Sandal Bandol, Sandal Ho Chi Minh, Sandal Khmer Merah Sama-sama dari Ban Bekas

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sandal bandol. Sandal sudah jelas merujuk ke salah satu jenis alas kaki. Nah, kalau bandol itu ternyata akronim dari ban bodol. Kata “bodol” berasal dari bahasa Jawa Banyumasan yang bisa bermakna “sudah tidak terpakai lagi”.
Dengan demikian, sandal bandol adalah sandal dengan bahan dari ban luar (mobil atau truk, bisa juga sepeda motor) yang sudah masuk kriteria akhir masa pakai (end-life tire/ELT). Sandal bandol merupakan salah satu bentuk produk dari pemanfaatan secara tradisional ban ELT tersebut.
Adapun pemanfaatan berbasis teknologi, bisa berupa pendauran ulang. Pencacahan ban menjadi serpihan karet serta pemisahan serat dan bajanya. Untuk kemudian mengalami proses pengolahan menjadi aspal karet, bahan bakar alternatif, juga bahan untuk ban baru.
Sandal bandol merupakan salah satu wujud pemanfaatan manual dari bahan ban ELT menjadi produk kerajinan. Dari bahan yang sama juga dibuat furnitur, antara lain kursi, meja, ayunan untuk anak-anak. Demikian pula perlengkapan rumah tangga, seperti tempat sampah dan pot bunga.
Vietnam dan Kamboja
Sandal bandol juga dikenal di Vietnam. Disebut sandal Ho Chi Minh atau dép lốp (sandal ban). Awal mula dibuat pada tahun 1947. Dilakukan oleh para tentara Viet Cong selama perang menghadapi kolonialisme Prancis.
Mereka memanfaatkan ban-ban bekas dari kendaraan militer Prancis yang berhasil mereka sita guna mengkreasikan alas kaki yang sekaligus menjadi simbol heroisme. Paduan kesederhanaan, keberanian, dan ketahanan daya juang mereka. Pemimpin mereka, Ho Chi Minh, pun istikamah mengenakan dép lốp selama dua dekade.
Cara pembuatannya pun secara manual. Bahkan yang unik, tanpa lem atau paku. Sol sandal mereka potong dari ban luar bekas. Tali pengikatnya dari ban dalam bekas. Semua disesuaikan dengan ukuran kaki dari pemakainya.
Sandal Ho Chi Minh atau dép lốp mempunyai nilai sejarah sebagai saksi bisu kecerdikan tentara Viet Cong sehingga mampu mengatasi Prancis (1946 - 1954) dan kemudian Amerika Serikat (1955 - 1975). Kini hadir dengan pengembangan sandal modis ramah lingkungan.
Walaupun kehadiran dép lốp memiliki akar keterkaitan dengan situasi darurat perang, sandal dari ban bekas tersebut masih dapat dengan mudah tampak sebagai batang dagangan di pasar-pasar atau toko-toko kecil di Hanoi hingga kini. Para perajin pun berupaya bersahabat dengan selera masyarakat pengguna dengan kreasi desain lebih modern dan warna-warni lebih memikat.
Sementara itu di Kamboja, sandal dari bahan ban bekas, dalam memori kolektif bangsa tersebut cenderung terkait dengan saat rezim Khmer Merah berkuasa pada tahun 1975 - 1979. Oleh karena itu, kendati bukan penyebutan resmi, untuk mudahnya saja dinamai sandal Khmer Merah.
Masyarakat Kamboja, terutama yang sudah lanjut usia, akan segera mengasosiasikan dengan rezim itu ketika melihat sandal dari bahan ban bekas. Sebab, sandal tersebut banyak dipakai oleh para kader senior Khmer Merah. Konon produksi sandal tersebut merupakan bagian dari penyebaran ideologi yang mempanglimakan kemandirian bangsa.
Akibat asosiasi yang kental terhadap rezim genosida, kerajinan sandal Khmer Merah di Kamboja, mengusung makna yang kurang menggembirakan bagi masyarakat di sana. Meskipun demikian, kegiatan pemanfaatan ban bekas secara manual untuk produk kerajinan sandal tetap berlangsung. Organisasi nonpemerintah, seperti Heritage Watch, kadang membelinya guna menegaskan dukungan mereka terhadap program pelestarian budaya.
Diperkirakan 1950-an
Di Indonesia, rintisan kerajinan sandal bandol ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1950-an. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah dikenal sebagai wilayah sentra kerajinan sandal bandol tersebut.
Salah satunya di Grumbul Banaran, Kelurahan Pasir Kidul, Kecamatan Purwokerto Barat. Hingga kini, setidaknya hingga akhir 2024, menurut pemberitaan sejumlah media online masih menunjukkan tanda-tanda geliat usahanya. Adanya pemberitaan tentang seorang perajin yang mengirim hasil produk sandal bandolnya ke Makassar pada kisaran akhir 2024, membuktikan hal itu.
Masyarakat di sana, terutama di Kampung Kebanaran, tidak sedikit yang masih mengandalkan keterampilan mereka membuat sandal bandol. Mereka dengan menggunakan peralatan sederhana, seperti pisau, palu, dan paku mengolah ban ELT yang telah terpotong sesuai dengan kebutuhan. Mengkreasikan menjadi berbagai sandal bandol dengan desain-desain menarik.
Akan tetapi, secara keseluruhan kehidupan perajin sandal bandol di Tanah Ngapak memang membutuhkan uluran campur tangan dari Pemerintah Kabupaten Banyumas. Memang tampak ada upaya mempromosikan dan menempatkan sandal bandol pada posisi sebagai cendera mata khas bagi mereka yang berkunjung di daerah tersebut.
Keunikan dan kualitas produk serta keberanian secara terus-menerus mencoba langkah inovatif untuk menyapa secara cerdas selera pasar, menjadi roh yang akan secara kontinu menghidupi geliat usaha mereka. Memang, peran serta Pemerintah Daerah menjadi bagian penting untuk menguatkan tekad mereka "menantang zaman". ***
