Konten dari Pengguna

Nama Masjid atau Musala Mengusung Harapan Baik

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masjid Babul Hijrah di Perumahan Graha Nusa I Kompleks Mamuju, Sulawesi Barat. Biasa digunakan anggota Tim Ekspedisi Patriot saat Salat Jumat ataupun salat-salat wajib. (Foto: Koleksi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Masjid Babul Hijrah di Perumahan Graha Nusa I Kompleks Mamuju, Sulawesi Barat. Biasa digunakan anggota Tim Ekspedisi Patriot saat Salat Jumat ataupun salat-salat wajib. (Foto: Koleksi Pribadi)

(1)

Babul Hijrah (باب الهجرة). Itulah nama masjid di Perumahan Graha Nusa I Kompleks Mamuju, Sulawesi Barat. Si Sulung dan teman-temanya yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot mendapat fasilitas rumah kontrakan di wilayah hunian tersebut selama bertugas di sana mulai dari kisaran pengujung akhir Agustus 2025 hingga Desember 2025 mendatang. Oleh karena itu, kalau tidak sedang bertugas mengadakan survei lapangan di teritorial tugas Kecamatan Kalukku, kebutuhan spiritual untuk menunaikan Salat Jumat ataupun salat-salat wajib berjamaah, mereka kerjakan di masjid tersebut.

Beberapa waktu lalu, menurut penuturan si Sulung ketika memenuhi undangan untuk hadir dalam acara peringatan Maulid Nabi di Masjid Babul Hijrah, Ketua Panitia Peringatan Hari Besar Islam masjid setempat dalam kata sambutannya menghadirkan tafsir kontekstual demi becermin pada realitas keragaman komposisi kelompok etnik warga yang tinggal di Perumahan Graha Nusa I tersebut. Sebagaimana kita ketahui bersama, kata “babul” (بَابٌ) bermakna “pintu”, sedangkan “hijrah” (هِجْرَة) berarti “perpindahan”. Bisa dipahami jika konsep “hijrah” di sini kemudian ditafsiri sebagai “perantauan”.

Babul Hijrah versi kontekstual tafsiran di lingkungan Perumahan Graha Nusa I Mamuju, Sulawesi Barat adalah simbol religiositas sebagai pintu bagi para perantau untuk berjuang menjalani perpindahan untuk suatu proses perubahan nasib ke arah peruntungan yang lebih mendapatkan curahan rida Allah Subhanahu wa ta'ala. Dan, memang pada kenyataannya sebagian besar warga yang tinggal di kompleks perumahan tersebut, menurut kata si Sulung lewat WhatsApp jaringan pribadinya, merupakan perantau dari Jawa, Manado, Makassar, dan dari daerah-daerah lain di Indonesia.

(2)

Babul Hijrah dalam format penafsiran yang lebih universal mengacu pada harapan yang mendapatkan celah realisasi dari keberadaan simbol pintu sebagai akses pencapaiannya. Dari pintu itu terbukalah peluang adanya aliran perubahan yang menandai suatu perjalanan (hijrah) spiritual dari praktik-praktik keagamaan yang belum optimal ke arah yang lebih dewasa. Semakin menunjukkan kekuatan mahabah, cinta Illahi yang lebih asyik masyuk antara Sang Maha Pencipta dan makhluk-Nya.

Hijrah, seperti kita ketahui bersama, juga mengacu pada momentum sejarah perpindahan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beserta para pengikut setia beliau dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Hijrah ini merupakan bentuk ikhtiar strategis guna menyelamatkan diri dari represi kaum kafir Quraisy. Peristiwa ini bisa dimaknai sebagai upaya perjuangan pihak yang benar agar tetap tampil sebagai penyintas. Untuk pada gilirannya dengan tindakan strategis kemudian mampu membalikkan keadaan.

Bila mendapat sentuhan penafsiran lebih kontekstual lagi, maka sebetulnya tindakan para perantau dari beberapa daerah di Indonesia hijrah ke Mamuju, Sulawesi Barat, adalah juga dalam rangka untuk berstrategi menyiasati ketiadaan pintu guna memasuki ruang berusaha yang paling optimal di daerah asal. Mereka kemudian memandang Mamuju sebagai cercah harapan yang mesti tergapai dengan kerja keras demi kerja keras seraya berpagut pada sikap tawakal kepada-Nya. Bisa jadi, itulah harapan yang digantungkan penamaan Masjid Babul Hijrah di Perumahan Graha Nusa I Kompleks Mamuju, Sulawesi Barat itu.

Selain Babul Hijrah, ada juga masjid atau musala yang diberi nama Babul Khairat (بَابُ الْخَيْرَاتِ). Kata “khairat” (خيرات) merupakan bentuk jamak dari “khair” (خير). Terjemahannya Pintu Kebaikan. Harapan yang muncul dari penamaan ini, agar tempat ibadah tersebut berada dalam tangan pengelolaan para takmir yang dapat memfasilitasi pelbagai jenis dan bentuk kebaikan baik terhadap masyarakat yang berumah tinggal di sekitar masjid atau musala itu maupun musafir yang datang dari tempat jauh.

Nama berikutnya yang menggunakan kombinasi dengan kata “babul”, yaitu Babul Ilmi (بَابُ الْعِلْمِ). Pintu Ilmu. Ini nama julukan yang pernah disandang oleh Ali bin Abi Thalib berkat kecerdasan beliau. Dengan penamaan ini, harapannya agar masjid atau musala bersangkutan mampu menciptakan atmosfer kondisi dengan banyak memunculkan kajian yang bisa mencerahkan dan mendewasakan jamaahnya dalam mencapai hakikat kehidupan spiritual. Keseimbangan antara kesalehan agamais dan kesalehan sosial.

Pilihan lain untuk nama masjid atau musala adalah Babul Jannah (بَابُ الْجَنَّةِ). Pintu Surga. Dengan demikian, harapan yang terkandung di balik penamaan ini agar tempat ibadah bersangkutan dapat mengantarkan jamaahnya menjadi bagian dari kelompok yang saleh dan salehah. Dan, kelak menjadi penghuni, sebagaimana Al-Qur’an mendeskripsikan, taman-taman kenikmatan dengan sungai-sungai di bawahnya dan buah-buahan beraneka ragam. Kehidupan abadi.

(3)

Musala Qurrota A’yun di SLB Negeri Semarang Jalan Elang Raya Nomor 2, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Mohamad Jokomono)

Sementara itu, di Semarang, Jawa Tengah, saya yang sudah purnatugas memiliki tugas rutin mengantar berangkat dan menjemput pulang si Bungsu ke dan dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang. Di sekolah ini terdapat sebuah musala yang realatif terawat dengan baik. Saat ramai hanya terjadi pada waktu Salat Zuhur. Anak-anak dari sekolah dasar serta menengah pertama dan atas biasanya banyak yang menunaikan salat berjamaah. Dengan dipandu oleh guru sebagai iman. Mulai Senin hingga Kamis. Mereka pulang setelah itu. Adapun Jumat, anak-anak pulang pukul 10.30 WIB dan menunaikan Salat Jumat di sekitar rumah masing-masing. Sabtu dan Minggu tentu saja libur.

Musala itu. Qurrota A'yun ( قُرَّةَ أَعْيُنٍ) namanya. Penyejuk Mata atau Penenang Hati terjemahan harfiahnya dalam bahasa Indonesia. Dengan besutan interpretasi yang lebih konotatif, frasa ini mengacu pada sesuatu yang menumbuhkan kebahagiaan dan ketenangan batin. Oleh karena itu, musala tersebut menyimpan kandungan harapan mulia, agar keberadaannya dapat mengantarkan para murid istimewa dan luar biasa itu menjadi sosok generasi penerus yang dapat menyejukkan atau menenangkan hati orang tua masing-masing.

Mereka yang bersekolah di sini hadir ke dunia ini dengan keterbatasan masing-masing. Ada yang tunagrahita, dengan keterbatasan pada kecerdasannya. Ada yang tunadaksa, dengan keterbatasan pada ketidaksempurnaan fisiknya. Ada yang tunarungu, dengan keterbatasan pada indra pendengarannya. Ada yang tunawicara, dengan keterbatasan pada kemampuan berbahasanya. Ada yang tunanetra, dengan keterbatasan pada indra penglihatannya. Walaupun demikian, mereka tetap menjadi harapan sebagai generasi penerus yang taat beribadah dan menyenangkan hati bagi orang tua masing-masing.

Begitulah, bila rujukan artinya sebagai penyejuk mata, maka mereka dengan keterbatasan masing-masing tetap sedap dalam pandangan mata (terlebih mata hati) sebagai generasi yang tidak meninggalkan agama. Dan, sebagai penyejuk hati orang tua masing-masing, karena mereka sesungguhnya menjadi perantara untuk menggapai kebahagiaan sejati dalam kehidupan akhirat nanti. Sebab, berdasarkan keyakinan dalam Islam, merawat dengan penuh kesabaran dan cinta kasih terhadap anak penyandang disabilitas merupakan salah satu cara bagi orang tua untuk meraih pahala besar. Dan Allah mengangkat derajatnya. Bahkan, perbuatan itu dapat membuat jalan yang lempang bagi para orang tua untuk menggerakkan langkah bergegas menuju ke surga.

(4)

Varian nama masjid atau musala yang tersaji pada uraian di atas agaknya memang berada dalam kriteria tidak terlalu lazim. Meskipun ada, jumlahnya tidak terlalu berlimpah. Kita tentu lebih familier mendengar Baitul Muttaqin (Rumah Orang-Orang Bertakwa) atau Baiturrahman (Rumah yang Diberkahi Allah). Begitu pula, kita lebih akrab dengan Nurul Huda (Cahaya Petunjuk), At-Taqwa (Ketakwaan), Al-Ikhlas (Keikhlasan), Darussalam (Negeri Keselamatan), Al-Hikmah (Kebijaksanaan).

Selain itu, menurut regulasi Kementerian Agama Indonesia, penamaan masjid dari tilikan luas bangunam, kapasitas jamaah, dan cakupan wilayahnya mencakup lima tipe. Pertama, masjid negara yang berada di ibu kota negara dan menjadi pusat kegiatan keagamaan tingkat nasional. Kedua, masjid raya di tingkat provinsi. Ketiga, masjid agung di tingkat kabupaten atau kota. Keempat, masjid besar di tingkat kecamatan. Kelima, masjid jamik di tingkat desa atau kelurahan yang menyelenggarakan Salat Jumat. ***