Konten dari Pengguna

Terapi Menulis untuk Lansia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kegiatan menulis dalam ritme yang berkesinambungan sungguh begitu efektif sebagai wahana terapi bagi kalangan lanjut usia (lansia). Menulis secara teratur dan terstruktur dengan rutin tiap hari, menjadi kanal penyulih untuk mencapai ketersediaan “pekerjaan” yang seolah-olah memiliki kemiripan dengan aktivitas sebelum menjejakkan langkah kaki di masa purnatugas.

Sudah tentu tidak persis sama. Namun, dengan sentuhan imajinasi, bolehlah kita (saya dan para pembaca yang sudah lansia) sedikit berandai-andai. Bahwa masih ada sesuatu (dahulu pernah ada seorang kenalan yang menambahkan bunyi konsonan “h” sehingga terdengar menjadi “sesuatuh” yang lebih melodis) pada diri kita. “Sesuatuh” yang belum benar-benar sepenuhnya hilang lenyap musnah dari rengkuh genggaman tangan ini.

Oleh karena itu, saya bisa memahami jika ada sejumlah senior dan teman yang sudah termasuk kategori lansia, begitu bahagia, senang, dan mungkin bangga mem-posting di media sosial tentang kesuksesan karya mereka (cerita pendek, puisi) menembus moderasi para redaktur majalah berbahasa Jawa atau koran berbahasa Indonesia yang hingga kini masih eksis terbit dalam edisi cetak (biasanya ada kelengkapan versi online-nya juga).

Bahkan, ada yang mengabarkan tentang penerbitan buku terbarunya. Teman lansia yang satu ini memang sudah malang melintang di jagat publikasi buku sastra. Karyanya berupa novel, puisi, antologi cerita pendek telah mendapat tempat terhormat di penerbit terkemuka di Indonesia sejak masih muda.

Ada pula, teman lansia lain yang belakangan ini rajin membagikan cerita bersambungnya di media sosial. Dahulu waktu kuliah, dia selalu mendapat indeks prestasi tertinggi di kelas.

Nilai Keefektifan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Bila mereka tinggal menjaga stamina kepenulisan yang sudah terjaga dan terbentuk pengekspresiannya sedari muda, maka ada pula lansia yang baru mulai menyadari setelah sekian puluh tahun tidak terlalu menaruh perhatian, bahwa ternyata menulis itu memiliki manfaat pula. Dari sisi lansia, ternyata ada nilai keefektifannya untuk menjalani aktivitas terapi.

Untuk keperluan terapi, menulis tidak harus melahirkan tulisan untuk konsumsi publik baik di media massa konvensional, dalam jaringan maupun di media sosial. Tulisan itu bisa berupa solilokui, senandika, atau curahan hati dan keluhan yang tidak pernah terpublikasikan untuk khalayak pembaca luas.

Atau, hanya beredar di segelintir kerabat dekat atau teman-teman karib. Terkadang hanya berupa buku tulis yang berisi tulisan tangan si penulis. Atau, sekadar terkumpul di fail-fail yang hanya ditulis dan disimpan di direktori laptop, tapi tidak pernah dipublikasikan.

Apa pun wujud media yang mengawetkan curahan pikiran dan perasaan itu, entah terpublikasi dalam wujud buku cetak atau tulisan di media massa konvensional atau online. Entah pula hanya dalam wujud fail-fail di gawai atau dokumentasi pribadi secara fisik.

Menulis secara teratur dan terkondisi secara kontinu ternyata mempunyai bukti klinis dapat menurunkan tingkat depresi, mengurangi stres, melatih fungsi kognitif sehingga terus bekerja. Dan, menjadi media yang relatif aman untuk mengekspresikan emosi batin yang masih terpendam di usia tidak muda lagi.

Penurunan tingkat depresi melalui terapi menulis bagi lansia, karena dapat menjadi wadah pelepasan emosi guna mendukung penataan kekalutan yang terjadi pada pikiran. Dan, memberikan pelatihan kepada otak guna melakukan pengenalan serta pengevaluasian emosi dengan objektif. Proses ini melewati sejumlah mekanisme spesifik.

Bisa melalui mekanisme pelepasan emosi (katarsis). Dengan penuangan perasaan negatif ke dalam tulisan, dapat memindahkan beban emosional. Tekanan mental pun semakin berkurang.

Bisa pula lewat mekanisme pengaturan emosi (labeling). Dengan menulis, seseorang lansia mengondisikan otaknya sendiri untuk merespons setiap persoalan secara lebih tenang dan terstruktur. Di samping menghindarkan diri dari tikaman kepanikan.

Bisa lagi dengan mekanisme meningkatkan kesadaran diri. Dengan melakukan kegiatan menulis secara teratur dapat membantu mengidentifikasi pola pikir atau pemicu yang mengakibatkan depresi.

Atau, bisa pula dengan menjaga jarak dari emosi. Aktivitas menulis dapat memapah individu untuk mengambil sudut pandang orang ketiga tatkala mencermati setiap masalah. Dengan demikian, emosi yang hadir dapat lebih terkontrol dan tidak terasa kelewat menekan.

Menulis dalam kapasitasnya sebagai kegiatan terapi (jurnalisme ekspresif) mempunyai kekuatan guna meredakan stres berkat tarikan fungsinya sebagai wadah pelepasan emosi. Sebab, memperjelas atas masalah yang tengah mengadang. Juga, membantu menenangkan sistem saraf. Proses ini dapat menggeser pikiran yang semula kacau balau menjadi lebih terstruktur dan mudah berada dalam genggam pengelolaan otak.

Melakukan kegiatan terapi dengan menulis mengenai kemarahan, kesedihan, atau kecemasan bisa memindahkan beban pikiran dan perasaan tersebut ke atas kertas atau layar laptop, notebook, atau handphone. Dengan cara demikian, segala beban unek-unek yang bertengger di kepala dan dada si penulis pun terasa lebih ringan. Plong, begitu bahasa santainya.

Sementara itu, menurut perspektif studi neurosains, melabeli emosi ke dalam tulisan bisa menurunkan aktivitas amygdala. Struktur kecil berbentuk mirip kacang almond di dalam otak. Pusat pemrosesan utama emosi, seperti ketakutan, kemarahan, atau kesenangan. Bagian ini penting dalam pendeteksian bahaya dan respons spontan lawan atau lari (fight-or-flight) dalam upaya menyintas (survive).

Penurunan aktivitas amygdala dapat meminimalisaai rasa takut yang irasional, kekhawatiran yang melebihi takaran wajar, dan kepanikan yang terlalu mengharu biru. Kemudian dapat menghadirkan kestabilan fisiologi, seperti detak jantung menjadi normal, tekanan darah tidak lagi tinggi, dan hormon kortisol dan adrenalin berkurang.

Selanjutnya terjadilah peningkatan fokus. Dengan demikian, dapat mencegah amygdala hijack, suatu kondisi manakala emosi melakukan pembajakan terhadap logika. Bila hal ini dapat berlangsung secara optimal, maka korteks prefrontal (otak rasional) dapat mengintervensi pengambilan keputusan secara dominan.

Kegiatan terapi menulis secara teratur dapat membentuk jarak psikologis. Dengan penuangan pikiran dan perasaan ke dalam tulisan, memungkinkan seseorang melihat dari sudut pandang orang ketiga. Dengan cara ini, dapat tersaji konsep pandangan yang lebih objektif dan tidak terlampau berada dalam telikung manja kepanikan.

Dengan cara demikian pula, seseorang dapat mengenali pola pemicu stres. Kegiatan mencatat atau menulis aktivitas keseharian dapat menolong seseorang untuk mengidentifikasi kebiasaan atau situasi tertentu yang bisa menimbulkan stres. Kemudian, dalam posisi demikian, seseorang itu dapat menemukan jalan solutif guna pencegahan stres itu.

Latihan Neuroplastisitas

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Masih dalam wilayah pembicaraan tentang terapi dengan menulis. Sesungguhnya, menulis itu sendiri juga merupakan latihan neuroplastisitas. Kemampuan otak yang luar biasa untuk beradaptasi, bertumbuh. Dan, mengatur ulang struktur serta fungsi koneksi saraf sepanjang hidup seseorang.

Hal inilah yang memberi pemungkinan bagi seseorang mempelajari keterampilan baru, membentuk kebiasaan, dan memulihkan fungsi otak setelah mengalami cedera.

Sebagai latihan neuroplasitas, menulis merupakan sarana yang sangat baik untuk mendorong berbagai area otak untuk bekerja sama secara simultan. Terapi menulis dapat menstimulasi pembentukan koneksi saraf baru. Dengan demikian, dapat mencegah penurunan daya memori. Dan, terus mempertegas ketajaman fungsi kognitif seiring dengan pertambahan usia.

Terapi menulis begitu menunjukkan raut keefektifannya untuk merawat kerja kognitif otak lansia. Terapi menulis dapat meningkatkan daya ingat dan fokus. Sebab ketika seseorang menulis, otak seseorang perlu mengolah informasi, mengubah gagasan dengan rangkaian kata, tidak jarang harus menentukan diksi yang paling merepresentasikan pikiran serta perasaan. Proses inilah yang dapat menjaga memori tetap aktif bekerja.

Terdapat lima fungsi kognitif yang dapat terlatih dengan terapi menulis, yaitu memori, perhatian, bahasa, pengambilan keputusan, dan fungsi eksekutif. Dengan menulis secara ekspresif atau membuat jurnal (journaling) berpotensi menolong lansia memuntahkan emosi, memangkas kecemasan, dan mengusir stres yang bisa menimbulkan gangguan pada kinerja otak.

Terapi menulis bagi lansia juga dapat menegaskan koneksi emosional. Misalnya dengan berbagi pengalaman masa lampau dalam wujud tulisan (life review), dapat menghidupkan kembali memori jangka pada waktu dahulu. Lalu menghubungkannya dengan kenyataan yang berada di masa kini.

Aktivitas menulis untuk terapi bagi lansia ini dapat menempatkan titik pijak permulaannya dengan hal yang simpel, seperti menulis buku harian, menulis aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, atau menulis kisah kenangan kala silam.

Bahkan, bisa juga kegiatan menulis itu menjadi bentuk pengucapan ulang dari bahan-bahan bacaan yang sudah terkonsumsi. Jika hal ini kemudian memberada di ranah realisasi secara teratur, dapat meminimalisasi risiko penurunan memori hingga 32%.

Media yang relatif aman dan efektif untuk mengekspresikan emosi pada usia matang, karena memberikan ruang privat tanpa penghakiman adalah melalui mekanisme tulisan. Dengan demikian sebagai sarana terapi, kegiatan menulis dapat mendukung penguraian kompleksitas perasaan, peredaan beban kognitif, dan pemberian kendali penuh atas emosi yang telah terungkap.

Terdapat beberapa alasan psikologis, mengapa menulis menjadi sarana terapi yang mendapat anjuran sebagai wahana untuk mengekspresikan emosi yang terpendam. Melakukan kegiatan menulis di jurnal pribadi memberikan celah pemungkinan bagi lansia untuk mencurahkan emosi yang terdalam tanpa harus merasa takut bakal ada pihak yang menghakimi, menginterupsi, dan menyalahpahaminya.

Berlandaskan pada penelitian psikologi, dengan kegiatan menulis yang berarti menuangkan pikiran atau perasaan lewat kata-kata, dapat mendorong otak untuk mengidentifikasi dan melabeli emosi dengan lebih baik (affect labeling). Dengan begitu, mendorong suatu pengubahan emosi yang terasa membingungkan menjadi sesuatu yang konkret dan mudah berada dalam rengkuh pengelolaan.

Pada tataran usia kehidupan yang menuntut kedewasaan, menulis dalam perspektif terapi bagi lansia, dapat memberikan kebebasan absolut untuk menjadi diri sendiri, tanpa sentuhan godaan harus terlalu sensitif menjaga citra di hadapan publik.

Dan, seiring dengan pertambahan usia, fungsi otak pada lansia memang perlu terus mendapatkan stimulasi. Proses mengucapkan pikiran dan perasaan melalui kata demi kata. Demikian pula dengan proses mengingat kembali memori (terapi kenangan atau reminiscence).

Kedua proses ini menyebabkan otak terus aktif bekerja. Secara tidak langsung, menjadi ajang berlatih bagi otak untuk menghangatkan memori dan merawat ketajaman kognitifnya.

Kerap kali lansia mesti menyikapi dengan penuh kedewasaan tatkala berada di dalam masa transisi kehidupan seperti pensiun atau purnatugas. Tahapan transisi besar ini yang mengubah rutinitas, identitas, dan status sosial lansia.

Kondisi demikian ini menyebabkan lansia bisa mengalami kehilangan tujuan hidup, kehilangan kekuasaan (post power syndrome). Begitu pula dengan masalah kesehatan yang mulai menurun.

Oleh karena itu, memang perlu adanya proses adaptasi positif para lansia terhadap keadaan barunya itu. Mereka dapat membangun kehidupan baru pascapensiun. Mereka dapat merekayasa rutinitas baru, menekuni hobi, dan menjaga interaksi sosial dengan komunitas baru. Komunitas pensiunan.

Dan, menekuni kegiatan menulis hanya merupakan salah satu pilihan alternatif dari banyak yang tersedia secara berlimpah. Dengan kemampuan menuliskan gagasan, pencapaian, atau kenangan nan membahagiakan, otak dapat memproduksi hormon yang menimbulkan rasa bangga, harga diri, dan suasana hati yang lebih dapat mencecap kenyamanan.

Belajar Hal Baru

Ilustrasi kreasi Gemini AI

Tingkat keefektifan menulis sebagai sarana terapi bagi lansia semakin terbukti, manakala berpadu dengan motivasi untuk mempelajari hal-hal baru. Aktivitas menulis sebagai wahana terapi bukan lagi sekadar memosisikannya menjadi media ekspresi, melainkan juga menstimulus fungsi kognitif secara signifikan.

Kombinasi tersebut menjadi semacam wadah yang menunaikan fungsinya tidak hanya untuk mengekspresikan emosi atau gagasan yang berpagut pada akal sehat. Akan tetapi, lebih dari itu juga untuk merawat dengan sebaik-baiknya upaya penguatan mental (mental strengthening). Demi pembentukan ketahanan emosional, kematangan berpikir, dan kesejahteraan psikologis.

Dengan imbuhan pembelajaran terhadap hal-hal baru, terapi menulis dapat berfungsi sebagai semacam senam otak guna menjaga optimalisasi fungsi mental dan kognitif tatkala sandyakala usia kian mengakrabi langkah kehidupan. Tidak sedikit manfaat yang bisa terpetik dari pengintegrasian terapi menulis dengan pembelajaran hal-hal baru.

Manfaat adanya stimulasi kognitif ganda. Dengan mempelajari kosakata baru, gaya bahasa, gagasan yang selama ini belum sempat tersentuh perhatian, dapat memicu pembentukan koneksi saraf baru di otak. Pengondisian hal ini bisa mendulang pencegahan atau minimal pelambatan dari penurunan kekuatan daya memori.

Di samping itu, manfaat lain yang bisa terpetik, yaitu membangun rasa pencapaian. Dengan mempelajari berbagai keterampilan, seperti mengikuti dinamika zaman, dengan melakukannya di blog. Atau, yang masih enjoy dengan dokumentasi pribadi dalam wujud fisik bisa melakukan kegiatan menulis secara konvensional.

Dengan blog, jika ingin membagikan curahan pikir dan rasa ke khalayak lebih luas. Sementara itu, buku harian fisik menjadi pilihan tepat bagi lansia yang menyukai sentuhan personal. Sebaiknya dalam melakukan kegiatan menulis sebagai terapi, lansia fokus pada proses dan tidak terlalu memaksakan diri dengan pemujaan yang terlalu tinggi terhadap aspek kualitas tulisan.

Dalam kegiatan menulis sebagai sarana terapi memang tidak terdapat standar penilaian. Kriteria tulisan berkualitas atau sebaliknya belum memenuhi kualitas standar, bukan merupakan tujuan utama. Bila lansia yang melakukan terapi menulis mendapat beban pencapaian kualitas tertentu, maka bukan tidak mungkin justru akan menimbulkan ungkitan kecemasan berikutnya dan bisa menjadi batu sandungan bagi kejujuran dalam berekspresi.

Sebagai penutup tulisan, perlu kiranya saya sediakan ruang untuk menyoroti sisi yang menarik dan ringan tentang kegiatan terapi menulis bagi lansia. Untuk mereka yang pada masa mudanya memang sudah relatif akrab dengan kegiatan tulis-menulis, tentu tinggal merawat stamina pikiran dan perasaan untuk mengalirkan gagasan demi gagasan. Fungsi terapi dan kebutuhan “pokok” (dalam artian intelektual) menjadi begitu menyatu padu di sini.

Sementara itu, bagi para lansia yang relatif baru berkenalan dengan kegiatan menulis sebagai sarana terapi, dalam konteks ini tentu membutuhkan penyesuaian dan pembelajaran terlebih dahulu. Terhadap mereka, pastilah gagasan yang menjadi usungan topik tidak terlalu menjadi target prioritas.

Tema yang hadir bisa apa saja. Mereka bisa menjadi mesin waktu pribadi yang mengembara kembali ke masa lalu. Seperti menulis resep rahasia menu masakan keluarga. Atau berkisah mengenai permainan favorit di masa masih bocah. Pendek kata, ide-ide ringan yang dapat menemukan narasi ulang secara sahaja.

Buku harian juga bisa menjadi pendengar yang baik. Kepadanya, para lansia yang memercayai tuah efektivitas menulis sebagai wahana terapi, dapat menumpahruahkan segala kecamuk emosi yang ada di dalam dadanya secara merdeka tanpa ada rasa khawatir mengganggu perasaan pihak lain.

Dengan sedikit berdamai dengan kemajuan teknologi komunikasi, para lansia juga bisa menggunakan buku harian digital. Mereka bisa memperbesar ukuran huruf (font size) saat mengetik teks di layar monitor. Kalau merasa letih mengetik, dapat memanfaatkan fitur rekam suara menjadi teks (voice-to-text).

Dan, agaknya yang berada paling tepat di noktah urgenainya, yaitu membuat tulisan dalam bentuk surat (bisa mendapat artian gaya penyampaiannya) yang mendekati karya narasi epistolari. Berisikan pesan didaktis kepada anak, cucu, cicit. Dengan gaya bahasa santai (kasual) agar lebih mudah berada dalam rengkuh pemahaman mereka, bisa menjadi warisan emosional yang begitu bermakna. ***