Mengenal “Godong”; Ruang Bawah di Rumah Panggung

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Senin (26/5/2025). Lagi-lagi berkat bermain gim tebak kata. Saya menemukan kata “godong”. Kata ini segera mengingatkan saya dengan kata “godhong” dalam bahasa Jawa yang berarti “daun”.
Namun setelah saya cermati, ternyata kata tersebut tidak dimaknai demikian sebagaimana tampak pada hasil tebakan.
Lalu saya kroscek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring). Untuk memastikan apakah ia merupakan bentuk polisemi, yang memiliki lebih dari satu makna. Ternyata tidak.
Kata “godong” ternyata lebih pas dirunut keberasalannya dari bahasa Minahasa. Para penuturnya Suku Minahasa di Sulawesi Utara. Artinya “ruang di bawah lantai rumah panggung”.
Fungsi Godong
Ada dua kategori fungsi “godong” di rumah panggung. Fungsi utamanya untuk gudang tempat menyimpan hasil panen, seperti padi atau jagung. Selain itu, juga merupakan tempat penyimpanan alat-alat pertanian.
Selain fungsi utama, “godong” juga memiliki fungsi tambahan. Antara lain untuk tempat menjamu tamu. Atau, untuk aktivitas sehari-hari pada beberapa jenis rumah adat panggung.
Rumah Adat Walewangko
“Godong” terdapat di rumah adat Walewangko di Minahasa, Sulawesi Utara. Biasanya tiang penyangga atau penopang rumah berbentuk panggung ini terbuat dari kayu ulin yang kokoh, kuat, dan tahan lapuk. Demikian pula dengan material bangunan yang lain.
“Godong” merupakan bagian bawah dari rumah adat Walewangko. Fungsi utamanya untuk penyimpanan hasil panen dan alat-alat pertanian. Adapun fungsi tambahannya untuk aktivitas keseharian.
Sementara itu, bagian atas untuk tempat tinggal. Adapun bagian-bagiannya, yaitu “lesar”. Bagian depan rumah tanpa dinding. Merupakan ruang utama untuk pertemuan adat.
Bagian berikutnya adalah “sekay”. Serambi, ruangan dengan dinding, untuk menerima tamu dan melangsungkan upacara adat. Ada pagar berukir di serambi. Desain simetris, dilihat dari arah depan.
Ada pula bagian “pores”, ruang untuk menjamu tamu dan tempat aktivitas keluarga.
Terdapat kepercayaan berdasarkan tuntunan adat, dua tangga di sisi kanan dan kiri, dapat mengusir roh jahat yang berniat mengganggu ketenteraman, kenyamanan, dan kebahagiaan para penghuni.
Rumah Adat Bola Ugi
Bila di rumah adat Walewangko dikenal “godong”, maka di rumah adat Bola Ugi, rumah tradisional Suku Bugis, Sulawesi Selatan disebut “passiringan” atau “awase”.
Sebagaimana “godong”, “passiringan” ini juga terletak di bagian bawah rumah panggung. Fungsinya untuk menyimpan alat pertanian, kandang ternak bagi mereka yang bermatapencarian petani.
Sementara itu bagi masyarakat nelayan, “godong” atau “passiringan” berfungsi pula untuk tempat menyimpan perahu dan peralatan seoerti jaring untuk menangkap ikan.
Ciri khas yang menonjol pada rumah adat Bola Ugi, yaitu rumah panggung dari kayu yang berbentuk persegi panjang dan atapnya mirip pelana. Tiang-tiang tinggi menjadi penopang.
Rumah Bola (untuk rakyat biasa) dan rumah Saoraja (untuk bangsawan) , dengan material kayu yang kokoh, pembangunannya tidak menggunakan paku, tetapi terpasak dengan besi atau kayu.
Selain “godong” atau “passiringan” tadi, rumah adat Bugis mempunyai sejumlah bagian, seperti “watangmpola” untuk ruang hunian, menerima tamu, berkumpul dengan keluarga, beristirahat dan “rakkeang”, ruang untuk menyimpan pusaka dan makanan.
Ada makna simbolis yang terkandung pada rumah adat Bugis. “Godong” atau “passiringan” yang merupakan bagian bawah (awa bola) merupakan simbol kaki.
Kemudian bagian tengah (ale bola) yang antara lain ada “watangmpola” dan “rakkeang” merupakan simbolisasi dari tubuh. Serta, atap rumah mirip pelana adalah kepalanya. ***
