Konten dari Pengguna

Sikap Mental Kanaah Seiring Langkah dengan Minimalisme

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penataan ruang tamu pun bisa diambil pilihan dengan gaya minimalis. Hal yang sederhana  bisa tampak artistik. (Sumber: Meta AI)
zoom-in-whitePerbesar
Penataan ruang tamu pun bisa diambil pilihan dengan gaya minimalis. Hal yang sederhana bisa tampak artistik. (Sumber: Meta AI)

Sejatinya penulisan “qanaah” lebih dekat dengan kata bahasa Arab قَنَاعَةٌ (qanā'ah). Akan tetapi, dalam penyerapan kata-kata dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, huruf “qaf” (ق) pada umumnya menjadi “k”. Bisa jadi ini adalah penjelasan kenapa bukan “qanaah” yang merupakan bentuk baku, melainkan justru “kanaah”.

Dan, memang begitulah, lema “kanaah” yang bisa kita dapati di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan. Bukan “qanaah”. Bahkan untuk varian bentuk yang tidak baku sekalipun tetap dengan huruf “k”, yaitu “kanaat”, “kanah”, dan “kanat”. Untuk contoh lain dapat disebut, seperti “kiamat” dan bukannya “qiyamah” atau “kurban” dan bukannya “qurbān”.

Kanaah mengacu pada sikap mental merasa cukup dengan apa yang berada dalam rengkuh kepemilikan. Menjauhkan diri dari rasa iri dan dengki atas kepemilikan orang lain yang lebih daripadanya. Namun, itu tidak berarti berhenti berikhtiar sekuat tenaga.

Itu titah kehidupan yang mesti kita lakukan sepanjang waktu. Namun, hasilnya biarlah Allah Subhanahu wa ta'ala yang melimpahkan ketentuan-Nya. Dengan demikian, lebih mengaksentuasikan pada penerimaan diri dengan menengadahkan rasa syukur atas anugerah Sang Khalik atas segala sesuatu yang sudah berada dalam rengkuh kepemilikannya.

Seiring Langkah

Gaya hidup minimalis berpusat pada tiga prinsip, yaitu keandalan, kesederhanaan, dan kualitas dalam kehidupan. (Sumber: Shutterstock)

Prinsip kanaah, pada hemat saya, seiring langkah dengan minimalisme. Keduanya berdiri di atas fondasi prinsip menata kesederhanaan yang berkelas, merasa cukup dengan apa yang sudah berada dalam genggam kepemilikan, dan meletakkan fokus pada hal-hal penting serta bermanfaat.

Kanaah dengan sikap rela menerima dan merasa cukup memang merupakan “saudara kembar” minimalisme yang mengaktifkan secara optimal tiga prinsip utama, yaitu keandalan, kesederhanaan, dan kemampuan memanfaatkan apa yang sudah menjadi miliknya untuk meraih kualitas yang berkelas dalam kehidupan.

Kanaah dan gaya hidup minimalis mengondisikan seseorang untuk tiba dalam perspektif tindakan yang tidak berlebihan dalam mengorientasikan dan mengikatkan pikirannya hanya terhadap materi semata. Ada sesuatu yang lebih mempunyai nilai harga dari segala hal yang hanya kasat mata. Ada bentuk kesejahteraan yang juga bisa lebih terasakan di dalam diri kita.

Dari noktah pijakan prinsip inilah, kita akan berpeluang merasakan keakraban yang begitu terjalin dengan ketenangan jiwa dan kebahagiaan batin. Inilah modal dasar bagi kita yang mampu menghadirkan kepada diri sendiri sosok dengan tenaga produktivitas positif. Tenaga produktivitas yang dapat menjadi jalan untuk menetralisasi kekisruhan pikiran dan perasaan yang berkecamuk di dalam diri kita.

Pertemuan Prinsip

Ilustrasi dari Gemini AI.

Terdapat prinsip-prinsip yang bisa mempertemukan kanaah dengan minimalisme ke dalam sebuah wadah konsep yang menunjukkan keserasian dan keharmonisan. Terkait dengan kesederhanaan, sikap mental kanaah menekankan pada merasa cukup dengan segala apa yang berada dalam kepemilikannya.

Sementara itu, minimalisme terucapkan melalui tindakan menyeleksi keberadaan barang-barang yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Meski demikian, keduanya sama-sama menafsirkan kesederhanaan dengan merasa cukup. Hanya kanaah lebih memberi jalan lewat pertimbangan spiritual, sedangkan minimalisme melalui akses tindakan praktis yang terukur.

Mengenai prinsip fokus pada manfaat, keduanya menunjukkan keparalelan arah. Kanaah bergerak pada konsep kebermanfaatan pada penerimaan dengan lapang dada apa pun hasil dari suatu rangkaian proses usaha. Sementara itu, minimalisme memberi ruang tindakan dengan hanya mengonsumsi dan memiliki makanan atau barang-barang yang bermanfaat. Dengan cara ini, segala bentuk upaya kepemilikan atas apa pun senantiasa didekatkan dengan prinsip kebutuhan yang hanya kita perlukan semata. Tidak berlebihan.

Pengurangan keterikatan terhadap segala hal yang bersifat materi juga menjadi tumpuan prinsip keduanya. Kanaah berupaya menjauhi godaan syahwat hedonisme. Menjauhi pandangan hidup bahwa kesenangan dan kenikmatan hanya yang bersifat materi. Sementara itu, minimalisme membangun kesadaran, kebahagiaan sejati justru tumbuh dari dalam diri seseorang. Bukan lantaran adanya limpahan benda di sekitarnya.

Kemudian sehubungan dengan prinsip ketenangan jiwa, kanaah memandunya dengan memperbesar rasa syukur atas apa yang sudah menjadi milik kita. Rasa syukur yang terus menyertai setiap pencapaian, betapapun kecil atau bahkan hanya sepele saja wujud pencapaian itu, akan membantu kita menemukan ketenangan jiwa.

Terutama, apabila kita mampu mengendalikan rasa iri dan dengki itu, sehingga memunculkan tenaga konstruktif lewat kesediaan merasa cukup. Tanpa menyudahi ikhtiar untuk hijrah menuju ke keadaan yang lebih baik. Mengendalikan atau bahkan melumpuhkan rasa iri dan dengki, dapat menguatkan langkah kita untuk melangkah dan berusaha lebih baik lagi dengan kejernihan berpikir dan berperasaan.

Pikirkan Hal-Hal Penting

Ilustrasi dari Gemini AI)

Adapun minimalisme, menyambut upaya penegakan prinsip ketenangan jiwa di dalam diri kita itu, dengan strategi memikirkan hal-hal yang penting. Diawali dengan refleksi nilai dan prioritas hidup. Perlu ada kepekaan pertimbangan dalam memilah mana kebutuhan sejati dan mana keinginan yang pemenuhannya tidak begitu penting.

Dalam artian, pemenuhan keinginan yang tidak relevan itu, bisa ditunda atau bahkan cukup dijadikan latihan untuk pengendalian terhadap kecamuk keinginan yang muncul. Dengan demikian akan terbentuk fokus guna menginvestasikan waktu dan pikiran pada pengalaman hidup yang berharga.

Memiliki banyak barang yang berlebihan cenderung membebani pikiran sehingga berisiko mengganggu ketenangan jiwa. Oleh karena itu, perlu ada penyingkiran barang yang sudah rusak dan tidak terpakai lagi dengan tidak terlalu mengumbar kemanjaan sentimentalitas kenangan di baliknya.

Ada penerapan pragmatisme “satu masuk, satu keluar” sehingga dapat menjaga kepemilikan barang sehingga berada dalsm jumlah yang terkendali. Dengan jumlah barang yang sesuai dengan kebutuhan, pemubaziran barang dapat ditiadakan. Atau, kalau barang yang berlebih itu masih dalam keadaan layak pakai, kita bisa memberikan kepada mereka yang berkenan dengan senang hati menerimanya.

Perlu ada perubahan paradigma dalam melakukan pembelanjaan barang. Pilihan yang bijaksana, yaitu membeli sedikit barang dengan kualitas tinggi dan tahan lama. Bukan membeli banyak barang tetapi mudah rusak. Selain itu juga membeli barang yang betul-betul perlu serta realisasi pemakaiannya akan berlangsung secara teratur atau berkesinambungan.

Seterusnya, agar tercapai ketenangan jiwa, minimalisme menyarankan untuk mengurangi komitmen yang tidak penting. Merujuk pada janji atau tugas yang kurang berdampak signifikan pada tujuan personal atau profesional, bahkan bisa membuang dengan percuma waktu dan pikiran kita yang begitu berharga.

Lalu lebih memilih hubungan dengan orang-orang yang memberi dampak positif dan mendukung bagi kehidupan kita. Dan, mengurangi komitmen hubungan dengan orang-orang yang berada di wilayah dampak yang sebaliknya. Sebab, rentan membuat hidup kita masuk ke dalam kubangan lumpur kekurangnyamanan.

Tidak kurang urgensinya dalam konteks ini adalah minimalisme digital. Praktik langkah riilnya dengan mengurangi digital detox. Suatu periode waktu manakala kita memang perlu mengurangi pemakaian perangkat digital dan teknologi, seperti smartphone, komputer, dan media sosial dalam upaya guna mengistirahatkan diri dari konektivitas konstan.

Mengurangi kecemasan demi menjaga peningkatan kesehatan mental. Demikianlah tujuannya. Hal ini dapat memberi peluang kepada kita untuk terkoneksi lagi dengan interaksi di dunia nyata ataupun aktivitas yang lebih ramah dalam menempatkan kita pada kondisi dengan ketenangan jiwa. ***