Nafiri Bukan Sekadar Alat Musik Tiup Tradisional

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dewasa ini, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Riau, alat musik tiup tradisional nafiri masih melekat sebagai benda yang fungsional. Kendati demikian, intensitas perannya memang harus diakui tidahkah sebesar dahulu. Zaman telah begitu lama menjalin dialog dengannya. Oleh karena itu, wajar jika kemudian muncul pergeseran sesuai dengan kesepahaman nilai yang bergulir secara alami.
Wujud nafiri itu sendiri berupa terompet atau serunai panjang dengan bahan kayu. Alat musik tiup kayu (woodwind instruments) seperti nafiri biasanya dibuat dari jenis kayu lokal tertentu. Pemilihan itu berdasarkan kualitas akustik dan daya tahan keawetannya. Seperti meranti, meramin, merbau, atau nyatoh yang dapat ditemui di hutan setempat.
Bentuk nafiri seperti tabung memanjang (pipa) yang ramping. Ada bagian ujung yang melebar seperti corong atau lonceng. Terdapat tujuh lobang yang berfungsi sebagai pengaturan pitch (tinggi rendah nada), pembentukan melodi (variasi nada dan irama), serta penghasil karakter suara yang khas.
Untuk memperindah performa nafiri, perajin juga membuat ukiran tradisional di sepanjang badannya. Ada yang motif flora, seperti daun, bunga, dan pucuk rebung (tunas bambu muda). Motif ini tidak jarang memperoleh sentuhan stilisasi menjadi pola awan berarak (atau dalam bahasa Melayu dialek Riaunya: awan larak).
Kemudian ada motif ukiran fauna. Kendati relatif lebih jarang, terdapat pula perajin yang mengukirkan motif hewan, seperti itik pulang petang (bebek pulang sore). Di samping itu ada motif ukiran alam semesta, semacam gambaran matahari, bulan, dan bintang. Motif geometri dan kaligrafi pun dapat ditemui keberadaanya.
Nafiri dapat dimainkan dengan teknis pernapasan khusus. Dengan demikian, memungkinkan peniupnya bisa menahan napas dalam waktu yang relatif lama. Bahkan tidak jarang hingga berjam-jam tanpa terjeda. Hal ini untuk menjaga irama musik dengan aliran secara tanpa putus alias berkesinambungan.
Kesultanan Siak Sri Indrapura
Di Riau pernah berdiri beberapa kerajaan utama. Ada Kerajaan Kandis yang tertua di Sumatera, menurut perkiraan berdiri pada tahun 100 Sebelum Masehi. Kemudian Kerajaan Pelalawan yang mencapai puncak kejayaan pada kisaran tahun 1530 - 1879. Selanjutnya Kerajaan Indragiri yang memasuki lingkaran peredaran masa kekuasaan di wilayah tersebut pada bentang titimangsa 1658 - 1838.
Serta, yang perlu menerima aksentuasi pencatatan terkait dengan kiprah nafiri yang pernah dominan, yaitu pada masa Kesultanan Siak Sri Indrapura. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1723. Pada bulan Oktober 1945, tidak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, penguasa terakhir, Sultan Syarif Kasim II memutuskan wilayah kekuasaannya berintegrasi dengan Republik Indonesia Tercinta ini. Adapun realisasi pengintegrasian itu, terdapat sumber yang menyebutkan pada 1946.
Pada masa Kesultanan Siak Sri Indrapura ini terdapat banyak bukti sejarah mengenai peran nafiri. Alat musik tiup tersebut dikenal dan digunakan secara luas pada masa tersebut. Penggunaan nafiri teristimewa dalam peran sertanya dalam upacara adat dan kebesaran kerajaan. Ia juga sekaligus menjadi penanda perintah Sultan agar masyarakat berkumpul untuk mengikuti suatu acara dari dan merupakan hasil inisiasi pihak Kesultanan.
Suara tiupan nafiri pada masa lalu menjadi bunyi penanda adanya pengumuman penting yang perlu berada dalam rengkuh pengetahuan masyarakat dan keluarga kerajaan. Suara tiupan nafiri bisa merupakan isyarat panggilan tentang adanya suatu acara yang berlangsung di sekitar istana. Menandai mulai atau berakhir upacara resmi Kesultanan.
Di Kesultanan Siak Sri Indrapura, tiupan nafiri pada saat itu juga menjadi penanda waktu salat, terutama Magrib dan Isya, selain pukulan beduk dan kumandang azan. Dengan demikian, sangat mungkin tiupan nafiri pada masa itu, bisa pula berfungsi untuk mengumumkan telah tiba bulan baru berupa awal Ramadan atau Idulfitri.
Tiupan nafiri pada masa lalu bisa juga menjadi alat komunikasi untuk menginformasikan kehadiran Sultan dalam suatu acara publik. Menjadi media pada saat aparat Kesultanan ketika menyampaikan titah Sultan atau sebagai wahana penyampai pengumuman resmi pemerintah kepada masyarakat.
Bersama gendang, nafiri saling membahu dalam suatu ensambel. Nafiri menjadi bagian penting dalam ensambel musik tradisional tersebut terutama untuk keperluan adat-istiadat serta kegiatan resmi di istana. Ensambel Gendang Nafiri itu menjadi sajian wajib dalam berbagai upacara adat penting Kesultanan, termasuk penobatan sultan baru, pernikahan agung di Kesultanan serta penyambutan para tamu agung Kesultanan.
Eksistensi ensambel tersebut, terutama nafiri, merupakan simbol yang menjadi penanda kekuasaan dan kedaulatan Kesultanan. Oleh karena itu, dikenal juga dengan sebutan Nobat Diraja. Eksklusif milik Istana. Para pemain musiknya pun merupakan sekelompok personel khusus yang merupakan hasil kebijakan penunjukan dari Sultan.
Instrumen tabuh gendang dalam ensambel ini menduduki peran vital dalam mengatur iringan tarian atau pertunjukan bela diri yang menyertai beberapa upacara tertentu. Secara keseluruhan, Ensambel Gendang Nafiri meletakkan pijakan keberadaannya sebagai bagian tidak terpisahkan dari identitas budaya dalam struktur kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Ia bukan hanya sekadar instrumen penoreh hiburan, melainkan juga merupakan kekayaan warisan khazanah musik Melayu Riau.
Meskipun dewasa ini sudah tergantikan dengan teknologi komunikasi yang jauh lebih canggih, pada masa lalu nafiri pernah memainkan peran besar untuk menandai bakal ada pengumuman penting dari Kesultanan, seperti penobatan Sultan, panggilan perang melawan perusuh yang menimbulkan kecamuk gejolak keonaran, atau pengumuman telah terjadi suatu musibah yang menimpa negeri.
Dewasa ini, peran penting nafiri sebagai alat komunikasi yang mampu menggerakkan massa memang tidak lagi seintens dahulu. Kendati begitu, nafiri masih tersimpan dan melekat di dalam pemikiran kolektif masyarakat Riau dan berkebudayaan Melayu sebagai alat komunikasi simbolis di lingkungan kontekstual adat dengan kepemilikan makna dan isyarat tertentu.
Dewasa ini, misalnya dalam pernikahan adat di Bengkalis, Riau, nafiri masih memainkan peran dalam prosesinya, seperti dalam acara pengantin berinai, yaitu memakaikan daun inai (pacar) kepada mempelai pada tahapan pranikah. Juga prosesi berarak silat, manakala rombongan pengantin lelaki datang ke rumah pengantin wanita dengan iringan pertunjukan silat. Serta, prosesi tepuk inung tawar, yakni merinjis atau memercikkan air tepung tawar, menabur beras kunyit dan bertih/beras sangrai, hingga memberi bunga rampai.
Iringan musik merupakan hasil perpaduan harmonis nafiri dengan alat musik pengiring lainnya, seperti gendang, rebab, kompang, gambus, gong, marwas. Iringan ensambel ini dapat menciptakan suasana keberlangsungan tiap tahapan prosesi sehingga terasa khidmat dan sakral. Dapat mengaksentuasikan topangan terhadap nilai-nilai dan keyakinan yang termaktub di dalam kandungan tradisi tersebut.
Penggunaan nafiri dalam pesta adat masyarakat Riau pada masa sekarang ini menunjukkan kesantunan budaya mereka dalam mempersembahkan respek terhadap tradisi dan leluhur. Pendek kata, keberadaan fungsional nafiri tidak lepas dari perannya sebagai bentuk komunikasi tradisional dan penyedap estetika upacara adat. Selain itu sebagai penanda identitas dalam berbagai momen krusial. Dan, tidak kecil andilnya sebagai penguat ikatan sosial berikut kearifan lokal masyarakat yang menjadi pendukungnya.
Pengiring Makyong
Makyong sebagai teater tradisional Melayu menempatkan nafiri sebagai salah satu instrumen dalam ensambel musik pengiring. Makyong ini seperti seni pertunjukan ketoprak di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sama-sama memiliki unsur cerita. Bila makyong fokus pada cerita rakyat Melayu dan kehidupan istana serta mitologi, maka ketoprak mengangkat cerita kerajaan di Jawa, juga cerita baik dari Jawa maupun mancanegara (Tiongkok, Mesir, Turki) .
Keduanya juga sama-sama memiliki dialog antarkarakter dalam cerita. Makyong menggunakan bahasa Melayu dan lebih merdeka menggunakan improvisasi para pemain, sedangkan ketoprak memakai bahasa Jawa dan lebih terstruktur tetapi masih menyisakan ruang improvisasi bagi para pemainnya untuk menata dialognya.
Keduanya juga ada musik pengiringnya. Makyong menggunakan instrumen khas Melayu, seperti nafiri, rebab, gendang, gong. Ketoprak menggunakan gamelan Jawa. Ada yang namanya sama (rebab, gendang, gong) dan saron, bonang. Serta, keprak, alat musik perkusi dari kayu atau logam yang bisa menimbulkan bunyi “tok prak” yang menjadi asal usul nama seni pertunjukan teater tradisional Jawa tersebut.
Kembali ke makyong. Nafiri mempunyai peran penting dalam seni teater tradisional khas Melayu ini. Ia menjadi salah satu instrumen utama dalam ensambel musik pengiring. Begitulah suara nafiri menjadi semacam isyarat yang memberi tahu penonton dan sekaligus pemain mengenai adanya transisi adegan atau babak. Di samping itu juga memberi isyarat para karakter masuk ke panggung, teristimewa yang terkait dengan kerajaan dan hal-hal sakral. Dengan demikian, nafirilah yang mengontrol totalitas ritme pertunjukan.
Kekhasan suara nafiri yang dalam banyak hal mempunyai kemiripan dengan terompet tradisional dapat mendukung penciptaan efek dramatis sebagaimana menjadi kehendak alur cerita dalam makyong. Kisah-kisah kerajaan di Tanah Melayu serta pelibatan unsur spiritual merupakan warna narasi yang dominan.
Dalam menunaikan fungsi-fungsi tersebut, nafiri juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari orkestrasi kecil yang lazim berkolaborasi dengan rebab (alat musik gesek berdawai tiga), gendang, dan sepasang gong gantung (tetawak). Orkestrasi ini mengiringi tarian dan nyanyian yang menjadi menu wajib dalam seni pertunjukan makyong. Seperti tatkala mengiringi Tari Menghadap Rebab.
Tari Menghadap Rebab ini muncul pada babak pertama adegan ketiga, setelah semua pemain (termasuk tokoh utama Cik Wang/Raja, pemain rebab, dayang-dayang, dan lain-lain) telah berada di atas panggung dan mereka menghadap rebab. Setelah itu berlanjut dengan lagu “Timang Welo” yang berkaitan dengan ritual pembuka, doa untuk kebaikan semua, dan kelancaran pertunjukan makyong yang bakal berlangsung. Patut mendapat catatan, Tari Menghadap Rebab hanya terdapat dalam pertunjukan makyong di Kepulauan Riau dan Sumatera Utara.
Dewasa ini, pengenalan generasi muda terhadap nafiri dan untuk memastikan pengetahuan mengenai alat musik ini tetap hidup di kalangan mereka sebagai pewaris kebudayaan Melayu, realisasinya melalui upaya edukasi di sekolah, museum, dan dokumentasi budaya. Kendati nafiri kini tidak lagi begitu akrab menyentuh kehidupan sehari-hari mereka, tetap mendapat penghormatan dan ruang pelestarian sebagai ekspresi budaya terutama pada upacara adat di lingkungan budaya Melayu. ***
