Menyimak Etimologi Kata “Gratis”

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata “gratis” tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat penutur bahasa Indonesia. Ia sering digunakan dalam berbagai konteks penggunaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring), dalam kelas adjektiva (kata sifat) memiliki padanan makna dengan “cuma-cuma” alias “tidak dipungut bayaran”.
Sementara itu, dalam ragam cakapan tersedia kata “gratisan” yang semakna dengan “gratis”. Dalam realisasi penggunaan bahasa sehari-hari, tampaknya kedua kata tersebut lebih populer daripada “cuma-cuma”. Mungkin karena struktur hurufnya yang lebih pendek, sehingga terasa lebih praktis dalam pengucapan dan penulisannya.
Kemudian bentukan kata yang sudah mengalami proses afiksasi, berdasarkan istilah kamus adalah sublema, selain “gratisan” tadi ada pula tersedia “menggratiskan”. Menjadikan gratis. Contoh kalimat “Karena kebaikan hati pemuda itu menolong anak gadisnya dari percobaan rudapaksa sekelompok berandal, pemilik hotel berbintang itu menggratiskan sewa kamar untuk pemuda tersebut”, kiranya dapat lebih mempertegas pemahaman.
Dari Bahasa Belanda dan Spanyol
Kata “gratis” diserap ke dalam khazanah perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia lewat bahasa Belanda. Penulisannya dalam bahasa Belanda adalah “gratis”, sedangkan pengucapannya /ɡracɪs/. Misalnya dalam kalimat “De oude man kreeg gratis eten” (Lelaki tua itu mendapatkan makanan gratis).
Kata “gratis” dalam bahasa Belanda diserap dari bahasa Spanyol. Struktur penulisannya pun sama, yaitu “gratis”, dan pengucapannya dengan penekanan pada suku pertama /ˈɡɾatis/. Bila contoh kalimat tentang lelaki tua yang mendapatkan makanan gratis di paragraf atas boleh berlanjut, maka pengalimatannya dalam bahasa Spanyol adalah “El anciano recibió comida gratis”.
Ketiga bahasa tersebut, yaitu Indonesia, Belanda dan Spanyol, memasukkan kata “gratis” dengan variasi pengucapan yang berbeda. Akan tetapi, struktur penulisannya sama baik ketika bahasa Indonesia mengadopsinya dari bahasa Belanda maupun tatkala bahasa Belanda mengambilnya dari bahasa Spanyol.
Bermula dari Bahasa Latin
Kata “gratis” dapat dilacak sejarah etimologinya dari bahasa Latin modern. Ia merupakan bentuk singkat dari “gratiis” (“i” ganda). Kata “gratis” merupakan serapan modern dan bahasa Latin Klasik tidak menggunakannya. Karena itu, untuk mengetengahkan maknanya perlu pembentukan frasa atau kata yang lebih deskriptif.
Misalnya dengan menyulihi kata “gratis” dengan “sine pretio” (tanpa harga atau tanpa biaya), seperti dalam kalimat "Donum hoc datum est sine pretio" (Hadiah ini diberikan tanpa harga). Atau diungkapkan dengan frasa “ex gracia” (atas dasar kebaikan) sebagaimana tertuang dalam kalimat "Hoc beneficium datum est ex gratia" (Manfaat ini diberikan karena kebaikan).
Bisa juga kata “gratis” digantikan dengan “gratuito” sebagai bentuk adverbia (kata keterangan) yang berarti “secara cuma-cuma” seperti tertuang dalam kalimat "Pecunia data est gratuito" (Uang diberikan secara cuma-cuma). Atau, diungkapkan dengan frasa “Dei gratia” (rahmat Tuhan) yang muncul dalam kalimat “Haec fortuna solum propter Dei gratia accidit” (Keberuntungan ini hanya terjadi karena rahmat Tuhan).
Hal-Hal Menarik
Ada beberapa hal yang menarik dari dinamika perkembangan kata “gratis” dalam realitas penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Pertama, kata tersebut dapat menimbulkan rasa kegembiraan karena itu berarti dapat menekan bujet pengeluaran untuk suatu kebutuhan. Atau, dapat menggeser dana yang tersedia demi jenis kebutuhan lain yang lebih tinggi tingkatan skala prioritasnya.
Kedua, kata “gratis” menjadi strategi promosi suatu produk dalam upaya untuk menarik perhatian masyarakat berbondong-bondong membeli atau memilih memanfaatkan suatu jasa. Seperti tampak pada tawaran “beli satu gratis satu” atau “gratis ongkos kirim”. Di sini kata “gratis” sudah mengalami perluasan makna. Tidak lagi murni betul-betul pembebasan seluruh biaya, tetapi juga mencakup pengurangan dari jumlah biaya pengeluaran yang seharusnya terjadi.
Bisa pula kata “gratis” itu muncul dari kesan pemberian bonus suatu benda tertentu sebagai hadiah, ketika terjadi pembelian sejumlah barang atau bahkan cukup hanya satu barang dari suatu jenama tertentu. Seperti membeli suatu produk, dengan iming-iming pemerolehan bonus piring, gelas, atau sendok secara cuma-cuma. Misalnya "beli sabun X, gratis satu piring keramik". Meskipun tentu saja, menurut logika bisnis, bonus itu tidak sepenuhnya gratis. ***
