Konten dari Pengguna

“Panjebar Semangat”, Kini Masih Eksis Lho

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 12 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Majalah Panjebar Semangat kini sudah tersedia dalam versi digital. (Foto: Tangkapan Layar Mohamad Jokomono)
zoom-in-whitePerbesar
Majalah Panjebar Semangat kini sudah tersedia dalam versi digital. (Foto: Tangkapan Layar Mohamad Jokomono)

Panjebar Semangat merupakan media berbahasa Jawa yang menggunakan ragam atau tingkat tutur dominan ngoko lugu. Sedari awal penerbitannya pada 2 September 1933, sang inisiator, yaitu Soetomo (30 Juli 1988 - 30 Mei 1938), alumnus School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) yang resmi menjadi dokter pada 1911 itu, memang meneguhkan prioritas penggunaan ragam tutur tersebut.

Tujuan memprioritas penggunaan bahasa Jawa ngoko lugu tersebut, menurut dokter Soetomo, agar pesan-pesan perjuangan dan berita yang tersaji lebih mudah tercerna dalam pemahaman masyarakat pembaca dari semua kalangan dan lapisan sosial. Ada rubrik-rubrik ikonik yang senantiasa menyertai kehadiran Majalah Panjebar Semangat sejak masa awal-awal, yaitu “Cerkak” (Crita Cekak/Cerita Pendek [Cerpen]) dan “Taman Geguritan” (Taman Puisi).

Kedua rubrikasi tersebut menjadi media untuk melestarikan dan meningkatkan muruah estetika bahasa dan karya sastra Jawa. “Taman Geguritan” mencatatkan diri kehadirannya sebagai sarana publikasi para sastrawan untuk geguritan modern semenjak masa awal penerbitannya. Demikian pula rubrik “Cerkak” yang ikonik dan sudah ada sejak Prakemerdekaan.

Dan, “Crita Sambung” tidak ketinggalan. Salah satunya yang terkenal dan termasuk awal, yaitu “Sandhal Jinjit Ing Sekaten Solo” karya Sri Soesinah yang hadir di Majalah Panjebar Semangat mulai Edisi Nomor 44 Tahun III, 2 November 1935. Di tengah-tengah kemeriahan pasar malam, cerita ini memotret pergulatan batin protagonis, M.R. Widati, yang menolak perjodohan paksa, manakala kuasa keluarga masih begitu kuat dalam menentukan pasangan hidup bagi anak perempuan. Ini perlawanan terhadap norma sosial yang masih dominan pada masa itu.

Kalau pada uraian sebelumnya terdapat statemen bahwa Majalah Panjebar Semangat memprioritaskan bahasa Jawa ngoko lugu, untuk cerkak, crita sambung, geguritan, dan surat pembaca, penggunaan ragam bahasanya sangat variatif, bisa dengan krama inggil atau krama madya tergantung pada gaya penulisnya. Misalnya dalam cerkak, dialog pegawai bawahan kepada CEO dalam sebuah perusahaan tentu tidak pas jika terucapkan dengan ngoko lugu. Pastilah dalam konteka ini ragam krama inggil lebih sesuai dengan konteksnya. Dan, CEO tentu meresponsnya dengan ragam tuturan ngoko.

Dari Lembaran Koran

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Panjebar Semangat pada edisi penerbitan perdananya pada 2 September 1933, berbentuk lembaran koran yang boleh terbilang begitu sederhana dan terdiri atas empat halaman. Membutuhkan waktu dua tahun lima hari, yaitu pada edisi terbitan 7 September 1935, untuk mengubah format fisiknya mewujud sebagai majalah. Jumlah halamannya pun bertambah menjadi enam belas.

Pada edisi perdana 2 September 1933, kendati formatnya masih berupa lembaran koran, frekuensi penerbitannya memang sudah berada di dalam ranah perancangan sebagai media cetak mingguan. Sesuai dengan wujud barangnya yang berupa lembaran koran tersebut, nama yang terpakai adalah surat kabar mingguan (weekblad). Adapun nama yang tercantum sebagai kop identitas media, yaitu Weekblad Djawa Oemoem Panjebar Semangat.

Penguatan semangat nasionalisme, menyebabkan istilah asing seperti weekblad secara berangsur mengalami pergeseran ke istilah lokal di kalangan para tokoh pers Indonesia. Kata bahasa Jawa pun, yakni kalawarti, yang berarti berita yang terbit secara berkala pun menyulihinya dan menjadi pilihan yang relevan untuk mempertegas jati diri sebagai pendukung pelestarian budaya dan bahasa Jawa. Manakala pada 7 September 1935 bertranformasi menjadi majalah, spirit inilah yang mengemuka. Majalah Kalawarti Mingguan Panjebar Semangat selanjutnya terasa lebih fasih tereja zaman.

Demikianlah, tatkala format fisiknya mengalami perubahan menjadi jilidan majalah, pengelolaan rubrikasinya kian menemukan rengkuh pengelolaan yang jauh lebih tertata rapi. Sejumlah rubrik legendaris telah mengada sejak masa awal dan menjadi andalan daya tarik tersendiri bagi eksistensi Majalah Panjebar Semangat. Antara lain, rubrik ikonik itu, “Cerkak”, yang menjadi wadah bagi sastrawan Jawa mengekspresikan kebutuhan estetikanya terutama dalam menulis cerita pendek. Bahkan, tercatat sebagai pionir kebangkitan Sastra Jawa Gagrag Anyar (Modern).

Selanjutnya ada Rubrik “Taman Geguritan” untuk mengkanalisasi gelora hati dan jiwa para penyair atau anggota masyarakat lainnya dalam menyikapi kehidupan dengan cara yang bijak. Kemudian membagikannya lewat untaian kata-kata yang tidak mengkerdilkan pandangan bahwa hidup ini memang semestinya berada pada tilikan kacamata dengan lensa optimisme. Tentu saja pilihan ekspresi yang puitis sangat legal perealisasiannya.

Dalam upaya untuk merawat jalinan komunikasi dan hubungan yang baik dengan khalayak pembaca, Majalah Panjebar Semangat menyediakan Rubrik “Layang Saka Warga”. Semacam surat pembaca yang memberikan kesempatan masyarakat dari berbagai daerah untuk saling berbagi pemikiran serta mungkin respons terhadap kondisi sosial yang memantik keprihatinan atau perhatian serius mereka.

Satu lagi rubrik yang boleh terbilang legendaris dan juga menjadi bagian dari hidangan khas, yaitu “Alaming Lelembut”. Ghost story. Bahkan ini yang paling ikonik dan tua. Berkisah mengenai misteri atau hal-hal supranatural. Khalayak pembaca sangat menggemari rubrik ini, karena merupakan aspek yang sarat dengan jamahan kultur mitologi Jawa.

Struktur rubrik yang upaya pelangsungan keberadaannya sangat memperhatikan dengan saksama dan cermat terhadap selera serta kebutuhan sebagian besar khalayak pembacanya. Berikut pemakaian bahasa Jawa ragam ngoko lugu terutama untuk sajian berita-beritanya. Dengan sedikit kompromi untuk ragam tuturan lainnya, seperti krama inggil dan krama madya, di Rubrik “Cerkak”, “Crita Sambung”, dan “Layang Saka Warga”. Semuanya tetap membawanya berjalan dengan dinamika langkahnya mulai masa kolonial Belanda hingga era digital dewasa ini.

Imam Soepardi

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Selain dokter Soetomo, ada seorang tokoh lagi yang turut bahu-membahu memberikan roh kehiduoan terhadap Majalah Panjebar Semangat. Dia adalah Imam Soepardi (10 Mei 1904 - 25 Juli 1963). Seorang mantan guru (alumnus Normaalschool pada 1925 dan pernah mengajar pada 1926 - 1930 di wilayah Puger, Jember), penulis, dan tokoh pers. Majalah ini pernah berhenti terbit selama tujuh tahun dari masa pendudukan Jepang (1942 - 1945) dan berlanjut hingga Perang Kemerdekaan (1945 - 1949).

Pada awal 1949, Imam Soepardi akhirnya dapat merapat kembali di Surabaya. Sebelumnya situasi keamanan di kota tersebut begitu tidak aman sehingga membahayakan tokoh-tokoh nasionalis dan wartawan pejuang. Mereka terpaksa melakukan pengungsian dan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari represi politik atau militer selama perang berkecamuk. Imam Soepardi sendiri memilih Kediri atau Malang agar tetap menjadi penyintas.

Manakala ketegangan militer dan politik sudah menunjukkan tanda-tanda kian mereda, dekat menjelang pengakuan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, pada akhirnya Imam Soepardi dapat menapakkan kaki ke Surabaya dengan lebih nyaman. Fokus utamanya ketika itu adalah menghidupkan kembali Majalah Panjebar Semangat. Berkat usaha kerasnya, media berbahasa Jawa tertua di wilayah penutur bahasa Jawa itu pun berhasil kembali naik cetak dan terbit pada 1 Maret 1949.

Kiprah Imam Soepardi setelah itu menjadi sangat sentral. Dia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi dan sekaligus Direktur Utama majalah tersebut. Dokter Soetomo telah berpulang ke rahmatullah pada 30 Mei 1938. Dengan demikian, struktur kepemimpinan Pascakemerdekan dan setelah vakum akibat kecamuk perang, tumpuan utamanya berada pada Imam Soepardi.

Tak pelak lagi, edisi perdana Pascakemerdekaan yang menemukan tonggak waktu pada 1 Maret 1949 berada dalam catatan sejarah sebagai momen emosional dan sekaligus krusial bagi perjalanan Majalah Panjebar Semangat. Kali ini, setelah mengalami vakum sejumlah tahun, media berbahasa Jawa ini hadir dengan performa raut yang kritis, agitatif. Serta, tentu saja tetap loyal mengedepankan sebagai ragam dominan bahasa Jawa ngoko lugu yang egaliter.

Adapun konten yang terhidang pada edisi perdana ini begitu kental dengan aroma perjuangan, laporan seputar kiprah pergerakan nasional pada masa itu. Berikut sertaan kritik yang tajam terhadap keping-keping sisa kekuatan kolonial Belanda dengan ambisi keinginan dan segenap reka daya upaya melakukan percobaan untuk menguasai kembali Indonesia.

Sejak awal kebangkitannya itu, sejumlah rubrik ikonik tetap hadir mengisi halaman-halamannya. “Pergerakan” tergolong rubrik utama yang tajam dan berani. Mencakup laporan khusus serta laporan berita politik nasional kala itu. Salah satu berita yang mencuatkan kepopulerannya pada awal penerbitan ketika melaporkan tindakan pembubaran paksa dari aparat kepolisian kolonial di Turen, Malang atas pertemuan antara para pemimpin Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Mohammad Hatta pada paruh pertama bulan September 1933. Aparat keamanan itu sebutannya Veldpolitie (Polisi Lapangan) yang menerima perintah dari Politieke Inlichtingen Dienst (PID). Dinas Intelijen Politik Kolonial.

Rubrik ikonik lainnya yang juga tetap muncul setelah kebangkitan kembali itu, yaitu “Kulak Warta - Adol Proengon” (Mencari berita dan Mengabarkannya). Ini merupakan rubrik informatif dan edukatif yang mengulas pelbagai jenis pengetahuan umum, mulai dari perkembangan dunia pers, ulasan politik termutakhir, hingga sorotan terhadap masalah ekonomi.

Lalu ada Rubrik “Pojok Jenaka”. Ada sejumlah jajaran redaksi yang menulisnya. Ada Mbah Djamino, pseudonim dari Toto Soedarto (jurnalis senior Majalah Panjebar Semangat). Ada Sinyo Kanthi, nama samaran Mochamad Ali (adik kandung Imam Soepardi). Dan, tidak jarang juga di-handle Imam Soepardi himself lewat pseudonim Seboel, Besoet, atau Senggring.

Humor satire dalam bahasa Jawa untuk menyentil kondisi sosial politik yang mengundang respons perhatian insan pers. Terkadang, terutama tulisan Mbah Djamino, juga memaparkan wejangan kehidupan dari sudut pandang generasi tua untuk anak-anak muda pada masa itu dengan nada candaan yang bertujuan positif (guyon parikena).

Kabar Donya” atau “Kabar Anyar” juga tercatat sebagai rubrik ikonik setelah era kebangkitan pada 1 Maret 1949. Menjadi kanal untuk menyebarluaskan rangkuman berita-berita penting dari berbagai daerah dan luar negeri, agar masyarakat Jawa tidak seperti katak di dalam tempurung. Akan tetapi, juga dapat mengetahui dan mengikuti perkembangan peristiwa yang berlangsung di dunia luar.

Penerbitan kembali setelah mengalami masa vakum tidak sebentar itu, segera mendapat sambutan hangat yang luar biasa dari masyarakat penutur bahasa Jawa, terutama di kalangan mereka yang melek huruf pada waktu itu. Sebab, Majalah Panjebar Semangat menjadi salah satu dari tidak banyak media lokal yang istikamah menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

Dari rentang 1 Maret 1949 hingga tutup usia pada 25 Juli 1963, Imam Soepardi mengambil peran ganda yang signifikan dalam kelangsungan penerbitan Majalah Panjebar Semangat.

Sebagai pemimpin redaksi adalah tanggung jawabnya menentukan arah pemberitaan, kebijakan media Pascakemerdekaan. Sebagai direktur utama/pemimpin usaha, pengelolaan bisnis, percetakan, dan pendistribusian mandiri hingga peningkatan tiras penjualan menjadi bagian dari ranah penanganannya pula.

Imam Soepardi juga masih mengisi sejumlah rubrik. Selain “Pojok Jenaka”, juga mengisi “Sinambi Kalane Nganggur” (Sambil Mengisi Waktu Senggang).

Kenangan Masa Kecil

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Saya pribadi memiliki kenangan masa kecil dengan Majalah Panjebar Semangat. Itu terjadi ketika masih sekolah dasar. Saya mulai suka mencari bahan-bahan bacaan ketika kelas III (1974). Nah, sejak bisa membaca itu, saya sering main di tetangga belakang rumah di Salatiga, Jawa Tengah. Kerap kali menyikat habis komik-komik silat yang tertumpuk di meja tamu. Asyik membaca berlama-lama.

Atau, kalau sedang berkunjung ke rumah Eyang Putri (ibu dari Ayah) di Srondol, Kota Semarang, saya tidak pernah bosan menelusuri tumpukan koleksi pustaka, bisa berupa buku atau majalah, di lemari penyimpanan. Di tempat inilah saya bertemu dengan beberapa eksemplar Majalah Panjebar Semangat terbitan kisaran tahun 1950-an hingga 1960-an.

Ada satu rubrik yang menarik perhatian saya. Namanya “Opo Tumon”. Dalam bahasa Indonesia bisa berarti “Apa Pernah Menemui” atau “Bagaimana Mungkin”. Pernyataan ini merupakan ekspresi keheranan, ketidakpercayaan, atau bisa juga sindiran terhadap suatu kejadian yang menurut anggapan si penuturnya termasuk ke dalam kategori tidak masuk akal, aneh, atau tidak wajar. Rubrik ini berupa cerita bergambar.

Pada era 1950-an hingga 1960-an, “Opo Tumon” biasanya tersaji dengan komik strip pendek yang terdiri atas empat gambar atau panel. Format visual empat panel ini demikian populer kala tersebut. Menceritakan adegan demi adegan dengan bubble dialog yang jenaka. Bisa juga berupa kejadian tidak masuk akal yang menimpa para karakternya. Atau peristiwa konyol yang mengundang tawa. Rubrik ini masuk ke dalam kategori lelipur (hiburan).

Kisah-kisah yang terilustrasikan sebagai deretan gambar yang bernarasi itu, bisa berupa cuatan keganjilan, kisah nyata yang unik, atau kejadian lucu yang merupakan hasil kiriman dari para pembaca. Kepada pembaca yang pengalaman neko-nekonya itu diangkat ke Rubrik “Opo Tumon” akan diberikan bebungah seperti laiknya honorarium.

Pada kisaran tahun 1950-an hingga 1960-an itu Majalah Panjebar Semangat memiliki ilustrator bernama Prijo Djatmiko (ejaan sekarang: Priyo Jatmiko). Ilustrator legendaris ini berjasa menghidupkan visual berbagai rubrik selama puluhan tahun dari era awal hingga pertengahan perjalanan sejarah media cetak berbahasa Jawa itu. Goresan ilustrasinya yang begitu khas, klasik, menjadi identitas visual yang terpatri sebagai memori kolektif generasi pembaca pada zamannya.

Karya-karya Prijo Djatmiko juga hadir untuk menghidupkan imajinasi pada rubrik “Cerkak” atau “Crita Sambung”. Peletak fondasi cara menggambarkan karakter manusia Jawa secara jenaka namun tetap santun (terutama dalam Rubrik “Opo Tumon”) lewat goresan hitam putihnya, menempatkan posisinya sebagai maestro legendaris yang mengawali tradisi seni visual dan kartun di Majalah Panjebar Semangat.

Dekade 1950-an menjadi salah satu periode yang begitu krusial dalam perjalanan karya ilustrasinya. Setelah tidak terbit selama tujuh tahun akibat gejolak politik dan militer di Tanah Air, Majalah Panjebar Semangat kembali hadir ke tengah-tengah khalayak pembacanya pada 1 Maret 1949. Melangkah ke dekade 1950-an, tirasnya meningkat secara menggembirakan hingga menyentuh angka puluhan ribu eksemplar.

Pada masa keemasan ini, karya Prijo Djatmiko yang berupa sketsa, karikatur, berikut ilustrasi cerita, menjadi bagian dari hidangan karya jurnalistik yang banyak pembaca dari pelbagai daerah dapat menikmatinya. Goresan hitam putihnya kala itu sangat mendapat pengaruh dari transisi masyarakat dari era kolonial menuju zaman kemerdekaan.

Yang paling menampak tegas dari goresan hitam putih seorang Prijo Djatmiko lewat karakter lelaki paruh baya yang mengenakan blangkon berikut kain jarit sebagai bentuk ekspresi visualnya tentang sosok rakyat jelata yang abangan sebagaimana tertuang ke dalam Rubrik “Opo Tumon”. Hal ini sesungguhnya merupakan rekaman visual sosiologis masyarakat Jawa pada tempo tersebut.

Nah, di sinilah letak kenangan masa kecil saya terhadap Majalah Panjebar Semangat, terutama terbitan tahun 1950-an hingga 1960-an yang saya temukan di lemari buku Ayah. Saat itu, saya yang masih kelas III di SD Kutawinangun IV Salatiga, mengira bahwa Prijo Djatmiko adalah karakter lelaki paruh baya yang mengenakan blangkon serta berjarit itu.

Saya yang saat itu masih 10 tahun, telah mengacaukan identitas Prijo Djatmiko sebagai ilustrator cerita bergambar di Rubrik “Opo Tumo” dengan mengiranya sebagai salah seorang karakternya. Kalau teringat hal itu, saya jadi malu sendiri.

Kondisi Dewasa Ini

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Dewasa ini, Majalah Panjebar Semangat konsisten terbit 50 halaman tiap edisinya. Tidak lagi hanya mengandalkan versi cetak, tetapi juga sudah tersedia versi digitalnya (E-Magz) lewat situs resmi panjebarsemangat.id, agar lebih gampang berada dalam jangkauan pengaksesan berbagai kalangan. Kedua versi tersebut telah distandardisasi. Untuk pelanggan versi digital kadang memperoleh sisipan khusus, seperti “Nayarana”, halaman untuk anak-anak. Hanya tidak selalu hadir di tiap edisi.

Majalah yang berkantor redaksi di Jalan Bubutan Nomor 87 Surabaya, tepat bersebelahan dengan makam sang pendirinya, dokter Soetomo, tetap kokoh menjadi agen pelestari budaya Jawa. Rubrik ikonik yang menarik kegemaran dari banyak khalayak pembaca, seperti cerita pendek, cerita bersambung, artikel budaya, dan kisah misteri tetap terawat dengan baik sebagai konten yang berada dalam kategori “terus berkelanjutan”.

Hingga dewasa ini Majalah Panjebar Semangat masih mempunyai basis pembaca yang loyal. Kendatipun telah mengalami disrupsi digital, ia tetap memperoleh dukungan khalayak pembaca setia yang berkekuatan finansial pula untuk memperpanjang eksistensinya dengan berlangganan dari masyarakat Jawa di Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, ataupun masyarakat Jawa di perantauan atau bahkan di luar negeri seperti Suriname.

Di samping Majalah Panjebar Semangat, terdapat pula media berbahasa Jawa lain yang tetap sukses sebagai penyintas hingga kini, yaitu Majalah Djaja Baja (Surabaya, berdiri pada 1945) dan Majalah Djaka Lodhang (Yogyakarta, berdiri pada 1971). Para peminat dapat menemukan dan membelinya lewat platform lokapasar, seperti Shopee atau Tokopedia. Kedua media tersebut belakangan ini pun sudah memiliki versi digital masing-masing. ***