Konten dari Pengguna

Peribahasa Modern Ikuti Langkah Zaman dengan Diksi Kekinian

Mohamad Jokomono
Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
3 Desember 2025 12:02 WIB
·
waktu baca 11 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Peribahasa Modern Ikuti Langkah Zaman dengan Diksi Kekinian
Peribahasa modern menjadi fenomena kreativitas berbahasa masyarakat dan bagian dari kekayaan linguistik. Pemutakhiran ekspresi akan menempatkan kemampuan peribahasa mengikuti dinamika persoalan zaman.
Mohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang gadis muda berkata kepada teman sebayanya, “Di mana ada drama, di situ ada netizen.” (Sumber: Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang gadis muda berkata kepada teman sebayanya, “Di mana ada drama, di situ ada netizen.” (Sumber: Gemini AI)
ADVERTISEMENT
Peribahasa modern akan lebih dapat segera mendapat respons pengenalan dari masyarakat penutur, jika pola kalimat atau struktur sintaksisnya masih menyerupai peribahasa klasik. Hubungan asosiatif pola kalimat peribahasa modern dengan klasik, itulah penanda yang sangat tegas bahwa kita merasa yakin memang tengah berhadapan dengan peribahasa. Atau pepatah yang biasa disebut dalam linguistik dengan istilah teknis sebagai paremia itu.
ADVERTISEMENT
Misalnya pola kalimat dalam peribahasa modern, seperti “Daripada high profile tapi banyak utang, lebih baik low profile tapi kaya” (mengkritik kebiasaan pamer [flexing] di media sosial yang lebih memuja pencitraan daripada substansi konten) atau “Daripada update status melulu, lebih baik update ilmu” (nasihat agar tidak menghabiskan waktu di media sosial dan lebih fokus dalam upaya untuk mengembangkan diri).
Kendatipun secara maknawi bisa mengalami modifikasi sesuai dengan konteks terdekat masing-masing, tidak dapat terelakkan bahwa pola kalimat dua peribahasa sebagaimana tertuang dalam uraian di atas, secara esensial memiliki kemiripan struktur sintaksis dengan peribahasa klasik “Daripada berputih tulang, lebih baik mati berkalang tanah” (daripada hidup harus menanggung malu, lebih baik meninggalkan dunia untuk selama-lamanya). Terbukti, makna dari rujukan peribahasa klasiknya pun sudah mengambil rentang jarak pergeseran.
ADVERTISEMENT
Kemiripan Pola Kalimat
Pola kalimat yang mirip antara peribahasa modern dan klasik ternyata relatif banyak deretan contohnya. “Di mana ada WiFi gratis, di situ ada keramaian”. Deskripsi perilaku sosial masyarakat zaman kini, yang senang berkumpul di tempat yang menyediakan fasilitas internet gratis.
Demikian pula, dengan peribahasa modern “Di mana ada drama, di situ ada netizen”. Ini untuk mendeskripsikan realitas betapa para warga internet (warganet) alias netizen senantiasa hadir di setiap kecamuk masalah yang sedang viral dan cenderung memancing kontroversi yang nyaris tidak berkesudahan.
Kedua peribahasa modern ini, dapat segera mengingatkan kita, karena ada bentuk pengalimatan yang mirip dengan peribahasa klasik yang sangat familier bagi para penutur bahasa Indonesia, yaitu “Di mana ada gula, di situ ada semut”. Kali ini substansi makna konotatifnya pun hampir senada. Segala sesuatu yang menarik perhatian, tentulah memancing keinginan banyak pihak untuk ramai-ramai menyikapinya.
ADVERTISEMENT
Ada lagi contoh yang patut dikemukakan dalam tulisan ini. Misalnya peribahasa modern “Bukan followers yang menentukan pengaruh, melainkan konten yang bermutu”. Ada sedikit hunjaman kritik terhadap metrik popularitas di media sosial yang hanya semata berdasarkan kuantitas pengikut (followers). Dan, mengaksentuasikan tentang nilai penting kualitas substantif dari konten.
Kemudian masih ada peribahasa modern dengan pengalimatan yang mirip, yakni “Bukan kecepatan download yang utama, melainkan koneksi yang stabil”. Dalam konteks teknologi, pilihan untuk memberikan peran utama pada keandalan atau stabilitas, ternyata lebih bermuruah atau bermartabat daripada sekadar mengumbar kecepatan sesaat.
Pengalimatan dengan penegasan kontras “Bukan …, melainkan …” dalam satu kalimat sebagaimana tampak pada dua contoh barusan, dapat dengan mudah langkah penelusuran keterkaitannya dengan peribahasa klasik “Bukan rupa yang dipandang, melainkan budi yang dikenang”. Bukan kemolekan fisik atau kepemilikan harta bendanya seseorang itu menerima rasa hormat dari orang lain, melainkan budi pekerti atau akhlaknya yang baik.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya dari peribahasa klasik “Ada udang di balik batu” hadir peribahasa modern “Ada sinyal di balik chat P”. Kemiripan pengalimatan keduanya karena sama-sama mengandung dua kata, yaitu “ada” pada awal dan “di balik” pada tengah kalimat peribahasa. Keduanya sama-sama pula mengisyaratkan makna adanya maksud tersembunyi. Hanya yang satu teraling sesuatu yang menutupinya, sedangkan yang lain karena ketidakjelasan komunikasi.
Dari peribahasa klasik “Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui” (sekali beraktivitas sejumlah pekerjaan terselesaikan sekaligus), dewasa ini mengalami adaptasi berkat pilihan kata (diksi) kekinian sebagaimana tampak pada peribahasa modern “Sekali scroll, dua tiga notifikasi terlampaui” (tentang betapa gampang pengalihan perhatian dari fokus utama (pendistraksian) menerpa atau terjadi ketika seseorang membuka banyak notifikasi pada waktu menggunakan smartphone). Pengalimatannya sama dengan pola “Sekali …, dua tiga … terlampaui”. Hanya bedanya yang satu diisi dengan diksi yang berkesan masa lalu, sedangkan yang satunya lagi diisi dengan diksi masa kini (budaya digital).
ADVERTISEMENT
Kemiripan Kata Awal
Seorang kakak menasihati adiknya, “Jangan oversharing data pribadi di internet.” (Sumber: Gemini AI)
Selain kemiripan struktur sintaksis, hubungan peribahasa klasik dengan modern, terkadang hanya terjadi pada kemiripan kata awal. Dari kata awal “jangan” sebagaimana terdapat dalam peribahasa klasik “Jangan mengukur baju orang di badan sendiri” (nasihat untuk tidak menilai orang lain hanya berdasarkan standar, pengalaman, atau perspektif diri sendiri), kemudian muncul sejumlah peribahasa modern dengan pemakaian kata larangan tersebut.
Sebut saja peribahasa adaptasi modern “Jangan oversharing data pribadi di internet”. Relevansi nasihat ini karena bisa menjamahkan konsekuensi serius yang berhubungan dengan keamanan siber, privasi, dan finansial. Pihak-pihak yang berniat kurang senonoh dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mempraktikkan pelbagai tindak kejahatan.
Kecenderungan penggunaan bahasa sehari-hari yang lebih langsung menohok pada isu atau pola pikir kontemporer, itulah warna pembeda peribahasa modern dari peribahasa klasik yang lebih mengiaskan ekspresi. Meskipun demikian, kecirikhasannya sebagai wahana untuk menyampaikan nasihat, prinsip hidup, atau panduan perilaku tidak pernah pudar darinya. Dan, bahkan lebih terasa relevansinya dengan konteks kehidupan kekinian.
ADVERTISEMENT
Peribahasa modern bisa jadi menemukan bentuknya sebagai kalimat pendirus motivasi, seperti “Jangan tunda lagi, hari ini adalah waktu yang tepat untuk memulai impianmu”. Atau, “Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup tidak pernah berhenti mengajar”. Atau lagi sebagai imbauan untuk mencintai dan peduli terhadap lingkungan, “Jangan buang sampah sembarangan, bumi bukan tempat sampah raksasa”. Uluran maknanya pun dapat secara langsung berada dalam rengkuh pemahaman kita tanpa perlu penafsiran yang bertele-tele.
Kemiripan kata awal, selain berupa larangan, bisa juga berupa kata awal yang menunjukkan fungsi sebagai pengantar metafora. Pemakaian kata “bagai” sebagaimana tampak pada peribahasa klasik “Bagai katak dalam tempurung” (keterbatasan wawasan seseorang), kemudian hadir adaptasi modern, seperti “Bagai mencari sinyal di pedalaman hutan” untuk menggambarkan suatu usaha yang percuma dan akan sangat sulit terealisasi.
ADVERTISEMENT
Atau, peribahasa modern “Bagai buffer video di jaringan lambat” guna mendeskripsikan kondisi menunggu yang sangat menjemukan karena begitu sarat dengan ketidakpastian lantaran terus tertunda. Atau lagi, “Bagai ketinggalan charger, hidup terasa hampa” sebagai bentuk ekspresi frustrasi manakala menghadapi persoalan pelik dalam kehidupan.
Ada juga kemiripan yang bukan lagi sekadar kata awal melainkan frasa awal. Contohnya dari peribahasa klasik “Jauh di mata, dekat di hati” lantas hadir peribahasa modern “Jauh di mata, dekat di scroll”. Keduanya sama-sama berawal dengan frasa “jauh di mata, dekat …”. Keduanya pun sama-sama melukiskan hubungan sosial yang secara fisik terkendala jarak. Hanya yang klasik menyentuh pada sisi kedekatan dengan hati. Sementara itu, yang modern lebih merepresentasikan hubungan virtual di era digital.
ADVERTISEMENT
Penambahan Kata
Ada pula bentuk relasi antara peribahasa klasik dan peribahasa modern terjadi melalui penambahan satu kata atau lebih. Dalam hal ini yang mendapat penambahan kata adalah peribahasa modern. Contoh, ada peribahasa klasik “Cepat kaki, ringan tangan” untuk menyebut orang yang memiliki inisiatif yang cepat untuk mengulurkan bantuan kepada pihak yang membutuhkan. Adapun bentuk bantuan itu bisa berupa tenaga, pikiran, atau dukungan moral.
Dari peribahasa klasik tersebut, kemudian muncul peribahasa modern, yaitu “Cepat kaki, ringan tangan, kena ghosting”. Di sini terjadi penambahan dua kata (“kena” dan “ghosting”). Pemaknaannya pun mengalami pergeseran dari bentuk sikap dan sifat yang terpuji, menjadi seseorang yang mengalami nasib kurang beruntung justru setelah melakukan tindakan cepat menolong dengan maksud yang baik itu.
ADVERTISEMENT
Peribahasa modern “Cepat kaki, ringan tangan, kena ghosting” ini terjadi manakala seseorang terlalu cepat memberi bantuan atau perhatian secara berlebihan pada masa awal suatu jalinan hubungan, acapkali dalam suatu hubungan daring. Akan tetapi, pihak yang telah menerima bantuan atau perhatian secara berlebihan dari seseorang tersebut, pada akhirnya malahan meninggalkannya tanpa kabar. Ghosting.
Contoh lain, dari peribahasa klasik “Tak kenal, maka tak sayang” hanya mendapat tambahan satu kata, yaitu “filter” di belakan “Tak kenal …”. Kemudian terbentuk peribahasa modern “Tak kenal filter, maka tak sayang”. Ini merupakan sindiran terhadap kemerebakan penggunaan filter foto di media massa untuk menyempurnakan performa sebelum tampil sebagai hasil unggahan.
Kreativitas Baru
Seorang pemuda memberi saran kepada temannya saat bertemu di kafe, “Update dulu skill-mu, flexing-nya kemudian.” (Sumber: Gemini AI)
Pada hemat saya, puncak dari fenomena keberadaan peribahasa modern itu terjadi manakala ada aksi penciptaan yang menunjukkan kreativitas baru. Contohnya, dari peribahasa klasik “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Lalu muncul kreativitas baru dengan melalui peribahasa modern “Upgrade dulu skill-mu, flexing-nya kemudian”.
ADVERTISEMENT
Seterusnya, berdasarkan peribahasa klasik “Air beriak tanda tak dalam” (orang yang kelewat banyak bicara, biasanya kurang memiliki ilmu yang memadai), lalu muncul bentuk kreativitas baru melalui peribahasa modern “Banyak story tanda kurang networking”. Yang ini untuk mendeskripsikan mengenai orang yang terlalu suka memamerkan kehidupan pribadinya di media sosial, biasanya kurang mempunyai fokus pada relasi yang lebih profesional dan substansial.
Dari peribahasa klasik “Bagai pungguk merindukan rembulan” (harapan yang sulit terealisasi menjadi kenyataan), kemudian hadir peribahasa modern “Gagal move on bagai pungguk merindukan story mantan”. Menggambarkan seseorang yang belum bisa sepenuhnya melupakan sang mantan. Dan, masih terus memantau kabar si dia melalui media sosial, seraya merangkai harapan yang mustahil menjadi kenyataan.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya dari peribahasa klasik “Diam itu emas” hadir kreativitas baru lewat peribahasa modern “Lebih baik offline dan dianggap bodoh, daripada online dan menghilangkan semua keraguan”. Keduanya masuk ke orbit sikap dan gaya hidup yang tidak menonjolkan diri (low profile). Hanya yang modern, lebih mengingatkan kita untuk tidak oversharing atau mengobral komentar di platform digital yang justru dapat menunjukkan bahwa sesungguhnya kita tidak menguasai persoalan.
Selebihnya ada peribahasa klasik “Roda pedati itu berputar, kadang di atas kadang di bawah” (kehidupan yang penuh dinamika), kemudian muncul peribahasa modern dengan kreativitas pengalimatan yang baru, yaitu “Hidup itu seperti roda berputar”. Ini merupakan adaptasi dari konsep pasang surut perjalanan kemanusiaan seseorang dengan performa statemen yang lebih lugas.
ADVERTISEMENT
Lalu dari peribahasa klasik “Bumi berputar, zaman beredar” yang memberi pengakuan pada sifat alamiah waktu dan hakikat perubahaan, kita dapat menemukan bentuk kreativitas baru peribahasa modern “Zaman boleh maju, adab jangan layu”. Kendati teknologi telah bergerak mengubah segalanya seiring dengan perjalanan waktu. Dan, perguliran satu demi satu perubahan adalah keniscayaan. Akan tetapi, etika dan nilai-nilai moral yang semestinya tetap menjadi pusaka anutan.
Mekanisme Linguistik dan Sosial
Peribahasa modern, sebagaimana juga yang klasik, sejatinya sama-sama merupakan statemen kultural tentang kontemplasi kearifan hidup. Dalam bentuk ekspresi yang ringkas padat, ia merefleksikan nilai-nilai moral yang secara luas berada dalam genggam penerimaan masyarakat. Peribahasa modern lahir dari pengalaman kolektif masyarakat, yang terkait dengan peristiwa atau tren sosial, budaya, teknologi kontemporer sebagai sumber inspirasi.
ADVERTISEMENT
Lewat media populer, seperti film, musik, buku, media sosial, dan bahkan iklan, tidak jarang hadir ungkapan yang mendekati eksistensi peribahasa yang kemudian hadir di kalangan yang luas. Dan, seterusnya melalui proses pencernaan dan pengendapan, tampil sebagai peribahasa yang menurut anggapan secara kolektif memiliki relevansi dan bermakna sesuai dengan kehendak zaman.
Peribahasa modern juga dapat berasal dari kutipan pernyataan dari pemimpin bangsa, pemuka agama, tokoh masyarakat, penulis tersohor, seniman terkemuka, atau figur publik lainnya seperti para selebritas terkenal. Tentu saja pernyataan itu mempunyai makna filosofi dan pengalaman hidup yang kaya, kendati cara pengalimatannya bisa saja berkolaborasi dengan diksi kekinian. Dan, potensinya sebagai peribahasa modern, akan terus teruji seiring dengan realitas, apakah pemakaiannya berlangsung secara berulang dalam rentang waktu yang panjang serta banyak orang yang mengutipnya.
ADVERTISEMENT
Peribahasa modern bisa juga mengambil bahan dari bahasa gaul (slang) yang mampu bertahan lama dalam kancah konversasi sehari-hari. Bila sudah eksis, maka kata-kata dalam bahasa gaul tadi dapat menunaikan fungsinya sebagai kode verbal untuk menyampaikan nasihat atau pengamatan kontemplatif terhadap hakikat kehidupan. Biasanya intervensi slang akan membentuk peribahasa yang ekspresi penyampaiannya tidak berkesan terlalu serius. Meski demikian, kemendalaman maknanya tetap kelas peribahasa.
Peribahasa modern, sebagaimana halnya dengan yang klasik, juga harus memenuhi sejumlah kriteria utama. Susunan katanya relatif tetap dan tidak gampang diubah-ubah. Sifat statemen berupa nasihat atau sindiran lembut dan penafsirannya tidak dapat secara harfiah. Dan, yang paling utama, masyarakat luas menerimanya dan menggunakannya selama periode waktu tertentu. Dengan demikian, dapat menjadi bagian dari warisan linguistik dan budaya kolektif.
ADVERTISEMENT
Laju pergerakan kehidupan modern dan perubahan bahasa semakin menunjukkan tingkat kedinamisan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, pembentukan peribahasa modern yang memiliki kemampuan bertahan dalam waktu yang lama menjadi lebih sulit daripada di masa lampau. Ini menjadi tantangan tersendiri. Akan tetapi ada satu hal yang menarik, yaitu alur mekanisme linguistik dan sosial untuk pengkreasiannya masih tetap ada. Masih tetap lekat mewarnai pengkreasian peribahasa modern.
Mekanisme linguistik ditempuh lewat pemakaian majas, seperti metafora (perbandingan) dan simile (perumpamaan). Lalu penggunaan aliterasi (pengulangan konsonan awal), asonansi (pengulangan vokal), paralelisme (struktur kalimat seimbang. Tujuannya, agar lebih mudah diingat dan enak kedengarannya saat diucapkan.
Mekanisme linguistik dalam pengkreasian peribahasa modern lainnya, yakni pemanfaatan kata-kata secara ekonomis. Untuk memastikan gagasan dapat terekspresikan dalam kalimat atau frasa pendek, sehingga memudahkan pengutipan. Dan, sudah pasti kalimat atau frasa yang tersusun berpotensi untuk mendapat sentuhan interpretasi secara kiasan, tidak hanya deskripsi literal tindakan.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, mekanisme sosial dalam pengkreasian peribahasa modern, yakni penyebaran dan pemerolehan validitas sehingga menjadi bagian khazanah bahasa yang memperoleh pengakuan luas masyarakat. Kemudian, ada relevansi budaya dan kontekstual dengan perubahan sosial, perkembangan teknologi, ataupun peristiwa terkini.
Pemopuleran peribahasa modern bisa lewat politikus atau selebritas di media massa. Bisa pula, dan ini yang paling umum sekarang, melalui media sosial dan meme internet. Proses pematangannya dengan pemakaian secara berulang dan masif di ruang publik. Lalu penstatusan suatu kalimat atau frasa sebagai peribahasa berdasarkan konsensus kolektif. Serta, substansi makna kiasannya yang relatif stabil. Atau, kalaupun ada sedikit pergeseran, tidak mendestruksi esensinya. ***