Konten dari Pengguna

Menelisik Penggunaan Kata “Yapping” sebagai Unsur Adopsi dalam Bahasa Indonesia

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penggunaan kata yapping sudah masuk ke ranah jurnalistik terutama media online.(Sumber: Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
Penggunaan kata yapping sudah masuk ke ranah jurnalistik terutama media online.(Sumber: Gemini AI)

Pada abad ke-17, kata yap dalam bahasa Inggris merupakan noun (nomina atau kata benda) yang merujuk pada onomatope atau tiruan bunyi dari gonggongan anjing yang melengking. Selanjutnya pada abad ke-19, makna kata yap berkembang menjadi verb (verba atau kata kerja) dasar yang mengusung makna sebagai kata untuk menirukan gonggongan anjing kecil yang tajam dan sering.

Kemudian, ada penambahan sufiks (akhiran) ing sehingga menjadi yapping sebagai bentuk present participle menekankan bahwa gonggongan itu terjadi secara berulang selama waktu yang relatif panjang. Ini sejalan dengan keberadaannya sebagai bagian dari penanda kala progresif (progressive tenses).

Kata yapping menunjukkan gonggongan itu sedang berlangsung atau berkelanjutan. Seperti pada kalimat “I can hear the dogs yapping outside my window” (Saya dapat mendengar anjing-anjing itu menggonggong di luar jendela rumah).

Ilustrasi gonggongan anjing yang melengking selama waktu yang relatif panjang. (Sumber: Meta AI)

Pada realisasi pemakaiannya, verba ini sering hadir dalam kelas kata nomina lewat pemakaian bentuk gerund. Maknanya pun telah beringsut untuk mendeskripsikan pembicaraan manusia. Merujuk pada obrolan atau perkataan orang yang isinya kurang begitu penting. Sebagaimana tertuang pada contoh kalimat “The yapping in the meeting was distracting” (Obrolan yang tidak jelas di rapat itu mengganggu).

Pertengahan 2023

Kendati kata yapping sudah ada sejak lama, ia baru terevitalisasi dengan kembali menuai popularitasnya pada pertengahan tahun 2023 dalam bahasa gaul (slang) di media sosial, teristimewa TikTok.

Pergeseran makna pun tidak urung telah terjadi. Oleh karena itu, cukup relevan jika dalam tulisan ini, saya mengeksplisitkan penyebutan penanda periode kurun, yaitu sebelum dan sesudah pertengahan tahun 2023.

Sebelum pertengahan 2023, kata yapping jarang muncul dan memiliki konotasi yang kurang positif. Acapkali realisasi pemakaiannya sebagai sindiran terhadap orang yang terlalu banyak bicara dan isi dari pembicaraannya itu tidak penting. Terutama jika orang itu tidak mau berhenti dan apa yang menjadi bahan pembicaraannya cenderung menjemukan.

Selain itu, sebelum pertengahan tahun 2023, pemakaian kata yapping terbatas realisasi pemakaiannya dalam percakapan informal atau lirik lagu. Misalnya lagu “Drunk Text” yang dirilis pada 27 Januari 2023 dengan artis penyanyi Henry Moodie. Dalam lagu tersebut terdapat lirik “I was just yapping on the phone, but he was telling me the truth” (Aku hanya mengoceh di telepon, tapi dia mengatakan yang sebenarnya padaku).

Sesudah pertengahan tahun 2023 hingga dewasa ini, kata yapping menjadi bagian dari budaya pop dan tren digital. Cakupan maknanya menjadi lebih luas. Kini juga meliputi percakapan panjang yang menyenangkan. Awal tahun 2024, penggunaan kata yapping merambah lebih luas. Generasi Z (kelahiran 1997 hingga 2012), penduduk asli digital itu, mulai memakainya dalam konteks artian positif.

Mereka tidak lagi berkubang pada anggapan bahwa yapping itu setali tiga uang dengan tindakan membual (untuk menyebut sisi ekstrem dari penilaian negatif). Hal itu mereka tunjukkan dengan kesadaran menyebut diri sebagai yapping boy atau yapping girl. Mereka mengakui memang tengah berbicara panjang lebar lantaran dorongan antusias terhadap suatu topik, misalnya film, musik, gim, idola.

Kata yapping dalam tarikan penyikapan Generasi Z juga memakainya untuk konteks tindakan yang humoris dan main-main. Mereka cenderung tidak peduli dengan tudingan sarkastik tentang substansi gagasan pembicaraan yang menurut penilaian secara konvensional telah lenyap itu.

Akan tetapi, ketika berkembang di media sosial, justru antusiasme berbicara panjang lebar tentang suatu topik itu merupakan ekspresi semangat yang tercurahkan ke dalam suatu konten obrolan. Dan, mereka mengkreasikannya dengan rasa bangga. Ini bisa jadi merupakan penegasan sisi positif dari penggunaan kata yapping.

Sebagian kreator justru merasa bangga menerima sebutan "yapper" karena mencerminkan kepribadian mereka yang supel dan menghibur audiens, menjadikan istilah ini sebagai identitas diri. Di media sosial, kadang untuk tujuan bercanda, bahkan membentuk personalisasi lewat istilah chatty girl (cewek yang suka banyak omong) dengan tekanan nada yang lebih rileks dan entertain.

Ranah Jurnalistik

Dewasa ini, penggunaan kontemporer kata yapping meliputi pelbagai konteks. Masih juga ada yang mengetengahkannya sebagai sindiran untuk orang banyak berbicara tetapi isinya tidak jelas. Kemudian untuk menghadirkan situasi komedi.

Salah satunya dengan dorongan tren audio di platform seperti TikTok dan memanfaatkan video komedi untuk mengendurkan saraf ketegangan lewat penciptaan efek humor. Dengan demikian tautan makna di media sosial, penggunaan kata yapping bisa muncul dalam konteks lebih santai guna mendeskripsikan obrolan panjang yang menghibur.

Selanjutnya, kata yapping juga tidak jarang muncul dalam perdebatan ringan di kolom komentar media sosial. Demikian pula, sebagai wujud ekspresi diri yang memenuhi standar kriteria kreatif. Dan, menarik lagi kata yapping pun masuk ke ranah jurnalistik.

Sebagai unsur adopsi dari bahasa Inggris, kata yapping masuk dalam kancah aktivitas berbahasa Indonesia dan menegaskan viralitas kehadirannya di media sosial, semacam TikTok, X, dan Instagram, pada kisaran pengujung pungkasan tahun 2024 hingga awal 2025. Selain Generasi Z, tercatat Generasi Alpha (kelahiran 2010 hingga sekitar 2024), juga turut memopulerjanya (tentu yang usianya di kisaran 15-an tahun) dalam ranah bahasa gaul.

Istri saya baru-baru ini menunjukkan lewat handphone-nya judul sebuah artikel di sebuah media online terbitan Yogyakarta yang melibatkan pemakaian kata yapping. Judul itu adalah “Niat ‘Ngadem’ di Taman Kota Semarang, Malah Bertemu Bapak-bapak ‘Yapping’ yang Bikin Hati Nelangsa”.

Judul panjang yang relatif dapat ditoleransi oleh kebanyakan media online yang tidak terlalu dipusingkan oleh keterbatasan space. Namun bukan maksud saya untuk mengomentari soal betapa panjang judul artikel tersebut. Intinya, realitas ini menjadi salah satu bukti yang tidak terbantahkan bahwa bahasa jurnalistik pun membuka pintu yang lebar terhadap unsur adopsi kata yapping tersebut.

Berita atau artikel di media online lainnya juga ada yang mengetengahkan judul-judul yang melibatkan kata yapping. Ada yang memasang berita bernada kritik, seperti “Konten Kreator Dituding Terlalu Banyak ‘Yapping’ soal Politik, Netizen Minta Langsung ke Inti” atau “Duduk Perkara ‘Yapping’ dan ‘Loud Budgeting’ yang Sedang Populer di TikTok”.

Ada pula judul-judul di media online yang mengupas fenomena sosial atau tren, sebagaimana terasa isyaratnya dari ancangan titel tulisan “Fenomena ‘Yaping’ di TikTok: dari Ocehan Lucu hingga Sindiran Menohok” atau “Mengapa Istilah ‘Yapping’ Menjadi Tren Baru di Kalangan Anak Muda?”.

Selain itu, ada judul-judul yang menjanjikan suguhan tentang situasi yang spesifik, antara lain tampak pada tawaran kepalaan berita atau artikel: “Sesi ‘Yapping’ Jadi Kunci Podcast Viral, Pengisi Acara Harus Pandai Bercerita”. Atau, “Tak Hanya Manusia, Video ‘Yapping’ Anjing Juga Terus Menjadi Viral di Media Sosial”.

Kata yapping semakin menegaskan diri sebagai unsur adopsi dalam bahasa Indonesia. (Sumber: Gemini AI)

Terdapat pula berita atau artikel dengan judul-judul yang memberikan sumbangan mengenai hal-hal yang bersifat kreatif dan humoris. Sebagaimana tampak pada judul dengan warna opini yang “anak muda banget”, yaitu “Setiap ‘Yapping Girl’ Butuh ‘Listener Boy’: Mitos atau Fakta?”.

Nah, sulit untuk tidak mengatakan, bahwa ini fakta unik kata dari bahasa gaul (slang) yang mampu secara fleksibel berterima dalam bahasa ragam jurnalistik. ***

.