“Rumah Tangga”, dari Konsep Linguistik hingga Filosofis
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya baru tersadar bahwa ternyata di belakang frasa “rumah tangga”, terdapat kesepakatan maknawi yang memiliki kekuatan filosofi sedemikian mendalam. Kata “tangga” lebih tergoda untuk meladeni konsep konotatif sebagai cara bagi suami dan istri menggerakkan langkah kehidupan mereka ke arah yang baik. Dalam artian, hubungan mereka lebih meningkat secara kualitas.
Pintu pemahaman saya terketuk ketika Cak Lontong di kanal YouTube Sudjiwo Tedjo, membaurkan gaya serius (rasanya lebih ngeh menyebutnya “pura-pura serius” [baca: pretending to be serious]) dengan logika jenaka dan pelesetan bijak, mengakrabi perbincangan tentang kebersamaan keluarga.
Bagian ucapan Cak Lontong yang menarik perhatian saya, yaitu “Kenapa namanya rumah tangga, hayo? Tidak setiap rumah ada tangganya, kan? Tapi, kenapa selalu dikasih sebutan “rumah tangga”? Kalau menurut saya, itu lebih ke filosofi. Karena tangga itu simbol untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.”
Kemudian lanjutnya, “Jadi, ketika laki-laki dan perempuan menyatu di dalam suatu rumah. Itu artinya mereka membentuk rumah tangga. Mereka berupaya berdua untuk menapaki kehidupan yang lebih tinggi. Dalam hal apa pun, baik secara pribadi maupun secara kolektif sebagai keluarga.”
Statemen komedian bernama asli Ir. Lies Hartono, alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, tersebut sungguh mengusik pemikiran saya untuk mengunyah dan mencerna lebih halus serta kemudian menjadikannya sebagai bahan obrolan dalam tulisan ini.
Namun, sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin sejenak menghadirkan tawa kecil tentang Cak Lontong.
Cak Lontong, lelaki kelahiran Magetan, Jawa Timur pada 7 Oktober 1970 ini tersohor sebagai ahli silogisme untuk tujuan memancing tawa. Misalnya dia mengucapkan premis 1 “Semua pengendara motor harus pakai helm demi keselamatan”. Selanjutnya dia menyusulkan premis 2 “Tidur di kasur tidak pakai motor”.
Dan, kesimpulan pelesetan yang mempertemukan kedua premis itu, sudah tentu mengakibatkan siapa pun yang mendengar (dan selera humornya relatif oke), akan mempersembahkan tawa yang tulus. Betapa tidak? Begini, kesimpulan pelesetannya: “Maka, tidur pakai helm dijamin jalan-jalan dalam mimpi lebih aman”.
Cak Lontong juga suka menyelipkan peribahasa ciptaan sendiri dalam performanya. Contoh “Lebih baik diam dan kelihatan bodoh, daripada banyak bicara dan bodohnya lebih kelihatan”. Atau, “Bukan kenangan yang bikin kita sedih, tapi kenyataan bahwa dia sudah sama yang lain”. Atau lagi, “Cinta itu memang buta, tapi cinta tidak tuli sehingga tahu kalau kamu sedang dibohongi”.
Konsep Linguistik
Nah, simpan dahulu energi ketawanya ya. Mari kita tengok terlebih dahulu, konsep linguistik yang melingkupi “rumah tangga”. Bentukan ini merupakan kelompok kata atau frasa. Sebab, merupakan gabungan dua kata (bisa lebih) yang membentuk satu kesatuan tanpa ada unsur predikat di dalamnya.
“Rumah tangga” bisa masuk ke dalam terminologi kelompok kata, karena ia menjadi penyebutan umum yang bersifat deskriptif tentang adanya kumpulan kata. Sementara itu, kendati memiliki pengertian yang mirip, frasa hadir dengan rincian jenis yang lebih tegas.
“Rumah tangga” adalah frasa nomina. Unsur pembentuk utamanya nomina (kata benda). Di dalam kalimat, dapat berfungsi sebagai subjek (Rumah tangga mereka harmonis) atau objek (Ayah dan Ibu menjaga rumah tangga ini dengan penuh kasih).
Dan, merujuk pada suatu benda (perabot rumah tangga) atau konsep (satuan sosial dan ekonomi yang terdiri atas seseorang atau sekelompok orang yang tinggal bersama dalam satu bangunan dan mengurus kebutuhan hidup harian bersama dari satu dapur).
Masih bertalian dengan konsep ini, frasa nomina “rumah tangga” juga merujuk pada urusan kehidupan keluarga. Kedudukannya dalam suatu kalimat setara dengan nomina tunggal.
Selain frasa nomina, ada pula frasa verba (kata kerja). Terdiri atas frasa verba modifikatif (pewatas) dengan bantuan penanda aspek (akan, sedang, sudah, belum), contoh “akan pergi”, “sedang menulis”, “sudah datang”, “belum pulang”).
Ada pula frasa verba koordinatif, gabungan dua verba dengan konjungsi (dan, atau), contoh “memilah dan memilih”, “bertumbuh dan berkembang”, “makan atau minum”.
Ada lagi frasa verba apositif yang menempatkan verba, dengan partikel penjelas (yakni, yaitu), untuk menjelaskan unsur verba lainnya. Contoh “belajar, yakni membaca buku”, “bekerja, yaitu mencari uang”.
Selebihnya, frasa preposisional. Gabungan kata yang diawali preposisi (kata depan) di, ke, dari, pada, dengan, untuk. Lalu diikuti kata/frasa nomina atau pronomina (kata ganti orang) sebagai pelengkap. Fungsinya sebagai penunjuk keterangan. Frasa preposisional sering menerima realisasi pemakaian guna menjelaskan tempat, waktu, tujuan, dan cara.
Untuk menunjukkan keterangan tempat, misalnya: “(Mereka sedang rapat) di ruang pertemuan”. Bisa pula untuk menginformasikan keterangan waktu: “(Acara akan dimulai) pada pukul 09.00”. Ada juga guna menyebutkan keterangan tujuan: “(Surat ini dibuat) untuk pemimpin perusahaan”. Tidak ketinggalan buat keterangan alat: “(Dia memotong kue itu) dengan pisau dapur”.
Kini kita kembali ke frasa nomina “rumah tangga”. Sebagaimana jenis frasa yang lain, ia juga memosisikan diri pada fungsi gramatikal tertentu. Bisa sebagai subjek, objek, pelengkap, atau keterangan. Karena ia frasa nomina, agak sulit untuk menempati posisi predikat dalam kalimat. Seperti lazimnya frasa nomina, ia tidak memiliki bentuk predikatif.
Pada uraian sebelumnya, sudah saya contohkan frasa nomina "rumah tangga" dalam kontribusi peran sebagai subjek dan objek kalinat. Tidak ada salahnya, saya menambah jumlah contoh kalimat lagi.
Sebagai subjek kalimat, tampak kontribusinya pada kalimat “Rumah tangga mereka sangat harmonis dan bahagia”. Kemudian dalam kapasitasnya sebagai objek, muncul pada kalimat “Lelaki penyandang disabilitas berkaki satu itu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya”.
Selanjutnya sebagai keterangan, frasa nomina “rumah tangga” mewarnai kalimat “Tiap masalah rumah tangga seyogianya mendapatkan penyelesaian dengan kepala dingin”. Ia juga mampu hadir menjadi atribut (pemberi sifat) dengan melengkapi nomina yang lain, seperti tertuang dalam kalimat: “Pemerintah memberikan bantuan tunai kepada tiap rumah tangga kurang mampu di desa ini”.
Konsep Sosiolinguistik
Konsep maknawi “rumah tangga” dalam perspektif sosiolinguistik, bukan sekadar merujuk pada bangunan fisik atau unit keluarga biologis semata. Melainkan, suatu ranah sosial tempat bahasa menemukan realisasi penggunaan atau pemakaian. Suatu ranah sosial ketika bahasa mendapatkan negosiasi dan makna secara kultural.
Dalam perspektif sosiolinguistik, bahasa hidup dan bermakna lewat interaksi sosial serta kebudayaan di dalam masyarakat. Dengan demikian, bahasa tidak hanya yang terdapat di dalam kamus. Akan tetapi, yang merupakan hasil dari wujud praktik, penawaran, dan kesepakatan masyarakat bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun realisasi penggunaan bahasa itu meliputi praktik nyata. Dilakukan setiap hari. Wujud bahasa itu bisa berupa konversasi (percakapan), tulisan. Bisa pula berupa tanda. Bentuk atau kode bahasa yang menerima realisasi pemakaian guna menunjukkan identitas sosial, status, kelompok, dan situasi. Tanda ini juga menunjukkan siapa yang berbicara dan kepada siapa (hierarki sosial modern pun tetap ada tata kramanya).
Realisasi pemakaian bahasa juga tergantung pada konteks situasi. Cara orang berbicara mengalami perubahan tergantung pada tempatnya. Ada negosiasi dan makna kultural yang memainkan kontribusi. Makna suatu kata atau kalimat mendapat persetujuan kolektif dalam suatu kelompok budaya. Bahasa juga memuat nilai budaya yang menyepakati kebiasaan, kesantunan, dan identitas masyarakat yang menggunakannya.
Menurut perspektif sosiolinguistik, frasa nomina “rumah tangga” menerima sentuhan pengkajian lewat dimensi sosial yang meliputi identitas sosial penutur, lingkungan sosial, dan ragam serta variasi bahasa.
Gabungan kata “rumah” (nomina) dan “tangga” (nomina) mengalami proses idiomatik yang merupakan tatanan terkecil dalam masyarakat. Proses integrasi kedua nomina tersebut menghadirkan makna baru yang non-harfiah. Berkeluarga.
Dari ancangan makna leksikal “rumah” (bangunan untuk tempat tinggal manusia) yang bergabung dengan “tangga” (alat untuk naik dan turun tempat bertingkat). Kemudian terjadi proses idiomatik yang menyebabkan gabungan itu tidak lagi sekadar “bangunan tempat tinggal yang ada tangga untuk naik turun”. Secara sosiolinguistik, maknanya pun kemudian mengalami pergeseran menjadi konsep abstrak tentang tatanan hidup bersama dalam satu atap.
Ada pula pakar bahasa yang berpandangan, frasa nomina “rumah tangga” merupakan idiom sebagian. Sebab, kata “rumah” masih bermakna asli (leksikal), sedangkan kata “tangga” telah berubah makna. Tidak lagi bermakna sebagai alat atau bilah bambu atau kayu untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Kata “tangga” menyatu dengan kata “rumah” menghadirkan komposisi makna baru, yaitu urusan hidup seisi rumah atau hidup berkeluarga di bawah satu atap rumah.
Boleh terbilang, kedua unsur dasar pembentuk frasa nomina ini, kata “rumah” dan “tangga”, masing-masing menyumbang asosiasi makna, sebagai kehidupan di dalam rumah yang mendapat penopang berupa aturan-aturan sebagai tempat berpijak bersama, seperti layaknya tangga.
Peran sosial seseorang di suatu rumah tangga, seperti kepala keluarga (rumah tangga), ibu rumah tangga, menentukan pilihan kata yang memberi mereka kuasa dan kebiasaan bahasa tertentu manakala berbicara.
Kepala keluarga (rumah tangga) kerap memakai diksi yang menunjukkan instruksi, keputusan, atau tanggung jawab. Inilah otoritas leksikal ketika interaksi terjadi, sesuai dengan peran sosialnya. Sementara itu, ibu rumah tangga lebih memilih kata-kata yang bertalian dengan pengaturan rumah, pengasuhan, atau kebutuhan keseharian.
Secara sosiolinguistik, inilah yang berhak menerima sebutan sebagai variasi bahasa berdasarkan penutur. Dalam praktik komunikasi domestik, terdapat hierarki yang menentukan tingkat tutur atau ragam bahasa yang mereka gunakan. Pada domain ini, lingkungan fisik rumah menjadi latar tempat keberlangsungan peristiwa tutur khas yang mengelola nada suara, keintiman, dan topik pembicaraan.
Perluasan makna administratif frasa nomina “rumah tangga” pun menjadi dinamika perjalanan kebahasaan yang menarik. Dari makna semula yang mewadahi pengertian suatu ikatan suami-istri, pada perkembangannya telah mengalami pergeseran menjadi istilah birokrasi dan kenegaraan. Contoh frasa nomina “urusan rumah tangga negara”. Ini menunjukkan, bahwa bahasa melakukan adaptasi dengan sistem sosial makro.
Sementara itu, medan makna dari frasa nomina “rumah tangga”, yaitu kosakata yang mengitarinya, seperti perabot atau aktivitas domestik, membentuk jejaring sosial dan norma budaya khas pada kelompok masyarakat tertentu. Kata-kata seperti “piring”, “sendok”, “kursi”, “meja”, “memasak”, “mencuci” yang mengitarinya saling terhubung dan menunjukkan cara hidup, kebiasaan, dan aturan sosial yang menjadi anutan suatu kelompok masyarakat. Pendek kata, semua kata tersebut berada dalam satu kelompok urusan hidup di dalam rumah.
Adapun kaitan frasa nomina “rumah tangga” dengan budaya dan sosial. Di situ terdapat aktivitas domestik, dalam artian aktivitas keseharian di rumah, menunjukkan siapa yang mengerjakan apa. Lalu terdapat sentuhan norma budaya, ketika perabot dan kebiasaan rumah tangga menunjukkan gambaran aturan dan nilai yang menjadi anutan masyarakat pada tempat tertentu.
Dimensi sosiolinguistik dalam rumah tangga. Di institusi domestik ini, unit sosial dasar di dalam lingkup atau batas rumah, bisa terjadi ajang pemakaian variasi dan pilihan bahasa (language choice). Di dalam rumah tangga atau keluarga tidak jarang terjadi penerapan kode bahasa tertentu, bisa campur kode atau alih kode antargenerasi. Contoh menggunakan bahasa daerah kepada orang tua dan bahasa Indonesia kepada anak-anak.
Dalam frasa nomina “rumah tangga” tersimpan kekuasan dan peran gender (power asymmetry). Analisis wacana dalam sosiolinguistik menyaksamai bahwa pemilihan leksikon dan tindak tutur merefleksikan relasi kuasa suami, istri, dan anak. Serta, bagaimana stereotipe gender dilekatkan lewat konversasi keseharian.
Terdapat asupan makna kontekstual dan kultural. Kata “tangga” yang secara harfiah mengacu pada jenjang lantai, mengalami perluasan makna kultural (extension of meaning) manakala bersanding dengan kata “rumah”. Frasa nomina “rumah tangga” membentuk unit sosial terkecil yang mempunyai norma komunikasi khas di masyarakat.
Konsep Filosofi
Konsep filosofi “rumah tangga” mengacu pada makna hidup bersama yang menyatukan ruang fisik (rumah) dengan dinamika sosial (tangga) menjadi wadah moral, ikatan batin, dan proses bertumbuh secara kolektif berbarengan.
Dalam taut pandang filosofis, frasa “rumah tangga” meliputi makna unsur pembentuk, yaitu rumah (papan/tempat), simbol dari pusat rasa aman, tempat kembali, dan perlindungan baik fisik maupun mental bagi jiwa manusia. Serta, tangga (proses/jenjang), simbol dinamika hidup yang naik-turun, tahapan pertumbuhan, juga usaha bersama untuk menggapai tujuan yang lebih tinggi.
Selanjutnya berdasarkan tinjauan nilai dan hakikat dari frasa nomina “rumah tangga”. Di dalamnya terjalin ikatan lahir dan batin. Dua jiwa yang secara sadar menyatu dan berkomitmen untuk bersama-sama membopong tanggung jawab guna saling melengkapi dalam kebaikan.
Di samping itu, rumah tangga juga merupakan mikrokosmos sosial. Rumah tangga adalah unit terkecil yang di dalamnya memuat tatanan nilai, etika, dan keharmonisan hidup. Di sini juga tersedia ruang etis. Tempat cinta, ketenangan, dan kasih menerima tempaan demi tempaan untuk mewujudkan kedewasaan ekspresi.
Konsep filosofis “tangga” dalam frasa nomina “rumah tangga” melambangkan tahapan kehidupan, proses pematangan diri, tatanan struktur yang mesti menjadi jalan bagi sebuah keluarga untuk melewatinya bersama-sama. Secara kultural, kata “tangga” sudah tentu tidak berhenti di makna harfiah sebagai alat untuk memanjat. Ia adalah juga metafora tentang pengembaraan moral dan sosial.
Setiap tangga pasti memiliki anak-anak tangga. Menurut perspektif filsafat, ternyata terdapat kandungan makna filosofis anak tangga dalam kaitannya dalam kehidupan keluarga. Di situ ada kandungan representasi simbolik dari tahapan dan proses berkesinambungan.
Tiap anak tangga adalah simbol tahapan waktu, ujian, dan pendewasaan yang perlu mendapat power tekad dan keberanian untuk menaikinya secara bersama sejoli suami istri serta anak-anak mereka.
Masih dari kajian filosofis rumah tangga. Perlu adanya keseimbangan struktur. Ini mengacu pada substansi fungsi tangga dengan dua penyangga yang seimbang dan pijakan kuat. Pada gaetan filosofi rumah tangga, ini merupakan cerminan kerja sama yang setara antara suami dan istri dalam upaya bersama saling menopang keutuhan.
Tangga secara filosofis juga jalan menuju kenaikan kelas spiritual dan emosional. Ada pandangan yang menegaskan, bahwa membina rumah tangga merupakan sekolah kehidupan terlama. Tiap masalah yang hadir akan memperoleh sentuhan pemecahan secara bersama. Dan, tiap solusi bersama yang menghampiri, niscaya akan menaikkan kebijaksanaan keluarga ke tingkat lebih tinggi.
Frasa nomina “rumah tangga” juga mengusung nilai moral dan etika, menurut perspektif kajian filosofis. Di situ ada pesan tentang kesabaran dan kehati-hatian. “Menaiki anak-anak tangga” sudah pasti akan lebih aman jika pasangan suami-istri tidak melakukannya secara terburu-buru.
Kesabaran dan kehati-hatian mesti perlu menjadi bagian dari strategi agar dapat meminimalisasi risiko terjatuh. Ini simbol tentang betapa perlu musyawarah dan kesabaran ketika terjadi konflik domestik.
Tangga, secara filosofis, merupakan benda yang realisasi pemanfaatannya senantiasa mengarah ke tempat lebih tinggi. Sebagai refleksi cita-cita bersama guna menggapai kebahagiaan lahir dan batin. Kemaslahatan bersama dengan berpegang teguh nilai-nilai luhur religiositas. ***

