Konten dari Pengguna

Sketsa, “Ketergesaan” yang Indah

Mohamad Jokomono
Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
3 Desember 2025 12:05 WIB
·
waktu baca 11 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sketsa, “Ketergesaan” yang Indah
Sketsa dalam seni apa pun --lukis, desan, patung, bangunan, sastra-- biasanya merupakan paduan untuk melangkahkan proses kreatif menuju media akhir yang mengaksentuasikan eksistensinya sebagai final.
Mohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lukisan latar depan suatu bangunan dengan gaya sketsa. Sebuah lanskap dengan cat air. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Lukisan latar depan suatu bangunan dengan gaya sketsa. Sebuah lanskap dengan cat air. (Sumber: Shutterstock)
ADVERTISEMENT
Sebuah gaya dalam melukis yang tampak berlangsung dengan proses yang mengesankan seolah “tergesa-gesa”. Akan tetapi menghasilkan karya yang justru memancarkan keindahan visual yang sulit termungkiri rasa seni kita. Paduan unik itu ada pada apa yang dinamakan oleh banyak pihak sebagai sketsa.
ADVERTISEMENT
Pada awalnya, sketsa lebih merupakan proses atau teknik dalam aktivitas melukis. Ia menyerupai konsep bentuk awal yang menyusuri proses penciptaan cepat dan sederhana. Ia merupakan pijakan untuk menjaring ide-ide penyempurnaan dalam tahapan perjalanan proses selanjutnya. Akan tetapi, ada pula karya lukis yang sengaja menggunakan gaya sketsa. Konon untuk menyuratkan penonjolan kespontanitasannya dan ekspresi garisnya yang tampak bergegas.
Pada awalnya sketsa menyetiai eksistensinya sebagai proses yang terletak di langkah awal dalam membuat lukisan atau animasi, sebagai pemantik upaya eksplorasi komposisi, bentuk, dan gagasan artistik sebelum beralih ke media akhir. Pada perkembangannya, ada karya lukis bergaya sketsa yang telah sampai pada tahapan menjadi dan memperoleh apresiasi tersendiri karena keunikannya.
Aliran seni modern, seperti Impresionisme (fokus pada penangkapan kesan visual sesaat, seperti gerakan atau cahaya) dan Ekspresionisme (fokus spontanitas dan emosi, penekanan pada garis, serta pengabaian detail halus), kadang menampilkan karya yang “mirip sketsa”. Sapuan kuas cepat dan ekspresif. Bila sudah begini, maka pada akhirnya sketsa lebih dekat relasinya dengan cara pembuatan karya seni daripada suatu gaya lukisan yang memiliki otonomi estetika yang berdiri sendiri.
ADVERTISEMENT
Seni Desain
Sketsa gambar tangan Jepang untuk cetak desain pada t-shirt. (Sumber: Shutterstock)
Gambar yang terdapat dalam t-shirt termasuk hasil karya seni desain. Masuk kategori desain grafis serta acapkali bertalian erat dengan desain mode atau desain produk. Ada tujuan fungsional pada gambar di t-shirt. Bisa untuk komunikasi, menyampaikan pesan atau identitas. Bisa pula untuk kepentingan estetika, sehingga pakaian tampak menarik. Urgensi pemilihan warna, tipografi dan komposisi, agar pesan dapat tersampaikan secara optimal kepada pemakai serta orang yang melihatnya menjadi substansi tujuan akhir proses.
Itu tadi dari tarikan sudut pandang desain grafis. Kemudian dari sudut pandang desain mode atau produk, pendesain menaruh pertimbangan yang saksama mengenai target konsumen dan pihak yang melihatnya, bahan kaus yang menjadi pilihan, teknik cetak (sablon, direct to garment [DTG]), bordir. Serta tidak ketinggalan, pertimbangan bagaimana desain itu berinteraksi dengan bentuk tubuh manusia yang mengenakannya.
ADVERTISEMENT
Sejumlah desain pada t-shirt bisa menyerupai seni rupa yang sangat artistik dan ekspresif. Akan tetapi, keberadaan desain tersebut dalam aplikasi produk industri secara massal dan mempunyai fungsi praktis sebagai pakaian keseharian, menyebabkannya masuk ke dalam ranah kategorial seni desain.
Dan, pada kenyataannya sketsa dapat menempatkan diri pada posisi sebagai karya akhir dalam seni desain. Keputusan ini tergantung pada sang pendesain, apakah yang bersangkutan menganggap sketsa itu telah mempunyai nilai seni berkat adanya pancaran energi spontanitasnya.
Dalam konteks pameran yang secara intens mengamati proses kreatif, sketsa bisa memberada dalam kategori selesai. Sketsa murni (fine art drawing) bisa menerima perlakuan apresiatif sebagai karya akhir. Kemungkinan lain sketsa menjadi karya final atau selesai, juga bisa saja hadir dalam konteks pendidikan seni desain.
ADVERTISEMENT
Sketsa yang memperoleh ruang pengembangan bisa jadi adalah portofolio atau presentasi konsep matang dengan detail, nada (tingkat terang atau gelap suatu warna, berikut kombinasi rona saturasi, dan kecerahannya yang memengaruhi suasana hati dan persepsi visual), dengan komposisi yang telah total mengalami eksplorasi dan penyempurnaan pada tahap sketsa yang lebih besar dan terfokus sebelum mengejawantah ke media lain.
Sketsa juga bisa berperan sebagai karya yang telah selesai dalam desain grafis atau ilustrasi digital. Sketsa itu tercipta dengan bantuan perangkat lunak dan merupakan produk akhir berupa ilustrasi, logo, gambar situs web, atau poster yang kemudian sampai ke tangan klien pemesan produk seni digital itu.
Seni Patung
Dalam seni patung, juga seni yang lain, sketsa hampir tidak pernah menjadi karya yang selesai. Ia tetap berdiri sebagai rancangan awal untuk menskenariokan proses penciptaan patung yang riil. Meskipun demikian, ada rengkuh pengecualian ketika sketsa hadir sebagai karya yang telah menjadi. Hal ini juga berdasarkan kesengajaan sang pematung membiarkan sketsa karyanya sebagai jerih cipta keseniannya, sebagai karya seni sketsa murni miliknya, yang mengandung nilai ekspresi artistik yang lain daripada yang lain.
ADVERTISEMENT
Sketsa para maestro terkemuka di dunia, seperti Leonardo da Vinci, Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni, atau François-Auguste-René Rodin, sering menjadi karya seni bernilai tinggi berkat curahan wawasan yang menarasikan perjalanan proses kreatif mereka. Walaupun sesungguhnya, sketsa patung itu pada mulanya adalah rancangan awal sebelum menjelma sebagai patung riil.
Sketsa patung bisa hadir setara dengan karya akhir berupa patung, manakala ia berada dalam suatu pameran seni yang fokus pada proses kreatif. Penampilan sketsa merupakan bagian yang tidak dapat terlepas dari seluruh pemahaman terhadap patung yang riil. Bahkan, sketsa patung bisa menjadi karya yang membukakan pintu pemahaman mengenai ungkapan gagasan artistik secara lebih langsung daripada patung yang telah tercipta.
Seorang mahasiswi Program Studi Sejarah Seni memperlihatkan sketsa patung perunggu seorang lelaki di Museum Seni Metropolitan New York, Amerika Serikat. (Sumber: Shutterstock)
Batasan antara media dan tujuan menjadi kabur dalam seni kontemporer. Seniman patung bisa jadi sengaja atau melakukannya dengan sepenuh kesadaran, menciptakan sketsa yang sangat detail dan konseptual sebagai karya yang menjadi, karya akhir. Seolah dia ingin berdiskusi secara mendalam dengan mempertimbangkan kembali definisi tradisional mengenai apakah itu “patung” atau “karya yang sudah selesai”.
ADVERTISEMENT
Sketsa patung dengan kemasan bentuk ilustrasi atau gambar digital (vektor, foto) yang memasuki atmosfer produksi dengan misi tujuan estetis atau bisa sekaligus berintegrasi dengan kepentingan komersial tertentu pun bisa menjadi karya akhir dalam konteks desain grafis atau seni ilustrasi. Meskipun, mungkin saja patung riilnya pernah dibuat.
Tegas kata, karya akhir seni patung pada lazimnya merujuk pada penciptaan objek tiga dimensi berupa patung itu sendiri, seperti patung David (Nabi Daud alaihissalam) karya Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni atau Cloud Gate karya Anish Kapoor (pematung warga negara Britania Raya keturunan India kelahiran 12 Maret 1954, yang spesialis seni instalasi dan konseptual). Adapun sketsa yang berhubungan dengan seni patung secara fisik mendapat apresiasi dari sisi konteks historis, wawasan proses, atau keindahan intrinsiknya sebagai lukisan.
ADVERTISEMENT
Seni Bangunan
Dalam seni bangunan atau arsitektur, sketsa bisa mendapat apresiasi sebagai karya akhir, terutama sebagai karya seni rupa murni atau ekspresi konseptual. Dalam konteks seni rupa murni, sebuah gambar garis sederhana dengan eksekusi yang terampil, serta dapat menangkap esensi subjek dengan ekspresi berikut intuisi mendalam, bisa menerima rengkuh anggapan sebagai karya seni lengkap dan final.
Contohnya gambar master dari seniman terkenal seperti sketsa arsitektur Zaha Hadid (1950-2016). Perempuan arsitek asal Britania Raya kelahiran Irak itu tersohor dengan desain dekonstruktifnya yang radikal dan acapkali berbentuk melengkung. Karya peraih Penghargaan Pritzker untuk Arsitektur pada 2004 itu, antara lain berupa sketsa yang telah menjadi karya lengkap dan final.
Sketsa arsitektur dari empu karya-karya yang tersebar di seantero jagat dan termasyhur dengan ekspresi seni yang berani, inovatif, dan melampaui batasan desain tradisional itu, mengambil tanda berupa bentuk-bentuk cair, dinamis, dan futuristik. Tidak jarang memanfaatkan lengkungan — dan karena itu dia mendapat julukan Ratu Lengkungan — serta garis-garis mulus yang terinspirasi dari alam.
Galaxy Soho Building di Beijing, China dibangun dari desain karya Zaha Hadid yang dibuka pengoperasiannya pada 2014. (Sumber: Shutterstock)
Sketsa-sketsa Zaha Hadid yang acapkali tampak seperti lukisan abstrak merupakan perwujudan awal dari visi futuristiknya sebelum memanfaatkan teknologi canggih seperti permodelan 3D dan rendering guna menjelmakan desainnya menjadi bangunan rìil.
ADVERTISEMENT
Sebagaimana sketsa karya Zaha Hadid, sketsa karya Frank Owen Gehry (lahir 28 Februari 1929 - …) juga menjadi karya seni independen. Warga negara ganda Amerika Serikat dan Kanada, peraih Penghargaan Pritzker untuk Arsitektur pada 1989 itu, sketsa-sketsanya banyak disimpan di Getty Research Institute Los Angeles. Di samping itu, sketsa-sketsanya juga pernah tampil dalam pameran di Museum Guggenheim baik di New York maupun Bilbao, Museum Seni County Los Angeles, dan Museum Seni University of Toronto Kanada.
Nilai sketsa karya Zaha Hadid atau Frank Owen Gehry, bisa hadir sebagai karya seni indipenden berkat adanya kebrilianan ekspresi estetika, emosi, dan ide-ide kreatifnya. Bukan sekadar pada fungsi awalnya sebagai panduan konstruksi. Sketsa-sketsa Frank Owen Gehry yang sering menjadi subjek pameran di museum-museum seni itu untuk mengilustrasikan evolusi bahasa visual dalam proses kerjanya, berangkat dari coretan awal hingga model rumit.
ADVERTISEMENT
Seni Sastra
Dalam seni sastra, sketsa merujuk pada karya prosa naratif dengan ciri khas berupa pendeskripsian suatu peristiwa dengan penanganan secara singkat dan padat. Fokus pada esensi sebuah gagasan, momen, pengalaman, dan kesan. Pengembangan plot, karakter, latar yang mendalam menjadi lebih terbatasi dengan sifatnya yang cenderung “tergesa”.
Sketsa sebagai prosa mini sesungguhnya tidak memiliki aturan kaku mengenai jumlah kata yang mesti membangunnya. Pada intinya, yaitu bagaimana penulis sketsa memanfaatkan kata-kata yang seminimal mungkin, tetapi mampu menangkap esensi di balik hal yang menjadi subjek perhatiannya.
Dengan demikian, sketsa dapat tersusun dari jumlah kata yang fleksibel asal tetap memenuhi kriteria keringkasan itu. Sketsa dalam seni sastra, sedari mula lebih merujuk pada gaya penulisan singkat dan deskriptif dengan materi bisa fiksi dan bisa pula nonfiksi.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, sketsa dalam seni sastra di wilayah fiksi bisa merupakan cerita pendek versi sangat singkat. Ia bisa berupa fiksi kilat (flash fiction) yang disusun hingga batas maksimal 1.000-an kata. Berikut contoh fiksi kilat karya Gol A Gong. Nama pena Heri Hendrayana Harris (lahir di Purwakarta, Jawa Barat, 15 Agustus 1963). Dia sastrawan, penulis, jurnalis, dan pegiat literasi. Mari kita simak karya sketsanya.
“Lelaki dan Kereta"
Lelaki itu buru-buru naik kereta. Stasiun sudah sepi. Dia duduk di bangku paling belakang, terengah-engah. Napasnya masih memburu saat kereta mulai berjalan pelan.
"Untung tidak ketinggalan," gumamnya lega.
Tiba-tiba, dari kegelapan gerbong, seorang petugas datang menghampiri.
"Maaf, Pak," kata petugas itu ramah, "Gerbong ini sudah kami kosongkan sejak tadi. Ini sudah di relokasi barang bekas."
ADVERTISEMENT
Lelaki itu menoleh ke jendela. Kereta yang ditumpanginya bukan menuju kota, melainkan ke tempat pembuangan besi tua.
Selain itu ada fiksi mikro (microfiction) yang disusun hingga 300-an kata. Contoh selanjutnya dari karya Arswendo Atmowiloto (26 November 1948 - 19 Juli 2019). Sastrawan produktif ini juga malang melintang sebagai jurnalis di zaman kebesaran media cetak dan sekaligus pernah menjadi pebisnis media. Mari kita nikmati sketsanya.
“Menunggu Koran Pagi"
Menunggu. Koran Pagi. SITUASI. Jalanan di muka rumah, seluruhnya. telah dijamah kaki. Siang meninggi hingga. ke titik yang paling tepi. SEJAK PAGI HARI.
Sementara itu, sketsa dalam kancah sastra dunia acapkali berpautan dengan penulis yang menuai keahlian di bidang prosa liris dan deskriptif. Sketches by Boz (1836) dari Charles Dickens (7 Februari 1817 - 9 Jumi 1870) merupakan contoh sketsa klasik. Sebelum menciptakan novel-novel terkenalnya, seperti Oliver Twist (1838) dan A Tale of Two Cities (1859), dia dengan nama pena Boz telah menghasilkan kumpulan sketsa tentang kehidupan Kota London, Britania Raya, masyarakatnya, dan tempat-tempat umum dengan gaya penulisan yang begitu hidup dan energi penelusuran yang demikian observatif.
ADVERTISEMENT
Sastrawan Amerika Serikat Ernest Hemingway (21 Juli 1899 - 2 Juli 1961), selain mencuatkan namanya lewat novel From Whom the Bell Tolls (1940) dan The Old Man and the Sea (1952), juga menulis memoar A Moveable Feast (terbit secara anumerta pada 5 Mei 1964) yang banyak bab di dalamnya merupakan sketsa ringkas tetapi tajam menyusuri kehidupan di Paris, Prancis pada dekade 1920-an, dan menyoroti potret kehidupan penulis lain, kafe, juga suasana kota.
Maestro penulis cerita pendek (dan drama) asal Rusia Anton Pavlovich Chekhov (29 Januari 1860 - 15 Juli 1904), melahirkan banyak karya yang singkat, fokus pada satu momen, satu dialog yang menghampiri bentuk sketsa. Terutama tentang kehidupan sosial Rusia semasa penulis yang juga berprofesi sebagai dokter itu menghirup udara kehidupan.
ADVERTISEMENT
Penganut impresionisme, seperti penulis Britania Raya Adeline Virginia Woolf (25 Januari 1882 - 28 Maret 1941) dan novelis, penyair, dan kritikus sastra asal Irlandia James Augustine Aloysius Joyce (2 Februari 1882 - 13 Januari 1941), acapkali memanfaatkan teknik stream of consciousness (arus kesadaran) dalam sejumlah fragmen yang menggaet fungsi sebagai prosa liris.
Selanjutnya tentang sketsa nonfiksi dapat disebut esai-esai “Catatan Pinggir” Goenawan Soesatyo Mohamad. Karya lelaki kelahiran Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941 itu tiap minggu senantiasa menghiasi Majalah Tempo hingga Februari 2023. Dalam 46 tahun rentang karyanya itu dan telah dibukukan hingga 15 jilid, dia menulis pada kisaran 700 hingga 800 kata per esai sketsa itu.
Sketsa nonfiksi atau esai pendek Goenawan Mohamad tersohor dengan gaya bahasanya yang puitis, padat, dan reflektif. Acapkali beranjak dari peristiwa keseharian atau fenomena budaya guna mengontemplasi isu-isu filosofis, etika, atau kemanusiaan yang lebih menukik ke ceruk persoalan yang transenden.
ADVERTISEMENT
Berikut sedikit kutipan dari karya seorang Goenawan Mohamad menuliskan sketsa nonfiksinya. “Barangkali hidup adalah sejenis petualangan, yang di dalamnya setiap orang menghadapi yang tak terduga. Dan barangkali yang disebut petualangan itu bukan semata-mata ‘pergi’, mekainkan juga ‘berada’ —- berada di sini, di tengah hiruk-pikuk yang tak sepenuhnya kita pahami.”
Pun, sedemikian bernas renungan penulis e-book antologi 99 esai pendek berjudul Tuhan dan Hak-Hak yang Tak Selesai itu ketika dia membangun refleksi filosofis mengenai waktu dan sejarah. “Waktu bergerak seperti air, kata orang. Tapi air tak pernah kembali ke hulu. Sejarah, mungkin, juga tak. Tapi kenangan, ia adalah jembatan rapuh yang mencoba menghubungkan masa lalu yang tak bisa diubah dengan masa depan yang mungkin tak terjamah.” ***
ADVERTISEMENT