Konten dari Pengguna

Menyoal Bunyi “Ha-em-pe-ha” yang Muncul di Dracin

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Saya pernah mendengar drama China (dracin) dengan sulih suara (dubbing) bahasa Indonesia, yang dialog karakternya mengeluarkan bunyi hmph. Benar-benar terucapkan dengan ha-em-pe-ha.

Dalam hati ini timbul pertanyaan, mengapa bunyi tersebut muncul. Pertanyaan ini menggoda saya, karena tidak hanya sekali saja muncul, tetapi beberapa kali. Kendati tidak dapat terbilang terlalu sering muncul.

Kebetulan yang saya saksikan, dracin sulih suara yang karakternya dalam dialog mengeluarkan bunyi hmph itu adalah dracin vertikal (duanju), serial mini berdurasi pendek (1 hingga 2 menit per episode, dengan total 20 - 100 episode). Diproduksi khusus untuk disaksikan secara vertikal lewat layar handphone.

Pada dracin vertikal tersebut, terutama yang berbiaya rendah, sering terjadi satu orang penyulih suara (dubber) mengisi banyak karakter, bahkan semua karakter, dengan variasi suara sangat minim dan datar.

Lazimnya hal ini terjadi karena diproduksi dengan tenggat waktu sangat ketat dan anggaran terbatas. Tak ayal lagi, sulih suara ke bahasa Indonesia pun memperlihatkan fenomena serupa.

Mengapa bisa terjadi? Pertama, karena kejar tayang dan penentuan tenggat ketat. Para penyulih suara freelance acapkali mendapat target merampungkan puluhan episode dalam waktu sehari. Sebagai akibat, tidak tersedia waktu memadai bagi mereka untuk mengubah dan mendalami warna suara pada tiap karakter.

Kedua, anggara produksi minimalis. Pada umumnya, investor pribadi (private investor) cenderung menerapkan biaya produksi yang seekonomis mungkin. Termasuk mempekerjakan sedikit atau bahkan hanya satu dua orang voice actor guna mengisi suara semua karakter. Dan, ketika tiba ke versi sulih suara bahasa Indonesia pun terjadi demikian.

Ketiga, standar industri yang tersendiri. Berlainan dari sulih suara untuk drama televisi resmi yang mempekerjakan tim profesional dengan talenta suara kuat, dracin pendek media sosial lebih mengandalkan kecepatan rilis demi mengejar algoritma platform.

Fokus Kuantitas

Begitulah dracin pendek di media sosial, lebih memfokuskan kuantitas produksi dan kecepatan peluncuran video demi menggapai jumlah penonton sebanyak-banyaknya lewat sistem rekomendasi platform. Pola kerja di media sosial, begitu memuja akun yang aktif berkesinambungan.

Manakala suatu akun rajin menjaringkan unggahan konten baru, algoritma platform pun akan memberi penilaian bahwa akun bersangkutan aktif dan membuka peluang lebih besar untuk mendistribusikan atau merekomendasikan penyebaran suatu video ke halaman utama (feed atau for you page).

Tim kreator dracin pendek di media sosial hampir tanpa jeda untuk secara kontinu mengunggah konten baru dalam rentang waktu sangat singkat. Mereka nyaris tidak memiliki waktu luang relatif cukup memadai untuk melakukan riset, mengeksplorasi penulisan naskah secara mendalam, dan menunaikan proses pengeditan dengan pemenuhan standar estetika filmis secara optimal.

Dampak kurang menguntungkan yang hadir, lantaran terlalu menghunjamkan fokus pada kecepatan agar tetap berada dalam rengkuh perhatian dan lirikan algoritma, ada sejumlah aspek lain yang kemudian menjadi tumbal lantaran terabaikan. Seperti logika cerita, kedalaman karakter, akting, dan kualitas visual.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Dialog para karakter dengan dubber yang sama dan vokalnya hampir mirip robot berbicara kiranya menjadi bagian yang mendestruksi kewajaran eksistensi naratif dari karakter-karakter itu. Bunyi ucapan ha-em-pe-ha, setidaknya dalam pandangan saya, kian menambah ketegasan sosok dialog dracin pendek minim bujet yang kurang mempertimbangkan estetika bahasa itu.

Akan tetapi, praktik satu dubber untuk beberapa karakter, bahkan semua karakter, kendatipun terdengar kaku dan “kurang bernyawa”, masih menjadi alternatif pilihan penyedia platform untuk menggapai tujuan efisiensi biaya dan waktu produksi instan.

Kisah Dimulai

Nah, di sinilah kisah tentang bunyi ha-em-pe-ha itu dimulai. Di tengah paparan bunyi dialog yang datar. Terkadang ada akselerasi kalimat panjang yang terucapkan dengan lebih cepat untuk mempersingkat waktu dan terasa tidak natural. Sebagian dialog jadi kedengaran kurang wajar. Sekadar memberi informasi naratif semata. Di tengah semua itu, muncul bunyi tersebut.

Untuk lebih mengkonkretkan gambaran, saya deskripsikan percakapan dua anak, sang kakak laki-laki kira-kira 10 tahun dan si adik perempuan kira-kira 8 tahun dalam sebuah lakon dracin. Keduanya baru saja mendapatkan mama tiri yang baik hati atas peretujuan pernikahan kontrak dengan papa kandung mereka. Dalam waktu singkat, Si Adik sudah mampu menerima kehadiran mama tiri itu. Dia menyebutnya Bibi Jian.

Sementara itu, Sang Kakak belum bisa menerima seutuhnya. Suatu kali ketika mereka hendak berangkat ke sekolah, Bibi Jian membekali kedua anak itu makanan yang tertata rapi dalam kotak penyimpanan mungil cantik. Si Adik dengan senang hati menerimanya, tetapi Sang Kakak menolaknya tegas. Bibi Jian lalu menitipkan bekal makanan untuk Sang Kakak kepada Si Adik.

Ketika jam istirahat di sekolah tiba, Sang Kakak mulai merasa lapar. Si Adik pun segera memberikan bekal makanan masakan Bibi Jian. Semula Sang Kakak sedikit ragu menyantapnya. Namun, lantaran perut sudah keroncongan stadium berat, akhirnya Sang Kakak menyuapkan juga makanan itu ke dalam mulutnya.

Setelah Si Adik melihat ekspresi wajah Sang Kakak saat mengunyah makanan masakan Bibi Jian tampak menunjukkan bahwa saudara tuanya itu mengakui keahlian mama tiri mereka dalam memasak. Buru-buru Si Adik mengajukan pertanyaan, “Bagaimana rasa masakan Bibi Jian? Enak, bukan?”. Sang Kakak berusaha untuk meminimalisasi predikat sangat enak itu, lalu menjawab, “Ha-em-pe-ha. Biasa-biasa saja”.

Pada awalnya, saya mengira bunyi ha-em-pe-ha itu untuk menutupi bagian dialog yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan penelusuran yang saya lakukan, tibalah saya pada temuan, bahwa bunyi yang tertulis dengan hmph berdasarkan ejaan konvensional dalam standar kamus bahasa Inggris merupakan variasi dari humph.

Pada banyak kamus resmi, satu di antaranya yang saya cermati, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (Oxford University Press) yang disusun A.S. Hornby dengan A.P. Cowie dan A.C. Gimson, saya menemukan lema humph. Ada vokal “u” pada deret kedua.

Begitulah lema yang tertuang di kamus versi lama tersebut adalah humph /həmpf/ (pelafalannya seperti hemf atau hempf menurut aksen Britania Raya) atau /hʌmf/ menurut aksen Amerika Serikat.

Di Oxford Dictionary, para penyusunnya antara lain membubuhkan keterangan: dalam kelas interjeksi (interjection) merujuk pada pengertian, bahwa penggunaannya untuk menunjukkan keraguan atau ketidakpuasan (to show doubt or dissatisfaction).

Adapun hmph adalah variasi tulisan dari humph. Keduanya merepresentasikan bunyi yang sama. Suara dengusan pendek tatkala seseorang mengeluarkan napas dengan tajam lewat hidung atau mulut.

Kata humph memakai huruf vokal “u” untuk menolong khalayak audiens melafalkan bunyi dengusan tersebut dalam struktur kata bahasa Inggris standar. Sementara itu, kata hmph menghilangkan huruf vokal “u” guna mendeskripsikan suara dengusan lebih cepat, tertahan, dan murni berupa konsonan (syllabic consonants).

Satu-satunya perlainan hanya terletak pada cara penulisannya. Humph merupakan bentuk ejaan yang lebih formal atau tradisional yang terdapat di dalam kamus. Sementara itu, hmph adalah onomatope yang lebih modern dan penggunaanya bisa muncul di dracin, media sosial, chat, atau komik guna mendeskripsikan dengusan hidung.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Pertanyaan yang mengemuka. Mengapa hmph tetap absah menempati kelas kata interjeksi walau tanpa vokal? Salah satu alasannya, ternyata karena lema ini telah mendapat pengakuan dari kamus.

Secara historis, kamus bahasa Inggris menggunakan ejaan standar humph. Akan tetapi, seiring dengan perjalanan waktu, variasi ejaan tanpa vokal, seperti hmph dan hmpf ikut menjadi bagian dalam kamus.

Cambridge Dictionary mendaftarkan hmph sebagai eksklamasi yang mendeskripsikan suara pendek bernada dalam dengan bibir tertutup untuk menunjukkan kekesalan atau keraguan. Lalu Merriam-Webster mencatat hmph sebagai bentuk onomatope (tiruan bunyi) mendengus.

Kamus modern dan platform leksikal digital, dewasa ini memuat lema dengan ejaan hmph secara mandiri. Wiktionary secara resmi mengategorikan sebagai interjeksi. Sementara itu, Collins Dictionary mendokumentasikan lema hmph dalam basis data kata baru, sebagai variasi resmi dari humph.

Alasan lain hmph yang terbentuk dari deretan konsonan tetap mendapat pengakuan sebagai kata. Sebab, ia secara fonetis biasanya terucapkan dengan suara gumaman (humming) atau dengusan hidung (snorting) yang menunaikan fungsi sebagai pengganti vokal. Bunyi pelepasan udara di akhir (huruf “p” dan “h”) memperkuat proses tersebut.

Demikianlah, kata hmph telah resmi terdaftar sebagai interjeksi di pelbagai kamus bahasa Inggris terkemuka. Walaupun kedengaran seperti onomatope. Atau, hanya sekadar bahasa dalam obrolan internet (chat slang). Secara formal, hmph telah mendapat pengakuan dalam dunia leksikografi karena telah mendokumentasikan ekspresi lisan manusia.

Dalam perspektif linguistik, interjeksi mempunyai sifat unik berbanding daripada kelas kata yang lain. Sebab, bentuknya kerap melanggar kaidah fonotaktik (aturan kombinasi bunyi) standar dalam suatu bahasa. Sebab, dapat terucapkan hanya dengan berdesis, berdeham. Atau, dengan memanjangkan bunyi konsonan.

Hēng dan Hmph

Memang demikianlah, menurut suara asli bahasa Mandarin yang aktor ataupun aktris ucapkan sebagai dialog dalam dracin, biasanya terdengar hēng (哼). Manakala mengalami sulih suara ke bahasa Indonesia, versi suara dengusan yang hadir adalah terjemahan Inggrisnya, yaitu hmph. Adaptasi bunyi ini untuk mengekspresikan emosi karakter secara visual dan auditori.

Baik bunyi hēng maupun hmph juga merupakan tiruan bunyi (onomatope) yang merepresentasikan fungsi komunikasi dan ekspresi emosi yang serupa. Keduanya memiliki persamaan fungsi emosi, yaitu kekesalan dan ketidakpuasan.

Kata hēng terucapkan dengan nada menghentak sebagai interjeksi guna mengekspresikan rasa tidak puas, kesal, meremehkan (disdain), atau sikap sinis. Sementara itu, dalam bahasa Inggris, kata hmph merupakan onomatope dengusan hidung (snort) atau desahan mulut tertutup ketika seseorang merasa jengkel, tidak setuju, merasa lebih tinggi, atau merajuk.

Kemudian terdapat kemiripan mekanisme akustik (cara bersuara). Berlandaskan tinjauan secara fonetis, kedua kata tersebut meniru tindakan fisik yang sama tatkala manusia merespons sesuatu secara negatif.

Manakala seseorang mengucapkan kata hēng dalam tautan sebagai bagian dari ekspresi perasaan kesal, udara yang dia embuskan secara tajam melalui hidung atau pangkal tenggorokan secara cepat dengan posisi mulut yang cenderung tertutup pada akhir kata.

Dalam pada itu, bunyi hmph meniru persis suara embusan napas panjang tersebut. Huruf “h” melambangkan embusan napas. Huruf “m” melambangkan suara gumaman dengan mulut tertutup. Dan, huruf “ph” melambangkan pelepasan udara pada akhir dengusan.

Kata hēng dan hmph juga mempunyai konteks pemakaian yang identik. Keduanya relatif kerap muncul dalam literatur visual, seperti komik, manga (komik atau novel grafis Jepang), manhua (komik atau novel bergambar dari China, Taiwan, dan Hong Kong), dan takarir (dialog) dracin. Biasanya untuk mendeskripsikan gestur karakter yang tengah membuang muka atau melipat tangan karena merajuk.

Begitulah, berkat keberadaan faktor-faktor pengikat kedua kata tersebut, penerjemah takarir dracin selanjutnya menentukan pilihan pada hmph sebagai terjemahan hēng agar khalayak audiens non-Mandarin dapat segera merasakan suasana emosional dan nada bicara yang sama secara alami. Sama dengan yang dirasakan khalayak audiens dari China.

Terdapat sejumlah kemungkinan makna dan situasi manakala karakter dracin mengucapkan hmph. Bisa sebagai ekspresi rasa gengsi atau jual mahal (jual aksi). Kerap menerima realisasi ucapan karakter tsundere (pura-pura tidak acuh tapi peduli) ketika tidak bersedia mengakui perasaan yang sesungguhnya.

Bisa pula hmph merupakan bentuk ekspresi kekesalan ringan (mengambek). Karakter wanita biasanya mengucapkan hmph ketika tengah merajuk kepada karakter pria pasangannya. Bergulir layaknya ekspresi manja atau rasa kesal yang tidak terlampau serius.

Tidak tertutup kemungkinan, di belakang ucapan hmph terdapat dorongan keangkuhan dan sikap meremehkan. Pada lazimnya ucapan ini meluncur dari dialog karakter antagonis atau pesaing untuk menyatakan rasa tidak suka, bersikap angkuh, meremehkan mitra wicara (bisa juga karakter protagonis).

Alternatif lain makna dan situasi di belakang pengucapan kata hmph seorang karakter, bisa jadi pula yang bersangkutan sebenarnya tidak menyetujui apa yang baru saja menjadi ujaran dialog karakter mitra wicaranya. Akan tetapi, dia enggan untuk memperdebatkannya secara panjang lebar.

Terasa Unik

Bila mengacu pada pengucapan yang lebih wajar, maka seharusnya bukan bunyi ha-em-pe-ha yang mewarnai interjeksi tersebut. Melainkan /hemf/atau /hempf/ menurut aksen Britania Raya atau /hʌmf/ menurut aksen Amerika Serikat. Atau, kalau ingin mempertahankan pengucapan dalam bahasa Mandarin, /hēng/.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Realitas hasil dubbing yang demikian terasa begitu unik. Dubber hanya melafalkan deretan huruf dari interjeksi hmph menjadi sekadar ha-em-pe-ha.

Ini hampir sama kasus dengan kasus yang saya temui pada dracin lain, yaitu bunyi ketawa karakter yang seharusnya wajar, tetapi dalam pendengaran khalayak audiens (termasuk saya) menjadi kurang pas, manakala dubber mengucapkannya (lebih tepat membacanya) dengan ha ha ha (benar-benar terucap tiga kali, dan seperti suara orang yang tidak bersemangat).

Saya tidak habis mengerti, mengapa dubber tidak menggunakan bunyi interjeksi /hemf/ atau /hempf menurut versi terjemahan bahasa Inggris? Atau, tetap mempertahankan bunyi interjeksi itu dalam bahasa Mandarin, /hēng/?

Padahal kedua versi interjeksi tersebut tidak terlalu mengganggu ketika berada bersama rangkaian kata bahasa Indonesia. Dalam dracin tersedia sejumlah fungsi.

Bisa untuk menyampaikan reaksi emosional dengan spontan tanpa perlu mengekspresikan dengan kalimat panjang. Biasanya, karakter sedang kesal atau tidak suka dengan ucapan mitra bicaranya.

Interjeksi tersebut juga bisa untuk mencibir, menyombongkan diri, atau memandang rendah, seperti ketika karakter antagonis dalam dracin merasa tersaingi untuk suatu rivalitas.

Interjeksi tersebut bisa juga mewadahi fungsi untuk mendeskripsikan adegan mengambek dengan cara yang manja (playful annoyance). Kerap hadir dalam suasana romantis atau komedi, manakala karakter protagonis wanita tengah berpura-pura marah kepada karakter protagonis pria yang menjadi kekasihnya.

Atau, melakukan tsundere. Istilah pinjaman dari bahasa Jepang ini untuk mendeskripsikan dalam dracin, karakter yang pada awalnya memberikan respons kepada karakter pasangannya dengan sikap dingin, tidak acuh, atau benci dan kasar. Akan tetapi, secara perlahan menunjukkan sisi perlakuan yang hangat, lembut, dan rasa cinta mendalam.

Di samping merupakan interjeksi, berdasarkan tinjauan dari segi fonetis, bunyi hmph juga tiruan bunyi (onomatope) dari desahan atau hembusan napas gusar dari hidung (snort/grunt). Hal itu terjadi manakala seseorang menutup mulutnya rapat-rapat lantaran dorongan perasaan jengkel.

Kata hmph juga menerima takdir kategori sebagai onomatope, karena meniru bunyi fisik manusia, yaitu suara dengusan atau embusan napas pendek dari hidung dan mulut ketika merasa kesal, merasa diri lebih baik, atau tidak menyetujui suatu pendapat atau perkataan.

Kendatipun secara ejaan tertulis tidak terdapat huruf vokal, kata hmph merepresentasikan bunyi vokal terselubung (schwa) manakala terucapkan. Konsep onomatope meniru bunyi, bukan tulisan. Esensinya onomatope itu tiruan bunyi. Dalam kehidupan berbahasa di dunia nyata, tidak sedikit bunyi dari manusia yang tidak mengandung vokal secara jelas.

Tatkala bunyi dengusan yang mewakili perasaan kesal mengalami pengubahan menjadi tulisan, huruf “h”, “m”, “p”, “h” merupakan kombinasi konsonan yang paling mendekati cara kerja organ mulut manusia manakala menghasilkan bunyi tersebut.

Bunyi “h/m” meniru suara udara yang tertahan di hidung. Lalu bunyi “p/h” meniru letupan kecil ketika udara terlepas dengan cepat lewat bibir.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Menurut perspektif linguistik, ketika seseorang mengucapkan hmph, huruf “m” dalam rangkaian ini menunaikan fungsi sebagai inti silabel. Seseorang tidak dapat melafalkan hmph tanpa membuat bunyi dengung yang bertindak seperti huruf vokal.

Tanpa kehadiran vokal, dalam konteks kata hmph, bunyi dengung “m” bertindak seperti vokal untuk menyatukan seluruh bunyi hmph. Disebut sebagai konsonan silabik. Tanpa ada dengungan “m” sebagai inti silabel, niscaya rangkaian huruf hmph tidak akan bisa terlafalkan sebagai kata. Akan tetapi, hanya akan terdengar seperti embusan napas terputus.

Hmph bukan satu-satunya onomatope populer yang menggunakan deretan konsonan untuk meniru bunyi. Ada ssh atau sst untuk meniru desisan udara sebagai permintaan agar tenang. Ada brr, onomatope suara bibir bergetar ketika kedinginan. Ada pfff, onomatope embusan napas meremehkan atau balon kempis. Ada zzz, onomatope suara dengkur ketika tidur.

Dengan demikian, suatu kata tidak harus mempunyai huruf vokal untuk menjadi onomatope. Sepanjang kata tersebut dapat merepresentasikan rekaman bunyi yang berasal dari dunia nyata ke dalam bentuk tulisan. Demikian pula dengan bunyi hmph. Akan tetapi, bagaimana mungkin ia mampu menunaikan salah satu fungsi emotif di belakangnya, manakala yang hadir dalam dialog dracin itu adalah bunyi ha-em-pe-ha? ***