Sekelumit Cerita tentang Sirwal atau Celana Cingkrang

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sirwal. Mendengar kata , rujukan benda yang bakal segera datang menyelinap di wilayah pikiran kita adalah celana. Tepatnya celana cingkrang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring), celana panjang dengan ukuran di atas mata kaki tetapi masih di bawah lutut.
Secara etimologi, kata “sirwal” berasal dari bahasa Persia Kuno (678 Sebelum Masehi - 651 Masehi), yaitu shalwār (شلوار). Merujuk pada celana panjang longgar. Kemudian, kata tersebut dipinjam ke bahasa Yunani Kuno (1200 - 323 Sebelum Masehi), dan disesuaikan pelafalannya sehingga jadi sarábara (σαράβαρα), celana orang Skythia. Bangsa nomaden dari Asia Tengah yang gemar berperang.
Selanjutnya bahasa Arab menyerap kata dari bahasa Persia Kuno itu menjadi sirwāl (سِرْوَال). Kata “sirwal” mengalami penyerapan ke dalam bahasa Turki Ottoman menjadi şalvar. Bahasa Melayu menyerap dari bahasa Arab menjadi kata yang sepintas hampir mirip pengucapannya, yaitu “seluar”. Bukankah “sirwal” dan “seluar” kalau diucapkan hanya terdengar beda tipis?
Bahasa Indonesia juga menyerap kata “serual” dari bahasa Melayu. Akan tetapi, dewasa ini jarang digunakan dalam kegiatan berbahasa sehari-hari. Kata yang lebih sering terdengar dalam percakapan keseharian atau dapat dengan mudah ditemui dalam bahasa tulis adalah “celana” atau lebih spesifik gabungan kata “celana cingkrang”.
Berbagai Jenis Celana
Selain celana cingkrang, KBBI VI Daring juga memuat beberapa gabungan kata yang melibatkan celana. Ada celana bahan, yaitu celana panjang dari bahan katun, biasanya untuk lelaki saat bekerja dan cocok untuk performa formal. Ada celana berkuda, potongan penuh dan longgar di pinggul ke lutut tapi ketat di pergelangan kaki, untuk penunggang kuda dalam olahraga berkuda.
Ada pula celana bersepeda, ketat sebatas betis dengan belahan di samping lutut. Lalu celana buntung, celana lelaki dengan panjang hanya sedikit di bawah lutut. Sudah itu celana cina, terbuat dari katun biru, agak melebar di kelima, untuk celana pelapis. Celana cutbrai, sempit bagian paha, lebar bagian bawah.
Terdapat juga celana dalam atau cawat. Celana gauko atau kulot, panjang di bawah lutut hingga betis, biasa dikenakan dengan sepatu bot. Celana harem, longgar di paha dan menyempit ke bawah. Celana jengki, sempit pada bagian kaki. Celana jin, terbuat dari bahan jin. Celana kodok atau celana monyet,
Selebihnya ada celana kolor yang bagian pinggangnya berkolor. Celana kombor atau longgar, disebut juga komprang. Celana korset, ketat elastis untuk membebat perut hingga pinggul agar tubuh berkesan ramping, dan wanita yang biasa menggunakannya. Celana palazo, celana panjang wanita, longgar dan berkaki sangat ketat, populer pada 1960-an.
Masih ada celana pensil. Celana dengan siluet pas yang mengikuti bentuk kaki dan menyempit hingga mata kaki. Pun dengan celana sepan atau ketat, ukurannya pas melekat pada badan pemakai. Terkait dengan ukuran panjang, terdapat celana tanggung, longgar hingga ke bawah lutut. Celana pendek yang hanya sampai di atas lutut. Dan, celana panjang yang sampai ke pergelangan kaki (menutup mata kaki).
Bukan Satu-satunya
Ternyata sirwal bukan satunya jenis celana cingkrang atau celana ngatung. Istilah dalam bahasa Inggrisnya: ankle pant. Ada yang disebut celana komprang yang memiliki bentuk longgar dengan istikamah pada panjang di atas mata kaki. Pilihan relevan untuk pria dewasa untuk mengikuti olahraga pencak silat atau kerja nonformal.
Lalu ada celana pangsi. Biasanya untuk kegiatan keagamaan atau acara adat dan kebudayaan. Bisa juga untuk kegiatan sehari-hari. Celana tradisional masyarakat Sunda dan Betawi. Cingkrang dan longgar. Bagian pinggangnya dari karet dan tali. Terdapat pula disebut celana sontog. Cingkrangnya tiga perempat betis. Cocok untuk berolahraga hingga memenuhi performa gaya kasual keseharian.
Celana dengan banyak saku yang dikenal dengan celana kargo atau celana tempur, juga ditemukan versi cingkrangnya. Ia mempunyai saku di samping kanan dan kiri (sering berupa saku besar di paha), belakang, serta bagian depannya.
Tentang Sirwal
Sirwal yang kita kenal dewasa ini menyebar ke anak benua India sekitar 300 -100 Sebelum Masehi. Kemudian secara luas ke Timur Tengah sejak 1200 Masehi. Hingga kemudian tiba sebagai pengaruh kebiasaan berpakaian di kalangan lelaki di Indonesia dan negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam lainnya.
Berbicara tentang sirwal, ada beragam jenis. Sebut saja sirwal tradisional Arab. Yang menarik dari jenis ini, desain longgar dan nyaman terutama bagian panggul dan paha, menawarkan keleluasan bergerak yang menyebabkan pemakainya merasa nyaman. Relatif cocok untuk iklim yang panas.
Kemudian ada jenis shalwan dari Pakistan dan India. Dikenal pula sebagai sirwal harem atau Punjabi. Desain yang longgar dari pinggang hingga di atas mata kaki. Menyuguhkan sensasi kenyamanan dengan imbuhan aliran udara yang mengademkan. Terlebih lagi bagian area selangkang yang lebar dan rendah, memberikan ruang gerak yang lebih leluasa.
Terdapat jenis sirwal Turki, şalvar, yang longgar pada bagian paha dan selangkang, tapi ketat pada pergelangan kaki. Panjangnya ada beberapa varian, termasuk yang ikatan bawahnya sedikit di atas mata kaki. Merupakan pakaian tradisional Turki. Bila mengacu pada acuan pengertian ini, maka ada varian produk şalvar yang masih masuk kriteria cingkrang, walau hanya minimalis.
Dari tilikan desain dan fungsinya, ada yang disebut sirwal biasa. Model yang paling sering ditemui. Bersahaja dengan dua saku. Pas dikenakan dalam pelbagai aktivitas keseharian. Ada pula yang dinamai sirwal tempur atau sirwal taktikal. Biasanya panjang sekitar setengah betis. Dilengkapi empat saku. Tampak kesan gagah hadir saat dikenakan.
Jenis lainnya, yaitu sirwal tentara dengan motif loreng. Menawarkan pancaran impresi yang kuat dan pemberani bagi pemakainya. Lalu ada sirwal kantor, dengan rancangan khusus untuk kalangan profesional. Bahannya tebal dan halus serta sentuhan model formal sehingga relevan untuk pakaian di lingkungan pekerjaan di kantor.
Selanjutnya, ada sirwal bokser yang gombroh (ekstrabesar) dan longgar dengan panjang pertengahan paha. Berikut ikat pinggang dari karet elastis yang lebar, kira-kira tiga sentimeter. Ada sirwal kargo dengan banyak saku. Pas untuk aktivitas di luar ruangan. Juga ada sirwal jin yang memadukan kenyamanan gaya kasual bahan jin.
Kemudian berdasarkan pemakainya, ada sirwal untuk pemuda, cenderung dengan pilihan warna yang lebih beraneka, cerah, dan akrab bertegur sapa dengan gaya kekinian. Sementara itu, sirwal untuk mereka yang sudah berumur, lebih menekankan pilihan warna gelap. Mode yang relatif lebih tradisional. Old fashion.
Dewasa ini, banyak produk sirwal yang menggunakan resleting yang muncul sebagai andalan tawaran dari sejumlah marketplace. Meskipun demikian, masih banyak pula yang berminat pada sirwal dengan tali serut atau tali kolor. Sebab, penyesuaian fit, tidak terlalu kencang atau terlalu kendur, bisa lebih terkondisikan secara maksimal.
Catatan Menarik
Sejumlah catatan menarik dapat dibubuhkan pada keberadaan sirwal. Pertama, ternyata sirwal pernah menjadi seragam standar militer Angkatan Darat Prancis untuk resimen-resimennya yang bertugas di Afika Utara pada kisaran 1830 - 1960. Oleh karena itu, menjadi tidak mengherankan, jika di masa kini ada jenis sirwal tentara.
Dewasa ini, banyak tawaran di berbagai marketplace, sirwal dengan warna loreng. Paduan hijau, cokelat, dan hitam sebagaimana loreng celana Tentara Nasional Indonesia (TNI). Warna loreng ini semula berfungsi untuk mengamuflase diri dengan lingkungan sekitar, seperti hutan dan semak-semak, agar musuh tidak mudah mengetahui keberadaannya.
Kedua, sirwal memberikan pengaruh pada tren fesyen Barat. Desainer Prancis Paul Poiret (20 April 1879 - 30 April 1944) pada 1910 mengintroduksi celana harem atau celana rok (jupe-culotte) yang menimba inspirasi dari sirwal Timur Tengah dan Turki Ottoman.
Sebagai couturier avant-garde (perancang busana eksperimental), Paul Poiret melalui celana haremnya berupaya menawarkan konsep yang membebaskan wanita dari korset dengan memanfaatkan siluet yang lebih longgar dan berpinggang tinggi.
Tawaran lelaki penggemar berat pertunjukan Ballets Russes, teristimewa Schéhérazade (Syahrazad) berdasarkan dari rangkaian simfoni komposer Rusia Nikolai Rimsky-Korsakov (18 Maret 1844 - 21 Juni 1908) pada 1888, menunai pro dan kontra di kalangan wanita zaman itu.
Bagi kebanyakan wanita Barat yang pada masa itu (1910) belum terbiasa mengenakan celana panjang di depan umum, tawaran tren celana harem langsung berada dalam kubu anggapan yang mengontroversialkannya. Akan tetapi, justru menimbulkan ketertarikan di kalangan wanita progresif untuk tampil dengan performa “mengguncang” di hadapan publik pada saat itu.
Celana harem dalam perkembangan selanjutnya menjadi istilah umum di dunia Barat untuk mengacu celana longgar yang menyangkut di pergelangan kaki. Hasil dari sentuhan pengaruh dari şalvar Turki Ottoman atau gaya serupa sebagaimana shalfar Asia Selatan.
Kendati pada awalnya celana harem tidak sepenuhnya mendapat sambutan hangat publik pencinta fesyen pada 1910-an. Desain inovatif Paul Poiret itu merupakan noktah penting yang menjadi pijakan menuju ke titik balik penerimaan celana panjang sebagai bagian dari busana wanita yang terjadi pada kemudian hari. Terutama pada masa Perang Dunia II yang berlangsung dari 1 September 1939 hingga 2 September 1945. ***
