Konten dari Pengguna

Seni Menyeduh Teh Tubruk

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teh kering yang siap diseduh. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Teh kering yang siap diseduh. (Sumber: Shutterstock)

(1)

Teh tubruk. Paduan antara teh kering plus atau tanpa gula pasir dan air mineral yang mendidih. Ada rekomendasi, sebaiknya titik didih airnya tidak mencapai utuh 100 derajat Celsius pada saat penyeduhan. Oleh karena itu, tunggu barang sesaat sehingga kira-kira titik didih air turun di kisaran 85 - 95 derajat Celsius. Baru setelah itu, air panas dituangkan ke dalam gelas atau mug yang telah berisi teh kering plus atau gula pasir.

Ada pula saran, gula pasir ditambahkan setelah teh kering dan air mineral panas tercampur. Bagi saya ini adalah persoalan pilihan semata. Sementara itu penjelasan logis di belakang rekomendasi penggunaan air mineral yang tidak terlalu panas tersebut, pertama, untuk meminimalisasi pemunculan rasa pahit dan sepat. Air yang terlalu panas akan cenderung mengekstrak atau menghasilkan melalui proses kimia, lebih banyak tanin dan katekin.

Senyawa itu dapat memunculkan rasa-rasa tersebut. Rasa pahit tentu sudah bisa kita kenali tanpa pendeskripsian. Adapun rasa sepat dalam konteks ini, yaitu rasa kering dan mengerut di langit-langit mulut dan lidah mirip manakala kita mengonsumsi buah yang masih mentah. Selanjutnya alasan logis kedua, suhu air panas yang sesuai dengan peruntukan berpotensi memberikan dukungan untuk menghadirkan rasa dan aroma alami teh dalam takaran yang lebih maksimal.

(2)

Begitulah, setelah gelas atau mug yang telah berisikan paduan pas antara teh kering plus atau tanpa gula pasir dan air panas dengan titik didih di kisaran 85 - 95 derajat Celsius. Tindakan yang paling praktis, setelah mematikan kompor gas dan mengangkat cerek air, tidak langsung menuangkannya ke dalam gelas atau mug yang sudah berisikan teh kering plus atau tanpa gula pasir. Tunggu barang sebentar.

Setelah feeling waktu menginstruksikan terasa cukup, kita dapat menuangkan air panas ke dalamnya. Proses pengadukan pun bisa dilakukan. Ada juga yang menyarankan, tidak perlu ada pengadukan. Ini untuk teh tubruk tanpa gula. Cukup tuangkan air panas ke racikan teh. Setelah itu, biarkan teh “menari”, larut dapam dekapan proses ekstraksi rasa.

Lalu tutup gelas atau mug itu, membiarkan teh kian meresap dalam balutan air mineral yang panas. Bisa mengambil waktu di rentang tiga hingga lima menit. Atau, cukup berdamai dengan feeling waktu yang terlintas. Penutupan gelas atau mug tempat penyeduhan teh, berfungsi untuk menjaga agar panas dan aroma telah tidak terlalu cepat menguap. Yang belum ada gula pasirnya, bisa ditambahkan. Yang lebih suka tawar, bisa langsung diseruput pelan-pelan.

Tutup pun sudah dibuka. Teh tubruk yang tersaji di dalam gelas siap dinikmati. (Sumber: Shutterstock)

Bila sudah demikian, maka teh tubruk pun siap menjadi bagian ritual kebiasaan tiap pagi atau sore hari. Soal waktu, bisa fleksibel sesuai dengan kesempatan. Saya pribadi bahkan cenderung tidak menetapkan waktu kapan minum teh tubruk. Ķapan saja saya mau dan itu saya lakukan sejak kecil.

Minum teh tubruk bisa menjadi semacam ritual tunggal. Atau, menjadi teman yang menyenangkan untuk ritual menikmati camilan yang tersedia. Seperti kue tradisional (cenil, bolu, donat), camilan gurih (pastel, risoles, lumpia).

Bisa pula teh tubruk itu menemani pilihan buah-buahan dengan alternatif yang lebih ringan, semacam stroberi atau apel. Bisa juga, sebagai sahabat yang menemukan kecocokan dialog dengan biskuit plain atau dengan pilihan rasa keju.

Yah, teh tubruk itu bisa diseruput setelah terlebih dahulu disaring ampasnya. Jadi bening seperti performa teh celup dengan kantung kertas atau nilon kecil. Atau sebaliknya, dengan menoleransi keberadaan ampas teh tetap berada di dalam gelas atau mug tempat penyajian.

(3)

Namun, entahlah. Ini hanya pandangan subjektif saya sebagai penikmat teh sejak kecil. Menikmati teh tubruk tanpa kehadiran secara fisik butiran atau serpihan bahkan batang-batang kecil daun teh, seperti kehilangan romantisme keasyikan. Menyeruput teh hangat dengan sesekali serpihan kecil daun teh atau batang kecilnya turut masuk ke mulut. Dan, kemudian nglepehake (mengeluarkan dari mulut). Ini pengalaman minum teh yang alami.

Gula aren, alternatif pemanis untuk minum teh tubruk. (Sumber: Shutterstock)

Terlebih lagi jika gula yang digunakan adalah gula aren yang dipotong kecil-kecil. Tentu pengalaman minuman teh menjadi lebih spesial. Bisa dengan mengemutnya seraya menyeruput sedikit demi sedikit air teh hangat tawar yang terhidang di gelas atau mug. Bisa pula dengan memotong tipis-tipis, sudah itu memasukkannya ke dalam gelas atau mug berisikan air teh tawar, dan kemudian mengaduknya.

Gula aren menawarkan rasa manis yang lembut dengan sentuhan aroma karamel. Gula alami ini mempunyai serat dan mineral. Gula hasil penyadapan air nira dari pohon aren ini tampak berwarna cokelat muda hingga tua. Dengan kandungan vitamin B2 yang kaya berikut mineral seperti kalium, kalsium, fosfor, dan besi, menempatkan gula aren sebagai pilihan alternatif pemanis yang dapat meningkatkan nilai gizi.

Kandungan karbohidrat di dalam gula aren lebih cepat diproses dalam pencernaan kita. Oleh karena itu, dapat menghadiahkan dorongan energi yang sebaik-baiknya saat kita mengawali hari guna menjalani serangkaian aktivitas.

Selain itu, pemanfaatan gula aren sebagai pemanis sajian air teh, dapat turut meredakan ketidaknyamanan pada perut dan melawan gejala pilek serta batuk. Khasiat lainnya, membantu meningkatkan kadar hemoglobin, sehingga relevan pengonsumsiannya bagi penderita anemia. ***