Konten dari Pengguna

Salat, Jalan Terdekat ke Mahabbatullah

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana khusyuk Salat Jumat. Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI
zoom-in-whitePerbesar
Suasana khusyuk Salat Jumat. Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI

Salat Jumat (1/5/2026). Saya menunaikannya di Masjid Al-Wali yang berlokasi di Jalan Ketileng Raya Nomor 21, Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Sebagai masjid di bawah naungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), pelaksanaan khotbah berlangsung dengan bahasa Arab dari salam pembuka hingga penutup.

Setelah khotbah selesai, Salat Jumat berjamaah pun berlangsung. Sudah itu ada bonus mauizah hasanah. Semacam khotbah juga, hanya kali ini disampaikan dengan bahasa Indonesia oleh khatib yang sama. Seperti halnya dengan Jumat-Jumat sebelumnya, khatib yang bertugas saat itu, tidak pernah jemu mengingatkan kepada jamaah, bahwa tugas utama manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Hanya pada Jumat (1/5/2026) itu, khatib dalam mauizah hasanah, menekankan adanya konsep salat sebagai waktu untuk beristirahat. Esensi maknawi yang terkandung di dalamnya, yaitu salat bukan hanya merupakan kewajiban fisik. Melainkan sebagai sarana untuk mengistirahatkan batin, mencari ketenangan jiwa.

Selain itu, menunaikan salat adalah juga menjadi jeda di antara timbunan kepenatan yang timbul setelah memenuhi urusan duniawi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sering bersabda kepada Bilal bin Rabah, “Qum yaa Bilaal, arihnaa bish-shalaah (قُمْ يَا بِلَالُ، فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ)“. Terjemahannya, “Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan salat” (potongan Hadis Riwayat Abu Dawud [nomor 4985] dan Ahmad).

Sabda Rasulullah kepada lelaki yang merupakan salah seorang Assabiqunal Awwalun (pemeluk Islam awal) dan mendapat julukan Yang Suara Sandalnya Terdengar di Surga itu, menegaskan eksistensi salat sebagai momen katarsis yang indah dari kelelahan karena belitan kesibukan duniawi menuju ketenangan bersama Allah 'Azza wa Jalla (الله عز وجل). Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung.

Dan, sebagaimana telah menjadi pengetahuan bersama setiap muslim dan muslimah, dalam konsep teologi Islam, salat merupakan ibadah paling utama. Bahkan menjadi ibadah yang pokok dan fundamental. Sampai-sampai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda dalam sebuah hadis, bahwa salat adalah tiang agama (ash-shalati ‘imaduddin). Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi (September 994 - 9 April 1066 Masehi) dalam kitab Shu'abul Iman, serta juga diriwayatkan dalam kitab Al-Khatib.

Dengan demikian, salat tidak berhenti sebatas ritual. Bukan sempadan ibadah yang seremonial, melainkan juga memiliki makna substansial berupa adanya jejak-jejak kemuliaan akhlak yang menampakkan penandanya secara tegas dalam hubungan sosial sehari-hari baik dengan saudara seiman maupun saudara dalam kemanusiaan.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-'Ankabut: Ayat 45, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اُتْلُ مَاۤ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ  ۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ  ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Utlu maaa uuhiya ilaika minal-kitaabi wa aqimish-sholaah, innash-sholaata tan-haa 'anil-fahsyaaa-i wal-mungkar, walazikrullohi akbar, wallohu ya'lamu maa tashna'uun.

"Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 45).

* Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id

Salat boleh terkatakan merupakan perjalanan menuju ke klimaks mahabbatullah. Cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sekaligus juga menjadi wujud penghambaan yang tertinggi. Sebab, salat menjadi wahana komunikasi langsung antara Sang Khalik dan para hamba-Nya. Tanpa mediator. Tanpa perantara. Semata hanya Allah dengan para pencinta yang hatinya memperoleh penerangan cahaya petunjuk dan merindukan kedekatan dengan-Nya.

Dan, salat itu adalah perintah langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagaimana termaktub dalam firman di Al-Qur’an Surah Ta-Ha: Ayat 14:

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَاۡ فَا عْبُدْنِيْ  ۙ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Innaniii anallohu laaa ilaaha illaaa ana fa'budnii wa aqimish-sholaata lizikrii

"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku." (QS. Ta-Ha 20: Ayat 14)

* Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id

Dalam salat terdapat gerakan sujud. Secara simbolis merepresentasikan posisi jiwani para hamba ketika merasa diri masing-masing paling dekat dengan Allah. Ini sesungguhnya momen puncak penghambaan, tatkala jiwa menunduk sepenuh pasrah di atas duli (debu) yang sedikit tercecer dari terompah Kemahaagungan-Nya.

Salat dengan demikian membukakan jalan bagi para pencinta Tuhan untuk menzikirkan asma-Nya secara intens dan merenda sapaan mesra dan hormat terhadap-Nya. Kekhusyukan akan mendesain perasaan di hati, sehingga seseorang dapat merasa sedang berdialog langsung dengan Tuhan tempatnya menggantungkan segala cinta pemujaan.

Tatkala mahabbatullah mengisi ruang motivasi spiritual, salat menempatkan dirinya tidak lagi sekadar kewajiban. Apalagi memberat sebagai beban. Sebaliknya, salat telah menjadi kebutuhan rohani dan bahkan merupakan hadiah yang menggembirakan (bagi orang yang mengetahuinya) dari Tuhan kepada para hamba. Pendeknya, seseorang yang melangkah di jalan Allah dengan senantiasa menebarkan cinta pemujaan di setiap tapak demi tapak langkah kehidupannya.

Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Az-Zariyat: Ayat 56)?

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya'buduun.

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

* Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id

Ketenangan dan kebahagiaan akan senantiasa mewarnai dalam setiap pelaksanaan salat, bagi mereka yang sungguh-sungguh mencintai Allah. Karena ada kesadaran, salat merupakan pilar utama yang menyediakan keterjagaan hubungan vertikal antara para hamba dan Tuhannya. Serta, merawat perasaan beruntung karena telah berkesempatan dekat dengan Allah.

Dengan perkataan lain, salat itu manifestasi fisik dan spiritual dari kecintaan para hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Salat menempati fungsi sebagai tangga kenaikan rohani (spiritual ascent) bagi orang beriman (mik’rajul mukminin). Suatu kenaikan rohani, ketika terjadi proses transformasi batin sehingga seseorang dapat menaikkan kualitas relasi, kesadaran, dan kedekatan dengan Sang Maha Pencipta.

Tiga Dimensi Cinta

Salat berjamaah dalam keluarga. Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI

Sebagai ekspresi peribadatan yang berada di puncak mahabbatullah, salat mengandung tiga dimensi cinta sekaligus. Pertama, salat sebagai ruang khalwat (privasi cinta). Waktu berduaan adalah tuntutan cinta. Salat merupakan waktu khusus bagi Allah. Waktu khusus bagi para hamba untuk “memutuskan” dengan urusan dunia. Waktu untuk masuk ke dalam hadirat-Nya. Merasakan kehadiran Allah secara personal yang mengusung rasa suka cita, damai sejahtera, dan penuh kekuatan kasih sayang.

Salat bermula dari takbiratul ihram. Mengharamkan segala sesuatu selain Allah. Ini sikap yang menunjukkan bukti cinta sejati. Dalam salat, para hamba hanya mencintai Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hanya menjadikan Allah satu-satunya fokus (tauhidul hubb).

Kedua, dalam salat terdapat manifestasi Al-Ihsan. Menurut Hadis Jibril, definisi ihsan adalah “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Bila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”.

Dalam hadis hasil periwayatan Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab Radiyallahu ‘anhu ini terdapat dua jenis kesadaran berlainan level, yakni musyahabah, beribadah seolah-olah melihat Allah dengan fokus penuh dan kerinduan yang pekat. Dan, muraqabah, keyakinan Allah selalu mengawasi, kendati para hamba tidak melihat-Nya.

Tujuan kepemilikan dua kesadaran (musyahabah lebih tinggi levelnya daripada muraqabah) ini para hamba beribadah sesuai dengan kualitas terbaik, ikhlas, khusyuk, dan merasa Allah senantiasa mengawasi. Ini puncak kesadaran spiritual yang menghadirkan rasa takut dan cinta para hamba kepada Allah yang merasuk ke dalam setiap tindakan.

Spiritual exercise paling tinggi untuk merasai kehadiran Allah adalah salat. Inilah puncak cinta, manakala Sang Pencipta merasa senantiasa memperoleh dari tatapan para hamba yang mencintai-Nya. Dan, salat merupakan momen tatkala kesadaran tersebut hadir pada titik level yang tidak tertandingi. Titik level yang tertinggi.

Dimensi cinta yang ketiga, karena salat melibatkan seluruh unsur manusia untuk mencintai Allah. Ada lisan yang bertutur untuk memuji dan merayu Allah melalui Surah Al-Fatihah dan zikir. Ada akal untuk merenungi keagungan makna di balik setiap gerakan. Ada tubuh jasad untuk menunduk dan bersujud dalam tarikan simbolis ketaatan fisik total. Ada roh yang tumakninah karena sudah tiba pada pusat kedamaian.

Selain itu, ada sujud, yang menurut sabda Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, merupakan posisi hamba yang paling dekat dengan Allah. Oleh karena itu, ada anjuran untuk memperbanyak doa ketika sujud. Rasulullah kerap melafazkan Subhānaka wa bi hamdik. Lā ilāha illā anta (Maha Suci Engkau, segala puji bagi-Mu, tiada Tuhan selain Engkau).

Ketika para hamba bersujud, sesungguhnya mereka telah meletakkan ego kemanusiaannya di tempat paling rendah dan mengakui sepenuhnya Kemahatinggian Allah. Posisi ini secara spiritual merupakan noktah ketika “jarak” para hamba dengan Sang Khalik menjadi sirna alias tidak ada lagi berkat rasa cinta yang sedemikian mendalam.

Sementara itu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (29 Januari 1292 - 15 September 1350 Masehi) mendeskripsikan salat sebagai “penyejuk mata” (qurratu ‘ain). Sumber kebahagiaan, ketenangan jiwa, dan istirahat sejati bagi Rasulullah dan para hamba beriman. Nabi bahkan pernah bersabda, “Penyejuk mataku (kebahagiaan puncakku) ada di dalam salat”. Begitu pula dengan para hamba pencinta Allah. Dengan demikian salat merupakan destinasi. Bukan sekadar rutinitas penggugur kewajiban. Ada cinta yang melambai di sana.

Deskripsi ini melampaui rasa cinta biasa. Sebab, salat menegaskan eksistensinya sebagai kekuatan yang menempatkan ketenangan berada di puncaknya dan penghapus kelelahan jiwa. Serta, salat juga merupakan momen paling menyenangkan bagi para hamba untuk berdialog dengan Allah. Jika sudah sedemikian, salat bukan lagi mengenai persoalan “berapa rekaat yang harus para hamba selesaikan”. Melainkan “berapa lama lagi para hamba dapat mempertahankan kemesraan komunikasi dengan Tuhan”.

Dialog Dua Arah

Salat seorang diri.Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Mengenai Surah Al-Fatihah yang tidak pernah tercecer dalam tiap rakaat salat para hamba, dalam hadis qudsi (HR. Muslim), Allah berfirman, “Aku membagi salat (Al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan, hamba-Ku akan mendapatkan apa yang mereka minta.”

Allah akan langsung menjawab, setiap kali para hamba melafazkan satu ayat. Dari ayat Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), Allah menjawab, Hamidanii 'abdii (Hamba-Ku telah memuji-Ku). Dari ayat Ar-Rahman Nir Rahim (Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang), Allah menjawab, Hamidanii 'abdi (Hamba-Ku telah menyanjung-Ku).

Selanjutnya manakala para hamba melafazkan ayat Maliki yaumiddin (Pemilik Hari Pembalasan), Allah merespons, Abdi qad akramani (Hamba-Ku telah memuliakan-Ku). Manakala para hamba melafazkan ayat Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), Allah menanggapi, Hâdzâ bainî wa baina ‘abdî, wa li‘abdî mâ sa-al (Ini bagian antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang mereka minta).

Dan, ketika para hamba melantunkan ayat pamungkas Ihdinas-shiraathal mustaqiim, shiroothollaziina an'amta 'alaihim ghoiril-maghdhuubi 'alaihim wa ladh-dhooolliin (Tunjukilah kami jalan lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan jalan mereka yang sesat). Allah pun menegaskan, Haadzaa li'abdii wa li'abdii maa sa-al (Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang mereka pinta).

Dengan demikian, salat bukan hanya sekadar melafazkan bacaan secara monologis, melainkan dialog dua arah dengan Allah. Dan, sebagai konfirmasi dari kehadiran cinta di sini, para hamba tentu akan melafazkan doa secara khusyuk, perlahan alias tidak terburu-buru, agar mereka dapat “menemukan” Tuhan dalam setiap helaan napas. Ada tersimpan keyakinan, Sang Maha Kekasih Sejati mendengar doa-doa para hamba-Nya.

Ayat Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in dalam Surah Al-Fatihah ini memainkan fungsinya sebagai ikrar harian, bahwa para hamba tidak akan bergantung kepada selain Allah 'Azza wa Jalla. Ayat ini juga memperkokoh pengesaan Allah dalam ibadah (tauhid uluhiyah). Cinta tertinggi hanya untuk Allah. Ibadah dan ketaatan hanya kepada-Nya.

Bila Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menunaikan Isra Mikraj untuk bertemu dengan Allah, maka salat bagi umat Kanjeng Nabi adalah mikraj untuk mencapai “langit” rohani yang sama. Dan, pada tataran pencapaian cinta Illahi yang tinggi, mereka tidak lagi terburai fokusnya akibat godaan duniawi saat salat. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib yang tidak merasa sakit ketika sahabatnya mencabut anak panah yang menancap di kakinya bersamaan dengan waktu pada saat beliau menunaikan salat.

Contoh lain adalah Urwah bin Zubair, seorang Tabi’in, generasi setelah sahabat, yang mulia, alim, dan saleh. Urwah terkena infeksi di kakinya hingga menjalar ke betis. Untuk menyelamatkan nyawanya, para tabib bersepakat untuk mengamputasi kakinya. Saat proses amputasi akan berlangsung, dia menolak penggunaan arak untuk nengurangi sakitnya. Urwah tidak mau memakai barang haram untuk memperoleh kesembuhannya.

Urwah bin Zubair kemudian meminta kepada para tabib, untuk mengamputasi kakinya pada saat sedang menunaikan salat. Sebab, dia meyakini bahwa salat akan menyebabkan dirinya tidak merasa sakit. Demikian yang terjadi. Ketika tabib mengamputasi kakinya yang mengalami infeksi, kala itu dengan gergaji yang sudah mengalami sterilisasi, Urwah sama sekali tidak merasakan sakit. Sebab, dia betul-betul tenggelam dalam kekhusyukan salatnya.

Simbol evolusi cinta juga tercermin dalam setiap gerakan salat. Berdiri tegak merupakan representasi simbolis dari kesiapan dan keteguhan cinta. Rukuk menyimbolkan penghormatan para hamba kepada junjungan kecintaan mereka kepada Allah yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Dan, sujud, adalah puncak dari segala puncak. Kepala (simbol harga diri) dengan perantara kening yang menempel lekat di tanah, sejajar dengan posisi kaki. Ini penyerahan diri (self-surrender) yang penuh totalitas. Dalam hakikat cinta Illahi, tidak ada lagi “aku”, yang ada hanya “engkau”.

Sebagai ibadah yang komprehensif, salat mempertemukan dengan begitu harmonis syariat, tarekat, dan hakikat. Syariat merujuk pada aturan fikihnya. Tarekat mengacu pada jalan yang memperoleh pemenuhan kekhusyukan dan kehadiran hati. Hakikat menjelmakan di dalam diri para hamba, suatu entitas perasaan bahwa dalam salat ada kehadiran cinta dari Allah.

Dengan demikian, tidak dapat terkatakan lain, salat adalah noktah kulminasi dari mahabbatullah. Sebab, salat merupakan satu-satunya momen spiritual, manakala para hamba sebagai manusia yang tercipta dari tanah, memperoleh izin untuk memasuki ruang arasy (takhta) Allah melewati ruang hati masing-masing. Tanpa hijab terjadi jalinan komunikasi dengan-Nya. Dan, para hamba itu, dapat menikmati kelezatan spiritual dengan sepuas tuntasnya. ***