Konten dari Pengguna

Peci Hitam Soekarno yang Sarat Makna Nasionalisme

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peci hitam dengan paduan jas dan celana panjang ala busana Barat merupakan simbol perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda dan kesetaraan harkat martabat kemanusiaan di masa perjuangan sebelum kemerdekaan. (Sumber: Darulfunun El-Abbasiyah)
zoom-in-whitePerbesar
Peci hitam dengan paduan jas dan celana panjang ala busana Barat merupakan simbol perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda dan kesetaraan harkat martabat kemanusiaan di masa perjuangan sebelum kemerdekaan. (Sumber: Darulfunun El-Abbasiyah)

(1)

Saat itu, 2 Desember 1930. Bertepatan dengan hari Selasa. Tentu saja berlangsung ketika jam kerja pada masa itu. Di hadapan Landraad te Bandoeng, Soekarno yang saat itu berusia 29 tahun 179 hari mengenakan peci hitam dan jas dengan dalaman kemeja berdasi serta celana panjang. Dia dengan kegagahan intelektualnya pun melakukan pembelaan diri.

Pemerintah Hindia Belanda melalui Jaksa R Soemadisoerja mengenakan Pasal 169 bis dan Pasal 153 bis Wetboek van Strafrecht. Pasal-pasal mengenai penyebaran kebencian terhadap penguasa (haatzai artikelen). Dan pleidoi di bawah judul “Indonesië Klaagt Aan” (Indonesia Menggugat) itu terdengar menghentak-hentakkan detak jantung sekalian yang hadir di ruang persidangan.

Dibacakan oleh Soekarno himself. Berkat latar belakang pendidikannya di Hogere Burger School (HBS) dan Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung/ITB), Soekarno begitu fasih melafalkan dengan benar, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, yang tertuang dalam bahasa dari Negeri Kincir Angin itu. Hij spreekt zeer vloeiend Nederlands.

Sampul buku edisi revisi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams. (Sumber: FLIPHTML5)

Dari Bab XI buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia berdasarkan versi pengisahan Cindy Adams, terungkap isi pleidoi itu yang beberapa paragraf pembukanya, jika dibahasaindonesiakan kira-kira bertutur sebagai berikut:

Pengadilan menuduh kami telah menjalankan kejahatan. Kenapa? Dengan apa kami menjalankan kejahatan, tuan-tuan hakim yang terhormat? Dengan pedang? Dengan bedil? Dengan bom?

Senjata kami adalah rencana, rencana untuk mempersamakan pemungutan pajak, sehingga rakyat Marhaen yang mempunyai penghasilan maksimum 60 rupiah setahun tidak dibebani pajak yang sama dengan orang kulit putih yang mempunyai penghasilan minimum 9.000 setahun.

(...)

Satu-satunya dinamit yang pernah kami tanamkan adalah suara jeritan penderitaan kami. Medan perjuangan kami tak lain daripada gedung-gedung pertemuan dan surat-surat kabar umum.

Tidak pernah kami melanggar batas-batas yang ditentukan oleh undang-undang. Tidak pernah kami mencoba membentuk pasukan serdadu-serdadu rahasia, yang berusaha atas dasar nihilisme.

Soekarno muda yang 15 tahun kemudian, bersama Mohammad Hatta, memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, itu akhirnya menerima vonis hukuman yang merupakan upaya Pemerintah Hindia Belanda mematahkan Gerakan Nasionalisme yang semakin mengembangkan sayap-sayapnya untuk terbang tinggi ke langit harapan pada masa itu.

Majelis Hakim di bawah pimpinan Mr. R. Siegerbeek van Heukelom menjatuhkan vonis empat tahun penjara bagi Soekarno. Sementara itu, dua rekannya yang juga aktivis Partai Nasional Indonesia (PNI), yaitu Gatot Mangkoepradja mendapat vonis dua tahun penjara dan Soepriadinata satu tahun tiga bulan penjara.

(2)

Dan, ketika menghadapi hal itu semua, Soekarno tetap tampil dengan peci hitam di kepala. Berikut paduan jas yang di dalamnya terdapat kemeja berdasi. Serta, melengkapi busana ala Baratnya, adalah pantalon alias celana panjang. Namun yang lebih mendapatkan aksentuasi perhatian, peci hitam tersebut adalah simbol perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Simbol kebangkitan nasionalisme Indonesia.

Sang Merah Putih gagah berkibar di langit biru. (Sumber: Shutterstock)

Ketika kemudian Soekarno atas kehendak sejarah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa dan negara ini dalam menjawab tuntutan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Diplomasi peci hitam pun menjadi salah satu sisi yang menegaskan identitas bangsa tatkala beliau bertemu dengan para pemimpin dunia kala itu.

Peci hitam itu adalah juga simbol perlawanan intelektual dari seorang Soekarno terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Peci hitam itulah yang terpasang di kepala beliau, ketika di Pengadilan Kolonial di Bandung itu dari mulut beliau meluncur kalimat, “Misschien heeft Nederland eindelijk begrepen dat het beter was om het kolonialisme op vreedzame wijze te beëindigen” (“Mungkin juga Negeri Belanda akhirnya mengerti, bahwa lebih baik mengakhiri kolonialisme secara damai”).

(3)

Peci hitam menjadi alat diplomasi Soekarno untuk mempertegas identitas bangsa. (Sumber: pinterest)

Tradisi Melayu dan Islam di Nusantara agaknya menjadi akar yang kuat dari kebiasaan Soekarno mengenakan peci hitam sebagai penampilannya yang khas. Sangat bisa jadi, peci yang dipopulerkan Soekarno dimodifikasi dari bentuk-bentuk peci atau songkok yang telah ada sebelumnya.

Meski demikian, di kepala Soekarno, karena beliau adalah salah seorang sosok anak bangsa yang sangat berjasa dalam mengawal perjalanan keindonesiaan kita, menjadikan benda itu sebagai simbol persatuan dan identitas nasional.

Sesungguhnya kisah peci hitam tersebut telah bermula sejak Soekarno menghadiri pertemuan Jong Java pada Juni 1921. Pada pertemuan itu terdapat semacam imbauan agar para pemuda yang hadir tidak mengenakan topi penutup kepala. Sebab, dalam pandangan mereka saat itu, mengenakan topi hanya akan mengesankan adanya perilaku imitatif terhadap kebiasaan berbusana sebagai lambang identitas orang Belanda atau orang Barat lainnya.

Soekarno sebetulnya agak ragu untuk mengenakan peci hitam. Namun, keyakinannya berangsur pulih manakala di dekat lokasi pertemuan, tertangkap pandangannya pedagang satai yang begitu nyaman berpeci. Beliau pun berkeputusan untuk tetap memakainya hingga masuk ke dalam ruangan pertemuan.

Pada mulanya Soekarno sempat menerima permintaan untuk melepaskan peci hitamnya. Dan, dengan tegas permintaan itu ditolak. Dengan pesona kharismatiknya, dan kemampuan retorika yang cerdas, bahkan Soekarno dapat meyakinkan sekalian pemuda yang hadir pada saat itu, bahwa peci hitam adalah lambang kepribadian bangsa. Beliau mampu memantapkan hati mereka, bahwa peci hitam adalah simbol Indonesia merdeka. Inilah titik awalnya. Dit is het startpunt. ***