"Pendaki Gabut”, Efek Candaan dari Benturan Makna

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gabut. Pada mulanya adalah akronim dari “gaji buta”. Akrab terdengar tatkala didahului dengan kata “makan”. Jadilah “makan gaji buta” alias magabut. Pada awalnya merujuk kebiasaan seseorang yang terlalu santai, sehingga cenderung bermalasan, saat melakukan suatu pekerjaan. Padahal dari pekerjaan itu dia memperoleh gaji, upah, atau honor. Demikian pada awal pemakaiannya.
Ada pergeseran makna manakala “gabut” memasuki atmosfer bahasa gaul (slang) di kalangan anak muda. Penggunaan utamanya cenderung untuk mengungkapkan kebosanan dengan balutan canda. Kadang ada sertaan gelitik humor yang mengundang tawa. Misalnya adanya video di media sosial yang menunjukkan seorang cewek jelita tengah menghitung butiran beras di dapur. Lalu pada point of view (POV) tertulis “Efek gabut akut”.
Bisa juga tersaji lewat ungkapan rayu guna meluluhkan hati sang pujaan, “Aku lagi kena penyakit gabut nih. Sembuhnya cuma lantaran melihat kamu.” Atau, bisa dengan kreativitas pelesetan akronim “gabut” menjadi “ganteng butuh perhatian”. Dan, agaknya frasa “Pendaki Gabut” sebagaimana tertuang di papan yang bertuliskan lokasi foto di Sulawesi Barat, Puncak Marano 900 Mdpl, juga hadir dalam rengkuh candaan itu.
Benturan Makna
Berdasarkan analisis linguistik, teks (text) “pendaki gabut” merupakan frasa yang terdiri atas kata “pendaki” (nomina/kata benda) yang merupakan subjek atau pelaku aktivitas perjalanan menuju ke suatu tempat dengan akses yang menanjak. Kemudian bergabung dengan kata “gabut” yang mengacu kondisi si subjek yang sedang bosan lantaran belum ada pekerjaan yang harus dia lakukan. Jadi, “gabut” berposisi sebagai adjektiva (kata sifat) yang menengarai kejenuhan yang terucap dengan hembusan lembut.
Di sini efek humor atau candaan itu muncul karena adanya benturan makna. Kata “pendaki” mempunyai konotasi positif sebagai sosok yang telah berusaha dengan segenap kekuatannya, ketekunannya, kepastian tujuannya melalui akses menanjak sebagai simbol keberadaan berbagai tantangan yang menjadi aral melintang.
Sementara itu, kata “gabut” dalam bahasa gaul justru berada di kutub konotasi yang kurang sealiran, meskipun tidak harus menyandang atribut negatif. Uluran makna yang lebih dekat dengan perilaku yang tidak terlalu sungguh-sungguh, ada sentuhan kebosanan yang mengisi ruang motivasinya, serta ketiadaan tujuan yang jelas, sedikitnya bisa menerima pemahaman sebagai benturan makna.
Begitulan penggabungan dua kata tersebut menghadirkan sebuah frasa yang menurut acuan semantik masing-masing boleh terbilang kontradiktif. Kondisi “gabut” yang cenderung berada di dalam narasi suasana yang pasif, menerima realisasi penyematan pada subjek “pendaki” yang seharusnya menunaikan aktivitasnya dengan tindakan dan melalui jalur tempuh akses dengan medan menanjak secara aktif. Inilah sesungguhnya inti dari humor dimaksud.
Adapun koteks (cotext), yaitu teks-teks mengelilingi kata “gabut”. Sesuai dengan aksi visual sebagaimana narasi foto pada awal esai ini, tertuang pada papan tulis yang berada dalam pegangan tangan sang pendaki. Di situ kata “gabut” didahului pada baris pertama keterangan tempat yang lebih luas dengan ukuran font tulisan yang sama di baris ketiga dan keempat. Yaitu “Sulawesi Barat”.
Koteks lain pada baris kedua, berupa penyebutan tempat yang riil menunjuk pada lokasi tempat berdiri, yaitu “Puncak Marano”. Font tulisannya dengan ukuran paling besar. Selanjutnya pada baris ketiga terdapat informasi besaran jarak ketinggian dengan satuan ukuran ketinggian tempat itu dengan sebutan “meter di atas permukaan laut” (mdpl). Di situ tertera “900 MDPL”. Dan, pada baris keempat kata “pendaki” mendahului kata “gabut”.
Aksi berfoto ria sambil menunjukkan tulisan kocak di puncak ketinggian tampaknya telah menjadi ritual atau tren bagi para pendaki muda. Aksi ini merupakan bagian dari koteks yang memberikan warna pembeda dari tulisan yang tersaji di media sosial. Foto itu sendiri juga bagian dari konteks (context) visual. Ekspresi wajah ceria yang berbaur kelelahan, menjadi tampak berarti dengan latar belakang panorama daerah pegunungan yang indah. Kontras dengan sebutan “pendaki gabut”.
Dari aspek konteks situational, tampak seorang pemuda sukses menyelesaikan langkah pendakiannya. Itu berarti dia telah dapat melewati aktivitas yang relatif melelahkan. Kontras dengan usaha yang membutuhkan tenaga tersebut, dia mengamini, karena dengan suka rela memegang papan yang antara lain bertuliskan “pendaki gabut”. Seolah pendaki itu hendak mengatakan, walau telah bersusah payah, dia tidak ingin tampak terlalu sombong. Ini bisa jadi menjadi perspektif humor dari sisi ini.
Konteks pragmatis yang mungkin terulur dari dari aksi verbal dan visual ini, yaitu membuat candaan untuk menghibur diri sendiri dan teman-temannya. Selain itu, menggunakan humor untuk melakukan relaksasi guna menetralisasi kalau ada ketegangan atau kesulitan pada saat proses pendakian. Konteks pragmatis lainnya, dengan membuat konten candaan yang menghibur untuk konsumsi media sosial.
Dari tilikan konteks sosial, di kalangan pendaki muda, ada kecenderungan dalam pergaulan dengan sesama teman yang sehobi, untuk tidak terlalu serius dalam menimbang diksi. Bahkan, boleh dikatakan sarat guyuran kata yang akrab dengan humor atau candaan. Penggunaan kata “pendaki gabut” merupakan bagian dari budaya komunikasi yang anak muda banget.
Kritik Humoris
Frasa “pendaki gabut” terkadang bisa memperoleh tempat sebagai kritik humoris teruntuk pendaki yang menempatkan pendekatan terlalu over. Biasanya ada kompromi dengan sikap yang lebih santai dan tidak terlampau ambisius dalam memaknai kegiatan tersebut.
Hal itu tampak misalnya dalam kalimat “Santai aja kali, Bro. Kayak mau balapan aja. Gue mah cuma pendaki gabut. Yang penting sampai. Mau mampir tidur dulu juga oke”. Pernyataan ini ditujukan kepada pendaki yang terburu-buru karena terpatok target waktu.
Termasuk di dalam budaya komunikasi mereka adalah penggunaan humor sarkastik. Kadang mewujud dalam kata-kata penuh ironi untuk menyindir, mengkritik, juga mengejek. Tidak jarang dengan makna yang kontradiktif dari ekspresi pengucapan.
Ambil misal kalimat “Dia mendaki gunung tinggi. Tapi, kok di media sosial cuma gabut mamerin gear mahal doang, ya?” Ini sindiran terhadap pendaki yang hanya ingin memamerkan gear yang meliputi perlengkapan dasar (tas punggung, sepatu gunung, jaket, celana) dan perlengkapan penting (tenda, kantong tidur, alat masak) semata. Ada pula yang merespons, “Maaf ya, Mas. Saya pendaki gabut. Bawaannya cuma mi instan sama kompor kecil. Bukan full gear kayak yang di majalah-majalah.”
Masih dalam konteks sosial, kalimat ironis lainnya, “Wah, keren ya. Bisa sampai puncak gunung. Terus gabut-nya cuma buat upload foto dan nungguin like.” Ini sindiran untuk usaha yang penuh perjuangan dalam mendaki gunung, pada ujungnya hanya untuk kegiatan pamer di media sosial. Ada juga yang mengemukakan, “Lo, berasa lagi ekspedisi besar-besaran, ya? Gue mah pendaki gabut yang cuma niat cari ketenangan. Bukan cari sensasi.”
Bisa pula, berupa ungkapan penolakan terhadap motif sementara pihak dalam peran sertanya mengikuti kegiatan pendakian. Seperti dapat kita pahami dari kalimat pernyataan, “Gue lagi gabut nih. Males mendaki gunung kalau cuma buat ikut-ikutan tren kayak orang-orang.” Ini sindiran bagi orang yang ikut mendaki gunung hanya karena Fear of Missing Out (FOMO), rasa takut ketinggalan tren, dan bukan karena dorongan yang kuat akan rasa cinta terhadap alam.
Ungkapan senada dalam bentuk berbeda berupa penolakan terhadap motif yang hanya berorientasi pada hasil tercermin pada pernyataan, “Daripada dengerin cerita-cerita pendaki-pendaki ambis. Mending dengerin cerita pendaki gabut, yang lebih banyak tidur daripada jalannya.” Bisa jadi konsep maknawi tidur dalam tautan ini, lebih dekat pada menikmati proses dan sekaligus menunjukkan kedekatannya pada alam.
Penggunaan frasa “pendaki gabut” dalam budaya komunikasi para pendaki muda Tanah Air merupakan salah satu bentuk ekspresi humor mereka untuk mempertanyakan standar atau ekspektasi yang terlalu mendestruksi ketulusan hati mereka untuk sekadar mencintai alam.
Dalam perspektif linguistik, frasa “pendaki gabut” sesungguhnya merepresentasikan sesuai dengan takaran yang pas dari benturan interaksi makna (semantik), koteks visual, dan konteks sosial dalam mengkreasikan humor. Suatu tipikal humor yang beranjak dari pelanggaran ekspektasi sesungguhnya.
Proses pergumulan seseorang dalam aktivitas mendaki suatu tempat yang menanjak, kadang terjal ekstrem, semestinya menghamburkan kesan yang serius dan penuh perjuangan untuk mencapainya. Akan tetapi, justru mengalami pengidentifikasian yang karib dengan atmosfer suasana yang santai dan tanpa tujuan sebagaimana termaktub dalam kata “gabut”.
Tidak bisa dikatakan lain, inilah sebuah bentuk candaan yang cerdas dan relevan di kalangan para kawula muda. Mereka acapkali memanfaatkan humor untuk mengekspresikan diri. Sebab, humor bisa menjadi mekanisme pertahanan diri dalam mengatasi tekanan ekspektasi sosial, akademik, masalah pribadi. Selain itu, juga memproteksi diri kerentanan. Humor menjadi semacam perisai emosional.
Humor bisa menjadi sarana komunikasi yang dapat berkelit dari konfrontasi terbuka. Ia pun merupakan pelumas sosial yang menciptakan interaksi lebih menyenangkan dan menyamankan Dalam era media sosial, humor menjadi senjata ampuh pembentuk daya tarik agar konten memperoleh curahan perhatian audiens.
Di kalangan anak muda, kepemilikan selera humor yang sefrekuensi dengan kelompoknya bisa mengukuhkan suatu penanda identitas sosial. Ia adalah juga sumber pengungkapan ide dan nilai dengan cara ringan tetapi relatif memikat. Selanjutnya, humor terutama berupa meme, begitu fleksibel menjamah tren atau isu kekinian.
Humor Cerdas dan Relevan
Pemakaian frasa “pendaki gabut” merupakan humor yang cerdas dan relevan. Humor yang cerdas sering menyuguhkan kontradiksi yang tidak tersapa dugaan sebelumnya. Dan, pengombinasian konsep serius (“pendaki”) untuk bersanding dengan konsep santai (“gabut”) merupakan satu di antaranya. Ia merupakan komentar sosial yang begitu peka terhadap tren dan budaya pendakian di kalangan anak muda.
Tanpa mengetahui konsep lelucon “pendaki gabut”, tanpa memahami latar belakangnya, tentu kita akan kesulitan untuk tertawa atau hanya untuk sekadar tersenyum simpul. Orang yang belum mengetahui apakah “gabut” itu atau belum mengerti budaya komunikasi anak-anak muda, akan tidak mudah menenemukan letak humor di balik bentukan frasa “pendaki gabut”.
Efek komedi dalam candaan cerdas tidak jarang muncul dari permainan kata, sindiran, atau pemakaian istilah yang tidak lazim. Bisa pula hadir sebagai pernyataan yang secara teknis tidak keliru, namun absurd. Bagi anak muda, absurd bisa bergerak menuju ke ranah maknawi untuk sesuatu yang aneh, tidak masuk akal, kadang konyol, atau menggelikan. Caranya pun menghibur serta tidak jarang menghadirkan sentuhan kelucuan.
Frasa “pendaki gabut” merupakan representasi contoh. Subjek yang menjadi rujukan benar-benar seorang pendaki dan barangkali merasa gabut. Namun pernyataan itu menjadi absurd demi menilik usaha yang telah menggerakkan upaya pencapaian kegiatan pendakiannya.
Selebihnya, humor yang relevan manakala berkaitan erat dengan hal-hal yang mendapat pemahaman dan menjadi bagian integral dengan pengalaman audiensnya. Frasa “pendaki gabut” memang sungguh relevan bagi para pendaki muda yang begitu karib dengan budaya media sosial dan humor sarkastik.
Memang agaknya, humor atau candaan yang relevan pada gilirannya akan mampu memperkukuh ikatan sosial. Sebab, berpotensi mewujudkan keterciptaan frekuensi pemahaman yang sama di antara individu-individu yang termasuk sebagai sekumpulan pihak yang benar-benar “mengerti” humor tersebut.
Bentukan frasa “pendaki gabut” manakala menjadi humor yang relevan, mempunyai fungsi sebagai komentar atau sindiran yang arah sasarannya adalah norma-norma sosial. Dalam kaitan ini, candaan itu menyoroti budaya pendakian yang terlalu serius dan terdeskripsikan kelewat heroik. Dan, justru memilih untuk menurunkan level kekhidmatan perjuangan yang telah ditempuh dengan ekspresi yang humoris. Inilah yang unik. ***
