjadi karena pelambatan aliran darah ke otak. Kesemua hal tersebut menyebabkan proses berpikir menjadi lebih lambat dan daya ingat berkurang. Adapun pelambatan aliran darah ke otak, berbiang penyebab dari penyempitan dan pengerasan pembuluh darah.
Di samping itu, pelambatan aliran darah ke otak pada lansia juga lantaran ada penurunan kerja jantung. Dan, terdapat penumpukan plak lemak. Sejalan dengan pertambahan usia, tubuh manusia memang sudah kodratnya memperoleh perubahan alami pada sistem sirkulasinya.
Penyebab utamanya bisa aterosklerosis. Dinding pembuluh darah kaku dan menyempit sebagai dampak penimbunan plak kolesterol. Selanjutnya, jantung memompa darah dengan tenaga yang lebih lemah daripada ketika masa muda.
Pun bisa datang bertandang dari hipertensi, yaitu tekanan darah tinggi yang merusak kelenturan dinding pembuluh darah. Dan, penyakit seperti diabetes dapat menyebabkan pembuluh darah lebih gampang rusak.
Akan tetapi, sesungguhnya pada usia berapa pun, seseorang dapat mengalami delirium manakala otaknya terkena infeksi atau peradangan, seperti demam tinggi, sepsis (keracunan darah), dan infeksi saluran kemih. Bisa pula karena kondisi metabolik seseorang itu tidak baik-baik saja, semacam dehidrasi berat, kurang gizi, atau kadar elektrolit yang tidak seimbang (kekurangan mineral).
Delirium pada segala usia, juga dapat terjadi sebagai efek putus alkohol, keracunan zat kimia. Dapat pula timbul sebagai efek samping obat tidur atau obat pereda nyeri. Delirium pun bisa timbul akibat pengaruh obat bius, nyeri luar biasa pascaoperasi, atau patah tulang.
Lebih Sensitif
Akan tetapi pada lansia, penurunan cadangan fungsi otak dan keberadaan penyakit penyerta menyebabkan otak jauh lebih sensitif. Oleh karena itu, berbandingkan dengan anak-anak atau orang dewasa muda, lansia lebih rentan terkena delirium.
Sebab, pada lansia umumnya telah terjadi penurunan cadangan fungsional otak, pengurangan jumlah sel saraf, dan gangguan pada zat pengirim pesan (neurotransmitter). Akibatnya terjadilah perubahan fisik pada otak lansia. Seiring dengan pertambahan usia, jumlah sel di dalam otak dan aliran darah ke otak kian berkurang.
Kondisi cadangan otak pada lansia pun menipis. Terjadi pelemahan secara alami pada kapasitas cadangan fungsional otak. Dengan demikian, sebagai akibatnya adalah daya tahan otak tidak sekuat pada masa muda ketika memperoleh tekanan atau stres fisik.
Di sini terjadi suatu ketidakmampuan sel dan otak untuk mempertahankan fungsi normalnya. Akibatnya, muncul lonjakan hormon stres, penurunan kinerja mental (sulit berpikir jernih, mudah lupa, dan lambat memecahkan masalah). Hingga risiko kerusakan jaringan saraf. Komunikasi antarsel otak sementara atau permanen terjadi hambatan, sehingga menyebabkan ingatan dan kemampuan berpikir menurun.
Pada lansia, terdapat penurunan pula pada kadar zat pengiriman pesan di otak, yaitu asetilkolin yang penting guna merawat kesadaran dan daya pikir. Juga dopamin yang mengatur motivasi, gerakan tubuh, dan pusat penghargaan. Penurunan dopamin pada lansia memengaruhi kelancaran gerak dan semangat.
Zat pengiriman pesan ke otak lainnya, yakni serotonin, untuk mengatur suasana hati, nafsu makan, dan pola tidur. Kekurangan kadar zat ini memicu gangguan tidur atau pemunculan rasa kesedihan dengan tingkat keseringan yang lebih tinggi.
Lalu asam gamma-aminobutirat atau gamma-aminobutyric acid (GABA) yang mempunyai fungsi untuk menenangkan aktivitas sel saraf di otak. Penurunan GABA mengakibatkan kerja otak lebih sulit terkendali dan rasa cemas mudah menghampiri.
Delirium menyerang lansia melalui pemicu ringan tapi berbahaya. Karena infeksi kecil di saluran kemih, demam, atau dehidrasi dapat mengacaukan kerja otak lansia. Juga efek obat, lewat pemakaian obat tidur, obat pereda nyeri, atau gabungan banyak obat, dapat memunculkan delirium dengan mendadak.
Gejala Berubah-Ubah
Delirium terdiri atas tiga kategori. Ada delirium hiperaktif (hyperactive delirium) dengan perilaku penderita yang tampak sangat gelisah, agresif, kerap berteriak, mengalami halusinasi, dan gampang cemas.
Ada pula yang sebaliknya, masuk kategori delirium hipoaktif (hypoactive delirium). Penderita kelihatan lemas, pendiam, suka melamun, depresi (gangguan jiwa yang tertandai dengan perasaan sedih, muram, tertekan). Kategori ini acapkali tidak disadari. Sering dianggap hanya lelah.
Sementara itu, terdapat kategori delirium campuran (mixed delirium). Suatu kondisi manakala penderita mengalami pergeseran antara tipe hiperaktif dan hipoaktif. Tingkat kesadaran dan keaktifan penderita berfluktuasi atau berganti-ganti dengan cepat antara tipe hiperaktif dan hipoaktif.
Delirium merujuk pada kondisi penurunan kesadaran dan fungsi otak dengan sifat akut. Timbul secara mendadak dan cepat memburuk. Terjadi dalam hitungan jam hingga hari. Gejalanya kerap kali berubah-ubah (berfluktuasi).
Kondisi kebingungan, kesadaran dan perilaku yang tidak begitu stabil itu bisa naik dan turun dalam satu hari. Misalnya pada pagi hari sang penderita bisa jadi tampak normal atau tenang. Namun, pada sore atau malam hari secara mendadak kelihatan sangat gelisah, kacau, atau mengantuk berat.
Adapun ciri-ciri perubahan gejala delirium itu adalah tingkat kesadaran penderita dan fokusnya berubah-ubah dalam hitungan sejumlah jam. Waktu timbul gejala memburuk juga berbeda, ada saat hari mulai gelap (sundowning).
Pun bisa terkait dengan pembalikan siklus tidur - bangun (sleep - wake reserval). Penderita tertidur lelap pada siang hari, tetapi justru terjaga, gelisah, dan aktif sepanjang malam.
Selanjutnya, ada pula yang ciri perubahan bentuk tipikal delirium, dari yang semula hiperaktif (marah, gelisah, reaktif, meracau, berhalusinasi) tiba-tiba berganti menjadi hipoaktif (sangat tenang, diam, lesu, lambat merespons, mengantuk). Bersifat fluktuatif, gejala kebingungan naik - turun dalam hitungan jam atau hari.
Pengidapnya merasakan kebingungan parah, disorientasi (kehilangan daya untuk mengenal waktu, tempat, orang), inatensi (kesulitan mempertahankan fokus, konsentrasi, mudah teralihkan dengan hal lain). Bahkan, bisa dengan sertaan halusinasi. Gangguan persepsi yang menyebabkan seseorang mendengar, melihat, mengecap, meraba, atau mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Seorang lansia yang mengalami delirium, biasanya sangat sulit fokus, mudah teralihkan. Tidak mengetahui lokasi tempatnya berada, juga hari tanggal jam. Dan, gejala ini bisa membaik serta memburuk dalam satu hari.
Delirium berbeda dari demensia (pikun). Delirium terjadi secara akut (mendadak) dengan sifat gejala fluktuatif. Jika penyebab utama mendapat penanganan segera, sangat mungkin si penderita dapat segera sembuh. Sementara itu, demensia merupakan penurunan kognitif dengan sifat kronis. Perlahan selama hitungan bulan hingga tahun dan biasanya permanen.
Adapun penanganan medis untuk delirium, dengan cara mengatasi terlebih dahulu penyakit fisik atau penyebabnya. Perlu pula perawatan suportif guna menenangkan penderita dan mengembalikan orientasinya. Seperti menjaga siklus tidur yang baik, memastikan kecukupan pemenuhan hidrasi, dan menciptakan kondisi lingkungan yang terjaga ketenangan dan kenyamanannya.
Lampu Indikator
Sebagai ilustrasi untuk lebih menghidupkan gambaran pemahaman yang lebih tegas, perlu kiranya tulisan ini menyertakan kisah nyata (dalam artian pernah menjadi kasus medis) tentang lansia yang terserang delirium. Tentu saja dengan tidak ada penyebutan nama penderita, lokasi rumah sakit, dan segala penyebutan identitas lain.
Sebuah publikasi media melansir, ada kisah seorang kakek berusia 80 tahun yang tiba-tiba mengamuk, meneriakkan bahwa dirinya melihat monster di langit-langit rumahnya. Dia pun tidak mengenal anak-anaknya lagi. Pihak keluarga semula mengira, kakek itu menderita demensia parah.
Pihak keluarga kemudian membawa kakek itu ke rumah sakit. Dokter geriatri setelah memeriksa, kemudian mendiagnosis bahwa lansia bersangkutan sama sekali tidak mempunyai riwayat demensia. Kondisi yang menimpanya, menurut dokter geriatri itu, merupakan delirium hiperaktif dengan pemicu infeksi saluran kemih yang tidak tersadari dan dehidrasi berat.
Setelah dokter memberikan antibiotik dan mengoreksi cairan tubuh. Kemudian memperbaiki jumlah air dan zat mineral (elektrolit) dalam tubuh kakek itu. Dalam waktu kurang dari 48 jam, kesadaran kakek tersebut kembali jernih seutuhnya. Kembali normal
.Kisah berikutnya, datang dari seorang dokter spesialis geriatri, menuturkan, bahwa dirinya pernah menangani lansia pasien delirium yang mengalami delusi (keyakinan salah) atau halusinasi visual. Berdasarkan kisahnya, pasien lansianya itu terus-menerus menangis histeris lantaran melihat perawat rumah sakit sebagai “penculik yang akan menjual organ tubuhnya”.
Pihak keluarga pun bingung dan panik. Akan tetapi setelah mendapat penelusuran, delirium yang menyerang tersebut merupakan efek samping dari pemakaian obat pereda nyeri pascaoperasi yang terlalu kuat dosisnya. Serta, berkombinasi dengan lingkungan rumah sakit yang tidak familier, sehingga menyebabkan pasien mengalami disorientasi.
Setelah terjadi pengurangan dosis obat tersebut, kakek itu dapat tertawa dan menyadari semua itu hanya ilusi dari pikirannya yang tengah tertekan.
Pelajaran penting yang hadir dari kisah-kisah delirium adalah penyebab sederhana, tapi akibat yang mengikutinya bisa begitu fatal.
Delirium sesungguhnya merupakan semacam alarm tubuh. Tidak jarang faktor pemicunya begitusepele, seperti kurang minum, perubahan jadwal tidur, efek samping pemakaian obat, dan sembelit. Tindakan pembiaran dapat mengakibatkan nyawa melayang.
Delirium bukan bagian dari proses penuaan yang normal. Ia seperti lampu indikator check engine pada mobil. Dan, pada lansia, otak begitu sensitif terhadap gangguan kecil di dalam tubuh. Bila lampu indikator menyala (delirium muncul), maka terdapat problem kesehatan fundamental yang sedang datang bertandang.
Adapun pemicu spesifik delirium, seperti infeksi saluran kemih atau pneumonia (radang paru-paru) sebagai faktor penyebab paling lazim. Selain itu, juga efek samping atau interaksi dari banyak obat pada waktu yang bersamaan. Pun dehidrasi dan kurang nutrisi.
Serta, berada di lingkungan asing, seperti ruang perawatan rumah sakit (ICU psychosis) atau pascaoperasi dapat menjadi faktor pemicu lingkungan atau faktor presipitasi yang kuat sehingga menimbulkan delirium. Kebingungan mendadak pada otak sebagai buah akibat kewalahan memproses situasi baru.
Mengapa lingkungan ICU memicu delirium? Bisa beranjak dari kondisi lampu yang menyala terus sehingga menyebabkan pasien tidak bisa membedakan siang dan malam. Lalu suara mesin medis yang beroperasi secara konstan berikut kebisingan alarm bisa mengganggu kenyamanan beristirahatnya.
Dan, keluarga yang tidak hadir di sisinya. Tergantikan orang tidak begitu dia kenal, yaitu para petugas medis yang mengenakan alat pelindung diri. Belum lagi efek pemakaian obat pascaoperasi. Kondisi tubuh yang sangat nyeri, kurang tidur, dehidrasi, atau infeksi. Terlebih, jika tergantung pada alat bantu pernapasan (ventilator), sehingga menyebabkan pasien stres lantaran tidak sanggup berbicara.
Perawatan Suportif
Delirium sesungguhnya merupakan penurunan fungsi mental akut dan fluktuatif. Penanda yang tampak berupa kebingungan parah serta kesadaran lingkungan yang berkurang. Kondisi demikian memang sangat lazim terjadi pada lansia, terutama setelah sakit atau menjalani rawat inap.
Otak lansia memang lebih sensitif terhadap perubahan fisiologis. Manakala tubuh harus menerima beban stres akut, cadangan sel otak yang sudah menurun, cenderung tidak lagi mampu mengimbangi sebagai perlawanan.
Di dunia medis geriatri, penyebab utamanya mendapat singkatan P5. Yaitu Pengeluaran Urine Terganggu (susah kencing); Pencernaan Terganggu (sulit buang air besar), Pain (nyeri tidak tertahankan), Pil (efek samping obat), Penyakit Infeksi (seperti infeksi saluran kemih, pneumonia).
Adapun gejala utama delirium mencakup gangguan perhatian (atensi), yaitu sulit fokus, mudah teralihkan, atau sulit mengikuti percakapan. Mengalami disorientasi, bingung mengetahui waktu (pagi atau makam, lupa hari atau tahun) juga tempat (misal merasa berada di rumah ketika menjalani perawatan di rumah sakit). Bahkan, tidak mengenal anggota keluarga.
Di samping itu, juga ada gangguan emosi dan perilaku. Seperti perubahan suasana hati (mood) yang ekstrem. Atau tampak menunjukkan perilaku ketakutan tanpa landasan alasan yang jelas. Termasuk halusinasi, melihat sesuatu atau mendengar suara yang sesungguhnya tidak ada.
Kegawatdaruratan medis itulah sesungguhnya esensi keberadaan delirium. Tentu saja, segera membawa ke rumah sakit menjadi langkah yang menjadi opsi yang paling relevan. Meskipun demikian, perawatan suportif di rumah, setelah penanganan medis di rumah sakit, memiliki kontribusi penting untuk pemulihan fungsi otak.
Perawatan suportif itu, bisa berupa membantu lansia itu menggapai reorientasi. Sering mengajak lansia yang pernah terkena delirium itu menjalin konversasi sehari-hari dengan hangat. Bilamana memungkinkan dengan cara berkomunikasi yang fleksibel, mengingatkan lansia itu tentang hari, tanggal, atau lokasi tempat mereka berada.
Jika lansia membutuhkan alat bantu dengar atau kacamata, tentu sangat bijak untuk memastikan alat bantu dasar tersebut telah terpasang dengan baik, agar yang bersangkutan tidak keliru menerima informasi dari lingkungan. Perlu pula pendampingan terhadap lansia dengan sentuhan hangat seperti memijat punggung atau kaki serta sering datang menengok.
Perawatan suportif lainnya berupa meminimalisasi lansia yang baru saja terkena delirium untuk tidak terjebak kebingungan pada malam hari. Misalnya dengan menyalakan lampu tidur yang redup dan memastikan jam dinding tampak jelas terpasang di kamarnya.
Tidak kurang penting sebagai bagian dari perawatan suportif, yaitu penjadwalan aktivitas rutin harian secara teratur dan konsisten. Dengan demikian, lansia bersangkutan dapat melakukan pergerakan atau mendapat paparan sinar matahari pagi yang sehat secara memadai. ***

