Konten dari Pengguna

Menyusuri Terminologi Linguistik yang Berakhiran “-onim”

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dari Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dari Gemini AI.

Beberapa terminologi linguistik dalam bahasa Indonesia ternyata berakhiran dengan “-onim”. Sufiks pembentuk kata ini merupakan penyerapan dari kata Yunani Kuno, yaitu onyma (atau onoma), bermakna “nama”. Kebanyakan terkait dengan relasi makna (hubungan makna antara kata satu dan kata lain).

Sejumlah terminologi linguistik yang akan segera menghampiri ingatan kita dan berakhiran dengan “-onim”, sebut saja sinonim atau persamaan kata (indah = elok, bunga = kembang, lihat = tengok). Lalu antonim atau lawan kata (senang >< sedih, penuh >< kosong, kering >< basah).

Kemudian homonim, kata yang bentuk penulisan dan pengucapannya sama tetapi mimiliki makna berbeda. Tergantung pada konteks kalimatnya, kata “tahu” bisa bermakna “mengerti atau memahani” atau “nama makanan olahan dari kedelai”. Kata “bulan” bisa bermakna “satuan waktu” atau “satelit alami yang mengitari Bumi”. Kata “rapat” bisa bermakna “pertemuan” atau “jarak sangat dekat”.

Di samping itu, ada hipernim (kata yang bermakna umum) dan hiponim (kata yang bermakna khusus). Contoh hipernim “buah-buahan” mencakup hiponim “apel, jeruk, mangga, pisang, semangka”. Hipernim “kendaraan” meliputi hiponim “mobil, bus, truk, motor, kereta api”. Untuk hipernim “warna” hadir hiponim “biru, hijau, kuning, oranye”. Hipernim “binatang peliharaan” ada hiponim “kucing, anjing, hamster, kelinci”. Dari hipernim “alat tulis” muncul hiponim “pensil, pulpen, penggaris, penghapus”.

Catatan untuk hipernim, terminologi ini, secara etimologis dari bahasa Yunani Kuno, yaitu hyper (di atas atau lebih tinggi) yang bergabung dengan onoma (nama). Dalam proses penyerapan dan pembentukan terminologi linguistik, bagian onoma mengalami pemotongan bunyi menjadi bentuk terikat “-nim”. Dari hyper-onoma menjadi hipernim.

Seterusnya ada holonim (kata yang menunjukkan keseluruhan) dan meronim (kata yang menunjukkan bagian-bagiannya). Misalnya dari holonim “kepala” terdapat meronim “mata, hidung, mulut, telinga, rambut, alis”. Lalu dari holonim “tangan” terdapat meronim “jari, telapak tangan, pergelangan tangan, dan kuku”. Bila holonimnya “kucing”, maka meronimnya “kepala, telinga, leher, badan, ekor, empat kaki”.

Tentang Eponim

Selebihnya ada eponim. Terminologi untuk hasil temuan dari berbagai bidang yang mendapat penamaan dari nama sang penemu. Dari bidang sains dan teknologi, ada “bilangan avogadro” yang diambil dari fisikawan dan matematikawan Italia Amedeo Avogadro (9 Agustus 1776 - 9 Juli 1856).

Bilangan Avogadro adalah nilai tetap 6,022 × 10²³ yang menyatakan jumlah partikel (atom, molekul, atau ion) dalam satu mol zat. Contoh: 1 mol air (H₂O) yang mengandung 6,022 × 10²³ molekul air, atau 1 mol besi yang berisi 6,022 × 10²³ atom besi.

Lalu “mesin diesel” dinamai sesuai dengan penemunya, insinyur asal Prancis, Rudolf Diesel (18 Maret 1858 - 30 September 1913). Tersohor karena sukses menemukan mesin pembakaran internal bertekanan tinggi. Mendapat hak paten pada 1892. Uji coba berhasil pada Januari 1894. Bahan bakar minyak nabati atau solar.

Sebelum pemakaian Skala Magnitudo Momen mulai 2008, lembaga gempa seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta para ahli gempa di seluruh dunia, menggunakan Skala Richter. Ini juga merupakan salah satu contoh eponim. Sebab, penyebutan skala pengukuran kekuatan gempa sesuai dengan nama penemunya, seismolog Amerika Serikat Charles Francis Richter (26 April 1900 - 30 September 1985).

Selanjutnya, satuan arus listrik “ampere”, merupakan temuan fisikawan, matematikawan, kimiawan dan mendapat julukan Bapak Ilmu Elektrodinamika asal Prancis, André-Marie Ampère (20 Januari 1775 - 10 Juni 1836).

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu pernah mendengar kata “watt”. Ia merupakan satuan untuk mengukur daya listrik. Seberapa cepat suatu alat elektronik memakai energi. Penyebutan kata “watt” ini berasal dari sosok penemunya, insiyur dan penemu serta kimiawan asal Skotlandia, Britania Raya bernama James Watt (19 Januari 1736 - 19 Agustus 1819).

Eponim juga muncul di bidang medis dan kesehatan. Nama penyakit “parkinson”, yaitu gangguan sistem saraf yang menimbulkan pengaruh terhadap gerakan tubuh dan memburuk secara bertahap, tidak lepas dari hasil temuan dokter asal Britania Raya, James Parkinson (11 April 1755 - 21 Desember 1824). Dialah orang pertama yang menjelaskan gejala penyakit ini melalui buku An Essay on the Shaking Palsy (Sebuah Esai tentang Kelumpuhan Gemetar), jerih terbitan Whittingham and Rowland London pada 1817.

Kemudian “alzheimer”, penyakit otak yang merusak sel-sel saraf secara perlahan, menimbulkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, dan perubahan perilaku. Eponim ini berkaitan erat dengan dokter spesialis psikiatri dan neurologi Jerman, Alois Alzheimer (14 Juni 1864 - 19 Desember 1915). Dialah orang pertama mengenali dan melaporkan penyakit ini pada 1906.

Alois Alzheimer melakukan penelitian terhadap pasiennya yang bernama Auguste Deter. Pasien wanita yang lahir 16 Mei 1850 ini, menderita sakit pada musim srmi 1901 saat usianya 50 tahun. Mulai diperiksa dokter Alzheimer pada November 1901 ketika usianya 51 tahun. Dan, meninggal pada 8 April 1906 pada usia 55 tahun.

Pada lazimnya, penurunan daya ingat yang begitu parah terjadi pada orang yang telah berusia 70 tahun ke atas. Kondisi yang terjadi pada Auguste Deter justru menimbulkan rasa tertarik dan kuriositas pada diri dokter Alois Alzheimer. Kasus ini unik, karena masuk kategori demensia usia lebih dini.

Setelah pasien tersebut tutup usia, dokter Alois Alzheimer melakukan pemeriksaan terhadap jaringan otaknya. Dia menemukan penyusutan (atrofi) secara keseluruhan di sana, terutama pada hipokampus (pusat memori dan ingatan baru) serta korteks serebral (area yang mengatur bahasa, penalaran, dan perilaku sosial).

Penyusutan tersebut terjadi karena ada kematian sel-sel saraf (neuron) akibat penumpukan protein abnormal beracun, yakni plak amiloid dan kusut protein tau. Dokter Emil Kraepelin (15 Februari 1856 - 7 Oktober 1926), atasan yang juga rekan kerja dokter Alois Alzheimer di München, serta rekan sesama dokter yang lain kemudian mengusulkan untuk menamai kondisi penyakit tersebut dengan alzheimer guna menghormati sosok yang melakukan penemuan mikroskopis dan klinis itu.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Lalu sindrom down (down syndrome), penyakit kelainan genetik saat anak lahir dengan kelebihan salinan pada kromoson nomor 21. Kelainan bawaaan ini menyebabkan jumlah jumlah keseluruhan menjadi 47 dari yang seharusnya 46. Terdapat pengaruh terhadap tumbuh kembang fisik dan kemampuan berpikir anak.

Nama penyakit ini merupakan eponim yang menggunakan nama dokter dan kepala medis di Earlswood Asylum untuk penyandang disabilitas mental. Dia John Langdon Down (18 November 1828 - 7 Oktober 1896) asal Britania Raya. Dia yang kali pertama menjelaskan kondisi medis yang kini mendapat pengenalan sebagai sindrom down dalam artikel “Observations on an Ethnic Classification of Idiots” di Jurnal London Hospital Report Volume 3, Tahun 1866, halaman 259 - 262.

Di bidang astronomi, “komet halley” merupakan eponim yang berasal astronom Britania Raya, Edmond Halley (8 November 1656 - 14 Januari 1742). Pencapaian tersohor kepiawaiannya menghitung orbit dan memprediksi kemunculan kembali tiap 75 - 79 tahun komet yang selanjutnya mendapat eponim komet halley itu.

Lalu “Kawah Copernicus” yang terletak di permukaan Bulan, di bagian barat laut pada sisi yang menghadap ke Bumi. Kawah meteor ini terletak di selatan Dataran Lava Mare Imbrium. Eponim ini tidak lepas dari entitas astronom asal Polandia, Nicolaus Copernicus (19 Februari 1473 - 24 Mei 1543), yang tersohor sebagai pencetus teori heliosentris (Matahari sebagai pusat Tata Surya).

Untuk menghormati Nicolaus Copernicus, pada 1651, jauh hari kemudian seorang rohaniawan Katolik dari Ordo Yesuit, sekaligus fisikawan dan astronom asal Italia, Giovanni Battista Riccioli (1598 - 1671), ketika membuat peta Bulan dan mengintroduksi sistem penamaan kawah, dia menamai Copernicus. Tujuannya untok menyimbolkan secara asosiatif sebagai kawasan Oceanus Procellarum (Lautan Badai).

Eponim juga menyebut penggunaan nama tempat sebagai asal benda. Misalnya “keju cheddar” merupakan jenis keju keras yang dibuat kali pertama pada kisaran tahun 1170 (abad ke-12) di Desa Cheddar, Somerset, Britania Raya. Kemudian “minuman champagne” (sampanye), anggur berkilau yang namanya mengacu pada wilayah Champagne di Prancis.

Akronim dan Bakronim

Terminologi linguistik yang bersufiks “-onim” lainnya, yaitu akronim dan bakronim. Dalam morfologi (ilmu bahasa mengenai kata), termasuk ke wilayah kajiannya.

Berbicara tentang akronim, bisa berupa proses abreviasi atau pemendekan kata. Bisa pula berupa pembentukan kata baru dengan menggabungkan huruf, silabel, atau bagian lain dari suatu frasa.

Akronim dapat berupa penggabungan huruf awal, contoh PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), LAN (Lembaga Administrasi Negara).

Bisa pula akronim merupakan gabungan silabel (suku kata), misal Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Suramadu (Surabaya - Madura). Atai, bisa juga akronim terdiri atas gabungan silabel dan huruf, seperti balita (bawah lima tahun), lansia (lanjut usia), pemilu (pemilihan umum)..

Adapun ciri linguistik akronim, yaitu penggabungan huruf atau silabel. Penulisan dan pelafalannya seperti sebuah kata yang wajar. Ada akronim yang berupa nama lembaga, seperti BIN yang merujuk Badan Intelijen Negara dan LIPI yang merupakan kependekan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bulog (Badan Urusan Logistik). Bisa pula nama surat, misal SIM (Surat Izin Mengemudi).

Contoh-contoh populer yang lain, beberapa di antaranya puskesmas (pusat kesehatan masyarakat), posyandu (pos pelayanan terpadu). Ada pula akronim bahasa gaul, semacam baper (bawa perasaan), mager (malas gerak), mantul (mantap betul), bucin (budak cinta), japri (jaringan pribadi).

Meskipun demikian pada mulanya, pemakaian akronim tidak jarang merupakan hasil pengaturan dan buah kendali penciptaan dari rezim penguasa guna menanamkan ideologi tertentu dalam masyarakat. Akronim ketika masuk ke bahasa birokrasi, menempatkan negara atau institusi resmi menciptakan akronim, seperti sistem keamanan lingkungan (siskamling) dan penelitian khusus (litsus) guna tujuan penyeragaman kontrol sosial.

Akronim juga dapat menjadi wahana kritik sosial melalui mekanisme pelesetan. Masyarakat merespons kekuasaan dengan memelesetkan akronim resmi. Misalnya dari akronim resmi “litsus” (penelitian khusus) menjadi “lihat status (sosial)” untuk mengkritisi pelayanan hukum yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, tergantung pada status sosial dan kekayaan seseorang. Atau, bisa pula dengan pelesetan menjadi “litigasi khusus” untuk menginjeksikan sindiran mengenai proses hukum diskriminatif yang membentangkan karpet keistimewaan terhadap golongan tertentu.

Akronim juga bisa menjadi alat bagi politikus agar program kerja dan performa pasangan calon mudah mampir ke dalam ingatan kolektif publik. Akronim baru ciptaan tim suksesnya bisa mendongkrak kredibilitas citranya di mata publik. Misalnya penggunaan ucapan salam yang berlanjut dengan akronim “bersehati” (bersih, sehat, dan tertib) untuk salam pembuka yang mengangkat isu tata kota/wilayah). Atau, “mantap” (mandiri, aman, nyata, tuntas, dan produktif). Atau lagi, “joss” (jujur, objektif, santun, dan sejahtera (penegas integritas).

Dalam perspektif sosiolinguistik, akronim bukan sempadan ekspresi penutur bahasa untuk menghemat kata, melainkan cerminan identitas sosial, pelapis kelas kelompok, sarana kekuasaan politik, dan strategi kreativitas budaya digital yang memperlihatkan bagaimana masyarakat penutur membentuk dan merawat relasi kuasa melalui pemakaian bahasa.

Secara sosiolinguistik, akronim bisa menunaikan fungsi sebagai penanda batas sosial. Ia memproklamasikan identitas kelompok, seperti komunitas marginal mengkreasikan akronim khusus agar pihak luar tidak memahaminya.

Di samping itu, akronim juga merupakan langkah untuk mengefisiensikan ruang ketik dalam media sosial. Kelahiran bentuk-bentuk ekspresi singkat kebahasaan, dan satu di antaranya dengan akronim, berpotensi guna mempercepat arus informasi.

Pemakaian akronim, masih dalam rengkuh pemahaman secara sosiolinguistik, dapat menunjukkan strategi bersosialisasi masyarakat penuturnya. Manakala mereka menggunakan akronim formal, hal itu memposisikannya di dalam status birokratis. Sementara itu, manakala mereka lebih mengaksentuasikan pemakaian akronim gaul, hal itu menandai afiliasi kultural.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Akronim baru semakin sering hadir mewarnai dinamika kehidupan berbahasa masyarakat di era internet ini. Pendukungnya pun bergaya hidup daring, memanfaatkan akronim gaul (baper, mager) guna mengekspresikan adanya kedekatan emosional.

Akronim pada gilirannya juga turut memberi warna dinamika leksikon. Bahasa secara alami akan terus mengalami perubahan demi perubahan dan terus mengutit kecenderungan zaman. Pada posisi ini, terjadilah pergeseran antara ragam resmi dan tidak resmi.

Sementara itu, bakronim (backronym), selain masuk ke dalam wilayah morfologi. Karena melibatkan proses pembentukan kata (word formation). Walaupun sesungguhnya lebih tepat memperoleh pengkajian sebagai gejala leksikal dan permainan bahasa berbanding daripada proses gramatikal murni.

Ketika bakronim juga menyentuh semantik dan bertalian mesra dengan fenomena sosiolinguistik sebagaimana etimologi rakyat (folk etymology). Sampai di sini, pemahaman saya mulai menemukan titik pencerahan. Ternyata ia memiliki kesejajaran konsep dengan keratabasa dalam bahasa Jawa. Memecah silabel dari kata yang sudah ada menjadi kepanjangan baru yang sarat makna, terkadang ada “kenakalan” humor. Lebih menyerupai kreativitas permainan kata.

Contoh keratabasa: Bapak: Bāb apa-apa wis pepak (bapak sudah tahu dan lengkap pengalamannya). Gelas: Yèn tugel ora bisa dilas (kalau pecah tidak bisa disambung lagi). Gedhang (Pisang): Digeget le bar madhang (dimakan sesudah makan nasi). Cangkem (Mulut): yen ora dicancang ora mingkem (mulut jika tidak dijaga akan tidak terkendali). Sirah (Kepala): isine rah (berisi darah).

Bakronim atau keratabasa hadir berkat adanya dorongan psikologis, sosial, dan kreativitas penutur. Dengan jalan mencari makna baru pada kata yang telah tersedia. Memperlakukan sebagai suatu akronim dan memberi sentuhan kreativitas berbahasa. Fenomena bakronim ini lahir dengan penciptaan kepanjangan buatan yang mempunyai kesesuaian bunyi dengan kata aslinya. Dapat menimbulkan efek humor, sindiran, ataupun dengan muatan filosofi.

Bakronim sesungguhnya merupakan penggunaan kata yang sudah lazim dalam kehidupan berbahasa sehari-hari. Kemudian secara sengaja, penutur memperlakukannya sebagai akronim dengan memainkan kesesuaian unsur-unsur bunyinya untuk mengkreasikan kepanjangan baru.

Proses Pembentukan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Relasi bakronim dengan akronim berkebalikan dalam arah proses pembentukannya. Akronim bergerak dari temuan frasa atau nama kepanjangannya dan kemudian mengalami penggabungan huruf atau silabel. Hasilnya menjadi bentukan abreviasi yang dapat terucapkan sebagai kata. Misalnya dari frasa “bukti pelanggaran” diambil silabel kedua dari pertan “ti” dan silabel kedua kata kedua “lang”, sehingga terbentuklah akronim “tilang”.

Sebaliknya bakronim, proses pembentukannya dari kata yang sudah terlebih dahulu ada. Kemudian penutur merekayasa kepanjangan frasa baru dengan huruf depan atau silabel depannya sesuai dengan kata atau sejumlah kata itu.

Misalnya dari kata “perkedel” (nama makanan) kemudian penutur mengkreasikan kepanjangan baru dengan tujuan untuk berjenaka ria, sebagai “persatuan kentang dan telur”. Atau, kata “tumis” = “tuang minyak sedikit”. Atau lagi, kata “tegal” = “tempat gaul”. “Joker” (kartu remi) = “jomblo keren”.

Ada bakronim yang bertujuan untuk sindiran. Seperti dari kata “halilintar” yang mendapatkan rekayasa kepanjangan “hanya lihat, beli tidak”, untuk orang-orang yang senang melihat barang-barang di mal tapi tidak membelinya.

Ada pula bakronim dengan sentuhan ungkapan perasaan hati, seperti kata “rabu” (nama hari) yang memperoleh kepanjangan “rasanya bimbang ujian”. Lalu “kamis” dengan rekayasa kepanjangan “kangen manis singkat”. Ungkapan rasa senang karena telah dapat mengobati rasa rindu, tapi sayang hanya berlangsung sebentar.

Pun ada bakronim yang memiliki kapasitas maksud sebagai dorongan motivasi. Kata “gagal” misalnya, ada yang membakronimkan menjadi “gunakan akal, gali ambisi luar biasa”. Lalu kata “sabar” = “selalu ada berkah Allah rahmat”. Kata “lelah” = “langkahkan energi, lawan apa pun hambatan”. Kata “sulit” = “sungguh-sungguh latih iman tabah”. Kata “cinta” = “cari inspirasi niat tetap aktif”. Kata “doa” = “dimensi optimisme akselerasi”. Kata “rindu” = “raih impian, niat, dan usaha”.

Ada pula bakronim yang semula merupakan kode morse, yaitu berupa tiga titik (...), tiga garis (- - -), tiga titik (...), yang jika mendapat penghurufan akan terbentuk SOS, sinyal terjadi marabahaya. Pada mulanya tidak ada kepanjangan dari SOS. Akan tetapi, kemudian masyarakat penutur bahasa Inggris merekayasa kepanjangannya menjadi bakronim yang populer, Save Our Souls atau Save Our Ship.

Dalam linguistik historis, terkadang bakronim hadir lantaran ketidaktahuan masyarakat tentang etimologi suatu kata. Mereka pun mengotak-atik kepanjangannya agar masuk akal secara logika dan kultural. Ini yang disebut etimologi rakyat (folk etymology). Misalnya kata “wanita” dalam bahasa Jawa dibakronimkan “wani ditata” (berani diatur). Padahal sesungguhnya kata ini secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta वनिता (vanitā). Terbentuk dari kata van (ingin) dengan imbuhan ita, merujuk pada artian "yang diinginkan" atau "perempuan".

Bakronim juga mengemban fungsi sosial. Sentuhan humor yang hadir berkat bakronim, lebih bisa mencairkan komunikasi sehingga tiba pada tataran keakraban. Di samping itu, bisa pula menjadi media katarsis, tempat untuk menuangkan rasa letih terhadap aturan yang kelewat ketat dan realitas kehidupan yang tidak ringan. Serta, yang tidak kurang penting, mengasah kreativitas berbahasa dengan kelenturan menghadirkan makna baru secara spontan. ***