Konten dari Pengguna

Lebih Merapat Sedikit ke Benda Bernama Sisir

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sisir rambut dari bahan kayu. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Sisir rambut dari bahan kayu. (Sumber: Shutterstock)

Sisir. Benda sehari-hari yang kita gunakan itu. Ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang. Manusia yang hidup di Zaman Prasejarah pun telah mengenalnya. Dibuat dari bahan tulang dan kayu. Bukti arkeologi berbicara, sisir telah ditemukan di permukiman yang diperkirakan ada pada 5.000 tahun lalu di wilayah Persia.

Di Mesir, Yunani, Romawi sebagai representasi peradaban kuno, pembuatan sisir sebagai bentuk kerajinan tangan acapkali dengan sertaan ukiran nan indah. Lalu di Abad Pertengahan (Abad Ke-5 hingga Ke-15 Masehi), sisir menunjukkan status sosial pemiliknya. Para bangsawan di wilayah-wilayah monarki berlomba memburu sisir dengan hiasan mewah bertakhtakan permata. Demi status sosial.

Pada abad ke-19, sisir diproduksi dengan bahan yang lebih aneka ragam. Selain tetap ada sisir dari bahan tanduk kerbau atau sapi, tulang, kayu boxwood atau ceri, variasi lainnya terkadang muncul dari pemilihan bahan logam, karet, dan plastik. Sisir bukan lagi menjadi barang yang hanya menjadi milik kalangan terbatas. Tapi, lebih terasakan kemanfaatannya bagi seluruh lapisan masyarakat.

Desain Ergonomis

Sisir dengan desain ergonomis untuk merawat rambut agar bersih dan sehat. (Sumber: Shutterstock)

Kemudian pada abad ke-20 hingga ke-21 ini, sisir tampil dengan pelbagai desain yang ergonomis. Dalam taut artian, sisir berada dalam ranah perancangan dengan berkiblat pada pertimbangan kenyamanan dan keamanan bagi para penggunanya. Dengan demikian, meminimalkan risiko cedera (lecet di kulit kepala) dan memaksimalkan pengalaman menyisir yang lebih positif.

Desain sisir yang ergonomis itu, ditandai bentuk dan ukurannya yang sesuai dengan bentuk tangan pengguna. Salah satu wujud aplikatifnya adalah mudah digenggam. Tidak ada efek yang kurang nyaman pada tangan atau pergelangan tangan saat sisir dimanfaatkan.

Desain ergonomis juga merujuk pada bahan sisir. Bahan yang seharusnya menjadi pilihan, yaitu bahan yang tidak licin, tidak terasa sakit, dan tidak menimbulkan iritasi atau alergi pada kulit kepala.

Lalu, jarak antargigi sisir disesuaikan dengan jenis rambut. Dengan demikian, penyisiran tidak menyebabkan kerontokan atau kerusakan rambut. Berat sisir juga harus proporsional, tidak terlalu berat atau ringan, sehingga pengguna dapat menjalani proses menyisir rambut dengan cara yang senyaman-nyamannya.

Penanda riil dari sisir desain ergonomis, ia mempunyai gagang dengan lapisan bahan antislip. Tidak mudah tergelincir atau terlepas jatuh. Karet dan silikon dapat menjadi prioritas pilihan yang menghadirkan kenyamanan memegang, bahkan saat tangan berkeringat. Sementara itu, beberapa jenis plastik yang mengalami pendesainan sehingga memiliki tekstur untuk lebih menguatkan pegangan pada gagang sisir.

Selain itu, gigi sisir yang melengkung dapat mendukung peminimalisasian tarikan pada rambut. Sebab, menjulurkan pemungkinan penyebaran tekanan dengan lebih merata saat proses penyisiran. Dengan demikian, dapat mengurangi gesekan dan tarikan secara berlebihan pada rambut. Berlainan dengan gigi sisir lurus yang mempunyai kecondongan penarikan lebih kuat pada titik-titik tertentu yang bisa menimbulkan kerusakan dan kerontokan rambut.

Lalu, bentuk sisir yang sesuai dengan kontur kepala. Desainnya mengakrabi lekukan alami kepala, sehingga terjadi proses menyisir rambut yang lebih efektif dan nyaman. Sisir demikian pada lazimnya mempunyai permukaan sedikit melengkung. Beberapa sisir yang lain memiliki gigi fleksibel, mampu menyesuaikan dengan kontur kepala berlainan.

Sisir Detangling

Dewasa ini, ada sisir detangling, untuk mengurai rambut kusut sehingga menjadi lembut. Tentu saja dengan proses yang nyaman, tidak menimbulkan rasa sakit atau kerusakan pada rambut dan kulit kepala. Gigi sisir ini fleksibel dan rapat, sehingga dapat menerabas ke rambut kusut dengan gampang dan terasa nyaman.

Gigi sisir detangling lebih panjang dan jarang dibandingkan dengan sisir biasa. Desainnya melengkung atau berongga, sehingga relatif ramah dalam menunaikan perannya mengatasi rambut kusut. Gigi sisir yang fleksibel dapat mengurangi tarikan dan gesekan saat menyisir. Risiko rambut patah dan rontok dapat diminimalisasi hingga puncak hasil.

Sisir detangling dapat menerima fungsinya baik saat rambut dalam keadaan basah maupun kering. Semua jenis rambut berada dalam wilayah penguasaan operasionalnya. Apa pun jenisnya, entah itu keriting, entah itu bergelombang, entah itu lurus. Pun relatif aman untuk rambut anak-anak yang lebih halus dan gampang kusut.

Sisir detangling dengan "aroma" desain ergonomis dan gigi yang lembut terasa nyaman ketika digunakan. Bahkan, dalam rentang proses pemakaian yang mengambil waktu relatif lama. Ada beberapa jenis. Sebut saja wet brush, dengan gigi fleksibel dan lembut, pas untuk menyisir rambut sehabis keramas. Alias masih dalam kondisi agak basah.

Salah satu desain sisir detangling jenis wet brush. (Sumber: Shutterstock)

Kemudian, jenis tangle teezer, dengan desain gigi dua tingkat. Jenis ini berada dalam ranah perancangan untuk mengatasi kekusutan rambut. Pastinya dengan proses yang tidak menimbulkan rasa yang kurang nyaman.

Sisir tangle teezer yang mempunyai desain dengan gigi dua tingkat. (Sumber: Shutterstock)

Selebihnya denman brush. Sisir ini direkomendasikan untuk rambut ikal atau keriting. Tergantung pada seberapa rapat ikal dari si pengguna. Denman brush dengan tujuh baris pin nilon, disebut D3 atau Denman Classic Styling Brush, untuk jenis rambut keriting yang longgar.

Adapun denman brush dengan sembilan baris pin nilon, disebut D4 atau Denman Brush D4 Origin Styler 9 Row, untuk rambut ikal yang rapat. Ada juga D5, Denman Curly Hair Brush D4 Styler 9 Row.

Denman Classic Styling Brush yang cocok untuk rambut ikal yang longgar. (Sumber: Shutterstock)

Sisi Lain dari Sisir

Dalam beberapa budaya, sisir terkadang lebih daripada sekadar alat untuk membuat tatanan rambut menjadi lebih memenuhi kriteria kerapian dan keindahan. Di Papua untuk menunjuk misal. Sisir dari bahan bambu (suar) juga memiliki nilai simbolis dalam upacara adat.

Sisir bambu yang memiliki sejumlah nilai simbolis dalam budaya Papua. (Sumber: Shutterstock)

Berlandaskan tilikan proses pembuatannya, sisir bambu merupakan hasil gotong royong antaranggota masyarakat setempat. Ini menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas. Produk sisir bambu itu juga menunjukkan simbol identitas budaya. Cerminan dari kekayaan tradisi dan kearifan lokal.

Fungsi sisir bambu sebagai bagian dari riasan kepala dalam beberapa upacara adat di Papua menunjukkan eksistensi simbolisnya sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap upacara adat dan para personel pendukungnya. Ia juga menjadi simbol keindahan, manakala ada penambahan hiasan bulu burung cendrawasih contohnya.

Dan, tak dapat termungkiri keberadaan simbol kelestarian budaya. Sisir bambu dalam realisasi proses pembuatan dan penggunaannya merupakan salah satu dari rangkaian upaya pelestarian budaya Papua. Masyarakat di sana memastikan kehidupan tradisi ini tetap terus berlangsung dan pewarisannya kepada generasi selanjutnya dapat berjalan dengan baik.

Sementara itu, dalam budaya Jepang, sisir tsuge yang berbahan kayu boxwood, bahkan menjadi semacam karya seni kerajinan. Di sana, ada peringatan Hari Sisir (Kushi no Hi) tiap 4 September. Diinisiasi oleh sekelompok orang dari industri kecantikan dan pertama kali diperingati pada 1978. Untuk mengingatkatkan masyarakat di sana tentang betapa penting peran sisir dalam budaya mereka.

Sisir Jepang dari bahan kayu boxwood. (Sumber: Shutterstock)

Adapun di Spanyol, dikenal peineta, sisir hias besar. Fungsinya, selain untuk membantu penataan rambut, juga menjaga agar mantilla (kerudung) tidak terlepas. Lebih sebagai dekorasi rambut, agar tertata dengan rapi dan artistik. Bisa jadi, bukan dalam artian sisir yang berfungsi untuk menata rambut.

Wanita Spanyol mengenakan mantilla hitam dengan sisir ornamental, peineta. (Sumber: Shutterstock)

Di samping itu, sisir juga merepresentasikan simbol-simbol lain. Prosesi menyisir rambut calon pengantin pria dan wanita dalam tradisi pernikahan adat Tionghoa menunjukkan hal itu.

Prosesi ini berlangsung sehari sebelum kedua mempelai bersanding di pelaminan. Seorang perempuan paruh baya akan melakukan prosesi ini sambil memanjatkan doa-doa demi peruntungan nasib sepasang mempelai.

Dalam prosesi menyisir rambut tersebut, sisiran pertama merupakan simbol harapan agar sepasang mempelai kelak dapat menjalin persatuan dalam rumah tangga untuk waktu selama-lamanya. Sisiran kedua, simbolisasi harapan agar keluarga yang mereka bentuk senantiasa dalam naungan keharmonisan.

Sisiran ketiga, simbol harapan agar keduanya mendapat keturunan dalam jumlah banyak. Dan, sisiran keempat merupakan simbol harapan agar keduanya setelah berumah tangga mendapat karunia Tuhan akan kemakmuran secara ekonomi dan umur panjang dengan kesehatan yang terjaga. ***