Mencermati Nuansa Makna Kata “Seluruh”, “Semua”, dan “Segala”

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan berbahasa sehari-hari, acap kali kita menemukan kata-kata yang sekilas hampir semakna. Namun, membutuhkan pencermatan yang lebih saksama untuk memasukkannya ke dalam konteks yang sesuai. Antara lain, itu terjadi manakala kita menghadapi kata “seluruh”, “semua”, dan “segala”.
Harimurti Kridalaksana dalam buku Kelas Kata Bahasa Indonesia Edisi Kedua (P.T. Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1994) menempatkan kata-kata tersebut ke dalam kategori numeralia tak takrif. Maksudnya numeralia atau kata bilangan yang menyatakan jumlah tidak tentu.
Selain “seluruh”, “semua”, dan “segala”, menurut Harimurti, kata-kata lain yang termasuk kategori ini, yakni “beberapa”, “suatu”, “pelbagai”, “berbagai”, “tiap-tiap”, “segenap”, “sekalian”, “sebagian”.
Fokus pembahasan tulisan ini pada kata “seluruh”, “semua”, dan “segala”. Ada nuansa (perbedaan kecil) yang melingkupi ketiga kata tersebut, sekalipun sepintas hampir mirip.
Kata “Seluruh”
Kata “seluruh” berdasarkan konsep pandangan Harimurti, menduduki fungsi untuk menerangkan nomina (kata benda) sebagai satu keutuhan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring) memiliki contoh yang baik, yaitu “seluruh dunia” dan “seluruh tubuh”.
Numeralia tak takrif “seluruh” yang menerangkan “dunia” dan “tubuh” dalam tautan ini memang menunjukkan satu keutuhan.
Kata “Semua”
Selanjutnya, kata “semua” berlandaskan pendapat Harimurti, menerangkan nomina sebagai jumlah. Dalam hal ini jumlah yang terkesankan banyak. Sebagai numeralia tak takrif, ia tidak mengacu pada bilangan jumlah tertentu.
Contoh dari KBBI VI Daring, “Semua orang menangisi kepergiannya”, hanya mengesankan jumlah orang yang berkabung atas kematiannya tidak sedikit. Sebagai sosok pribadi yang pandai mengambil hati kepada banyak orang, kematiannya banyak yang menyayangkan terjadi begitu cepat.
Contoh lain dari KBBI VI Daring “Karena kelalaiannya, semua penghuni asrama itu kena marah”. Kata “semua” dalam konteks ini pun juga menunjukkan kesan banyak itu.
Kata “Segala”
Terakhir kata “segala”. Merujuk pada pandangan Harimurti, kata ini menerangkan nomina sebagai kumpulan jenis.
Contoh dari KBBI VI Daring, “Sebelum pindah, dia berusaha melunasi segala utangnya”.
Bisa jadi dia sebelum pindah itu, karena dorongan suatu kebutuhan, terpaksa meminjam uang kepada beberapa orang. Karena itu, sebelum pindah, mungkin dari rumah kontrakannya yang lama ke rumah kontrakannya yang baru, dia berusaha melunasi utang-utangnya. Dalam konteks ini kumpulan jenis aktivitas yang dilakukan adalah pembayaran utang.
Contoh lain, “Dengan tekun, dia meneliti teks behuruf Arab tanpa harakat dan berbahasa Melayu dalam segala hikayat yang mengisahkan rosul-rosul”.
Dalam konteks ini, yang menjadi konsentrasi penelitiannya, yaitu teks berhuruf Arab tanpa harakat yang berupa hikayat. Bukan berhuruf Latin. Dan, hikayat itu hanya beberapa yang mengisahkah rasul-rasul saja. Bukan kisah yang lain.
***
