Konten dari Pengguna

Sabuk, Kombinasi Nilai Fungsional dan Aksesori

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sarung kuningan untuk tempat menyimpan pedang yang tergantung pada sabuk lebar prajurit Romawi. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Sarung kuningan untuk tempat menyimpan pedang yang tergantung pada sabuk lebar prajurit Romawi. (Sumber: Shutterstock)

Ikat pinggang. Tali pengikat. Kedua sebutan benda itu diwadahi maknanya oleh kata “sabuk”. Manfaat fungsional sabuk yang paling praktis dalam kehidupan sehari-hari, yaitu agar celana yang sedikit longgar (mungkin karena sang pemakai mengalami penurunan berat badan sehingga tubuhnya lebih kurus) dapat tetap enjoy berada di tempatnya.

Atau, sarung (biasanya goyor, teksturnya halus dan lembek) yang tidak cukup aman jika cara mengenakannya hanya dengan membebatkan dan selanjutnya menggulung sedikit bagian atasnya. Tidak melorot alias turun dari posisi yang seharusnya.

Demikianlah fungsi pragmatis yang siapa pun dapat dengan tegas mengamini atas keberadaan benda bernama sabuk dalam kehidupan sehari-hari. Sabuk pada mulanya erat berhubungan dengan pakaian pria.

Akan tetapi, kemudian mode pakaian wanita pun memerlukan keberadaan sabuk sebagai bagian dari pertimbangan aksesori. Sebelum itu, ada suatu masa dalam sejarahnya ketika sabuk juga menjadi simbol status sosial atau setidaknya simbol keahlian dari sang pemakai.

Sejarah Sabuk

Sesungguhnya sabuk sebagai benda yang turut mengambil peran serta sebagai bagian dari konsepsi kebutuhan manusia untuk kenyamanan berpakaian telah ada di kisaran 3300 - 1200 Sebelum Masehi. Sabuk yang tertua dalam peradaban umat manusia, dibuat dari tali atau kulit tumbuhan. Kalaupun manusia zaman itu belum memikirkan konsepsi pakaian bagian atas. Setidaknya, sabuk ala mereka masih bisa berfungsi melindungi agar pakaian bawahnya tidak terlepas.

Kira-kira beginilah ungkapan imajinatif secara visual tentang sabuk yang berbagan rali atau kulit tumbuhan. (Sumber: Meta AI)

Dalam peradaban kuno, seperti Mesir, Yunani, dan Romawi, dapat dilacak bukti-bukti arkeologis ke arah tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya muncul dinamika pemilihan bahan yang lebih tahan lama, yaitu kulit hewan.

Mereka telah mengenal fungsi sabuk dalam pengertian yang paling pragmatis, yaitu untuk menjaga agar pakaian bawah tetap aman berada di posisinya. Selain itu, fungsi sabuk selanjutnya, untuk alat bantu membawa perlengkapan dan pelindung diri.

Guna menunaikan fungsi membawa perlengkapan, sabuk menjadi tempat untuk menyangkutkan alat-alat penting seperti senjata, pisau, atau kantung kecil untuk menyimpan makanan serta bisa juga benda lain. Di samping itu, sabuk terutama yang terbuat dari kulit hewan, dapat berfungsi untuk melindungi pinggang dan perut dari kemungkinan menderta cedera tatkala terjadi benturan dengan benda keras pada saat beraktivitas.

Sabuk sebagai peranti yang hampir tidak bisa ditinggalkan dari penggunaan pakaian militer ataupun sipil, hadir begitu dominan dalam peradaban Romawi dan Yunani. Para prajurit mereka begitu disiplin mengenakan sabuk lebar yang sekaligus menjadi simbol kekuatan serta menggantungkan pedang yang siap setiap saat berjuang membela negara dan sang junjungan. Sementara itu, masyarakat sipil memanfaatkan sabuk untuk kelengkapan dalam memakai tunik atau jubah.

Adapun di Romawi, dikenal sabuk yang disebut cingulum untuk digelantungi sarung untuk belati, dan sabuk yang disebut balteus yang biasa digantungkan sarung untuk pedang. Di Eropa pada Abad Pertengahan (500 - 1500) sabuk menjadi simbol status sosial pemiliknya.

Di Masa Renaisans (abad ke-14 hingga ke-17), sabuk hadir dengan performa yang kian dekoratif. Bahannya pun mewah seperti sutra dengan tambahan pernak-pernik perhiasan. Ini memperpanjang deretan contoh keberadaan sabuk sebagai simbol status sosial.

Revolusi Industri

Pada masa Revolusi Industri Pertama yang berlangsung secara signifikan pada kisaran 1760 - 1860, kulit binatang mulai populer sebagai bahan pembuatan sabuk di kalangan kaum pria. Popularitas itu muncul dari buah akibat adanya kemampuan produksi sabuk secara massal sehingga harganya lebih ramah dari jangkauan kelas pekerja, tidak hanya kalangan elite.

Bersamaan dengan itu, telah ada penemuan penyamakan kromium pada 1858. Suatu proses industri yang memanfaatkan garam kromium trivalen (Cr(III)) yang dapat melenturkan kulit hewan dan sekaligus menguatkan serta menstabilkan sehingga tidak mudah membusuk. Proses ini memungkinkan terjadinya percepatan penyamakan.

Hasil yang muncul pun berupa kulit dengan performa fisik lebih lembut dan sentuhan warna nan cerah. Ketahanan terhadap air dan panas pun kian teruji. Belum lagi dengan teknik dekorasi yang menampilkan sabuk sebagai benda fungsional dengan tampilan yang tidak sepi akan estetika.

Sabuk yang relatif cocok untuk aksesori pakaian wanita. (Sumber: Shutterstock)

Pada tahun 1930-an, sabuk hadir sebagai aksesori umum bagi wanita berpadu dengan gaun panjang. Sesuai dengan mode yang tengah populer pada waktu itu, sabuk properti gaun atau pakaian wanita untuk memberikan kesan alami pinggang ramping serta mempertegas bentuk tubuh yang memenuhi kriteria feminim dan berkelas pada era itu.

Perjalanan Mode

Dewasa ini, sabuk telah menemukan dirinya mengalami sentuhan perkembangan menjadi aksesori mode bagi pria dan wanita. Dan, senantiasa muncul dinamika perubahan yang terus bergerak terkait dengan variasi bahan yang penuh gairah menyahuti kecenderungan fesyen yang tengah membumi sebagai pusaka anutan.

Dewasa ini pula, sabuk menjadi bagian signifikan dari perjalanan mode. Ada sabuk pernyataan dengan desain, warna, atau detail mencolok. Tujuan penggunaanya untuk mencari perhatian sehingga dapat menjadi fokus utama suatu performa fesyen. Memodifikasi penampilan sederhana menjadi lebih atraktif dan ekspresif.

Salah satu wujud sabuk vintage, bahannya dari campuran emas dan perak yang dahulu biasa menjadi aksesori pakakan perempuan peranakan Tionghoa kelas atas (baba nyonya) di era Pemerintah Hindia Belanda. (Sumber: Shutterstock)

Ada sabuk teachwear yang mengombinasikan antara mode dan fungsi, seperti gesper unik dan kantong bawaan. Ada pula sabuk minimalis dengan desain ramping sebagai strategi untuk menonjolkan pakaian. Ada juga sabuk vintage yang merevitalisasi gaya tradisional dengan bahan yang kokoh.

Prioritas industri mode dewasa ini adalah keberlanjutan dengan memberikan ruang manfaat bagi bahan yang ramah lingkungan, antara lain kulit hewan daur ulang. Serta, menegakkan prinsip yang beretika dalam praktik-praktik manufaktur. ***