Konten dari Pengguna

Pantai Malawwa Digadang-gadang Jadi Kawasan Ekowisata

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Panorama laut yang indah saat matahari terbenam di Pantai Malawwa, Mamuju, Sulawesi Barat. (Sumber: Koleksi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Panorama laut yang indah saat matahari terbenam di Pantai Malawwa, Mamuju, Sulawesi Barat. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Baru-baru ini, Si Sulung yang merupakan salah seorang anggota Tim Ekspedisi Patriot yang bertugas di Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, mengirim foto yang mendeskripsikan secara visual tentang keindahan panorama Pantai Malawwa ketika matahari terbenam. Pantai tersebut terletak di Desa Tapandullu, Kecamatan Simboro .

Rupanya di sela-sela kegiatannya menjahit data dari hasil temuan survei lapangan di sejumlah wilayah transmigrasi di Kecamatan Kalukku, ada waktu senggang untuk sekadar mengunjungi tempat wisata. Pantai Malawwa salah satunya. Jaraknya pun relatif dekat. Hanya kisaran 15 kilometer dari Perumahan Graha Nusa I Mamuju, tempat Si Sulung bersama teman-temannya tinggal selama bertugas di sana.

Di Kabupaten Mamuju, Pantai Malawwa merupakan salah satu destinasi wisata pantai. Lima lainnya, yaitu Pantai Tanjung Ngalo (di Desa Dungkait, Kecamatan Tapalang Barat), Pantai Manakkara (di sepanjang Jalan Yos Sudarso pusat kota Kabupaten Mamuju), Pantai Beringin Cinta atau yang biasa diakronimkan Benci (di Dusun Toangsang, Desa Bonda, Kecamatan Papalang), Pantai Tanjung Losa (Desa Labuang Rano, Kecamatan Tapalang Bar), dan Pantai Lombang-lombang (di Kelurahan Sinyonyoi, Kecamatan Kalukku).

Ekowisata

Konsep ideal Pantai Malawwa yang digadang-gadang sebagai kawasan ekowisata versi Gemini AI.

Pantai Malawwa atau yang bernama lain Pantai Tapandullu digadang-gadang sebagai kawasan ekowisata. Merujuk pada jenis pariwisata yang tidak saja sebagai sarana relaksasi dengan menikmati keindahan panorama pantai. Akan tetapi, juga untuk mempelajari lingkungan dan berperan serta dalam melestarikan ekosistem.

Ekowisata mempunyai prinsip utama untuk konservasi alam dengan menekan seminimal mungkin risiko-risiko tindakan yang mengakibatkan lingkungan merana ataupun menderita dampak negatif. Ekowisata melibatkan warga lokal dengan memberdayakan mereka secara ekonomi.

Pemberdayaan ekonomi warga lokal secara ekonomi juga menjadi prioritas lain dari kebijakan ini. Mereka dapat memetik manfaat riil dari keberadaan destinasi wisata Pulau Malawwa itu, seperti sebagai pengelola fasilitas, penyedia jasa, atau sebagai produsen dan penjual produk-produk setempat. Dengan demikian, lapangan kerja dan kesejahteraan warga di sekitar pantai pun terpenuhi.

Selain itu juga ada edukasi lingkungan kepada para pengunjung, melalui ajakan turut berperan serta secara aktif dalam kegiatan konservasi alam, seperti penanaman bibit pohon. Mereka mempertajan kepedulian dan kepekaan hatinya untuk memahami dan menghargai nilai-nilai lingkungan sesuai dengan kearifan budaya lokal. Iktikad baik untuk menjaga kebersihan lingkungan pun relatif terbentuk sebagai tatanan sikap.

Ekowisata memang mempunyai fokus pada pendidikan, konservasi dan apresiasi alam. Dengan tarikan integratif pendidikan alam, ekowisata dapat menyediakan ruang kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pengunjung, guna menjalani proses belajar interaktif dan menumbuhkan rasa hormat terhadap lingkungan.

Ekowisata juga memberi fokus perhatian terhadap upaya konservasi alam. Setidaknya sebagai pembentuk karakter yang memiliki pandangan ke depan untuk mengupayakan pelestarian, perlindungan, dan pengelolaan sumber daya alam dengan perspektif tindakan yang bijaksana dan berkelanjutan hingga generasi mendatang dapat turut menikmatinya. Karakter yang demikian, tentu tidak akan melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap lingkungan.

Apresiasi Alam

Apresiasi terhadap alam dalam fokus ekowisata mewujud sebagai pengalaman autentik yang mendidik. Dengan demikian, dapat menaikkan taraf kesadaran dan rasa hormat pengunjung kawasan wisata terhadap lingkungan. Bentuk ungkapan apresiasi tersebut dapat terucapkan lewat usaha meminimalisasi dampak negatif atau memberikan sokongan tenaga atau bahkan finansial demi mewujudkan konservasi yang berkesinambungan.

Di samping itu, ekowisata pun mendorong suatu interaksi yang sarat dengan kesadaran dan tanggung jawab. Kemudian mempromosikan tentang nilai urgensi perlindungan terhadap ekosistem. Berikut memastikan manfaat ekonomi guna menopang pelestarian. Tidak cuma sebatas profit komersial.

Ekowisata lazim berskala kecil, dalam artian ada pembatasan pengoperasiannya. Pembatasan itu dari sisi jumlah pengunjungnya ataupun kapasitas usaha (pengelolaan daya dukung lingkungan) dalam upaya menekan dampak negatif yang berpengaruh terhadap lingkungan dan warga lokal. Menciptakan pengalaman yang intim dengan alam, itulah prioritas fokusnya.

Kegiatan Ekowisata

Diving atau menyelam merupakan salah satu kegiatan ekowisata. (Sumber: Shutterstock)

Kegiatan yang beraromakan ekowisata di kawasan pantai, antara lain snorkeling. Mencurahkan pengamatan pada keindahan bawah laut dari perairan dangkal dengan kedalaman sekitar satu hingga tiga meter di bawah permukaan air laut. Cocok bagi pemula, bahkan bagi yang tidak mahir berenang karena ada kelengkapan baju pelampung. Menggunakan masker selam dan snorkel untuk bernapas. Serta, fins (kaki katak), sepatu berselaput untuk berenang atau menyelam agar lebih cepat.

Diving atau menyelam adalah kegiatan ekowisata yang lain di kawasan pantai. Peralatannya terdiri atas masker selam, tabung udara (scuba tank), jaket pelampung (buoyancy control device/ BCD), sepatu kaki katak (fins), pakaian selam (wetsuit). Lainnya, dive computer untuk mengetahui kedalaman dan waktu. Berikut, sabuk pemberat yang berfungsi mengatur daya apung.

Ada etika bagi penyelam ketika berkegiatan ekowisata. Tidak menyentuh, menginjak, atau menendang terumbu karang dan biota laut lainnya. Memilih jarak yang aman dari satwa laut, seperti penyu atau ikan, agar dapat menghindari gangguan terhadap habitat mereka.

Selanjutnya, penyelam sebelum berkegiatan menyediakan waktu memadai untuk memahami ekosistem yang hendak mereka selami demi keistikamahannya menjunjung tinggi konservasi lingkungan bawah laut. Dan tak kalah penting, penyelam berperan serta dalam pembersihan bawah laut. Bila ada rezeki berlebih, maka dengan segenap daya keikhlasan berdonasi ke organisasi konservasi setempat.

Kegiatan yang termasuk ekowisata, yakni melakukan piknik (makan bersama keluarga atau teman beralaskan tikar) di tepi pantai dengan tetap bertanggung jawab pada kebersihan setelah beraktivitas. Bisa pula dengan mengadakan penjelajahan alam seperti berselancar. Dan, berkegiatan untuk penelitian yang hasilnya berkontribusi pada kebijakan pelestarian alam yang strategis.

Konversi Lahan

Hal yang patut menjadi catatan dalam pengembangan Pantai Malawwa sebagai kawasan wisata, terdapat area yang semula hutan biasa (bukan mangrove), kemudian mengalami alih fungsi menjadi sarana fasilitas pendukung, seperti tempat makan, area parkir, dan ruang terbuka bagi para pengunjung.

Sementara pakar lingkungan, berpegang pada pandangan, bahwa pengalihfungsian atau konversi lahan itu, apabila tidak mendapat perhatian dan pengelolaan yang ekstra hati-hati, bisa mengakibatkan dampak ekologis serius.

Walaupun tidak sestrategis posisinya dibandingkan hutan mangrove, hutan biasa di wilayah pesisir pun tetap mempunyai arti penting. Dalam konteks ini, arti penting dalam merawat keseimbangan ekosistem dan melindungi lingkungan sekitar.

Saya yakin, sejak kebijakan konversi lahan ini diterapkan pada 2010 sudah melalui kajian matang Pemerintah Daerah via Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Mamuju. Tentu ada strategi jangka panjang untuk menggerus risiko ekologis yang bakal menyambangi dengan sentuhan solutif yang menyamankan semua pihak. Termasuk dalam hal investasi ekologis yang positif untuk generasi mendatang pun sudah terpikirkan sedari dini.

Begitulah adanya saat ini. Pantai Malawwa yang tersohor sebagai jujukan wisata bahari di Kabupaten Mamuju, menebarkan pesona keindahan pasir putihnya, pemandangan eksotis manakala Sang Matahari memadu asmara dengan Dewi Senja. Serta, tawaran sejumlah aktivitas menarik, antara lain berenang, bermain dengan speed boat, bebek air, juga memancing. Pengunjung yang ingin diving, di sini tempatnya. Para penyuka swafoto, ada banyak spot menarik.

Tersedia vila untuk menginap dan gazebo untuk duduk santai. Tidak ketinggalan kafe berikut area perkemahan. Kuliner khas Mamuju pun siap dinikmati kelezatannya. Sebut saja bau piapi, ikan bakar berempah. Atau ikan, lobster, cumi-cumi bakar. Aneka jajanan juga mudah ditemui, seperti roti pawa (mirip bakpau isi kacang) dan bolu peranggi (bolu kecil cokelat rasa manis gurih). ***