Konten dari Pengguna

Seni Mencintai Nasib, Itulah Amor Fati

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 13 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa hari lalu, ketika membuka FaceBook, saya menemukan postingan tentang Amor Fati dari Dr. Nur Hidayat Sardini, S.Sos., S.H., M.Si. Beliau pada Senin (4/5/2026) lalu, dalam upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional di Universitas Diponegoro yang bertempat di Lapangan Widya Puraya, menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 20 Tahun berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 18/TK/Tahun 2026 tertanggal 9 April 2026.

Dosen di Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan (DPIP), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Diponegoro yang di kalangan mahasiswa-mahasiswinya biasa menerima sapaan akrab Pak NHS itu, menekankan secara khusus pada deskripsi tentang sosok pemimpin pemerintahan yang seharusnya menganut konsep Amor Fati. Saya terinspirasi dengan postingan beliau itu, sehingga kemudian timbul gagasan menyusun tulisan ini.

Hanya saja, saya ingin menyoroti pada cakupan yang lebih umum. Tidak secara khusus pada pemimpin pemerintahan di level mana pun. Akan tetapi, manusia secara luas tanpa sekat posisi jabatan atau profesi. Nah untuk mengawali pembicaraan, ada baiknya kita terlebih dahulu mengetahui bagaimana cara mengucapkan frasa dari bahasa Latin, Amor Fati, tersebut.

Berdasarkan International Phonetic Alphabet (IPA), transkripsi fonetis atau cara mengucapkan Amor Fati adalah [ˈa.mɔr ˈfa.ti:]. Dari transkripsi fonetis [ˈa.mɔr] terdapat tanda aksen [ˈ] menunjukkan penekanan silabel (stress) pada awal kata. Lalu vokal [a] terbuka depan tak bulat seperti ‘a’ pada ‘ayah’. Konsonan [m] adalah nasal bilabial, seperti ‘m’ pada ‘makan’. Vokal [ɔ] hampir terbuka belakang bulat, seperti bunyi ‘o’ yang agak terbuka. Konsonan [r], getar rongga gigi, bunyi ‘r’ yang jelas.

Selanjutnya dari transkripsi fonetis [ˈfa.ti:] ada juga tanda aksen [ˈ] menunjukkan penekanan silabel (stress) pada awal kata. Kemudian konsonan [f] frikatif labiodental tak bersuara, seperti ‘f’ dalam ‘foto’. Lalu vokal [a] terbuka depan tak bulat seperti ‘a’ pada ‘ayah’. Konsonan [t] plosif rongga gigi tak bersuara, seperti ‘t’ pada ‘tari’. Vokal [i] tertutup depan tak bulat seperti bunyi ‘i’ pada kata ‘ibu’. Dengan demikian, pelafalan atau cara mengucapkan frasa Latin yang seterkenal Carpe Diem (Petik Hari Ini) itu, secara sederhana adalah aa-mor faa-tii.

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Amor Fati, secara terjemahan harfiah, kata demi kata (word-for-word translation), Amor = Cinta dan Fati = Takdir/Nasib. Sikap menerima atau merangkul semua hal yang berlangsung di dalam kehidupan (bahagia, sedih, gagal, derita, ragu dan sebagainya) sebagai bagian integral dalam perjalanan kehidupan. Frasa latin ini kerap hadir bersama frasa lain sehingga lebih panjang, yaitu Fatum Brutum Amor Fati. Transkripsi fonetisnya [ˈfaː.tum ˈbruː.tum ˈa.mor ˈfa.tiː]. Maknanya “mencintai atau merangkul takdir walau brutal”

Dalam Stoikisme

Di bawah naungan Filsafat Stoikisme, konsep Amor Fati sebelum berada dalam rengkuh pengembangan Friedrich Nietzsche (15 Oktober 1844-25 Agustus 1900), merujuk pada sikap penerimaan aktif dan antusias terhadap semua peristiwa yang menghampiri kehidupan seseorang, positif atau negatif, sebagai bagian yang tidak terhindarkan dari tatanan alam semesta (Logos).

Cakupan dari verba “mencintai” atau setidaknya “merangkul” ini juga mencakup penderitaan atau kehilangan, sebagai keharusan untuk membangun ketahanan diri. Kaum Stoik, seperti Epictetus (55-135) dan Marcus Aurelius (26 April 121-17 Maret 180) memercayai, bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak kosmik (alam atau semesta). Dengan demikian Amor Fati adalah prinsip hidup yang sesuai dengan kehendak alam. Tidak melawan alam. Akan tetapi, justru merangkul setiap momen yang hadir atau terjadi pada diri seseorang.

Daripada memanjakan diri dengan berkeluh kesah. Jika seseorang betul-betul menghayati konsep filosofi Amor Fati, tentu akan mendorong diri sendiri untuk memaksimalkan respons positif terhadap segala situasi yang memasuki kehidupannya. Fokus yang menjadi pegangan adalah menerima apa yang sudah tidak bisa seseorang itu kendalikan, yaitu faktor eksternal atau nasib.

Caranya adalah berdamai dengan situasi apa pun yang menyapa kehidupan sehari-hari. Karena bagi Kaum Stoik, itulah satu-satunya jalan yang relevan untuk menggapai ketenangan jiwa (ataraxia). Filsuf Stoik lainnya, Lucius Annaeus Seneca (4 Sebelum Masehi-65 Masehi), dalam Epistulae Morales ad Lucium (Surat-Surat Moral dari Seorang Stoik) yang terdiri atas 124 pucuk, menegaskan hal itu.

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Seneca dalam surat-suratnya tersebut antara lain mengibaratkan, bahwa penderitaan dan kesulitan hidup itu, seperti cuaca buruk. Keduanya adalah bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari dan semestinya diterima dengan keteguhan hati. Seneca menandaskan, tentang betapa penting bagi seseorang untuk mengendalikan reaksi ketika cuaca buruk itu berarak menghampiri kehidupannya. Cuaca buruk justru menjadi tantangan bagi seseorang untuk memperkuat karakternya.

Dengan perkataan lain yang lebih sederhana, cuaca buruk itu, penderitaan dan kesulitan hidup itu, adalah bagian dari kehidupan yang harus diterima. Kendatipun Amor Fati secara eksplisit menjadi populer berkat inisiasi Friedrich Wilhelm Nietzsche, filsuf merangkap penulis prosa, kritikus budaya, dan filolog Jerman. Akan tetapi, prinsip dasar mencintai dan merangkul takdir sebagai bagian dari ketabahan hati sudah mengakar kuat dalam ajaran Stoikisme Yunani-Romawi Kuno.

Menurut Nietzsche

Sementara itu, menurut Nietzsche, konsep Amor Fati merupakan ajaran untuk mencintai atau merangkul takdir secara total. Tidak sekadar menerima cuaca buruk dalam kehidupan. Lebih dari itu, menuntut seseorang untuk mencintai dan merangkul semua kejadian dalam kehidupan, baik-buruk, suka-duka. Memandang semua sebagai hal yang perlu dan berharga. Tanpa seuluran tangan bayi pun ada keinginan apa pun berhenti dengan bayang-bayang penyesalan di masa lalu atau meloncat dengan seonggok ketakutan atau kekhawatiran di dada saat menatap ke masa depan.

Dengan demikian, Nietzsche menegaskan pada rujukan konsep penerimaan total (total acceptance). Hidup seutuhnya berada di momen masa kini (mindfulness/living in the now). Oleh karena itu, seseorang perlu membebaskan diri dari belitan penyesalan di masa lalu atau tidak membiarkan diri ini terjebak pada memori yang sudah bertengger di masa silam.

Dan, seseorang itu tidak terlalu membiarkan dirinya terlilit kecemasan terhadap masa depan lantaran terlalu banyak rencana yang mesti berhadapan dengan barisan pasukan ketakutan serta kekhawatiran yang mengadang dengan tameng dan pedang hal-hal buruk yang bakal terjadi di masa depan.

Dengan begitu, konsep filosofis Amor Fati, menghendaki agar seseorang tetap fokus dengan hidup seutuhnya di masa kini, saat ini juga. Pikiran dan perasaan tidak terlalu mengalami distraksi, teralihkan perhatian untuk memanjakan kekhawatiran dan ketakutan serta kecemasan ketika seseorang itu menghadapi pertanyaan yang menggelontor dirinya dengan kata kunci “seandainya” atau frasa tanya “bagaimana jika”.

Pandangan filosofis ini kerap bertalian dengan kedamaian batin, kebijaksanaan, dan pelepasan keterkaitan emosional terhadap hasil. Kedamaian batin (inner peace) mengacu pada kestabilan, ketenangan, dan keseimbangan kondisi mental manakala menghadapi pengalaman yang terkategori baik atau buruk. Tidak memberi celah yang lebar bagi emosi negatif, seperti marah, sedih, takut, cemas, iri, benci, bersalah, dan putus asa menguasai diri ketika menyikapi cuaca buruk kehidupan.

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Selanjutnya kebijaksanaan (wisdom) merujuk pada kemampuan untuk memberi garis sempadan yang jelas terhadap hal-hal yang berada di bawah kendali seseorang, yaitu pikiran, tindakan, dan respons terhadap suatu kejadian dalam kehidupan. Dengan hal-hal yang berada di luar kendali seseorang itu, seperti hasil dari suatu ikhtiar atau pendapat orang lain mengenai dirinya.

Kemudian pelepasan keterikatan emosional terhadap hasil (detachment). Seseorang perlu memberadakan diri pada posisi untuk senantiasa berusaha maksimal dengan bekerja keras bagi setiap pencapaian dan menaungi seluruh prosesnya dengan kejujuran. Akan tetapi, tidak terlampau menggantungkan kebahagiaan atau harga diri pada buah hasil akhir di ujung tindakannya. Entah itu sukses entah pula itu gagal.

Substansi yang melekat pada inti pandangan ini, seseorang memang seharusnya memberikan apa saja ikhtiar terbaik yang berada dalam tenaga pengerahan pada pencapaian suatu titik final proses tindakan. Namun, seseorang perlu menampung dengan kebesaran jiwa apa pun hasil akhirnya, menyenangkan atau sebaliknya menyakitkan. Semua penerimaan itu berlangsung dalam situasi hati dan jiwa ikhlas tanpa stres atau penyesalan.

Ini merupakan bentuk pengelolaan emosi, guna meminimalisasi penderitaan terhadap hal-hal yang berada di luar kontrol atau seseorang tidak bisa mengendalikannya. Contoh penerapan, ada seseorang bekerja semaksimal mungkin mencurahkan pikiran dan tenaga untuk suatu proyek. Jika sukses, seseorang itu tentu saja bersyukur. Kalaupun gagal, seseorang itu tidak perlu memendam kekecewaan yang melebihi takaran sehat. Justru lebih bermanfaat memperlakukan kegagalan sebagai bentuk pelajaran dan bukan trauma diri.

Dalam relasi dengan sesama, konsep Amor Fati ini menunjukkan raut penerapannya, ketika seseorang memperlakukan orang-orang sekitar dengan baik tanpa tuntutan agar mereka juga harus membalas atau berperilaku sesuai dengan keinginan seseorang tersebut. Konsep filosofi ini berpandangan, bahwa cuaca buruk (penderitaan dan kesulitan hidup) itu akan terjadi, manakala muncul adanya keterikatan, ingin memegang kendali atas hasil. Padahal, kedamaian di hati bisa muncul justru tatkala seseorang itu dapat melepaskannya.

Menerima cuaca buruk kehidupan dengan tanpa menolak atau membencinya. Menerima peristiwa yang tidak menyenangkan dengan tanpa menolak atau membencinya. Sikap penerimaan yang sedemikian berangkat dari landasan dasar pemahaman, bahwa kehidupan berisikan berbagai peristiwa suka dan duka. Semua sama-sama mempunyai nilai yang berharga dalam proses pendewasaan diri.

Dengan demikian, konsep filosofi Amor Fati berada di belakang noktah perspektif, bahwa terhadap peristiwa kehidupan yang berbuah kebaikan seseorang sudah tentu perlu untuk mensyukurinya. Sebaliknya, terhadap peristiwa kehidupan yang berbuah keburukan pun seseorang itu tetap perlu mensyukuri juga dengan cara bersabar menerimanya. Menempatkan semua peristiwa kehidupan tersebut sebagai ihwal yang berharga, agar tidak gampang putus asa saat duka menggoda dan tidak mudah terlena kala suka membuai.

Konsep filosofi Amor Fati menghendaki seseorang berhenti melawan realitas. Kemudian menerima apa pun yang terjadi sebagai bagian dari kehidupan tanpa menolak atau membencinya. Tidak terbebani dengan penyesalan di masa lalu, tidak terbebani kekhawatiran di masa depan. Fokus di masa kini dan berdamai dengan diri sendiri serta realitas kehidupan.

Bagi Friedrich Wilhelm Nietzsche, manusia tidak hanya “menanggung” takdir dengan pasrah. Tidak secara pasif “menerima nasib” dengan terpaksa. Bukan pula hanya sekadar “menyembunyikan” (denial) takdir dengan berpura-pura bahagia, bereskapis ria alias melarikan diri dari kenyataan. Nietzsche menciptakan cita-cita tentang Manusia Unggul (Übermensch) dalam bukunya Also Sprach Zarathustra (Maka Berbicaralah Zarathustra) pada 1883.

Übermensch adalah manusia yang mampu melampaui batasan nilai-nilai konvensional, moral tradisional, dan kelemahan manusia. Sosok manusia yang mengkreasikan nilai-nilai dan makna hidupnya sendiri. Selanjutnya melampaui kelemahan dengan “mengatasi diri sendiri” (self-overcoming), mengacu pada upaya berkesinambungan untuk melampaui batasan diri, kelemahan, dan perasaan takut dalam upaya guna menggapai potensi tertinggi.

Selebihnya, dorongan utama bagi Übermensch tidak terlokasi pada upaya menguasai orang lain secara fisik. Akan tetapi, lebih pada kehendak untuk menguasai diri sendiri, memaksimalkan kreativitas, dan memberi penegasan pada kehidupan (affirmation of life) di tengah-tengah dunia yang nihilistik. Mengubah putus asa dengan berperan sebagai agen aktif untuk menetapkan makna kehidupan mereka sendiri.

Dalam Also Sprach Zarathustra (versi orisinal bahasa Jerman) atau Thus Spoke Zarathustra (versi bahasa Inggris), Nietzsche mengaksentuasikan bahwa Übermensch adalah “makna bumi” (the meaning of the earth). Ringkas kata, Übermensch merupakan tipe manusia yang autentik, kreatif, dan mandiri. Mereka memiliki kemampuan untuk mengubah kekacauan hasrat diri menjadi sifat yang terarah.

Übermensch atau Manusia Agung, menurut Nietzsche, mengacu kepada mereka yang mampu mencintai dan merangkul (menganfirmasi) semua pengalaman kehidupannya (baik-buruk, sukses-gagal) sebagai bagian yang erat terintegrasi dan memberikan dukungan terhadap pembentukan keadimanusiaan diri mereka.

Pada intinya, ini ajakan untuk mengakrabi takdir, apa pun wujudnya, dengan penuh rasa syukur yang mendalam. Dan, sesuai dengan konsep eternal recurrence. Waktu dan semua peristiwa di alam semesta berulang dalam siklus yang sama, dan tidak terbatas hingga selama-lamanya. Konsep ini menganut pandangan kuno tentang waktu siklik (melingkar) sebagaimana Stoikisme dan Filsafat Timur (seperti roda waktu). Bukan waktu yang bergerak linier dan mengenal akhir.

Pandangan ini menunaikan fungsinya sebagai refleksi yang memotivasi seseorang untuk hidup secara autentik. Seseorang itu dapat membuat pilihan yang bermakna. Dengan demikian, yang bersangkutan merasa tidak keberatan apabila kehidupan dengan tindihan muatan nasib buruk atau mujur saling berganti terulang kembali. Eternal recurrence menantang manusia untuk tidak sekadar “bertahan” hidup.

Akan tetapi, merayakan setiap momen kehidupan sedemikian rupa, sehingga tumbuh keinginan di hati seseorang itu untuk menghidupinya lagi dan lagi, untuk waktu yang selama-lamanya. Penderitaan bukan lagi hukuman, melainkan menjadi bahan bakar untuk memobilisasi upaya membentuk kekuatan dan kebesaran diri.

Pengembangan Nietzsche atas Amor Fati dari Stoisisme meliputi sejumlah hal. Berlainan dengan Stoikisme yang menerima cuaca buruk kehidupan karena adanya rencana yang baik dari semesta, Nietzsche lebih menekankan pada sikap mental untuk mencintai nasib apa adanya walaupun itu dalam bentuk situasi dan kondisi yang brutal. Fatum Brutum Amor Fati.

Nietzsche menampik pandangan untuk menghindari penderitaan. Justru sebaliknya, dia memperlakukan penderitaan dan kegagalan itu sebagai bagian penting dan integral dalam proses pendewasaan seseorang ketika menuju ke arah pencapaian hidup yang indah dan berkualitas. Dan, dalam tiap langkah perjalanannya dia pun menebarkan aroma Amor Fati dengan merangkul takdir yang berada dalam atmosfer kehidupannya.

Sikap ini, dia tekankan dalam buku terakhirnya Ecce homo: Wie man wird, was man ist (Ecce Homo: Bagaimana Seseorang Menjadi Dirinya Sendiri). Buku ini dia tulis pada 1888. Terbit secara anumerta pada tahun 1908. Delapan tahun setelah kematiannya pada 1900. Dalam buku pamungkasnya ini, Nietzsche mengaksentuasikan pandangannya, bahwa merangkul penderitaan merupakan kunci pembuka dalam menjalani kehidupan dengan cara yang berkualitas.

Ilustrasi hasil kreasi Gemini 3 AI.

Amor Fati bukan suatu kepasrahan yang pasif. Akan tetapi sebaliknya, ini adalah mengenai tindakan aktif. Mencintai takdir dengan demikian mengacu pada sikap mental seseorang yang tidak membuang energi secara percuma untuk mengeluhkan masa lalu atau menggantang asap ke masa depan dengan ketakutan ataupun kekhawatiran. Dan, menggunakan sebaik-baiknya energinya untuk menerima realitas di masa kini dan berjuang memperbaikinya dari titik ini.

Kebesaran Manusia

Amor Fati versi Nietzsche bertalian pula dengan pengulangan terus-menerus (eternal recurrence) dalam tatanan pandang waktu siklik (lingkaran waktu). Dia pun menghujahkan tantangan, “Bagaimana jika hidup kalian, dengan penderitaan dan berulang selama-lamanya?”. Dan, dia pun menjawab sendiri kalimat interogatif itu dengan menandaskan, bahwa Übermensch akan tanpa ragu menjawab, bahwa dirinya mencintai kehidupan dan sanggup menjalani pola pengulangan itu.

Fatum Brutum Amor Fati di dalam ranah anggapan Nietzsche sebagai jalan untuk mencapai kebesaran manusia, keagungan manusia, adimanusia. Übermensch. Menurut Nietzsche, ini merupakan pengakuan bahwa kehidupan tidak selalu adil. Akan tetapi, kita mempunyai kemampuan untuk menangkap makna dan kekuatan di belakang kejadian-kejadian yang tampak merugikan, bahkan brutal dan kejam, yang tengah menyapa diri seseorang.

Amor Fati dengan demikian merupakan dorongan aktif untuk memahami secara bijaksana, bahwa peristiwa demi peristiwa yang menghampiri seseorang di alam semesta ini tidak jarang berada di luar kendalinya. Oleh karena itu, daripada melakukan perlawanan terhadap takdir, terutama yang Seneca masukkan ke kategori cuaca buruk, lebih baik seseorang itu menerimanya dengan tenang, kalem, serta menegaskan fokus pada langkah-langkah yang berada paling mungkin dengan rengkuh pengendaliannya sendiri.

Amor Fati mengajarkan kepada manusia untuk memandang kehidupan laksana perjalanan sebuah proses yang di dalamnya terdapat hal-hal positif dan negatif. Dengan merangkul penderitaan sebagai salah satu sisi yang tampak pada peristiwa yang menghampiri perjalanan hidup seseorang itu, bisa menjadi pemicu bagi pembangunan ketahanan emosional dan ketenangan batin yang luar biasa.

Amor Fati bukan entitas kepasrahan yang fatalitik. Alih-alih demikian, ia adalah keputusan proaktif guna mengubah persepsi dan menemukan tujuan positif di belakang peristiwa yang menghampiri diri seseorang. Dan, seseorang itu tidak hanya berhenti sekadar menanggung hal-hal sulit yang bertandang pada realitas kehidupannya sehari-hari. Namun lebih dari itu, dia juga merangkulnya sebagai bagian yang sarat sentuhan dinamika mencintai dalam perjalanan kehidupannya.

Amor Fati boleh terbilang merupakan seni mencintai nasib, termasuk yang buruk, demi pencapaian suatu kedamaian batin berikut kebebasan sejati. Ia menerima apa adanya takdir cuaca buruk demi memperkokoh kekuatan diri dan ketenangan pikiran. Ia sebagaimana pandangan Nietzsche merupakan bentuk ketahanan tertinggi, manakala seseorang mampu memerdekakan diri dari ketakutan dan penyesalan. Serta, menjadikan setiap peristiwa yang menimpa (apa pun dampaknya), sebagai bagian dari proses mencintai dan merangkul hakikat kehidupan nan indah. ***