Menyelisik Senyuman Simpanse, Anjing, dan Kucing
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bicara soal binatang bisa tersenyum. Tentu pikiran kita akan segera berkelebat ke simpanse. Menurut runutan studi, primata satu ini dapat menunjukkan wajah tertawa dengan mulut terbuka (open - mouth face) mirip manusia.
Kerap tanpa suara atau dengan suara terengah-engah. Tertawa dalam hal ini, yaitu menyeringai atau memperlihatkan gigi atau mulut terbuka.
Bila simpanse bisa tertawa, maka tentulah binatang tersebut juga bisa tersenyum. Terdapat anggapan, bahwa tersenyum merupakan bentuk ekspresi yang lebih ringan daripada tertawa.
Adalah Dr. Marina Davila-Ross bersama timnya dari University of Portsmouth Britania Raya telah melakukan penelitian tentang ekspresi senyum diam pada simpanse.
Hasil penelitian itu terpaparkan dalam artikel bertajuk “Chimpanzees (Pan troglodytes) Produce the Same Types of 'Laugh Faces' when They Emit Laughter and when They Are Silent”. Dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Internasional Plos One Volume 10, Edisi 6, pada 10 Juni 2015.
Penelitian ini merekam 46 ekor simpanse ketika bermain secara spontan di Chimfunshi Wildlife Oephanage, Zambia. Para peneliti itu menganalisis gerakan mikro wajah primata bernama Latin Pan troglodytes itu dengan menggunakan sistem pengkodean ChimpFACS.
Temuan utama dari penelitian tersebut, terbukti simpanse mampu memperlihatkan 14 konfigurasi ekspresi wajah terbuka (“wajah tertawa”) yang relatif sama. Hal itu terjadi ketika mengeluarkan suara tawa. Ataupun, ketika melakukannya secara diam tanpa suara (senyap).
Ekspresi senyum diam itu terjadi manakala mereka bermain. Gerakan wajah para simpanse sedemikian sangat fleksibel. Dan, mempunyai kemiripan dengan gerakan otot wajah manusia manakala sedang tersenyum.
Senyuman atau tawa pada simpanse biasanya menghiasi wajah mereka tatkala tengah menjalani interaksi sosial. Mereka memanfaatkan isyarat tubuh, sentuhan, pelukan, atau serudukan kepala sebagai komunikasi saling menyapa, memulai interaksi, dan berucap selamat tinggal tatkala mengakhiri suatu aktivitas dalam interaksi sosial.
Senyum dan tawa simpanse itu manakaka mengekspresikan kegembiraan saat bermain dengan kelompoknya. Konon simpanse di habitatnya hidup dalam kelompok sosial yang kompleks bergaya pecah - gabung (fission - fusion) yang terdiri atas 15 hingga 150 ekor.
Senyum dan tawa simpanse merupakan ekspresi yang menunaikan fungsi guna memperkokoh hubungan. Dan, sekaligus untuk menunjukkan suasana hati positif yang tengah memberada di hati mereka.
Berbagai studi menunjukkan, simpanse dapat memperlihatkan mimik wajah berupa senyuman tanpa suara ataupun tertawa (bisa bersuara, bisa tanpa suara) manakala berkomunikasi dalam situasi sosial tertentu. Senyuman simpanse itu mirip seperti cara manusia tersenyum.
Senyuman Anjing
Sementara itu, anjing (Canis lupus familiaris) kerap tampak “tersenyum” dengan membuka mulut dan menjulurkan lidah (Relaxed Open Mouth) ketika berinteraksi dengan manusia.
Berdasarkan pendapat para ahli, perilaku ini adalah respons yang terjadi karena adanya pembelajaran untuk menyapa manusia dan bukan ekspresi naluriah murni.
Para ahli etologi, cabang ilmu biologi yang mencermati tingkah laku hewan, mekanisme di baliknya, dan faktor-faktor yang menghunjamkan pengaruh di lingkungan alaminya.
Adapun istilah Relaxed Open Mouth, pada awalnya menemukan bentuk pendokumentasian dan penganalisisan dalam studi perilaku karnivora dan canid dari sejumlah etolog tersohor, seperti Michael W. Fox (1970) dan Marc Bekoff (1995).
Relaxed Open Mouth di dalam jurnal-jurnal perilaku veteriner (veterinary behavior) dan etologi, mengacu pada ekspresi wajah spesifik, ketika mulut hewan terbuka secara santai tanpa sertaan ketegangan otot wajah atau terdapat niatan untuk menggigit secara agresif.
Dengan demikian, Relaxed Open Mouth berada di dalam ranah identifikasi suatu ekspresi visual guna menandakan intensitas emosi positif yang kalem, ada tanda non agresif, dan ajakan untuk bermain (play-pant).
Penjelasan ilmiah tentang otot moncomg yang relaks, mulut sedikit terbuka, dan lidah yang menjulur di atas gigi bawah sebagai analogi senyuman memantik ketertarikan para pakar perilaku hewan untuk meninjau lebih mendalam.
Antara lain dalam komunikasi visual canine body language (canid) yang jamak menjadi panduan klinis para dokter hewan dan behavioris untuk mengevaluasi status emosi positif pada anjing.
Tersebutlah Dr. Stanley Coren, pakar behavioris anjing, profesor psikologi, dan penulis berkebangsaan Amerika Serikat - Kanada. Dia menghabiskan sebagian besar karirnya di University of British Columbia, Kanada.
Artikelnya “Do Dogs Smile?” yang terpublikasikan pada 5 Februari 2025 pada rubrik blog Canine Corner di Psychology Today memperkuat pandangan pada uraian terdahulu.
Bahwa ekspresi mulut relaks dan sedikit terbuka dengan lidah terjulur di atas gigi bawah merupakan indikator klinis anjing berada dalam kondisi nyaman, tenang, dan tidak mendeteksi adanya ancaman.
Kemudian, Dr. Christopher Pachel asal Amerika Serikat. Peraih gelar Doctor of Veterinary Medicine (DVM) dari University of Minnesota pada 2002 ini, dalam artikel ilmiahnya di Reader's Digest yang bertajuk “Dog Smiling Decoded, According to Pet Experts”, menjelaskan ulasan klinisnya tentang dua tipe.
Pertama, Soft, Relaxed, Open - Mouth. Ini mengusung penanda bahwa anjing tengah merasa santai, senang, atau berada dalam sentuhan suasana hati yang ramah. Acapkali menerima sebutan sebagai “senyuman” anjing.
Kedua, Closed - Mouth atau Tense Mouth. Itu yang menandakan anjing sedang berada pada posisi waspada, fokus, stres, atau tengah mengevaluasi situasi di sekitarnya. Manakala mulut anjing menutup rapat secara mendadak, ini indikator beralih ke posisi siaga.
Bila muatan ketegangan pada mulut tertutup kian meningkat, maka ekspresinya dapat berlanjut dengan menarik bibir ke belakang (snarling) dan memperlihatkan gigi (bared teeth) yang memperlihatkan adanya ancaman agresi.
Pemetaan klinis karakteristik otot wajah juga menggunakan Dog Facial Action Coding System (DogFACS), kerap menemukan bentuk publikasi di jurnal ilmiah, seperti MSPI Animals atau PubMed Central (PMC). Kajian yang muncul biasanya terkait dengan studi tentang emosi dan kesejahteraan hewan.
Sistem demikian mengakuratkan perlainan kontras antara “ketegangan otot mulut tatkala anjing stres atau terengah-engah karena panas” dan “otot mulut yang benar-benar relaks manakala mereka merasa bahagia”.
Terdapat sejumlah penelitian ilmiah yang mendapatkan ruang publikasi di berbagai jurnal ternama mengenai bagaimana anjing “tersenyum” dan bagaimana hewan itu merespons senyuman manusia.
Menurut perspektif sains, fenomena “tersenyum” pada anjing dapat menerima penyaksamaan dari dua arah. Dari ekspresi fisik anjing itu sendiri. Dan, cara otak anjing itu merespons senyuman manusia.
Para ilmuwan perilaku hewan mengemukakan, ekspresi wajah anjing yang mendapat identifikasi analog senyuman manusia, sesungguhnya mengemban fungsi komunikasi berbeda.
Seperti sudah terpapar pada uraian terdahulu, bisa merupakan ekspresi santai (Relaxed Open - Mouth Expression). Berpijak pada kutipan penjelasan klinis dalam jurnal veteriner, tatkala anjing membuka mulutnya sedikit dengan otot moncong relaks dan lidah terjulur, itu tanda kondisi emosi positif yang tenang. Ini kerap mendapat interpretasi sebagai senyuman.
Bisa pula mewujud sebagai senyum tunduk (Submissive Grin). Penelitian perilaku binatang menunjukkan, anjing tidak jarang menarik bibirnya ke belakang hingga mempertampakkan giginya.
Berlainan dari ekspresi agresif, “senyuman” ini lazimnya memperoleh imbuhan serta gestur tubuh patuh. Ini bentuk perilaku peredam konflik (appeasement) yang hampir selalu mereka tujukan kepada manusia, bukan sesama anjing.
Bisa juga dalam konteks bermain (Play Face). Alkisah ada artikel ilmiah “Dogs and humans respond to emotionally competent stimuli by producing different facial actions” jerih susunan Cátia Correia - Caeiro, Kun Guo, dan Daniel Mills di Jurnal Scientific Reports Volume 7, Edisi 1, Tahun 2017.
Artikel ilmiah bernomor 15525 itu antara lain mengemukakan, anjing menampilkan ekspresi yang menyerupai senyuman, yaitu mulut terbuka lebar, teristimewa manakala sedang mengajak kawan-kawannya sesama anjing bermain. Atau, ekspresi serupa muncul tatkala anjing tengah berinteraksi dengan majikannya.
Hasil penelitian University of Portsmouth di bawah pimpinan Dr. Juliane Kaminski, yang hasilnya tertuang dalam artikel “Human attention affects facial expressions in domestic dogs “ dimuat di Scientific Reports, Volume 7, Edisi 1, Tahun 2017).
Artikel ilmiah bernomor 12781 tersebut menemukan fakta, bahwa wajah anjing ternyata jauh lebih ekspresif manakala mereka mengetahui manusia sedang melihat ke arah mereka.
Selama ribuan tahun anjing mengalami proses domestikasi. Proses bertahap tatkala manusia menguasai dan mengendalikan reproduksi, perilaku agar dapat beradaptasi guna hidup berseiring jalan dan memanfaatkannya. Hal itu telah mengembangkan otot wajah khusus, seperti mengangkat alis bagian dalam, supaya bisa berkomunikasi lebih baik dengan manusia.
Penelitian neurosains termutakhir menyuguhkan temuan menarik mengenai bagaimana anjing memproses senyuman manusia. Studi yang terpublikasikan di Jurnal iScience (Elsevier) dengan memfaedahkan pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang menampilkan gambaran struktur anatomi organ dan jaringan tubuh (seperti bentuk otak, otot, atau tulang).
Atau, memfaedahkan functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) yang menghadirkan struktur sekaligus memetakan aktivitas fungsi organ (biasanya otak) secara langsung dengan mendeteksi perubahan aliran darah ketika bagian otak tersebut sedang bekerja.
Saat anjing-anjing itu melihat foto manusia tersenyum, bagian otak mereka, yaitu caudate nucleus (pusat penghargaan dan kesenangan, berkat pemindaian fMRI dapat langsung tampak aktif. Efek melihat senyuman manusia ini setara dengan ketika mereka menerima pujian atau makanan.
Jurnal Current Biology dan Biology Letters juga memuat artikel hasil penelitian yang membuktikan, betapa anjing mempunyai kemampuan kognitif kuat untuk membedakan ekspresi wajah manusia, apakah senang (tersenyum), sedih, atau marah.
Tersenyum ala anjing sesungguhnya adalah produk evolusi sosial mereka yang bergerak ke arah tujuan untuk menyenangkan manusia. Kemudian memperlihatkan sikap tunduk dan patuh yang penuh kedamaian. Serta, ekspresi mereka karena merasa aman bahagia.
Senyuman Kucing
Sementara itu, kucing memahami menyipitkan mata dan berkedip perlahan (slow blink) merupakan bentuk senyuman, tanda keramahan, dan ungkapan kepercayaan. Gerakan ini adalah satu di antara komunikasi visual yang positif antara manusia dan kucing.
Konfirmasi fenomena senyuman kucing ini tertuang dalam hasil penelitian para psikolog dari University of Sussex dan University of Portsmouth di Britania Raya. Tepatnya dalam artikel “The role of cat eye narrowing movements in cat – human communication” (nomor 16503) jerih penyusunan Tasmin Humphrey, Leanne Proops, Jemma Herrera, Paul Graham, dan Karen McComb.
Artikel di Jurnal Scientific Reports Volume 10 Tahun 2020 itu mengemukakan, kucing tidak tersenyum dengan menunjukkan gigi. Di dunia mereka, menatap tajam dengan tanpa berkedip, merupakan ancaman atau tantangan dominasi.
Sebaliknya, menyipitkan mata dan berkedip perlahan merupakan cara untuk menunjukkan datang dengan damai, tidak ada niatan untuk menyerang.
Bila kucing menutup atau menyipitkan mata setengah terpejam dengan perlahan selama satu atau dua detik, kemudian membukanya kembali, maka gerakan ini adalah ciuman kucing (cat kiss) yang menunjukkan kasih sayang dan rasa percaya yang besar terhadap manusia.
Selanjutnya ketika mata kucing menyipit relaks (squinting). Saat hewan bernama Latin Felis silvestris catus itu berada di dekat manusia dengan mata setengah terpejam atau sayu (misalnya saat menerima elusan), itu menunjukkan, kucing tersebut merasa sangat aman, nyaman, dan tidak merasakan adanya ancaman.
Para pakar perilaku hewan berpegang pada pandangan, ekspresi yang mendekati “senyuman” kebahagiaan pada kucing, yaitu ekspresi mata yang sayu, tenang, dan berkedip perlahan (slow blink).
Kemudian suara mendengkur (purring) yang lembut saat menerima elusan. Posisi ekor tegak lurus ke atas dengan ujung relaks. Dan, melakukan gerakan pada kedua kaki depannya seperti memijat (kneading) ke permukaan empuk atau tubuh manusia.
Hasil penelitian membuktikan, saat manusia melakukan slow blink terlebih dahulu, kucing cenderung merespons dengan kedipan perlahan pula. Kucing itu pun jauh lebih relaks, ramah, dan lebih mau mendekati manusia. Bahkan, terhadap manusia yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya.
Penelitian ilmuwan membuktikan, membalas kedipan pelan kucing, menyebabkan binatang itu menganggap manusia yang melakukannya sebagai sosok nan ramah. Ekspresi itu dapat menyebabkan, baik kucing yang sudah maupun belum pernah bertemu, lebih mungkin mendekat dan menerima kehadiran manusia.
Terdapat pandangan yang memaparkan, teknik kedipan mata perlahan realisasi penerapannya sangat efektif untuk kucing jalanan. Sebab, menunaikan fungsi sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang mengusung kedamaian, ketiadaan ancaman, dan keberadaan rasa aman.
Bagi kucing yang sebelumnya tidak mengenal kita atau kucing jalanan, teknik ini menyulihi ekspresi sebagai “senyuman” dalam bahasa manusia. Teknik kedipan perlahan dapat menurunkan tingkat stres kucing dengan drastis.
Menatap dengan tajam (staring) adalah tanda konfrontasi, tantangan berkelahi, atau perilaku berburu (predator). Manakala kita menatap kucing dengan cara demikian, binatang itu akan merasa terancam.
Sebaliknya dengan melakukan kedipan perlahan, kita memutus kontak mata intens tersebut dan memperlihatkan sikap bahwa kita tidak akan menyerang kucing asing itu.
Bagi kucing jalanan, menutup mata di depan makhluk lain memerlukan dukungan kepercayaan yang besar. Sebab, ketika mata tertutup (walau hanya sejenak), kondisi bisa menjadi situasi rentan (mendapat serangan).
Ketika kita melakukan kedipan perlahan, itu seperti kiriman pesan kepada sang kucing, “Aku merasa aman di dekatmu, sehingga kamu pun aman di dekatku.”
Kucing jalanan terbiasa berada dalam mode waspada tinggi. Berdasarkan penelitian psikologi hewan, kedipan perlahan dari manusia dapat menurunkan detak jantung dan menyebabkannya lebih relaks.
Cara melakukan dengan benar. Posisi tidak terlalu mendominasi, misal seraya berjongkok. Tatap mata kucing dengan lembut. Sipitkan mata kita secara perlahan, lalu tutup mata selama satu atau dua detik. Buka mata kembali dengan sangat lambat.
Alihkan pandangan sedikit agar kucing tidak merasa mengalami tekanan. Tunggu apakah kucing itu merespons atau mulai mendekat. Atau, setidaknya tatapan matanya lebih relaks (soft eyes).
Manakala sinyal visual yang menenangkan itu berada dalam ranah penerimaan otak kucing, sistem saraf binatang tersebut bakal meminimalisasi produksi hormon stres (kortisol), sehingga dapat memicu respons emosional lebih positif. Kucing melakukan pendeteksian sinyal ini sebagai indikasi bahwa kita bukan ancaman bagi keselamatannya.
Kucing merupakan hewan yang sedemikian menghargai kendali atas wilayah dan keselamatannya. Kedipan perlahan adalah cara berkomunikasi dari jarak yang aman tanpa melakukan pelanggaran pada batas ruang personal (personal space) si kucing.
Berbanding dengan langsung mendekati atau berupaya menyentuh yang justru dapat memicu respons fight or fight, kedipan perlahan mempersembahkan waktu bagi kucing untuk menilai kita apakah berbahaya atau tidak baginya.
Studi ilmiah dari Oakland University yang tertuang dalam artikel “Man's other best friend: domestic cats (F. silvestris catus) and their discrimination of human emotion cues” (Jurnal Animal Cognition Volume 19, Edisi 1, Tahun 2016) hasil penyusunan Moriah Galvan dan Jennifer Vonk, menunjukkan bahwa kucing berperilaku positif.
Bisa sekadar mendekat, bisa dengan memperdengarkan suara dengkuran, atau bisa pula dengan menggosokkan kepala dan tubuhnya) ketika orang yang berada di depannya (pemiliknya) tersenyum.
Dan, kucing cenderung tidak memperlihatkan perilaku positifnya itu, ketika orang yang berada di dekatnya itu mempertontonkan raut wajah yang mengernyit atau dalam suatu ekspresi tegang.
Dengan demikian, hal ini membuktikan adanya kemampuan kucing membaca dan merespons emosi yang menampak pada wajah pemiliknya atau orang lain yang kebetulan bertemu dengannya.
Kucing rumahan sangat mungkin mempertalikan senyuman sang pemilik dengan situasi yang menyenangkan atau stimulus pemberian perhatian.
Kucing lebih memahami “senyuman” khas yang biasa mereka lakukan dengan sesama kucing, yakni menyipitkan mata dan berkedip perlahan. Riset pun mengangsurkan bukti, gestur ini menyebabkan kucing merasa dirinya nyaman dan aman. ***

