Konten dari Pengguna

Menimbang Tiga Perspektif Dugaan Etimologi Kata “Tokcer”

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pencermatan kata "tokcer" berdasarkan tiga perspektif dugaan etimologi. (Sumber: Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pencermatan kata "tokcer" berdasarkan tiga perspektif dugaan etimologi. (Sumber: Gemini AI)

Kata “tokcer” lebih sering muncul dalam ragam cakapan. Situasi berbahasa yang tidak formal. Dalam konversasi keseharian antarteman. Atau, juga relatif pas muncul saat obrolan ringan bersama keluarga. Frekuensi pemakaiannya lebih relevan muncul sebagai bahasa lisan. Bisa juga menjadi bahasa lisan yang dituliskan seperti dalam percakapan di WhatsApp.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring) menyebutkan tiga makna tergantung pada konteks kalimat masing-masing. Kata “tokcer” bisa bermakna baik atau bagus misalnya tentang kondisi mesin mobil atau motor. Misalnya dalam kalimat, “Wah, meski sudah puluhan tahun, mesin motor buntut itu masih tokcer”.

Khasiat kemanjuran atau kemujaraban suatu obat dapat diekspresikan dengan kata “tokcer”. Seperti pada contoh kalimat “Sudah lama aku coba berbagai obat untuk penyakitnya, hanya obat ini yang tokcer”. Adapun makna selanjutnya, bisa merujuk pada kondisi fertilitas (kesuburan mendapatkan keturunan) dari seseorang.

“Selamat ya, kamu memang tokcer, baru tiga bulan menikah, kini sudah berhenti datang bulan,” tulis seorang kakak perempuan kepada adik perempuannya yang baru saja menikah dan telah menunjukkan tanda-tanda kehamilan di sebuah pesan japri WhatsApp. Ini ucapan selamat yang sangat personal.

Demikian kisaran makna yang diemban kata “tokcer”. Nah, yang menarik lagi dari kata ini ternyata bukan kata asli bahasa Indonesia. Dengan demikian, ia merupakan kata hasil serapan. Setidaknya ada tiga perspektif dugaan etimologi.

Ada yang menengarai, ia hasil serapan dari bahasa Jawa. Ada pula yang mengeklaim, asalnya dari bahasa Hokkien (salah satu dialek bahasa China). Dan, ada lagi yang menyebut sebagai hasil serapan dari bahasa Belanda.

Bahasa Jawa

Tulisan beraksara Jawa di bagian belakang delman. (Sumber: Shutterstock)

Berdasarkan Perspektif Dugaan Etimologi dari Bahasa Jawa, kata “tokcer” hadir sebagai bentuk adopsi. Dalam artian, struktur huruf bahasa serapan (Jawa) sama persis dengan bahasa penerima (Indonesia). Dugaan etimologi ini berangkat dari beberapa pertimbangan yang menguatkan.

Pertimbangan yang paling awal, bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang paling banyak penuturnya. Sedikitnya 80 juta atau 42% penduduk Indonesia menggunakan bahasa ini baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak kosakata bahasa Jawa banyak yang terbawa arus penyerapan ke dalam bahasa Indonesia.

Pertimbangan berikutnya, terdapat kata bahasa Jawa, seperti “tokcer”, yang mempunyai makna unik serta tidak gampang mendapat padanan pada kata lain dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, sifat penyerapannya lebih dekat dengan pengadopsian, pengambilan total dengan mempertahankan struktur huruf dan keutuhan maknanya.

Dalam bahasa Jawa pun, konteks penggunaan kata “tokcer” juga dalam situasi kebahasaan yang informal. Lebih banyak mengisi ruang konversasi sehari-hari yang lebih santai. Terutama menjadi bagian komunikasi yang akrab di kalangan anak-anak muda. Pernah ada masanya kata ini populer di kalangan mereka.

Contoh pemakaian, seperti “Motor iki yen ditumpaki tokcer, ora nate rewel” (Motor ini kalau dipakai tokcer, tak pernah rusak) atau “Foto pepujaning ati kuwi yen disawang tokcer tenan, isa nambani penyakit malarindu tropikangen” (Foto sang pacar itu jika dipandangi tokcer sekali, bisa menyembuhkan penyakit malarindu tropikangen).

Kata “tokcer” memang tidak terdapat dalam khazanah kosakata bahasa Jawa Kawi (Kuno) ataupun bahasa Jawa Modern yang standar alias baku. Keberadaannya dalam bahasa Jawa, lebih dekat ke modern, tetapi lebih lazim muncul dalam situasi konversasi pergaulan sehari-hari yang tidak formal. Sangat bisa jadi kata “tokcer” dalam bahasa Jawa adalah hasil pertukaran pengaruh dengan bahasa Melayu.

Bahasa Hokkien

Lampion-lampion bertuliskan aksara China. (Sumber: Shutterstock)

Beracu pada Perspektif Dugaan Etimologi dari Bahasa Hokkien, asal penyerapan kata “tokcer” dalam bahasa Indonesia adalah kata "tok-chiah" (脫 絎). Makna semula dalam bahasa sumber serapan, merujuk pada sesuatu yang lolos atau terlepas secara gampang.

Dalam realisasi penyerapannya mengalami adaptasi dari aksara Hanzi ke Latin serta terdapat adaptasi fonetis, terutama perubahan dari bunyi /chiah/ menjadi /cer/. Serta, sedikit pergeseran makna hingga menjadi “bagus” (mesin motor/mobil), “manjur” (khasiat obat), “kesuburan mendapat keturunan”.

Faktor yang mendukung Perspektif Dugaan Etimologi dari Bahasa Hokkien ini, karena sebagai salah satu dialek bahasa China yang semula masyarakat penuturnya terkonsentrasi di Provinsi Fujian, banyak di antara mereka yang pada kemudian hari menjadi diaspora di Indonesia.

Dengan demikian, tidak sedikit kosakata dari bahasa Hokkien yang terserap dan mengalami adaptasi fonetis ke dalam bahasa Indonesia. Dan, kata “tokcer” yang konon diserap dari ”tok-chiah” (脫 絎) termasuk salah satu di antaranya. Contoh lain, kata “lumpia” yang diserap dari kata "lūn-piáⁿ” (潤餅), kata “bakpau” dari “bah-pau” (肉包), “angpau” dari ”âng-pau” (紅包/红包).

Namun, sesungguhnya memang tidak ada catatan resmi yang dengan eksplisit mengaksentuasikan suatu konfirmasi mengenai adanya adaptasi fonetis dari “tok-chiah” (脫 絎) menjadi “tokcer”. Perlu ada penelitian yang relevan untuk membuktikan kebenaran klaim Perspektif Dugaan Etimologis dari bahasa Hokkien terhadap kata “tokcer” ini.

Klaim penutur bahasa Hokkien yang menjadi diaspora di Indonesia, tentang kata “tokcer” merupakan serapan dari bahasa mereka, memang perlu sentuhan penelitian yang lebih intim lagi. Perlu penelitian soal sejarah kata “tok-chiah” menghampiri dan memberikan warna pengaruh dan mengalami akomodasi fonetis menjadi “tokcer” dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Belanda

Panorama bangunan kincir angin saat sang mentari terbit di Negeri Belanda. (Sumber: Shutterstock)

Menurut Perspektif Dugaan Etimologi dari Bahasa Belanda, kata “tokcer” merupakan serapan dengan akomodasi fonologi “top zeker”. Kata “top” dan “zeker” bisa saja ada dalam satu kalimat secara tidak berurutan, seperti “Ik weet zeker dat hij top is in zijn werk” (Saya yakin lelaki itu yang terbaik dalam pekerjaannya).

Sebagai gabungan kata “top zeker” juga lazim muncul dalam kalimat bahasa Belanda. Contoh “Die nieuwe film is top zeker een aanrader, ik vond hem geweldig” (Film baru itu top sekali, saya sangat menyukainya). Atau kalimat “Deze taart is top zeker de lekkerste die ik ooit heb geproefd” (Kue ini top sekali dan yang paling enak yang pernah saya makan).

Contoh lainnya lagi yang menunjukkan adanya peran serta gabungan kata “top zeker”, yaitu “De service in dit hotel is top zeker” (Pelayanan di hotel ini bagus sekali). Atau, seperti yang ditunjukkan oleh kalimat “Dat is top zeker een goed idee”(Itu baik sekali dan ide yang bagus).

Perubahan yang tampak jelas, dari semula merupakan gabungan dua kata “top” dan “zeker” menjadi hanya satu kata: “tokcer”. Ini masuk dalam kategori penyederhanaan pengucapan. Proses akomodasi fonetis lainnya, yaitu pengubahan fonem /p/ pada kata “top” dengan /k/.

Adaptasi fonetis selanjutnya, meliputi penghilangan fonem /z/ dan penyesuaian fonem /ei/ pada /zeker/ menjadi /e/ yang lebih umum pengucapannya dalam kata bahasa Indonesia. Demikianlah proses penyerapan dari bahasa serapan (Belanda) yang semula merupakan gabungan dua kata “top” dan “zeker” menjadi satu kata dalam bahasa penerima (Indonesia), yakni “tokcer”.

Sementara itu, dalam bahasa Indonesia dialek Medan, kata “tokcer” dilafalkan dengan “topcer”. Ada upaya mempertahankan fobem /p/ pada kata "top" dan tidak menggantinya dengan fonem /k/. Seperti tampak pada kalimat-kalimat: “Film yang kau bilang itu topcer kali, sumpah!”; “Sepedanya si Budi topcer, laju kali ditariknya”; “Kopi ini topcer kali, bah! Bikin melek mata”. ***