Konten dari Pengguna

Peran Huruf X yang Belum Dioptimalkan dalam Tata Ejaan Kata Bahasa Indonesia

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 10 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi huruf x yang terpampang di layar handphone. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi huruf x yang terpampang di layar handphone. (Sumber: Shutterstock)

Sebagai warga biasa yang kebetulan meminati masalah sekitar bahasa. Sering muncul pertanyaan terkait dengan distribusi huruf x yang belum mendapatkan peran optimal. Terutama dalam tata ejaan kata dalam bahasa Indonesia.

Sebagaimana menjadi pengetahuan umum bersama. Telah terjadi perubahan dari klaster fonem vokal "oe" menjadi "u" pada masa Ejaan Soewandi pada 19 Maret 1947. Sebelumnya, "oe" telah berlaku selama 46 tahun pada masa Ejaan Van Ophuijsen.

Kemudian, terjadi perubahan dari klaster konsonan "dj" menjadi "j", "tj" menjadi "c", dan konsonan "j" menjadi "y". Ini terjadi pada masa pemberlakuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Edisi I pada 16 Agustus 1972.

Selanjutnya pada 2015 belaku Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Dan, kembali lagi ke EYD Edisi V sejak 16 Agustus 2022. Dan, inilah pedoman ejaan yang berlaku hingga sekarang. Sudah tersedia bentuk aplikasi jaringan yang dapat diakses di laman https://ejaan.kemdikbud.go.id.

Kali ini, saya tidak akan menyusuri seluruh dinamika perubahan yang terjadi. Saya hanya ingin menyoroti sedikit tentang peran huruf x dalam tata ejaan kata dalam bahasa Indonesia.

Huruf x bersama q dan y masuk ke dalam bahasa Indonesia melalui EYD Edisi I pada tahun 1972. Pada saat yang bersamaan juga terdapat informasi tentang pemakaian secara resmi huruf f, v, dan z.

Pertanyaan yang Menggelitik

Terkait dengan huruf x yang lebih berterima dengan penggunaan kluster konsonan "ks", seperti pada kata "mak.si.mal" (deret fonem), "kli.maks", "pre.fiks", "su.fiks" "seks" (gugus fonem).

Sebagai orang yang lebih dekat pada seorang mempunyai bekal ilmu yang tidak terlalu banyak, saya hanya berpikir sederhana saja. Kalau kluster konsonan "dj" secara ejaan disederhanakan menjadi "j" dan "tj" menjadi "c". Mengapa huruf x harus diklusterkonsonankan menjadi "ks"? Padahal ia bisa menunaikan fungsinya secara sendiri sebagai lambang bunyi?

Jika demikian, bukankah seharusnya lambang bunyi dengan huruf tunggal yang menjadi pilihan? Bukankah seharusnya kata yang diseyogiakan pemakaiannya, justru adalah "ma.xi.mal", "kli.max", "pre.fix", "su.fix", "sex"?

Demikian pula dengan "boks", "bok.sen", " bok.ser", "bok.set", "bok.seu", "ek.se.ku.si", "ek.sis.ten.si", "ek.so.dos", "ek.so.dus", "eks.klu.sif", "eks.pa.tri.at", "eks.per", "eks.pla.na.si", "eks.plo.i.ta.si", "eks.plo.ra.si", "eks.plo.si", "eks.por", "eks.tra", "ho.aks", "in.deks", "kom.pleks", "kon.teks", "kor.teks", "la.teks", "la.teks", "ri.leks", "teks", "tri.pleks".

Bukankah seharusnya kata yang dirujuk sebagai bentuk yang baku, justru adalah "box", "bo.xen", "bo.xer", "bo.xet", "bo.xeu", "exe.ku.si", "ex.is.ten.si", "ex.o.dos", "ex.o.dus", "ex.klu.sif", "ex.pa.tri.at", "ex.per", 'ex.pla.na.si", "ex.plo.i.ta.si", "ex.plo.ra.si", "ex.plo.si", "ex.por", "ex.tra", "ho.ax", "in.dex", "kom.plex", "kon.tex", "kor.tex", "la.tex", "ri.lex", "tex", "tri.plex"?

Kalau "marx.is.me" memang sudah benar. Sebagai realisasi terapan majas eponim, dalam hal ini orang (Karl Marx) yang menjadi nama dari paham atau "-isme" yang dicetuskannya. Menurut KBBI VI Daring, "-isme" itu akhiran pembentuk nomina. Artinya, sistem kepercayaan berdasarkan politik, sosial, dan ekonomi berdasarkan paham Marx.

Dalam realitas perubahan tata ejaan memang ada kluster konsonan yang tetap dipertahankan, meski jenis konsonannya sedikit diubah. Misalnya, yang semula "chu.sus" kemudian menjadi "khu.sus".

Akan tetapi, hal ini terjadi dari satu kluster konsonan (ch) ke kluster konsonan yang lain (kh). Beda jika dibandingkan dari huruf konsonan x yang justru dijadikan kluster konsonan "ks"? Mengapa tidak berlaku seperti "dj" menjadi "j" atau "tj" menjadi "c"?

Huruf X di Awal Kata

Dahulu sekali, hampir tak pernah terpikir di benak saya, ada kata dalam bahasa Indonesia, yang diawali dengan huruf x. Kalaupun kemudian sesekali ada perhatian tertaut ke arah sana, yang segera muncul di pikiran ini adalah tentang jumlahnya sangat terbatas.

Akan tetapi, sejalan dengan upaya pengayaan khazanah kosa kata melalui jalur pengadopsian istilah-istilah asing yang relevan dalam konteks penerapan di berbagai disiplin ilmu. Kian terbukalah pandangan saya, bahwa jumlah kata dalam bahasa Indonesia yang diawali dengan huruf x, sangat mungkin akan bisa terus bertambah.

Demikianlah banyak tahun berlalu. Seiring dengan silih berganti aktivitas kehidupan sehari-hari, perhatian saya pun bercabang ke banyak hal. Meski demikian, saya masih tetap istikamah berada di belakang perspektif pandangan tentang kemungkinan penambahan jumlah itu.

Hingga kemudian, belakangan ini, secara tak sengaja, saya menemukan hasil tebakan “xan.tat” dari aplikasi gim Kata Kita. Sontak perhatian saya terhadap abjad ke-24 itu pun kembali mencuat. Ada sisi menarik untuk dicermati.

Hasil tebak kata yang memicu penelusuran. (Foto: Mohamad Jokomono)

Berkat bantuan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring), saya pun menelusuri seluruh entri yang diawali huruf x. Wah, ternyata jumlahnya tidak sedikit.

Berdasarkan penelusuran, tampaknya semua kata yang terkait merupakan hasil “naturalisasi” dari istilah-istilah asing yang tata ejaannya sudah mengindonesia. Dalam artian sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia.

Dari penelusuran kata-kata yang diawali dengan huruf x itu, ada yang dilabeli Bio (Biologi), Bot (Botani), Dok (Kedokteran dan Fisiologi), Geo (Geografi dan Geologi), Graf (Grafika), Kim (Kimia), Mus (Musik), Psi (Psikologi). Dan, ada pula yang tidak dilabeli dengan salah satu singkatan tersebut.

Istilah Biologi

Ada beberapa istilah Biologi yang hadir dengan huruf x di awal. Dimulai saja dari “xe.ni.a”. Tentu yang dimaksud di sini bukan mobil Daihatsu Xenia yang multi purpose vehicle itu. Akan tetapi, perubahan endosperma oleh pengaruh tepung sari asing.

Lalu ada “xe.ro.fi.li” yang salah satu artinya dapat dilacak dari disiplin ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup itu. Artinya “organisme yang mampu bertahan hidup di daerah kering”.

Kemudian “xe.ro.ka.si” yang merujuk pada keadaan kering yang mengakibatkan kantong biji terbuka. Sudah itu, “xe.ro.morf”, yaitu tumbuhan yang mempunyai adaptasi struktur dan fungsi untuk menghalangi air akibat evaporasi.

Selanjutnya, “xe.ro.ser” (suksesi ekologi yang bermula pada habitat kering); “xe.ro.term” (tumbuhan yang tahan terhadap suhu dan kekeringan yang tinggi).

Ada pula “xi.lan” (getah kayu); “xi.lo.fag” (organisme yang memakan kayu); “xi.lo.fit” (tumbuhan hutan berkayu); “xi.lo.to.mi” (anatomi xilem atau kayu”).

Kata “xi.lem” ditampilkan tanpa penunjuk disiplin ilmu Biologi. Meski demikian, tampaknya kata tersebut bisa dikaitkan dengan ilmu tentang mahluk hidup tersebut.

Terdapat dua arti. Pertama, jaringan pembuluh kayu, khususnya pada tumbuhan tinggi, yang merupakan sel penyokong dan pengalir ikatan vaskular.

Adapun arti “xi.lem” kedua, yakni “jaringan pembuluh pada tumbuhan tinggi yang terdiri atas trakeid berlignin, unsur pembuluh dan serat yang mengantar air dan garam-garam mineral yang diserap oleh akar ke seluruh bagian, menopang tubuh secara mekanis”. Masih dari Biologi, tersisa kata “xe.no.bi.o.tik” (zat kehidupan asing bagi tubuh).

Istilah Botani

Terdapat kata yang diawali dengan huruf x yang dapat dilacak keberadaannya sebagai istilah dari disiplin ilmu Botani. Ilmu yang mempelajari tumbuh-tumbuhan. Ia adalah “xan.to.fil”. Artinya pigmen kuning pada daun yang tampak setelah warna hijaunya habis.

Ada kata yang diawali dengan fonem /x/, tapi secara eksplisit tidak diberi penanda Botani (Bot). Menilik artinya, bisa dikaitkan. Ia adalah “xe.ro.fit”. Merujuk pada tanaman yang dapat hidup dan tumbuh di alam yang kering (seperti gurun pasir). Misalnya kaktus.

Ilustrasi tanaman kaktus. (Sumber: Shutterstick)

Demikian pula dengab "xi.la.ri.um". Ia merujuk pada "tempat untuk menyimpan kumpulan contoh kayu yang dikeringkan (diawetkan), disimpan dan diklasifikasi, untuk kepentingan penelitian ilmu botani".

Selanjutnya “xe.rik” yang merupakan istilah yang biasa disebut dalam ilmu Botani untuk menyebut lingkungan kering. Versi pembahasaan KBBI VI Daring, yaitu berkenaan dengan atau hidup di habitat kering.

Ada tercantum sebagai entri, yaitu “xi.lo.lo.gi”, ilmu yang memfokuskan perhatian pada struktur kayu, terutama pada klasifikasi taksonominya. Cabang ilmu Botani yang dikenal sebagai Dedralogi.

Kata “xi.lo.id” merupakan ajektiva (kata sifat) yang berarti berkayu atau mengandung lignin. Istilah ini untuk menunjukkan, apakah ada kaitan atau kemiripan sifat atau kualitas satu kayu dengan kayu yang lain.

Istilah Kedokteran dan Fisiologi

Istilah dari disiplin ilmu Kedokteran dan Fisiologi pun mewarnai entri yang terdiri atas kata-kata yang berawal dengan huruf x.

Ada “xan.te.les.ma” yang mengacu pada artian “tumor jinak berupa penumpukan lemak pada kulit, biasanya terdapat di kelopak mata”.

Lalu “xan.to.ma” yang mewadahi makna “bintil kuning, terutama di sekitar kelopak mata, yang mengindikasikan adanya gangguan metabolisme lemak”.

Seterusnya ada “xe.rof.tal.mi.a”. Kata ini merupakan istilah kedokteran untuk menyebut penyakit mata karena kekurangan vitamin A. Ditandai dengan konjungtiva dan kornea mata menjadi kering.

Istilah lainnya yang muncul, “xe.ro.sis”, yakni “kekeringan yang berlebihan pada kulit dan selaput lendir mata karena penebalan membran”.

Ada lagi “xe.ros.to.mi.a” yang menunjukkan suatu keadaan kekurangan air liur di mulut yang terjadi akibat penyakit, keracunan, atau obat.

Terdapat kata yang diawali dengan huruf x dan tidak secara eksplisit diberi penanda Dok, sebagai isyarat bahwa kata tersebut merupakan bagian dari kegiatan atau istilah Kedokteran dan Fisiologi. Tetapi, sesungguhnya ia dapat dipertalikan.

Kata yang saya maksud adalah “xis.ter”. Merujuk pada “alat medis untuk melepaskan atau membersihkan dengan cara mengerok selaput tulang”. Nama lainnya raspatorium.

Ilustrasi xister atau raspatorium. (Sumber: Freepik)

Selajutnya ada “xi.fo.id”. Di KBBI IV Daring, keterangannnya hanya “berbentuk pedang”. Ini kurang jelas bagi saya. Setelah telusur ke sana dan kemari, akhirnya ketemu, bahwa ia merupakan istilah dalam dunia Kedokteran.

“Xi.fo.id” merujuk pada bagian tulang dada yang runcing di bagian bawah. Ia memiliki nama lain tulang taju pedang. Seperti yang diisyaratkan namanya, bentuknya seperti pedang. Diambil dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu “xi.phos”, yang berarti pedang lurus.

Istilah Geografi dan Geologi, Grafika, dan Musik

Berikutnya ada istilah Geografi dan Geologi, yaitu “xe.no.lit”. Merujuk pada potongan batuan yang berada di dalam batuan jenis lain.

Seterusnya istilah Grafika, yakni “xe.ro.gra.fi”, yang mengandung arti “penggandaan bahan cetakan dari film atau kertas dengan menggunakan sinar listrik”.

Bila Grafika mendapat pemahaman sebagai seni dan ilmu untuk menciptakan gambar visual atau elemen desain baik secara tradisional maupun digital, maka ada dua kata lagi yang bisa masuk ke kategori ini meskipun tidak ada penyebutan penanda secara eksplisit Gra (singkatan Grafika).

Kedua kata tersebut, yaitu “xi.lo.graf” untuk menyebut “orang yang ahli dalam cukilan atau ukiran kayu seni grafika”. Dan, “xi.lo.gra.fi” (seni grafika dalam pembuatan cukilan atau ukiran kayu).

Dari istilah Musik, ada kata “xi.lo.fon”. Menunjuk pada alat musik pukul. Terdiri atas deretan bilah kayu dengan panjang masing-masing yang tidak sama. Menghasilkan bunyi yang berlainan tatkala dimainkan dengan alat pukul kecil.

Ilustrasi xilofon. (Sumber: Shutterstock)

Istilah Kimia

Disiplin ilmu Kimia, tidak ketinggalan menyumbangkan sejumlah kata yang berawal dengan huruf x. Ada “xan.tat” yang berarti garam (biasanya natrium atau kalium) dari asam xantat yang digunakan sebagai pengumpul dalam metode pengapungan mineral.

Lalu “xan.te.na” (oksida organik untuk pembuatan zat warna); “xan.ti.na” (purina yang menjadi senyawa antara pada metabolisme adenina dan guanina menjadi asam urat.

Kemudian “xe.non”. KBBI VI Daring menginformasikannya sebagai gas mulia, tidak berbau dan tidak berwarna. Terdapat dalam jumlah kecil di udara. Biasa digunakan dalam tabung lampu khusus; unsur dengan nomor atom 54, berlambang Xe, dan bobot atom 131,30.

Ada pula “xi.le.na”, ialah karbon zat cair dengan aroma sedap. Diambil dari ter batu bara. Digunakan untuk pelarut atau penjernih. Disebut juga “xi.lol”.

Terdapat kata “xi.li.tol” (alkohol gula dengan lima atom karbon); “/x/i.lo.sa” (gula kayu; C5H10O5); “xi.lu.lo.sa” (gula pentosa yang menjadi senyawa antara metabolik pada jalur pentosa fosfat).

Selebihnya, ada kata “xi.lo.nit”, yang berarti bahan termoplastik dari jenis selulosa nitrat. Ia tidak dirujuk dengan penanda disiplin ilmu yang disingkat Kim. Saya dekatkan penyebutannya di sini, karena selulosa nitrar merupakan senyawa kimia.

Dan, yang lebih menyakinkan saya, dalam konsep maknanya ada penyebutan “ter.mo.plas.tik” yang jelas-jelas merupakan istilah Kimia. Arti versi KBBI VI Daring, yaitu “resin sintetis yang dapat dilembutkan dengan menggunakan kalor, tetapi memperoleh kembali sifat asalnya pada pendinginan”.

Begitu pula, kata “xi.lo.i.di.na”, yang sekalipun tidak dicantumkan secara ekplisit penanda disiplin ilmu yang disingkat Kim. Namun, melihat artinya “bahan peledak yang terbuat dari serat nabati dengan asam nitrat”, ada dua perekat yang meyakinkan saya bahwa ia bisa dijajarkan sebagai bagian yang dekat dengan istilah kimia.

Kedua perekat tersebut, yaitu “asam nitrat” dan “bahan peledak”. Dari sumber lain saya menemukan informasi, bahwa asam nitrat merupakan cairan tidak berwarna dan berasap. Bahan kimia ini biasa dimanfaatkan dalam industri untuk pembuatan bahan peledak dan pupuk.

Istilah Psikologi

Disiplin ilmu Psikologi pun menyumbang beberapa entri kata yang berawal dengan huruf x. Misalnya “xe.no.fi.li.a” yang merujuk pada artian “ketertarikan pada hal-hal dari luar negeri, seperti pada gaya ataupun tata cara berpakaian”.

Adapun orangnya disebut “xe.no.fi.li”. Selain untuk menyebut orang yang tertarik pada hal-hal yang berbau luar negeri, “xe.no.fi.li” juga berarti orang yang senang tinggal di daerah yang kering. Mungkin maksudnya daerah tandus atau berhawa panas.

Dalam Psikologi, juga ada istilah “xe.no.fi.li.a” (perasaan senang tinggal di daerah yang sangat kering). Sebaliknya, ada pula “xe.ro.fo.bi.a”, yaitu fobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap keadaan yang kering.

Ilustrasi wilayah yang dilanda keleringan.(Sumber: Shutterstock)

Sementara itu, kesukaan secara berlebihan terhadap segala sesuatu yang berasal dari luar negeri atau asing terwadahi sebagai konsep makna dari kata “xe.no.ma.ni.a”.

Dari situ kemudian muncul sikap yang sebaliknya. Ada kata “xe.no.fo.bi.a”, perasaan benci, bisa juga tergerakkan rasa takut dan waswas, terhadap orang asing atau segala hal yang belum berada di dalam rengkuh pengenalannya. Bisa pula dimaknai secara lebih ringkas, sebagai kebencian terhadap segala sesuatu yang serbaasing.

Kalau “xe.no.glo.sia” justru merupakan anugerah. Ia merujuk pada kemampuan seseorang memahami dan menggunakan bahasa yang tidak pernah dipelajarinya. Adapun sumber lain menyebutkan, ini fenomena paranormal manakala seseorang mampu menulis atau menuturkan bahasa yang tidak dia peroleh secara alami.

Dalam pada itu, terkait dengan bahasa, ada kata “xe.no.glo.so.fo.bi.a”. Ketakutan yang sangat berlebihan terhadap bahasa asing. Ada pula fobia jenis lain, seperti “xi.lo.fo.bi.a” (terhadap hutan atau hal-hal yang berhubungan dengan hutan) dan “xi.ro.fo.bi.a” (terhadap pisau cukur).

Selebihnya ada dua kata yang diawali dengan huruf x lagi yang menjadi entri KBBI VI Daring. Agak kurang relevan untuk memasukkannya ke dalam salah satu disiplin ilmu tersebut di atas.

Ada kata “xe.no.graf”. Artinya merujuk pada orang yang memiliki keahlian membaca tulisan (naskah) bahasa asing. Dan, “xe.no.kra.si” (pemerintahan negara yang dipimpin orang asing). ***

Mohamad Jokomono, S.Pd., M.I.Kom, purnatugas pekerja media cetak.