Konten dari Pengguna

Sajadah Itu Semula dari Bahan Daun Palem

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sajadah dari bahan daun palem di masa kinj. (Sumber: Meta AI)
zoom-in-whitePerbesar
Sajadah dari bahan daun palem di masa kinj. (Sumber: Meta AI)

Khumrah. Tikar beranyamkan daun pohon palem (famili Arecaceae), terutama spesies palem yang menghasilkan buah kurma (seperti Phoenix dactylifera, salah satu yang terkenal). Khumrah merupakan cikal bakal sajadah untuk alas saat menunaikan salat baik di rumah maupun masjid atau musala.

Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas), salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan tercatat sebagai periwayat hadis terbanyak kelima (1.500-an). Adapun empat periwayat hadis (perawi) di atasnya, yakni Abu Harairah (5.000-an), Abdullah bin Umar (2.500-an), Anas bin Malik (2.200-an), Aisyah (2.100-an).

Ibnu Abbas meriwayatkan, Baginda Rasul menunaikan salat di atas khumrah dan meletakkan wajah beliau di situ ketika sujud. Sementara itu, mayoritas ulama hadis, termasuk Imam Bukhari dan Ibnu Hajar al-Asqalani, membubuhkan keterangan penjelas, khumrah merupakan sejenis tikar kecil yang cukup untuk meletakkan wajah dan kedua telapak tangan pada saat melakukan sujud.

Adapun khumrah tersebut merupakan anyaman yang tersusun dari daun pohon palem yang menghasilkan kurma. Spesies lainnya selain yang telah tersebut di awal tulisan ini, juga ada Phoenix atlantica, Phoenix reclinata, Phoenix humilis, Phoenix acaulis.

Tentang Kata “Sajadah”

Suami istri bersujud di atas sajadah masing-masing dalam salat berjamaah di rumah mereka. (Sumber: Shutterstock)

Secara etimologis, kata “sajadah” yang sudah terserap dalam khazanah kosakata bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab sajjādah (سجادة). Ia merupakan salah satu alat ibadah, bisa berupa kain atau karpet, yang berfungsi untuk alas sujud. Akar katanya sajada (سجدة) yang bermakna "sujud" atau dalam kelas verba "bersujud".

Sujud dalam konteks Islam mengacu pada salah satu rukun salat, berupa tindakan meletakkan dahi, hidung, tangan, lutut, dan jari kaki di tanah. Dan, di tempat kita menunaikan salat itu biasanya terhampar sajadah. Untuk memastikan tempat salat itu bersih dari kotoran. Serta, membantu kita lebih khusyuk dalam berkomunikasi dengan Allah.

Kata yang akhirnya mengalami proses penyerapan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “sajadah” itu, sebetulnya sudah ada dan terkadang muncul dalam aktivitas berbahasa sejak masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Akan tetapi, pada saat itu belum terlalu populer.

Popularitas kata “sajadah” justru melejit pada Abad Pertengahan (Abad Ke-5 hingga Ke-15 Masehi) di Kairo, Mesir manakala semakin banyak orang menggunakan tikar sebagai alas untuk menunaikan salat. Kemudian seiring dengan langkah perjalanan sang waktu, sajadah mulai menjadi bagian dari kebutuhan, walaupun hukumnya sunah, bagi umat muslim di seantero jagat, termasuk Indonesia.

Beragam Bahan Sajadah

Seiring dengan perguliran dekade deni dekade dan terjadi sentuhan dengan berbagai budaya lokal dengan wilayah syiar di luar Arab Saudi, bahan dan motif sajadah pun mengalami perkembangan menjadi semakin beragam. Dari semula hanya daun palem yang berbuah kurma. Bahan alami lain seperti katun dan wol juga turut menjadi varian pilihan untuk sajadah tradisional.

Manakala pengaruh sajadah itu mampir di wilayah negara-negara yang mempunyai tradisi seni karpet yang maju, yaitu Tiongkok dan Turki, bahan-bahan seperti sutra, beludru, dan bulu pun mulai menghampiri sebagai alternatif pilihan lain. Bahan-bahan tersebut termasuk dalam jajaran predikat yang tradisional.

Pemilihan bahan katun untuk sajadah, karena teksturnya yang lembut, adem, dan ramah terhadap kulit. Memberikan kenyamanan saat bersujud. Lalu sutra menawarkan kehalusan, kilau, serta daya tahan yang lama. Hanya sayang mudah kusut dan warnanya gampang pudar tatkala terkena sinar matahari secara langsung dalam waktu lama.

Bahan untuk sajadah lainnya yang termasuk berpredikat tradisional, yaitu beludru. Ada yang menyebutnya velvet. Teksturnya halus, permukaannya rata. Bobotnya ringan dan gampang dilipat. Pilihan yang pas untuk menjadi teman perkakas dalam perjalanan ke luar kota. Atau, pantas pula untuk dijadikan cendera mata bagi orang tersayang.

Seorang anak kecil tengah bersujud di atas sajadah yang berlapiskan bahan busa. (Sumber: Shutterstock)

Selain bahan-bahan sajadah yang tergolong tradisional, ada juga yang berbahan modern. Muncul sajadah dengan lapisan busa yang relatif tebal dan empuk. Menawarkan kenyamanan ketika ingin salat dengan bacaan surah-surah yang pelan dan panjang. Atau, dengan sertaan salat-salat sunah.

Ada pula sajadah yang berbahan taslan. Kain sintetis dari nilon atau poliester dengan karakteristik antiair (waterproof). Demikian pula dengan sajadah yang berbahan despo. Jenis kain parasut berjenis windbreaker. Bahannya dari serat poliester. Keduanya cocok untuk sajadah traveling dengan bobot ringan, pembersihannya mudah sehingga penyebaran kuman dapat lebih teratasi.

Motif-Motif Sajadah

Sajadah tampil dengan berbagai motif untuk menegaskan muruah keindahannya. Pada awalnya masih sederhana. Motif yang menyerupai pintu surga di Abad Pertengahan. Dalam pergerakan masa, hadir variasi lain yang menghadirkan motif geometris, bunga, arsitektur Islam seperti Masjid Nabawi dan Ka’bah.

Seiring dengan penyebaran syiar agama Islam ke berbagai wilayah dunia dengan seni dan budaya masing-masing, desain serta motif sajadah pun mengakomodasi warna lokal yang kian memperkaya khazanah estetika alas salat tersebut. Sajadah Indonesia membaurkan dengan tenaga esetetika yang kuat unsur-unsur batik dan budaya lokal lain nan kental dan unik.

Sajadah Turki dengan motif bunga yang sedemikian telaten menyuguhkan detail. (Sumber: Shutterstock)

Sajadah Turki tampil dengan desain elegan dan motif bunga yang begitu telaten menyuguhkan detailnya. Sajadah Persia hadir dengan motif klasiknya yang begitu mewah dengan bentuk melengkungnya serta juga kedermawanannya dengan detail bunga.

Sementara itu, sajadah Pakistan menampilkan ciri khas utama berupa bordiran rumit dengan motif-motif yang menumbuhkan impresi elegan berkelas. Adapun sajadah Maroko hadir dengan motif dalam tatanan warna biru gelap, abu-abu, dan krem. Desain yang terinspirasi lengkungan Moor pada seni arsitektur mereka.

Berbagai Ukuran Sajadah

Berbagai ukuran sajadah tersedia. Untuk orang dewasa (sajadah standar), pada umumnya 55 x 100 sentimeter hingga 70 x 110 sentimeter. Untuk anak-anak, terdapat kisaran ukuran 47 x 85 sentimeter atau 50 x 70 sentimeter. Khusus sajadah traveling dewasa, ukurannya lebih kecil dari ukuran standar, yaitu 50 x 70 sentimeter hingga 90 x 110 sentimeter.

Sajadah mini untuk dahi dan wajah saja ketika bersujud. (Sumber: Shutterstock)

Selain itu, ada sajadah mini atau sajadah muka (wajah). Sesuai dengan namanya, sajadah ini hanya memuat kening dan wajah orang yang menunaikan salat, terutama saat melaksanakan sujud. Ukurannya bervariasi. Pada umumnya 30 x 30 sentimeter, 35 x 35 sentimeter, dan 35 x 60 sentimeter.

Masih ada lagi sajadah masjid. Berbentuk laiknya karpet yang dapat memuat beberapa orang. Tersedia dengan lebar 100 - 120 sentimeter dengan panjang ke samping hingga 600 sentimeter. Dan juga, sajadah jumbo, yang lebih besar dari sajadah standar.

Untuk sajadah jumbo atau orang juga sering menyebutnya dengan sajadah umrah, mungkin karena frekuensi pemakaiannya lebih banyak terjadi pada saat berlangsung dalam proses ritual haji kecil tersebut. Tersedia ukuran 90 x 150 sentimeter atau 120 x 180 sentimeter.

Dengan ukuran ini bisa digunakan oleh beberapa orang pada saat salat berjamaah. Sajadah jumbo biasanya terbuat dari beludru (empuk nyaman), poliester (ringan, cepat kering, tidak mudah kusut), suede (halus dan lembut, biasa untuk sajadah premiun), katun (lembut dan adem).

Terkadang sajadah jumbo dilengkapi dengan lapisan bursa serat (fiber foam) untuk mempertegas ketebalan dan keempukan, sehingga mampu menjulurkan servis kenyamanan maksimal. Terdapat fitur tambahan lapisan karet antiselip di bawahnya, sehingga sajadah tidak gampang bergeser. ***