Konten dari Pengguna

Penyandang Disabilitas Intelektual: Antara SLB dan Pendidikan Inklusif

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi disabilitas intelektual. (Sumber: Shuttertock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi disabilitas intelektual. (Sumber: Shuttertock)

Problematika penyandang disabilitas intelektual sebetulnya relatif kompleks. Sepanjang yang saya cermati sebagai seorang ayah yang memiliki anak perempuan tunagrahita dan tiap hari mengantar berangkat serta pulang ke dan dari sekolah dengan sarana transportasi umum. Tampaknya tidak sekadar berhenti pada keterbatasan kecerdasannya yang di bawah rata-rata semata.

Tak kurang menyita perhatian adalah masalah kemampuan mereka mengelola emosi (perasaan). Bagaimana cara mengatur ritme emosi dengan tingkat sensitivitas tinggi, agar tidak muncul sebagai letupan-letupan yang terkadang cukup mendistorsi kenyamanan berinteraksi sosial. Di sinilah sebetulnya letak posisi problematika utama mereka.

Penyandang disabilitas intelektual itu. Atau ada yang menyebutnya penyandang retardasi mental. Dengan letupan-letupan emosi yang begitu sering menyapa hari-hari kehidupan mereka. Terkadang menempatkan guru, bukan lagi sebagai pengajar dan pendidik melainkan lebih dekat sebagai pengasuh selama di sekolah.

Terkadang mereka juga menempatkan orang tua dan saudara di rumah sebagai kanalisasi letupan-letupan kemarahan yang sebetulnya lebih tersulut lantaran adanya ungkitan gesekan dengan teman-teman sekelasnya. Terkadang pula ada jenis-jenis emosi yang sulit bersapaan dengan pertimbangan nalar sehat.

Berangkat dari realitas inilah, saya pikir memang perlu suatu pandangan yang lebih komprehensif, meletakkan sekolah luar biasa (SLB) pada posisi muruahnya yang tepat. Ia bukan institusi kependidikan yang memisahkan hak-hak penyandang disabilitas intelektual untuk menimba ilmu secara bersama dengan para peserta didik dengan Intelligence Quotient (IQ) standar sebagaimana tujuan mulia pendidikan inklusif.

Pada hemat saya, SLB seharusnya tidak perlu harus menerima tudingan sebagai institusi pendidikan yang memisahkan penyandang disabilitas intelektual dengan teman-teman sebayanya yang ber-IQ standar. Justru antara SLB dan pendidikan inklusif semestinya bisa saling mengisi dalam format yang lebih fleksibel realisasi penerapannya.

Perlu Dipetakan

Seharusnya perlu dipetakan terlebih penyandang disabilitas intelektual atau retardasi mental manakah yang dapat diikutsertakan ke dalam pendidikan inklusif itu. Tentu saja tidak semua jenis tingkatan bisa mendapatkan penanganan optimal. Tidak semua tingkatan bisa menjalin kebersamaan untuk menempuh pendidikan inklusif.

Retardasi mental, istilah lain dari disabilitas intelektual. (Sumber: Shutterstock)

Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), terdapat empat tingkatan penyandang retardasi mental, yaitu ringan (IQ 50-55 dan 70), sedang (IQ 35-40 dan 50-55), berat (IQ 25-25 dan 35-40), sangat berat (IQ di bawah 20 atau 25).

Adapun IQ pada manusia itu, 91-110 untuk tingkat normal atau rata-rata; 111-120 untuk tingkat tinggi. Sementara itu, 80-90 masuk dalam tingkat rendah tapi masih dalam kategori normal (dull normal).

Penyandang retardasi mental ringan mampu melaksanakan kegiatan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pelatihan yang berulang-ulang, mereka mempunyai potensi untuk meningkatkan kualitas kemampuan.

Mereka mampu merawat dirinya, seperti mandi, makan, mengenakan pakaian, mendadani diri secara mandiri. Demikian pula dengan keterampilan berkomunikasi, mereka dapat menerapkan kata-kata dalam bahasa sederhana untuk mengikuti percakapan dan mengekspresikan kebutuhan. Serta, secara mandiri menggunakan sarana transportasi umum.

Untuk keterampilan domestik, penyandang retardasi mental ringan, dengan pelatihan dapat memasak sederhana (menggoreng telur, membuat mi instan), mencuci pakaian, menyapu halaman, dan tugas-tugas rumah tangga sederhana lainnya.

Ada prospek juga di dunia pekerjaan, walaupun sebatas untuk pekerjaan ringan dan tidak terlalu kompleks. Seperti membantu pekerjaan di toko, mencuci piring dan gelas di restoran, membantu pekerjaan di bengkel.

Mereka, para penyandang retardasi mental ringan itu, mampu menikmati kegiatan rekreasi, antara lain bermain gim di telepon genggam, atau menonton sinetron dan acara olahraga, serta mengikuti kegiatan sosial (muncul saat ada jamuan makan di pesta pernikahan atau khitanan atau ketika malam tirakatan 17-an).

Penyandang retardasi mental ringan juga mampu belajar keterampilan yang lebih spesifik, seperti tata boga atau membatik, tergantung pada kemampuan dan kebutuhan. Pelatihan berkesinambungan dan dukungan yang tepat adalah kunci bagi mereka untuk berjalan menuju ke harapan kemandirian yang lebih maksimal dan raihan peningkatan kualitas hidup.

Dengan Pengawasan

Sementara itu, penyandang retardasi mental sedang, membutuhkan bantuan dan pengawasan guna melakukan tugas-tugas sederhana. Mereka berpotensi untuk belajar melakukan perawatan diri, seperti mengenakan pakaian, makan, mandi.

Selain itu, penyandang retardasi mental sedang, dengan bantuan dan pengawasan, dapat pula melakukan keterampilan domestik, antara lain memasak sederhana, mencuci pakaian, membersihkan rumah.

Kemampuan lain yang potensial, yaitu membantu pekerjaan rumah dengan tugas-tugas yang sudah mereka kenal dan lakukan secara berulang-ulang. Berpartisipasi dalam permainan kelompok pun menjadi bagian dari potensi mereka.

Pengawasan Terus-Menerus

Pengawasan dan dukungan terus-menerus dalam berbagai aspek kehidupan sangat diperlukan bagi penyandang retardasi mental berat.

Bantuan yang signifikan pun sangat perlu, saat mereka belajar merawat diri, melakukan keterampilan dasar, dan berinteraksi dalam lingkungan yang terkontrol.

Capaian keterampilan berkomunikasi pada penyandang retardasi mental berat boleh terbilang sangat terbatas. Mereka sebatas mampu memahami perintah sederhana. Menggunakan kata atau isyarat. Mendengarkan dan mengikuti petunjuk simpel. Paling jauh, ada upaya mengucapkan kata atau frasa yang tidak kompleks.

Sementara itu, penyandang retardasi mental sangat berat, tentulah kondisinya lebih membutuhkan bantuan yang signifikan dalam pelbagai aktivitas sehari-hari. Kemandirian menjadi target yang terlalu jauh dari jangkauan tangan mereka.

Meski demikian, mereka masih bisa mendapat pelatihan memegang sendok dan garpu saat makan dengan pengawasan. Mengenakan celana, kaus, atau kemeja dengan bantuan.

Ilustrasi pendidikan inklusif. (Sumber: Shutterstock)

Pendidikan Inklusif

Dengan melihat peta kemampuan penyandang disabilitas intelektual atau retardasi mental yang terentang dari tingkatan ringan hingga sangat berat pada uraian di atas, setidaknya dapat tersedia pandangan yang bijak soal tingkat manakah yang paling mungkin mendapatkan sentuhan pendidikan inklusif.

Pendidikan inklusif agaknya lebih ideal dilakukan bagi penyandang disabilas intelektual untuk tingkat ringan. Selama sembilan tahun pertama dalam proses pembelajaran, anak saya dari play group, taman kanak-kanak A dan B, kemudian sekolah dasar bersama-sama dengan anak-anak yang ber-IQ standar rata-rata.

Kemudian di sekolah dasar mulai terasakan ada perbedaan anak saya dengan teman-teman sebayanya. Kemampuan intelektualnya menunjukkan perkembangan yang tidak begitu menggembirakan. Untuk hitung-hitungan sederhana, seperti 2 + 2 saja, dia membutuhkan waktu relatif lama untuk menemukan jawaban yang benar.

Kemampuan wicaranya pun baru mulai terbentuk dengan ujaran-ujaran sederhana ketika dia duduk di kelas 3 sekolah dasar. Mulai dari sini (atau bahkan saat kelas 1 dan 2) tampaknya pendidikan inklusif pun dimulai. Materi-materi pembelajaran, meski sama dengan teman-teman satu kelas, mulai ada penyederhanaan bagi anak saya.

Untunglah sekolah dasar tempat anak saya belajar dahulu itu, sebuah sekolah alam swasta dengan platform membentuk fondasi akhlak keislaman nan kuat, tidak mengenal sistem tinggal kelas. Tiap akhir tahun ajaran, semua anak naik kelas.

Begitulah anak saya. Dia menapaki proses pembelajaran di kelas 4, 5, dan 6 sebagai anak yang menjalani pendidikan inklusif karena keterbatasan intelektualnya. Bersama anak-anak lain dengan IQ standar, dia pun melahapi materi-materi pelajaran yang telah mengalami simplifikasi sesuai dengan daya serap intelektualnya yang mengalami keterbatasan itu.

Ketika saatnya akan lulus, pihak sekolah kemudian menawarkan kepada kami (saya dan istri) selaku orang tua untuk melakukan tes IQ. Dan, hasilnya pun kian mempertegas dugaan kami sebelumnya. Dan, hasil itu kian meyakinkan kami, bahwa si bungsu adalah penyandang disabilitas intelektual atau retardasi mental ringan.

Setelah melalui musyawarah dan mupakat keluarga, kami akhirnya memilih jalur sekolah luar biasa (SLB) untuk kelanjutan pendidikan bagi putri kami sejak kelas 7 hingga kini 11 dan insyaallah bisa naik ke kelas 12 sebentar lagi.

Teman satu kelasnya di sekolah dasar dahulu, anak perempuan juga, yang memiliki keterbatasan pada kemampuan wicaranya (tunawicara), mampu menembus pendidikan inklusif itu di sekolah biasa. Terakhir kami dengar, dia mampu mengikuti pelajaran di sebuah sekolah menengah kejuruan negeri di Kota Semarang.

Sekitar setahun setelah anak saya lulus sekolah dasar. Seorang adik kelasnya, anak perempuan juga, dengan ketunadaksaan ringan, kakinya lebih pendek sebelah, sehingga kalau berjalan agak terpincang-pincang. Dia mampu masuk sebuah sekolah menengah pertama negeri di Kota Semarang.

Jika melihat kejadian ini, berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang ayah dari anak perempuan tunagrahita. Atau, penyandang disabilitas intelektual; atau penyandang retardasi mental. Agaknya yang lebih memenuhi syarat untuk menempuh pendidikan inklusif di sekolah tingkat lanjut (sekolah menengah pertama dan kejuruan/atas) ternyata bukan dari jalur ketunaan intelektual ini.

Teman anak saya yang tunawicara dan adik kelas anak saya yang tunadaksa, dengan IQ standar, mampu mengikuti pendidikan inklusif itu di sekolah menengah pertama dan kejuruan. Tapi, untuk anak saya yang tunagrahita, disabilitas intelektual ringan, agaknya sudah cukup beruntung menikmati pendidikan inklusif di tingkat sekolah dasar. ***

Tunadaksa (berkursi roda) dengan IQ standar lebih mungkin mengikuti pendidikan inklusif daripada penyandang disabilitas ringan. Terutama untuk sekolah menengah pertama atau kejurua. (Sumber: Shutterstock)