Melongok Khazanah Kosakata tentang Warna dalam Bahasa Indonesia

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Untunglah segala sesuatu di permukaan Bumi ini terdiri atas banyak warna. Pepohonan. Bunga-bunga. Warna kulit manusia. Bulu binatang. Produk buatan manusia seperti pakaian, mobil, sepeda motor, dan alat-alat perlengkapan sehari-hari. Semua hadir dengan kepemilikan warna masing-masing. Merah. Biru. Hijau. Oranye atau jingga. Kuning. Putih. Kelabu. Hitam. Ungu. Itulah warna-warna yang familier dalam kehidupan kita sehari-hari.
Untunglah pula jenis warna itu ada bermacam-macam. Tidak sekadar satu atau dua warna semata. Kalau seandainya jenis warna di dunia ini, hanya dua saja, tentulah kehidupan ini tidak seindah seperti yang kita rasakan. Tentulah kata “warna” tidak akan pernah hadir dalam jalinan ungkapan yang memiliki makna konotatif atau kias tentang keragamannya sebagai bentuk ekspresi keindahan. Tentang keragaman sebagai sunatullah yang tentu kehadirannya menyimpan maksud dan tujuan mahabaik Tuhan.
Ungkapan dalam bahasa Inggris, life is colourful, hidup ini penuh warna, menyiratkan betapa warna kehidupan itu sedemikian kaya dengan dinamika pengalaman, perasaan, dan peristiwa yang saling menjalin membentuk anyaman kesadaran kemanusiaan seseorang sebagai hamba Tuhan.
Bahagia dan duka nestapa yang silih berganti datang dan pergi, secara alami akan mendewasakan seseorang dalam menyikapi dinamika kehidupan yang sarat warna. Mendewasakan diri untuk mencerna dengan kesadaran spiritual akan kebernasan ayat 5 Surah Al-Insyirah, fa inna ma'al-'usri yusroo (maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).
Kuda Kinantan
Fakta yang menarik, dalam khazanah kosakata tentang warna dalam bahasa Indonesia, ternyata terdapat kata-kata lain di luar yang selama ini kita dengar secara familier, dalam realisasi penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Menarik untuk diketahui pula, kata-kata tersebut selain ada yang merupakan sinonim dari nama warna yang sudah familier kita kenal itu, juga ada yang memiliki tambahan rincian keterangan tentang warna tersebut. Dalam artian, sifat gradasinya dan sifat kombinasinya dengan warna lain.
Nah, kita awali saja dengan “kinantan”. Ia bersinonim dengan warna putih. Kuda yang mempunyai bulu putih pun bisa memperoleh sebutan kuda kinantan. Dalam realitasnya memang ada kuda yang “kinantan” sejati. Dari tinjauan genetikanya, betul-betul berwarna putih. Tidak sekadar tampak putih. Dan, memang lahir dengan bulu yang dominan putih, kulitnya merah muda, dan matanya cokelat.
Faktanya pula ada kuda yang tampak “kinantan” berkat adanya intervensi dari genetika tertentu. Tidak terkecuali genetika yang menimbulkan bulu abu-abu dan menunjukkan perkembangan semakin terang dan putih sejalan dengan pertambahan umur dan terjadi adanya pengurangan pigmen. Kulitnya hitam di bawah bulu putihnya, dengan pengecualian pada area tanda putih kecil.
Kuda juga tampak “kinantan” manakala ada intervensi genetika yang menimbulkan bercak putih besar pada kuda pinto dan arau. Bercak putih besar ini menunjukkan ketiadaan pigmen warna. Pada kuda pinto (topong), polanya bisa sabiano atau tabiano. Kuda pinto dengan pola genetik sabiano, penyebab bintik-bintik tidak beraturan dan bisa menghasilkan warna hampir putih pada sebagian besar bulunya.
Lalu, pola genetik tabiano, terdapat bercak putih besar pada warna lain. Atau genetika “kelabu” yang mengakibatkan warna bulu kuda menunjukkan perkembangan semakin terang dan putih sejalan dengan pertambahan umurnya. Ada pula kuda cremello atau perlino, dengan kulit merah muda dengan bulu putih pudar hingga krem muda. Matanya biru pucat. Surai dan ekor putih atau krem.
Dengan demikian, dalam dunia kuda terdapat dua istilah, yaitu genotip (genetika) dan fenotip (penampakan) “kinantan”. Kuda genetip putih mempunyai genetika yang secara inheren mengakibatkan tubuhnya tidak berpigmen warna. Sementara itu, kuda fenotip putih, yaitu kida berbulu kelabu atau pinto/arau yang berpenampilan bulu putih karena kekurangan pigmen warna tertentu serta mengalami proses penuaan.
Ayam Cemani
Kata “cemani” merupakan serapan dari bahasa Sansekerta dengan usungan makna hitam legam. Dalam kehidupan berbahasa sehari-hari, lebih lazim diberikan kepada ayam. Tidak hanya bulu dan sekujur tubuhnya yang “cemani”. Akan tetapi, juga warna daging dan tulangnya.
Ada hiperpigmentasi yang terjadi. Mutasi genetika (fibromelanosis) yang menjadi biang penyebab produksi melanin. Pigmen yang menimbulkan warna gelap pada bulu, jengger, dan mata, dalam porsi yang berlebih.
Ayam cemani, dengan nama lain ayam kedu atau ayam selasih, merupakan ras ayam asli dari Pulau Jawa. Keberadaan ayam cemani ini konon sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Pada masa lalu, dipelihara untuk keperluan upacara adat atau pengobatan tradisional. Selain itu, dipercaya sebagai pemberi tuah keberuntungan dalam kehidupan keluarga pemeliharanya.
Sementara itu di masa kini, orang cenderung lebih melihat pada keunikan warna ayam cemani. Dikoleksi sebagai ayam hias eksotis dengan keunikan performanya yang serbahitam. Juga bisa untuk diteliti secara ilmiah seperti terkait dengan penjelasan logis mengenai genetikanya. Dikoleksi peternak dan kolektor unggas di seantero jagat raya karena nilai ekonominya yang sangat tinggi. Sampai-sampai dijuluki Chicken Lamborghini. Harganya mahal di pasar internasional.
Warna-Warna Lain
Adapun warna-warna lain, sebut saja kata “bangbang” dengan ciri visual seperti warna daging ikan salmon. Merah keoranyean. Warna “bangbang” juga bisa untuk menyulihi warna salem atau pastel yang merupakan hasil kombinasi dari merah muda (pink) dengan oranye.
Lalu ada warna “dewangga”, yaitu merah kekuning-kuningan. Lalu gandaria (ungu muda mirip bunga lavender), indranila (biru kehijauan atau hijau kebiruan/toska), lazuardi (biru langit). nilakandi (biru tua), kecubung (ungu muda kebiruan), soga (cokelat muda).
Ada pula warna “kelam baja” (abu-abu seperti besi). Warna “ijas”, yaitu merah keungu-unguan yang lebih mirip “ungu tua”. Kemudian ada warna “jerau”, merah tua. Selanjutnya warna “kadru” yang merupakan sinonim cokelat. Juga terdapat warna “kapisa” (cokelat kemerahan).
Deretan khazanah kosakata tentang warna masih dapat diperpanjang lagi dengan “kerak terusi”, hijau keabu-abuan yang kusam. Ada warna “lila”, ungu muda. Lalu ada “mambang kuning”, oranye agak tua atau oranye krom. Ada pula “nusaindah”, putih kehijauan. Ada “turangga”, pucat kekuning-kuningan atau kelabu.
Demikianlah perbincangan tentang warna. Adapun warna itu sendiri merupakan hasil suatu pengalaman visual manakala cahaya memantul dari suatu benda. Pengalaman visual ini melibatkan aspek fisik (cahaya dan pigmen suatu benda), psikologis (penafsiran otak), fisiologis (peran mata dan sistem saraf). ***
.
