Konten dari Pengguna

Selalu Ada Sisi Menarik Piala Dunia, Ini Buktinya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Sepuluh gol dalam 90 menit. Bukan kisah laga tentang tim kuat membantai tim lemah. Melainkan dua tim nasional yang berasal dari negara dengan tradisi sepak bola kelas dunia. Mereka saling bertukar serangan. Nyaris sama kuat. Tak ada kata “menyerah” untuk yang tertinggal. Tak ada kata “berpuas diri” bagi yang unggul.

Itulah yang terjadi dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026, Inggris versus Prancis, Minggu (19/7/2026) mulai pukul 04.00 WIB di Miami Stadium (Hard Rock Stadium), Amerika Serikat. Dalam laga yang berlangsung 90 menit itu, telah tercetak 10 gol. Sebanyak 6 gol dicetak oleh sejumlah pemain Inggris, sedangkan 4 gol dijaringkan oleh beberapa pemain Prancis.

Pada babak pertama, Timnas Inggris memborong empat gol, yaitu melalui Declan Rice pada menit ke-3, Ezri Konsa pada menit ke-18, Bukayo Saka pada menit ke-37 dan ke-45+1. Inggris menutup babak ini dengan 4 - 0.

Di babak kedua, Prancis memperkecil jarak gol lewat Kylian Mbappé pada menit ke-48, Bradley Barcola pada menit ke-54, dan kembali Kylian Mbappé mencetak gol pada menit ke-66, sehingga menambahkan koleksi golnya menjadi 10 berikut 4 assist di sepanjang ajang ini untuk menerima Penghargaan Sepatu Emas.

Rentang waktu selanjutnya diwarnai tiga gol. Dua di antaranya dari Inggris, yaitu lewat tendangan penalti Bukayo Saka pada menit ke-87 dan satu lagi kontribusi Jude Bellingham pada menit ke 90+8. Prancis terus berupaya menjaga martabatnya dengan torehan gol Ousmane Dembélé pada menit ke-90+6. Dan, Inggris mampu mengobati “luka hati” dengan meraih 2026 World Cup third-place.

Pecahkan Rekor

Hingga kini, jumlah gol tersebut (10 gol dalam laga waktu normal: 90 menit) merupakan jumlah terbanyak untuk perebutan tempat ketiga di ajang Piala Dunia. Ini boleh terbilang memecahkan rekor yang bertahan 68 tahun. Pada posisi yang sama, Prancis pernah mengalahkan Jerman Barat 6 - 3 di laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1958.

Ilustrasi kreasi Gemini AI

Dalam laga berpuluh tahun silam itu, menurut dokumentasi catatan FIFA, pemain Timnas Prancis Just Fontaine memborong empat gol yang dia cetak pada menit ke-16, 36, 78, dan 89. Sementara itu, rekannya Raymond Kopa menyumbang satu gol lewat tendangan penalti pada menit ke-27. Dan satu lagi, Yvon Douis turut menjaringkan si kulit bundar ke jala gawang lawan pada menit ke-50.

Adapun pencetak gol dari Timnas Jerman Barat, yaitu Hans Cieslatczyk pada menit ke-18. Lalu Helmut Rahn membobolnya pada menit ke-52. Serta, Hans Schäfer menyumbangkan gol pada menit ke-84.

Laga bersejarah itu berlangsung pada 28 Juni 1958 di Stadion Ullevi, Gothenburg, Swedia. Pemain Timnas Prancis, Just Fontaine (18 Agustus 1933 - 1 Maret 2023), mencetak empat gol (quattrick) dalam pertandingan itu. Dalam performanya di Piala Dunia 1958 itu, dia merupakan top scorer dengan raihan 13 gol. Hingga kini belum ada pemain mana pun yang sanggup memecahkan rekor ini.

Boleh terbilang, laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Prancis sangat tepat berada di dalam kutub kategori “laga hiburan”. Hujan gol yang terjadi sangat mungkin karena dua raksasa sepak bola dunia itu tengah “patah hati” (sama-sama gagal melenggang ke final) itu cenderung meminimalkan beban taktik pertahanan.

Kedua tim tampak bermain tanpa beban, sehingga menyebabkan laga berjalan sedemikian terbuka. Dan, hasil yang menghunjam kenyataan pun terjadi. Sepuluh gol dalam 90 menit laga di waktu normal. Raihan hasil ini kini menjadi rekor gol terbanyak sepanjang sejarah perebutan tempat ketiga Piala Dunia.

Dalam laga ini terjadi kejutan taktis dan comeback dramatis. Timnas Inggris unggul telak 4 - 0 di babak pertama. Namun, secara luar biasa Prancis mampu memperkecil ketertinggalan hingga jarak skor menipis menjadi hanya 5 - 4. Sampai pada wekasannya laga itu berujung pada gol solo yang menggugah rasa keterpukauan mendalam para penonton. Sebuah gol sangat apik dari Jude Bellingham.

Dia baru masuk pada menit ke-79, menggantikan Marcus Rashford. Pesepak bola yang mulai bergabung dengan klub Real Madrid sejak 2023 itu, pada menit ke-90+8 menciptakan gol istimewa melalui aksi solo brilian. Dengan cerdik dia sukses melewati bek Maxence Lacroix dan mengecoh kiper Mike Maignan. Dia pun melepaskan tembakan mendatar hingga menghunjam sudut gawang Prancis.

Menyemburatkan warna keindahan sebuah gol. Dan, sekaligus menjadi momen spesial bagi seorang Jude Bellingham. Ini bukan sekadar sebuah gol pamungkas. Melainkan lebih dari itu, gol tersebut menjadikannya pesepak bola asal Inggris pertama yang dapat mencetak tujuh gol dalam satu edisi Piala Dunia. Mematahkan rekor sebelumnya dari Gary Lineker (Piala Dunia 1986) dan Harry Kane (Piala Dunia 2018 serta 2026), masing-masing dengan capaian enam gol.

Laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026, Inggris versus Prancis juga menjadi panggung hiburan bagi Kylian Mbappé. Dengan dua gol yang dia cetak pada laga ini, pemain Real Madrid ini menasbihkan diri sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan koleksi 22 gol (2018: 4 gol, 2022: 8 gol, 2026: 10 gol). Mengatasi Lionel Messi dengan koleksi 21 gol (2006: 1 gol, 2010: 0 gol, 2014: 4 gol, 2018: 1 gol, 2022: 7 gol, 2026: 8 gol).

Dalam pada itu, bagi pesepak bola Inggris Bunkyo Saka, laga di Stadion Hard Rock, Miami, Amerika Serikat tersebut menjadi momen pentingnya untuk mencetak trigol (hattrick). Namanya akan dikenang sebagai pencetak tiga gol dalam satu laga, seperti Bert Patenaude dari Amerika Serikat yang tercatat sebagai pencetak trigol saat timnasnya melawan Paraguay pada Piala Dunia 1930.

Kemudian Pelé (23 Oktober 1940 - 29 Desember 2022) yang bernama asli Edson Arantes do Nascimento dari Brasil yang membukukan hattrick manakala timnasnya menundukkan Prancis di Piala Dunia 1958. Paolo Rossi dari Italia membukukan trigol ke gawang Brasil di Piala Dunia 1982. Lalu Miroslav Klose dari Jerman menggelontorkan trigol ke gawang Arab Saudi di Piala Dunia 2002.

Selanjutnya Cristiano Ronaldo dari Portugal secara dramatis melesakkan tiga gol ke gawang Spanyol dalam Piala Dunia 2018. Juga, Lionel Messi yang menciptakan hattrick dalam laga perdana ketika menghadapi Aljazair dalam laga perdana Piala Dunia 2026.

Menurut catatan dokumentasi FIFA, juga terdapat pesepak bola yang mencetak lebih dari satu hattrick dalam Piala Dunia. Ada Gabriel Batistuta dari Argentina, menjadi orang pertama yang mencetak trigol pada dua edisi. Ketika Timnasnya menghadapi Yunani di Piala Dunia 1994 dan saat bertemu Jamaika di Piala Dunia 1998.

Berikutnya Sándor Kocsis dari Hungaria. Trigol pernah dia ciptakan manakala Timnasnya menghadapi Korea Selatan dan Jerman Barat di Piala Dunia 1954. Juga Gerd Müller dari Jerman Barat, yang menciptakan dua hattrick di Piala Dunia 1970, saat Timnasnya bertemu dengan Bulgaria dan Peru.

Dan, tidak bisa terlupakan begitu saja capaian Just Fontaine dari Prancis. Di Piala Dunia 1958, dia tidak hanya menceploskan tiga gol ke dalam gawang Paraguay. Akan tetapi lebih dari itu, dia bahkan juga memasukkan empat gol (quattrick) ke gawang Jerman Barat.

Partai Final

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Untuk partai final Piala Dunia, belum pernah ada 10 gol dalam 90 menit waktu normal. Menurut catatan dokumentasi FIFA, jumlah gol terbanyak di partai puncak adalah 7 gol. Fakta itu hadir di final Piala Dunia 1958, ketika Brasil menumbangkan tuan rumah Swedia dengan skor 5 - 2.

Pelé yang pada kemudian hari mendapat julukan O Rei (Sang Raja), memulai debut kemaestroannya sebagai pesepak bola terbaik abad ke-20 pada Piala Dunia 1958 ini. Usianya baru 17 tahun saat itu. Kontribusi dua golnya dalam laga final ini, turut mengantarkan Brasil meraih trofi kemenangan. Dia juga menjadi bagian dari skuad Negeri Samba itu ketika menjadi yang terbaik di Piala Dunia 1962 dan 1970.

Kala itu, 29 Juni 1958, di Stadion Råsunda, Solna, Swedia. Tuan rumah Swedia unggul lebih dahulu pada menit ke-4 lewat tendangan Nils Liedholm. Akan tetapi, kecepatan dan kelincahan duo sayap Brasil, Garrincha dan Mario Zagallo, mulai mendikte permainan. Brasil lewat Vavá membalas dengan dua gol jarak dekat pada menit ke-9 dan ke-32. Babak pertama skor 2 - 1 untuk keunggulan Brasil.

Pada babak kedua, Brasil kian tidak terbendung. Pada menit ke-55, Pelé mengontrol bola hasil umpan silang di dalam kotak penalti menggunakan dadanya. Dengan tenang, Pelé melambungkan (mencungkil) bola menggunakan kakinya. Bola itu dapat lewat di atas kepala bek Swedia yang tengah berlari mendekatinya.

Sebelum bola menyentuh tanah, Pelé menyambarnya dengan tendangan voli keras. Kiper Swedia Kalle Svensson terpaksa harus memungut si kulit bundar di jala gawangnya. Trik Pelé ini sungguh menimbulkan keterperangahan para pemain bertahan Eropa masa itu. Sebab, mereka baru mengetahui ada gaya bermain yang sedemikian atraktif dan kreatif.

Jarak gol lalu diperlebar 4 - 1 oleh Mario Zagallo pada menit ke-68. Swedia coba memperpendek lewat tambahan gol dari Agne Simonsson pada menit ke-80. Akan tetapi, sundulan Pelé pada menit-menit terakhir laga lebih menegaskan raut kemenangan telak 5 - 2 untuk Brasil.

Capaian kemenangan ini menjadi begitu emosional. Tatkala kemudian terdengar peluit panjang berbunyi, Pelé remaja yang menerima julukan O Boiac (Si Anak Nakal) itu menangis dan pingsan di tengah lapangan. Momen yang dikenang sebagai noktah awal dari kelahiran legenda sepak bola dunia.

Ada cerita menarik di belakang laga final Piala Dunia 1958 itu. Kedua timnas berencana akan mengenakan seragam utama kuning. Karena tidak ada yang bersedia mengganti, FIFA mengundinya. Dalam undian itu Swedia menang dan berhak mengenakan seragam kuning.

Brasil pun mencari seragam lain. Pihak ofisial mengusulkan untuk mengenakan seragam putih. Para pemain menolak karena trauma dan ada kombinasi dengan takhayul dengan pemakaian seragam putih yang berakibat kekalahan tragis dari Uruguay di final Piala Dunia 1950 (peristiwa Maracanazo).

Ofisial Timnas Brasil pun pergi ke sebuah toko olahraga di Stockholm, Swedia dan membeli 22 kaus katun polos warna biru tua. Lambang Konfederasi Sepak Bola Brasil atau Confederação Brasileira de Desportos (CBD) yang ada di jeesei kuning mereka lepas dan jahit secara manual ke jersei biru tua. Mereka juga menjahit dengan kain putih untuk nomor punggung pemain.

Dan, pada akhirnya Brasil memang mendapat keberuntungan dari warna jersei biru tua itu. Menurut kisah dari ofisial kala itu, mereka menetapkan pilihan pada warna biru tua karena mendapat injeksi inspirasi dari jubah suci Our Lady of Aparecida. Santa Pelindung Brasil.

Laga final dengan skor yang juga produktif terjadi dalam Piala Dunia 1930. Partai final mempertemukan Uruguay dengan Argentina di Estadio Centenario, Montevideo, Uruguay, pada 30 Juli 1930. Pada babak pertama, Argentina unggul 2 - 1. Namun pada babak kedua, Uruguay mengubah skor menjadi 4 - 2 untuk kemenangannya.

Untuk pencetak gol Uruguay, yaitu Pablo Dorado pada menit ke-12, Pedro Cea pada menit ke-57. Kemudian Santos Iriarte pada menit ke-68 dan Hector Castro pada menit ke-89. Sementara itu, pencetak gol dari Argentina adalah Carlos Peucelle pada menit ke-20 dan Guillermo Stábile pada menit ke-37.

Pada partai final Piala Dunia 1938, Italia berhadapan dengan Hungaria pada 19 Juni 1938 di Stade Olympique de Colombes, Paris. Pada babak pertama, Italia mencetak tiga gol, lewat Gino Colaussi pada menit ke-6, Silvio Piola pada menit ke-16, lalu Gino Colaussi kembali menyumbangkan gol lagi pada menit ke-35. Adapun Hungaria memasukkan satu gol melalui Pál Titkos pada menit ke-8.

Selanjutnya pada babak kedua laga tersebut, pemain Hungaria György Sárosi memperkecil jarak ketinggalan dengan menciptakan gol pada menit ke-70. Dan, pemain Italia, Silvio Piola, menciptakan gol keduanya pada menit ke-82. Dengan demikian Italia tampil sebagai juara dalam Piala Dunia 1938. Tundukkan Hungaria dengan skor 4 - 2. Dalam waktu 90 menit tercipta enam gol.

Dengan kemenangan ini berarti Italia sukses dua kali secara berturut-turut menjadi yang terbaik, setelah pada Piala Dunia 1934 memenangi laga final di Stadion Nazionale PNF, Roma, menekuk Cekoslowakia dengan skor 2 - 1. Sukses dua kali beruntun ini berkat sentuhan tangan dingin pelatih legendaris Vittorio Pozzo (2 Maret 1886 - 21 Desember 1968).

Piala Dunia 2018 menghadirkan Prancis dan Kroasia di laga pemuncak. Dalam pertandingan di Stadion Luzhniki, Rusia, pada 15 Juli 2018 itu, juga tercipta enam gol. Prancis membukukan empat gol melalui Mario Mandžukić (pada menit ke-18,), Antoine Griezmann (tendangan penalti pada menit ke-38), Paul Pogba (pada menit ke-59), dan Kylian Mbappé (pada menit ke-65). Sementara itu, dua gol Kroasia disarangkan oleh Ivan Perišić pada menit ke-28 dan Mario Mandžukić pada menit ke-69.

Gol Minim

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Piala Dunia 2026 menambah catatan FIFA tentang partai pamungkas event sepak bola sejagat itu yang berkesudahan 1 - 0. Gol semata wayang yang dramatis dari Spanyol lewat Ferran Torres pada menit ke-106, setelah mendapat assist Nico Williamsmemupus asa juara bertahan Argentina untuk menyabet trofi dua kali secara berurutan.

Stadion New York - New Jersey (MetLife Stadium) pada 20 Juli 2026 lalu menjadi saksi bisu, duel strategi antara penguasaan bola kolektif La Furia Roja dan serangan balik cepat La Albiceleste menjadi substansi dari estetika permainan.

Sedari menit awal babak pertama, inisiatif penguasaan bola berada di pihak Spanyol. Talenta mudanya, Lamine Yamal dan Pedri, merepotkan barisan pertahanan Argentina di bawah komando pelatih Lionel Scaloni. Kendatipun fakta menunjukkan, jual beli serangan dan tempo permainan cepat mewarnai sekujur 90 menit proses laga, kedua tim masih juga belum beranjak dari skor kacamata 0 - 0.

Pada masa injury time, menit ke-93, gelandang Enzo Fernandez mendapat kartu merah. La Albiceleste pun bermain dengan 10 personel. Tensi permainan kian memanas dan drama benturan fisik pun kian sering terjadi sejak memasuki waktu perpanjangan. Spanyol mampu memanfaatkan keunggulan jumlah pemainnya dengan maksimal.

Melalui satu skema ofensif terstruktur, Ferran Torres akhirnya dapat menembus gawang Argentina pada menit ke-106. Skuad asuhan Luis de la Fuente itu mampu menghabiskan jatah waktu perpanjangan hingga 120+1 menit dan mempertahankan keunggulan tipis 1 - 0 hingga peluit panjang terdengar.

Prestasi ini, tentu mengingatkan para pencinta sepak bola dengan torehan gol minimal Spanyol tatkala mengatasi Belanda di laga final Piala Dunia 2010. Di Soccer City, Johannesburg, Afrika Selatan pada 11 Juli 2010 (atau 12 Juli 2010 pukul 91.30 WIB), laga berlangsung hingga babak perpanjangan 2 x 15 menit setelah 90 menit waktu normal tidak ada satu gol pun bersarang.

Andres Iniesta menjadi pahlawan yang mampu mengantar Spanyol menjuarai Piala Dunia untuk pertama kali. Saat itu, menjadi capaian luar biasa bagi Spanyol, karena prestasi terbaiknya hanya menduduki peringkat keempat di Piala Dunia 1950 di Brasil dan belum.pernah satu kali pun masuk final.

Satu catatan lagi, gol Andres Iniesta ke gawang Belanda yang dijaga Maarten Stekelenburg, menurut catatan FIFA, waktu gol ini terjadi masih merupakan yang paling lama tercetak dalam partai final Piala Dunia. Gol ini tercipta empat menit sebelum babak perpanjangan usai. Dengan demikian, gol semata wayang itu tercetak pada kisaran menit ke-116.

Skor 1 - 0 di laga final juga terjadi di Piala Dunia 1990. Jerman Barat menaklukkan Argentina dalam pertandingan yang berlangsung di Stadio Olimpico, Roma, Italia pada 8 Juli 1990. Gol tunggal ini dicetak Andreas Brehme lewat titik penalti pada menit ke-85.

Kemenangan ini menjadi sebuah revans manis. Sebab empat tahun sebelumnya, di laga final Piala Dunia 1986 di Stadion Azteca, Mexico City pada 29 Juni 1986, Argentina memecundangi Jerman Barat dengan skor 3 - 2. Menurut catatan FIFA, ini merupakan dua Piala Dunia yang berlangsung berurutan (1986 dan 1990) dan mempertemukan di laga final dua negara yang sama (Argentina dan Jerman Barat). Ini baru terjadi satu kali dalam sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.

Adapun laga final yang berkesudahan 1 - 0 lainnya terjadi pada Piala Dunia 2014. Di Stadion Maracanã, Rio de Janeiro, Brasil, pada 13 Juli 2014 (atau 14 Juli 2014, pukul 02.00 WIB), Jerman dan Argentina berbagi skor kacamata tanpa gol dalam 90 menit waktu normal. Babak perpanjangan waktu pun berlangsung.

Dan, Mario Götze dari Jerman mencetak gol kemenangan yang ikonik pada menit ke-113. Dia baru masuk pada menit ke-88 menggantikan Miroslav Klose. Dia mampu mengontrol umpan silang André Schürrle dengan dada. Lalu melepaskan tendangan voli yang berbuah gol semata wayang itu. Fakta ini menjadikannya pemain pengganti pertama yang menciptakan gol penentu di final Piala Dunia.

Begitulah Piala Dunia. Selalu saja ada sisi yang menarik untuk menjadi bahan pembicaraan. Ada sisi-sisi manusiawi yang hadir di tengah kompetisi ketat. Bahkan jauh dari jangkauan rasionalitas. Seperti, kenapa di laga semifinal Piala Dunia 2026, Timnas Argentina tidak mengenakan jersei utama warna putih - biru langit ketika menghadapi Inggris? Kenapa justru biru?

Konon pemilihan itu tidak terpisah dari kenangan magis Gol Tangan Tuhan ala Diego Maradona (30 Oktober 1960 - 25 November 2020) tatkala melawan Inggris di Piala Dunia 1986. Pada akhirnya jersei biru itu menjadi “jimat keberuntungan”. Dua kemenangan penting Argentina atas Inggris baik di Piala Dunia 1986 maupun Piala Dunia 1998, terjadi ketika mereka mengenakan jersei biru itu. Nah, inilah sisi irasionalitas yang menarik dan sekaligus unik.

Kejadian menyentuh pun mewarnai seusai laga final Piala Dunia 2026. Pesepak bola muda berbakat Lamine Yamal dari Timnas Spanyol menghampiri dan memeluk Lionel Messi yang tengah duduk merenung. Dan, Messi pun menyambutnya dengan hangat. Momen ini seolah merupakan simbol saling menghargai antargenerasi.

Rupanya pada tahun 2007, semasih Lamine Yamal berusia lima bulan, keluarganya yang tinggal di Mataro memenangi undian amal United Nations Children's Fund (UNICEF) dan berkesempatan berfoto dengan pemain Barcelona. Dalam sesi pemotretan itu, bayi Yamal dipasangkan dengan Messi yang kala itu 20 tahun.

Fotografer Joan Monfort mendapat gagasan cemerlang dengan mengarahkan Messi muda untuk memandikan bayi Yamal. Pada awalnya Messi yang terkenal pemalu itu merasakan kecanggungan untuk melakukan pose pemotretan itu. Akan tetapi, dia pun bisa melakukan dengan baik karena Ibu Yamal membantu memberikan pengarahan prosesnya. Dan, 11 tahun kemudian, bila Allah Subhanahu wa Ta'ala menghendaki, maka bukan hal mustahil keduanya bisa bertemu di laga final Piala Dunia 2026, membela timnas masing-masing. ***